Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Potret Berbagi Zakat Yg Memilukan

10 Agustus 2012 | 10.8.12 WIB Last Updated 2012-08-11T04:16:48Z




Ramadhan sudah memasuki 10 hari terakhir. Jika awalnya adalah berkah, pertengahannya adalah rahmat dan penghujungnya adalah ampunan, maka seharusnya di 10 hari terakhir ini ummat Islam makin khusyu dan masjid/musholla makin ramai dipadati jamaah, tadarus makin banyak pesertanya dan berbagi makin menentramkan. Sayangnya, ironi yang justru banyak terjadi. Masjid makin sepi, jamaah makin maju shafnya, mall makin ramai disesaki pengunjung, tadarus makin tak terdengar suaranya sebab sudah kelelahan. Dan yang tak kalah miris : berbagi jadi tontonan dan pemberitaan.

Setidaknya, petang hingga malam hari ini saya melihat 2x tayangan berita TV tentang pembagian sembako dan zakat yang justru berbuah petaka. Untung saja tak sampai terjadi korban jiwa di kedua kejadian itu.
Yang pertama : kisruh pembagian sembako kepada ibu-ibu jamaah pengajian di pendopo Kabupaten Bojonegoro. Kabarnya, Bupati memang sengaja mengundang ibu-ibu majelis taklim untuk mendapatkan pembagian sembako gratis. Sayangnya, yang datang hingga ribuan orang dan mereka tak sabar berdesakan hingga banyak yang jatuh dan terhimpit. Namanya juga kaum ibu, tak sedikit yang membawa serta anaknya yang masih kecil dalam gendongannya. Banyak pula yang sudah separuh baya bahkan lanjut usia. Petugas Satpol PP yang dikerahkan pun tak mampu mengatasi desakan ribuan ibu sampai pintu gerbang pendopo pun jebol. Berita itu ditayangkan Metro TV dan TV One.

1344539946536871306
Pembagian paket sembako kepada ibu-ibu majelis taklim di pendopo Kabupaten Bojonegoro, ricuh sebelum dibagi (foto : blokbojonegoro.com)

Headline News malam hari di Metro TV, juga memberitakan tentang kericuhan yang terjadi di Makasar, ketika seorang pengusaha bernama Haji Ambo hendak membagikan zakatnya kepada tukang becak dan warga kurang mampu lainnya. Zakat yang dibagikan langsung itu besarnya bervariasi antara Rp. 30 ribu samapi Rp. 50 ribu. Kendati jumlahnya tak seberapa, tapi ribuan warga sudah antri sejak siang hingga petang hari. Polisi pun kewalahan mengendalikan warga yang saling mendesak untuk berada di barisan terdepan karena sudah antri sejak siang.

Kompas.com dalam 2 hari yang berbeda juga menayangkan berita di lokasi yang berbeda, satu di Bulukumba, Sulawesi Selatan dan yang lain di rumah dinas Bupati Sampang, Madura. Tapi intinya sama : pembagian zakat yang berujung ricuh. Di Bulukumba, nominal yang dibagikan berkisar 5 ribu sampai 200 ribu rupiah. Sedang yang di Madura, warga berdesak-desakan dan rela berjemur demi mendapatkan uang Rp 100.000,-. 

13445403572004787435
Kaum dhuafa lansia yang berdesakan, berharap kebagian zakat sang pengusaha di Bulukumba (foto : Kompas.com)

Melihat foto atau tayangannya di TV, sudah sangat miris. Bocah-bocah di bawah umur dan lansia, larut jadi satu dalam keriuhan ribuan orang yang saling berebut posisi. Semunya demi uang. Tentu tak bisa terlalu disalahkan jika karena kemiskinannya membuat mereka rela menderita seharian demi membawa pulang uang gratisan. Tapi yang patut disayangkan : tak adalah cara yang lebih manusiawi dalam berbagi? Haruskah kemiskinan dipertontonkan? Apakah si pembagi zakat/sembako bisa merasa puas jika melihat kaum dhuafa itu sedemikian antusiasnya sampai rela mengesampingkan keselamatan dirinya?

Pengusaha yang diberitakan di Kompas menyatakan kurang afdhol jika tak membagikan zakatnya secara langsung. Mereka enggan menitipkan zakat dan shodaqohnya pada lembaga pengumpul zakat. Padahal, kini makin banyak lembaga amil zakat yang dikelola secara profesional, memberikan kemudahan cara pembayaran – baik melalui transfer bank, auto debt kartu kredit, dll – dan yang terpenting lembaga semacam itu di audit keuangannya oleh kantor akuntan publik yang independen.

1344540519915106293
Warga miskin di Madura yang antri zakat di depan rumah dinas Bupati Sampang (foto: Kompas.com)

Tapi entah kenapa, tampaknya bagi sebagian orang membagikan langsung dengan mengundang ribuan orang untuk datang, meski akhirnya yang dibagikan tak seberapa, dirasa masih lebih afdhol. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa yang terbaik adalah memberi dengan tangan kanan tetapi tangan kiri tak mengetahuinya? Artinya : tak perlu show off apalagi sampai diliput media. Kalau berakhir ricuh, bukankah liputan media jadinya memalukan?

Padahal, dengan memberi langsung setahun sekali dalam jumlah yang tak seberapa, itu tak akan mengubah kemiskinan kronis kaum dhuafa. Uang 5.000,- sampai 200.000,- jaman sekarang dibelikan kebutuhan hidup bisa langsung habis. Kaum fakir – yang tak punya penghasilan – tak akan bisa berubah nasibnya hanya dengan pembagian sejumlah itu setahun sekali. Bukankah akan lebih bermanfaat jika dana zakat itu dimaksimalkan sepanjang tahun untuk membina kaum dhuafa? Memberi mereka kail jauh lebih bermanfaat ketimbang memberi ikan.

1344540635742422162
Tegakah kita kalau anak sekecil ini harus antri berdesakan dengan resiko jatuh dan terinjak-injak? (foto koleksi pribadi)

Lembaga-lembaga pengumpul zakat semacam Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Yayasan Dana Sosial Al Falah di Surabaya, dll., umumnya punya program berkesinambungan untuk memberdayakan kaum fakir. Tujuannya mengubah mustahik menjadi muzakki, tangan di bawah menjadi tangan di atas. Mereka yang kini jadi penerima zakat, diharapkan kelak bisa jadi pembayar zakat. Tentu jika mereka sudah berhasil dientaskan dari kondisi fakir, tanpa pekerjaan dan penghasilan, menjadi mandiri dan berpenghasilan.

Tentu upaya semacam itu tak bisa dilakukan hanya setahun sekali, oleh zakat satu – dua orang saja. Tak peduli sekecil apapun zakat yang kita keluarkan, jika berhasil dihimpun bersama dengan zakat ribuan orang lainnya, lalu disalurkan sepanjang tahun, Insya Allah manfaatnya akan lebih besar, long lasting dan mampu mengentaskan kemiskinan. Bukankah zakat maal (zakat harta) yang kewajibannya dikeluarkan setahun sekali tidak berarti harus habis dalam tempo sehari itu saja?

Kalaupun toh tetap ingin membagikan zakat secara langsung, bisa saja, tapi harus dicari jalan yang memanusiakan manusia. Bukankah mereka juga insan yang punya perasaan dan harga diri? Bukankah mereka juga sebenarnya tak ingin jadi tontonan berebut uang dan sembako? Sebaiknya, membagikannya tidak di tempat terbuka dan tidak pula mengundang mereka tanpa kejelasan waktu.

1344540759405140407
Lihatlah ekspresinya yang polos dan lugu. Jangan sampai mereka dimanfaatkan dan diajak antri sampai membahayakan dirinya. Akan jauh lebih baik jika dijemput, didampingi dan diantar pulang, agar uang bantuan lebih bermanfaat (foto koleksi pribadi)

Ada yang menarik ketika perusahaan tempat kerja saya kemarin berpartisipasi memberikan dana CSR kami kepada 100-an anak yatim piatu. Perusahaan kami tak menyelenggarakannya sendiri, tapi nebeng pada sebuah masjid yang memiliki tradisi semacam ini. Anak yatim yang diundang bukan anak yatim yang berada di panti asuhan, yang rata-rata terpelihara dan tercukupi kebutuhannya karena Yayasan yang menaunginya sudah memiliki donatur tetap. Tetapi anak yatim yang dikumpulkan masjid ini dikoordinir oleh ustadz-ustadz yang menjadi anggota takmir masjid tersebut.

Masing-masing ustadz mengumpulkan anak-anak yatim di daerah tempat tinggalnya. Lalu mengajak mereka datang ke masjid itu, menyewakan angkot agar mereka tak perlu berjalan kaki. Jam 5 sore anak-anak yatim itu sudah berkumpul di masjid, bersama dengan puluhan anak-anak warga komplek sekitar masjid. Warga sekitar pun menyumbang takjil buka puasa. Beragam cemilan, kue, aneka es dan kolak bahkan bakso itu dibagi dan dimakan bersama saat adzan maghrib berkumandang. Setelah sholat maghrib berjamaah, anak-anak dan warga sekitar dipersilakan pulang untuk berbuka puasa di rumah.

Yang tinggal hanya anak-anak yatim bersama para ustadz atau yang mendampibgi, serta para donatur yang berniat memberikan sumbangannya. Masing-masing donatur sudah menyiapkan uang dalam amplop, sebanyak 100 lembar amplop, dan berbaris. Lalu takmir masjid memanggil nama anak-anak itu berdasarkan kelompoknya. Anak-anak itu pun tertib, merka berjalan menuju ke barisan donatur, bersalaman dan menerima amplop. Tak kurang saat itu ada 9 donatur, jadi 1 anak menerima 9 amplop. Setelah amplop diterima, mereka menerima paket makan buka puasa yang oleh panitia dipesankan paket KFC.

1344540924340318624
Karena beberapa donatur bersatu dan bersinergi, satu anak bisa mendapat 9 amplop. Jumlahnya cukup besar untuk dimanfaatkan dan mereka pun tak perlu menderita dulu untuk mendapatkannya (foto koleksi pribadi)

Melihat kondisi anak-anak itu memang menyedihkan. Dari pakaian dan sorot wajahnya, tanpak bahwa mereka memang berasal dari kalangan yang kurang beruntung secara ekonomi. Tapi dengan mengajak mereka masuk ke dalam masjid, menjemput dan mengantar pulang dengan menyediakan angkot, membagikan amplop zakat setelah warga sekitar pulang, itu lebih manusiawi ketimbang membiarkan mereka berjalankaki sejak siang, lalu mengantri dan berdesakan, sembari pembagian amplopnya dilihat ratusan bahkan ribuan pasang mata. Warga sekitar pun tak perlu tahu siapa saja donatur yang membagikan zakatnya.

Sampai kapan sebagian dari kita masih senang mempertontokan kemiskinan? Puaskah dan afdholkah membagi zakat yang tak seberapa tapi menimbulkan korban? Bukankah lebih baik penderma mendatangi kaum dhuafa ketimbang kaum dhuafa yang menadahkan tangan dan berdesakan di depan rumah penderma? Selama kaum berada masih egois dan ingin terlihat sendiri, maka potensi zakat yang jumlahnya triliyunan dan seharusnya mampu mengubah kondisi kaum dhuafa, menjadi kurang berarti karena hanya jadi “slilit” setahun sekali. Selamat menyalurkan zakat anda dengan baik, semoga membawa barokah.

catatan Ira Oemar Freedom Writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update