[Sketsa] Badai pasti berlalu, pandemi pasti akan berakhir, jangan lupa bahagia

Catatan Oyong Liza Piliang

Tidak ada tempat yang benar-benar aman hidup di muka bumi dalam setiap peradaban. Ancaman akan selalu ada. Baik ancaman akibat perperangan, wabah penyakit, persekusi oleh kaum superior, dan lainnya. Itulah gambaran yang kita rasakan hidup di masa pandemi Covid-19.

Jika ingin hidup tanpa gangguan, jalan satu-satunya beranjak dari bumi ini. Pegang kata-kata saya. Jika Anda tidak punya senjata bernama adaptasi, Anda lebih terbelakang dari nenek moyang kita yang belum mengenal gadget dan sosial media.

Sebelum Masehi, ancaman bagi nyawa manusia datang dari sesamanya. Manusia kala itu terbagi dalam berbagai kelompok suku kecil yang selalu berusaha menaklukkan suku lainnya yang dimulai dari pembunuhan. Begitu juga di abad pertengahan, penaklukan oleh kerjaan superior kepada kerajaan lemah.

Memasuki era modern juga begitu. Negara yang lemah dijajah dan dijadikan penduduk kasta rendah oleh kolonialisme. Di masa itu leluhur kita di Indonesia, hidup dalam ancaman, apalagi bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan.

Bagi rakyat jelata? Mereka akan bersembunyi di kolong rumah bila sirine atau lonceng dibunyikan pertanda bahaya. Seperti akan adanya serangan militer dan melintasnya pesawat pembom. Rata-rata mereka hidup dalam kecemasan, namun lambat laun mampu beradaptasi setelahnya.

Beberapa alinea di atas sengaja saya tulis sebagai kalimat pembuka agar kita memahami sejarah perjalanan hidup generasi ke generasi umat manusia yang tidak pernah lepas dari ancaman, termasuk dari wabah penyakit.

Di Indonesia sendiri tercatat beberapa kali situasi darurat kesehatan. Seperti wabah polio, kusta dan cacar. Cacar menjadi wabah terpanjang di Indonesia. Puncaknya medio 1960 hingga 1980-an. Tak terhitung jumlah penduduk Indonesia yang meninggal dunia, belum lagi yang mengalami kecacatan seperti buta dan muka bercapuk. Karena ganasnya wabah cacar, maka setiap anak Indonesia setelah pandemi mereda, wajib diberikan vaksin cacar.

Generasi ibu-bapak atau kakek nenek kita, ancaman juga datang dari internal bangsa atas pemberontakan PKI. Dari berbagai literatur yang saya baca, terjadi pembunuhan massal pada orang yang dituduh antek PKI. Ada yang bisa dibuktikan dan ada yang asal tuduh saja. Di Pariaman sendiri hal tersebut juga terjadi. Simpatisan PKI diburu dan dibantai. Orang-orang saling mecurigai satu sama lain - PKI kah dia?

Di masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini, generasi sekarang merasakan teori yang saya tulis di atas: tidak ada tempat yang benar-benar aman di muka bumi.

Di awal pandemi, dari data yang saya kumpulkan - sebagai wartawan dari puluhan narasumber - lebih banyak penyakit anxiety (kecemasan akut yang merubah tingkah laku) dan asam lambung dari pada terinveksi Corona itu sendiri. Itu pertanda, ancaman saja mampu merengut kesejahteraan manusia.

Akibat kecemasan berlebihan, timbul penyakit lain akibat melemahnya imunitas tubuh akibat stres berkepanjangan. Saya pernah menyaksikan orang yang terlihat sehat dari luar, setelah dinyatakan positif Covid-19 langsung kolaps dan meninggal dua hari setelahnya. Kecemasannya yang berlebihan membuat penyakit penyerta yang ada di tubuhnya - yang sebelumnya terkendali - menjadi akut akibat kecemasan berlebihan.

Fenomena tersebut pernah saya tanya langsung pada seorang teman psikiater, karena saat itu saya sendiri termasuk orang yang ikut paranoid akibat pandemi Covid-19. Kecemasan saya beralasan karena pada awal dan pertengahan 2020, belasan kali saya melakukan perjalanan ke luar daerah. Termasuk DKI Jakarta, episentrumnya Covid-19 di Tanah Air.

Kawan psikiater (ini obrolan antar kawan, bukan wawancara) mengatakan bahwa kita bisa memilih cemas dan tidak cemas karena keadaan mental tersebut tergantung dari cara kita berpikir. Tergantuang kualitas pemikiran kita.

Orang cemas, kata dia, landasan berpikirnya menolak keadaan atau situasi sehingga terjadi pertikaian dalam dirinya, meski lambat laun akan menerimanya. Sama dengan orang baru masuk penjara. Tiga hari pertama dalam penjara merupakan penyiksaan yang dilakukan oleh diri kita pada diri kita sendiri sebelum beradaptasi.

Sedangkan masih menurut dia, agar tidak cemas, kita harus menerima kenyataan apa pun. Pikiran dan kesadaran mesti memerima bahwa situasi saat ini memang terjadi wabah penyakit dan kapan pun kita bisa terinveksi.

Menerima keadaan lebih baik dari pada menolaknya. Bahkan saking hebatnya nasehat teman saya ini, dia bilang banyak manusia yang tidak menyadari bahwa hidup itu tidak kekal. Sehingga rasa takut mati menghantui setiap saat karena otak manusia seakan didesain mencari nikmat dan menghindari sengsara.

Nasihat dia yang paling saya pegang ialah, kematian adalah hak bagi pemilik nyawa. Kematian sama derajatnya dengan kelahiran. Rasa takut adalah sumber dari segala penyakit, seperti takut hilang jabatan, takut ditinggal pasangan dan orang yang dicintai, takut anak tak punya masa depan, dan rasa takut lainnya.

Sedangkan kedamaian adalah menerima keadaan. Bukan berarti menyerah begitu saja. Menerima berarti kita memposisikan pemikiran sebagaimana keadaan aslinya, atau rasional - karena hari demi hari akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa mempedulikan situasi mental Anda - cemas atau tidak cemas.

Aktor Hollywood Will Smit pernah berkata, manusia terlalu fokus membangun tembok sehingga lupa menyusun bata. Jalan terbaik membangun tembok, kata Will Smit, adalah menyusun satu demi satu batu batu sehingga menjadi tembok yang indah pada akhirnya. Artinya, jalani proses sebaik-baiknya untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Ingat pula saya kata Filsuf Tiongkok, Lao Tzu. Hidup di masa lalu menimbulkan depresi, hidup di masa depan menimbulkan kecemasan, hidup tenang dan bahagia adalah saat ini.

Intinya, jalani hidupmu saat ini dengan penuh kesadaran tanpa dibayangi luka masa lalu dan dihantui apa yang akan terjadi di masa depan.

Mari berdampingan dengan Covid-19 sembari terus menjaga diri. Badai pasti berlalu, karena Covid-19 juga bagian dari materi bumi yang tidak kekal dan abadi. (OLP)