Lensa Piaman: Labuhan Pulau Kasiak

Secara alami sebuah jalur disela-sela karang yang mengelilingi bibir pantai Pulau Kasiak untuk dilewati perahu kecil terbentuk. "Labuhan" adalah istilah yang diberikan oleh nelayan lokal yang acap menepikan biduknya di halaman pulau yang terdapat penangkaran penyu alami milik Pemko Pariaman tersebut. Foto diambil dari atas menara mercusuar setinggi 40 meter. Pulau Kasiak memiliki luas 0,5 Hektare, ditumbuhi kelapa, pohon sukun, pepaya, dll.

Lensa Piaman: Tidur Pulas

Saat narasumber memberikan makalah di podium, beberapa hadirin terlihat menahan kantuk dan akhirnya tertidur pulas di aula utama Balaikota Pariaman dalam acara sarasehan tentang "Sejarah Pariaman dan kepahlawanan H. Bgd. Dahlan Abdullah" Senin, (25/8).

Lensa Piaman: "Lomba Melepas Anak Penyu"

Rombongan Ibu Bhayangkari Polda Sumbar terlihat memberikan semangat pada tukik (bayi penyu) yang hendak mereka lepas ke laut di pantai Konservasi Penyu, Desa Ampalu, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat, 22/8/2014.

Lensa Piaman: Potensi Wisata di Pulau Kasiak

Panorama di atas menara mercusuar pulau Kasiak (Kaslik) Pariaman terumbu karang terlihat jelas di kejernihan air laut. Kawasan pulau Kasiak adalah kawasan konservasi penyu secara nature milik pemko Pariaman dibawah dinas DKP dan dikelola secara penuh oleh UPTD Konservasi Penyu. Pulau Kasiak banyak di kunjungi nelayan lokal untuk memancing ikan karang, gurita dan berbagai biota laut lainnya. Akibat perburuan swallow laut beberapa tahun lalu membuat kondisi karang rusak parah. Pemko beberapa waktu lalu bersama mahasiswa pencinta terumbu karang melakukan penanaman terumbu karang di halaman pulau ini.

Headline News :
Custom Search

Berita Terpopuler

Redaksi

Pedoman Media Siber

Powered by Blogger.

Latest Post

Ini Kata Mardison Tentang Nonjob Otomatisnya Sejumlah SKPD Dalam Waktu Dekat

Written By oyong liza on Thursday, 25 August 2016 | 19:36



Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah, memaksa Pemko Pariaman bersama DPRD mempending sejumlah agenda pembahasan. Pembahasan akan diselaraskan dengan PP tersebut setelah Ranperda SOTK (Struktur Organisasi Tata Kerja) disahkan menjadi Perda.

Dalam melaksanakan ketentuan di pasal 232 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perangkat Daerah, yaitu PP nomor 18 tahun 2016 tersebut, Pemko Pariaman dan DPRD bekerja bak sinetron kejar tayang. Sejumlah agenda penting seperti pengesahan ABPD tahun 2017 dan APBD Perubahan tahun 2016 terancam molor dari jadwal.

"Ranperda SOTK telah kami terima dari eksekutif dan akan kita lakukan pembahasan secepatnya," kata Ketua DPRD Kota Pariaman, Mardison Mahyuddin, di Pariaman, Kamis (25/8).

Dalam Ranperda SOTK itu, imbuh Mardison, akan dilakukan perampingan, penambahan dan pemisahan sejumlah SKPD. Seperti membuat Dinas Kearsipan, memisahkan Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga yang berdiri sendiri-sendiri, dll.

"Termasuk juga Badan dan Bagian Daerah. Akan ada pengurangan dan penambahan. Hal itu terjadi akibat adanya penggabungan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagaimana diatur PP tersebut. Akan ada pejabat nantinya otomatis nonjob dan akan ada pejabat yang akan mengisi pos SKPD baru," tutur Mardison.

Karena dikejar waktu dengan sejumlah agenda saling tumpang tindih, Mardison meminta pihak eksekutif memasukan KUA/PPAS menyusul Ranperda SOTK, agar dilakukan pembahasan secara paralel di DPRD.

"Ini adalah masa kerja terpadat kita di DPRD. Sedikit kelalaian saja dapat menyebabkan keterlambatan pengesahan APBD 2017 yang berdampak berkurangnya jatah Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah oleh pemerintah pusat," imbuhnya.

Untuk target tuntasnya pembahasan OPD baru tersebut, Mardison belum bisa memastikan. Wakil rakyat tiga periode itu belum memberi sinyal.

"Untuk menggelontorkan anggaran tahun 2017 sudah harus kepada OPD baru, bukan lagi yang ada saat ini. Pokoknya harus dituntaskan secepat mungkin karena APBD 2017, OPD baru sudah terbentuk," pungkasnya.

OLP

Cuaca Badai Ekstrim, Mardison Minta SKPD Terkait Tebang Pohon Lapuk



Ketua DPRD Kota Pariaman, Mardison Mahyuddin, mengimbau agar masyarakat Kota Pariaman meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrim. Cuaca ekstrim berupa badai dan angin kencang bisa berdampak banjir dan pohon tumbang yang dapat mencelakai.

"Sebagai wakil rakyat, saya mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap fenomena cuaca ekstrim agar tidak sampai terjadi korban jiwa," kata Mardison, di Pariaman, Kamis (25/8).

Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir laut yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, ancaman bencana alam bisa terjadi kapan saja, baik oleh perkisaran cuaca global maupun ancaman gempa bumi akibat pertemuan dua lempeng bumi.

Kepada dinas terkait seperti BPBD dan Badan Lingkungan Hidup, selaku Ketua DPRD dia meminta agar terus meningkatkan kinerjanya masing-masing.

"Saya perhatikan masih banyak pohon lapuk yang belum diremajakan, hal ini akan berdampak buruk jika tidak cepat ditebang. Dia akan tumbang menimpa warga saat dihembus badai kencang," sebutnya.

Selama ini, kata Mardison, BPBD Kota Pariaman cukup aksional terhadap penanganan sejumlah bencana. Baik bencana alam maupun akibat human error.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Pariaman, Yaminurizal, mengatakan pihaknya selalu siaga tangguh menghadapi setiap ancaman bencana alam. Pihaknya selalu memantau perkembangan cuaca 1x24 jam dan mensiagakan petugas di sejumlah titik rawan saat ancaman bencana sedang berlangsung seperti hujan disertai angin kencang.

Dirinya mengakui masih banyak sejumlah pohon yang belum diremajakan dinas terkait yang berpotensi menjadi ancaman bencana jika setiba-tiba tumbang ditiup badai.

OLP

Ali Mukhni Serahkan Bantuan Rehab Rumah bagi 200 KK Miskin



Bupati Padangpariaman Ali Mukhni serahkan bantuan stimulan perumahan dari Kementerian Pekerjaan Umum kepada 200 Kepala Keluarga (KK) miskin di Kantor Camat V Koto Kampung Dalam, Kamis (25/8). Bantuan diberikan sebesar Rp15 juta per KK yang digunakan untuk pembelian material guna merehab rumah tidak layak huni menjadi layak huni.

"Alhamdulillah, bantuan ini didapat setelah kita mengajukan proposal kepada Kementerian PU sebanyak 1000 unit, namun baru disetujui sebanyak 200 unit rehab rumah tidak layak huni. Totalnya semua Rp3 milyar," kata Ali Mukhni kepada wartawan.

Dia menyebut bantuan stimulan tersebut sebagai bentuk kepedulian daerah dalam mengurangi angka kemiskinan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia
meminta kepada penerima bantuan stimulan agar benar-benar digunakan untuk merehab rumah, bukan untuk keperluan konsumtif.

"Ingat, bantuan ini diawasi oleh pihak berwajib. Jadi jangan sampai material bangunan itu dijual lagi maka nanti berhadapan dengan hukum," kata peraih Satya Lencana Kebaktian Kebaktian Sosial dari Presiden itu

Orang nomor satu di Padangpariaman ini berharap pekerjaan rehab rumah tidak layak huni itu dikerjakan secara gotong royong. Sehingga bantuan Rp15 juta tersebut nilainya bisa menjadi tiga kali lipat nantinya.

Ke depan, kata Al Mukhni, pihaknya terus berjuang menggaet dana pusat untuk rehab rumah tidak layak huni baik dari Kemerinterian PU dan Kementerian Sosial.

"Saya juga sudah bertemu dengan Ibu Kofifah, Menteri Sosial untuk bantuan rumah tidak layak huni. Mudah-mudahan juga terealisasi," kata Bupati didampingi Kabag Humas Hendra Aswara.

Plt. Kadis PU Budi Mulia, mengatakan pencairan dana bantuan stimulan perumahan terdiri dari dua tahap melalui persetujuan penilaian fasilitator.

"Tahap I Rp7,5 juta dan kemudian sisanya dicairkan setelah laporan dari fasilitator," kata mantan Kabid Cipta Karya itu.

Adapun kriteria penerima bantuan stimulan, kata Budi Mulia, terdiri dari beberapa indikator seperti rumah berlantai tanah, atap penghasilan rendah, atap bocor penghasilan rendah dan sudah dihuni oleh dua KK.

Disebutkan sejak tahun 2012 telah diterima bantuan stimulan perumahan sebanyak 2000 rumah untuk keluarga miskin. Ia berupaya mengajukan bantuan stimulan setiap tahunnya agar masyarakat yang belum menerima bisa menikmati pula.

"Insya allah, Pak Bupati dan Dinas PU berjuang mendapatkan bantuan stimulan perumahan lebih banyak lagi," kata Budi yang didampingi Kabid Tarkim Deni Irwan.

HA/OLP

Padangpariaman Lokasi Pertanian Modern Kedua di Sumatera




Komitmen Padangpariaman menjadi lumbung pangan nasional menjadi program unggulan kepemimpinan Bupati Ali Mukhni dan Wabup Suhatri Bur.

Ini terbukti dengan surplus produksi beras yang melampui kebutuhan pasar hingga tiga kali lipat sejak beberapa tahun terakhir. Padahal kabupaten dan kota lain baru tahap memulai program swasembada beras.

"Kita pakai motto Semen Padang, kita sudah melakukan ketika yang lain baru memikirkan. Artinya, ketika daerah lain baru mencanangkan swasembada beras, Padangpariaman sudah lebih dulu berhasil bahkan surplus," kata Ali Mukhni saat penandatangan nota kesepahaman dengan Universitas Andalas di Lokasi persawahan Nagari Aia Tajun, Kec. Lubuk Alung, Senin (22/8).

Dia menuturkan, Padangpariaman telah berhasil memproduksi gabah hingga 270 ribu ton pada tahun 2015. Jika dijadikan beras, maka totalnya menjadi 173 ribu ton. Sedangkan kebutuhan beras tingkat lokal hanya 53 ribu ton untuk 546 ribu jiwa masyarakat Padangpariaman.

"Artinya beras kita sudah dinikmati di kabupaten dan provinsi luar Sumbar. Kita jamin rasanya lebih enak," kata peraih Penghargaan Ketahanan Pangan dari Presiden RI itu.

Orang nomor satu di Padangpariaman itu mengaku tidak bosan-bosan mengingatkan agar masyarakat memanfaatkan lahan terlantar menjadi lahan produktif pertanian.

"Jangan ada satu jengkal tanahpun yang tidak dimanfaatkan untuk kemakmuran Padangpariaman," kata Bupati yang disebut sebagai Calon Gubernur Sumbar itu.

Rektor Universitas Andalas, Tafdil Husni, mengaku bangga dengan capaian kinerja Bupati Ali Mukhni khususnya di bidang pertanian. Untuk itu, kata dia, Unand sebagai lembaga penelitian dan pengembangan mendukung Padangpariaman bersinergi menggelorakan inovasi teknologi tepat guna pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan.

"Padangpariaman sudah menjadi lumbung pangan nasional berkat komitmen Bapak Bupati. Unand melalui Kemenristek siap membantu dalam inovasi untuk memacu produksi pertanian," kata Rektor yang menyebutkan bahwa Unand sebagai peringkat 11 di Indonesia.

Disaat yang sama, Kadis Pertanian Yurisman mengatakan bahwa Padangpariaman saat ini juga ditunjuk sebagai lokasi pertanian modern yang hanya ada dua di Sumatera, yaitu di Sumsel dan Sumbar.

"Sesuai arahan Pak Bupati, kita berharap sektor pertanian menekan angka kemiskinan dan kemakmuran masyarakat," kata jebolan Universitas Andalas itu.

Usai penandatangan MoU, Bupati Ali Mukhni dan Rektor Unand Tafdil Husni uji coba rasa terhadap 10 varietas padi baru pertanian, antara lain batang piaman, kuriak kusuik, bawaan, ceredek merah, Inpari 21, anak daro, sagannggam panuah, junjung, inpari 13 dan lampai kuniang. Juga diserahkan enam unit mesin perontok padi kepada enam kelompok tani di Padangpariaman.

Hadir pada kesempatan itu Direktur Pembenihan Kementan RI Prihartini, Dandim 0308 Pariaman Letkol. Arh. Endro Nurbantoro, Akademisi Unand dan Kepala SKPD setempat.


HA/OLP

Ali Mukhni Targetkan Padangpariaman Jadi Lumbung Pangan Nasional

Jalan tani yang dianggarkan melalui dana desa sebesar 136 juta di Nagari Aia Tajun kec. Lubuk Alung.



Program Bupati Ali Mukhni menjadikan Kabupaten Padangpariaman sebagai lumbung pangan nasional mendapat dukungan dari pemerintah nagari khususnya di Nagari Aia Tajun Kec. Lubuk Alung.

Tahun ini, Nagari Aia Tajun telah menganggarkan dana infrastruktur jalan di areal pertanian sebesar Rp136 juta. Dana tersebut dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat setempat.

"Alhamdulillah, kita bersama Bamus Aia Tajun mendukung program Pemda menjadikan Padangpariaman sebagai lumbung nasional," kata Wali Nagari Aia Tajun, Samsurizal.

Dikatakannya bahwa jalan tani sepanjang 200 meter dengan lebar 5 meter itu sudah tahap finishing. Jalan tani tersebut sebagai realisasi aspirasi masyarakat untuk mempermudah akses transportasi hasil pertanian.

"Tadi saya sudah sampaikan kepada Bapak Bupati agar jalan ini diaspal pada anggaran APBD tahun 2017," imbuhnya.

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengapresiasi penggunaan dana desa yang tepat sasaran oleh Pemerintah Nagari Aia Tajun.

"Saya kira ini akan menginspirasi nagari-nagari yang lain. Jalan tani ini sangat positif dan menyentuh kepentingan umat," kata Ali Mukhni didampingi Kabag Humas Hendra Aswara di Parit Malintang, Rabu (24/8).

Menanggapi permintaan Walinagari Aia Tajun untuk pengaspalan jalan, orang nomor satu di Padangpariaman itu perintahkan Kepala Bappeda Hendri Satria untuk memprioritaskan jalan tersebut pada pembanhasan APBD 2017.

"Saya minta Kepala Bappeda mencatat, jalan tani ini kita aspal tahun depan," tegas Alumni Harvard Kennedy School di Amerika Serikat itu.


HA/OLP

Inyiak Rimbo Rao (II)

Written By oyong liza on Wednesday, 24 August 2016 | 20:45




KAKEK TUA itu bangkit dari tikar pandan yang dulu ia anyam sendiri. Dia menuju beranda menatap lebatnya hutan. Angin sepoi-sepoi bawa rasa sejuk di mukanya yang keriput-mayut. Tubuhnya ditutupi jubah hitam semata kaki, deta putih menghiasi kepalanya.

"Matahari mulai ditutup awan gelap. Sebentar lagi hujan," gumamnya dalam hati.

Kakek itu memejamkan mata. Ingatannya seketika terbang ke masa silam. Dia dilahirkan pada tahun 1904 di Batusangkar, Tanah Datar, Hindia Belanda. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya mualaf non pribumi Tionghoa bernama Chu Feng dan Ibu asli Batusangkar bernama Jumariah.

Chu Li Liong, nama bagus pemberian ayah. Liong berarti naga, sesuai shio tahun kelahirannya. Liong, lahir membawa cacat. Kedua tangannya cengkok (tidak lurus) dan mulut tidak berlangit-langit. Perkataan Liong hanya dimengerti oleh keluarga sendiri.

Sedari kecil Liong sudah dikucilkan keluarga. Dua kakak laki-laki dan dua adik perempuannya diajarkan berdagang oleh sang ayah, dia sendiri mendiami loteng rumah yang kelam. Dia nyaris tidak pernah keluar rumah apalagi mengenyam pendidikan formal.

Chu Feng, saudagar tembakau terbesar di Tanah Datar masa itu. Rumah toko (ruko) empat petak besar berlantai dua, ditambah satu petak untuk gudang, dia bangun di pusat  keramaian Kampung Piliang (saat ini Terminal Bus Piliang Batusangkar). Kakak adiknya punya peran di bisnis keluarga sebagai pemasok tembakau terbaik di wilayah Sumatera Bagian Tengah yang didatangkan langsung dari Tanah Jawa. Liong dilarang keluar rumah, apalagi menginjakan kakinya di kedai.
Meski seorang muslim, Liong tidak disunatkan oleh ayah, beda betul dengan dua kakak lelakinya. Keberadaannya dieliminasi.

Di umur 11 tahun, Liong diikat telanjang di batang nangka belakang rumah penuh kerangga oleh ayahnya akibat Liong turun loteng dan dilihat pelanggan. Ke Silandir pekiknya oleh sengat ribuan makhluk kecil merah berbisa itu. Sekujur badannya panas dan melepuh.
 

Sang ibu tak kalah lalim. Seluruh keluarga makan nasi, keraknya jatah Liong. Semua makan gulai ayam, kuah untuk Liong. Liong dianggap pembawa sial jika omset dagangan sang ayah sedang turun. Liong habis dimaki hina.

Butir bening menitik di kelopak mata celeng kakek berkulit putih itu. Tatapannya lurus kedepan. Rambut putihnya tergerai ditiup angin. Hujan mulai turun dengan lebatnya.

"Ayah. Ibu.. Kalian sudah kumaafkan. Dosa kalian sudah ku tanggung," gelora batinnya.

Memasuki usia remaja, Liong yang hina dibuang keluarga di malam buta. Dia ditinggalkan seorang diri di Rimbo Batipuah, sementara seluruh keluarga melanjutkan perjalanan ke Padangpanjang dengan kereta kuda miliknya.

Perasaian hidup banyak dia lalui sebagai pewaris darah minoritas keturunan Tionghoa. Cacian, hinaan, hingga tendangan dia terima tanpa pembalasan. Dia pemuda cacat, miskin, buruk rupa, China pula, siapa yang akan elok kepadanya.

Menjadi kuli angkat pembantu (tanpa gaji perusahaan) dia lakoni beberapa tahun di pelabuhan Teluk Bayur. Upahnya hanya makan dua kali. Pagi ubi rebus, malam sepiring nasi ikan teri. Dia acap pingsan saat bekerja. Beban yang diterima tak sebanding dengan daya tahan tubuhnya yang cacat.

Liong yang merasa putus asa, akhirnya hengkang dari Teluk Bayur setelah bosan dipelonco para buruh kasar mabuk tanpa sebab. Tubuh kurusnya acapkali dilempar ke kubangan kotoran kerbau di belakang pelabuhan itu. Diasah-asahnya tubuh Liong dengan pendayung agar bergelimang kotoran kerbau yang sudah berulat itu.

Sejak peristiwa tersebut, Liong tidak mau lagi bertemu manusia. Tubuh bau dan lunglai dia bawa jalan tanpa arah menuju utara menyisiri pantai barat. Jika melihat orang, dia sembunyi, kembali melanjutkan perjalanan ketika malam kelam bersipat.

Baju berkubang kotoran, baru bisa dia cuci sesampai di Muaro Batang Piaman jam dua belas malam tegak. Ditempat itu sekaligus dia membersihkan badan, lalu melanjutkan perkelanaan tak bermaksud bertujuan. Selama di sepanjang pesisir pantai, Liong hanya makan mentah ambai-ambai yang mudah ia tangkap.

Berpuluh hari jalan kaki, akhirnya dia memutuskan menetap di sebuah gua di perbukitan, bilangan wilayah Sungai Geringging, Padangpariaman. Di gua itu dia bermukim cukup lama.


Sejumlah makhluk astral menampakan diri, baik siang maupun malam. Liong mulai akrab dengan dunia astral yang menakutkan bagi orang lain. Gua tersebut merupakan portal dimensi astral terbesar kedua di pulau Sumatera.

Nagor, sosok hitam tinggi besar, kepala geng astral di gua itu, karib sejatinya hingga kini. Nagor adalah jelmaan roh tabib berilmu hitam yang sudah mati tujuh ratus tahun silam. Semasa hidup, Nagor merupakan dukun ramuan biriang paling ditakuti.

Biang biriang ramuan Nagor terbuat dari permentasi mayat yang digantung terbalik selama 12 kali bulan purnama. Biang biriang dia tampung di atas sebuah mangkuk perak tepat di atas mayat yang digantung terbalik tersebut. Biriang katumbuahan ala Nagor, tiada obat selain mati.

Semasa dalam bimbingan Nagor, Liong terhitung tiga kali menggali mayat perempuan mati saat mengandung untuk pra-syarat. Seluruh ilmu jahat Nagor diwariskan kepada Liong.

"Hmm.." Liong bangkit dari lamun. Dia pantik sebatang rokok merk Dji'it yang sekali seminggu dibeli oleh Mayang di pasar Lubuak Sikapiang. Mayang adalah gadis jelita transformasi harimau putih. Dia adalah putri semata wayang buah perkawinanya dengan Nafira, peranakan bidadari dari lapis langit keenam, satu tingkat dibawah Dewa. Nafira sendiri peranakan Dewi dengan Jin Ifrit asal Mesir.

Asap rokok dihirupnya dalam-dalam, perlahan menguap lewat hidung dan mulut. Ada sedikit kelegaan batin dia rasakan.

Harimau putih seketika melompat dari arah hutan ke arahnya. Lentingan setinggi lima meter itu sekaligus merubah wujudnya dari sosok bengis harimau ke gadis nan jelita saat menginjakan kaki di tanah berlacah di halaman gubuk bambu itu.

"Lenggang Basa lindungi pemuda itu ayah..!" pekiknya di tengah hujan lebat.

                                                                                                                          bersambung.........................

OLP

Genius: Saran dan Kritik Bentuk Lain dari Rasa Cinta Daerah



Rapat koordinasi (rakor) adalah forum strategis bagi aparatur desa untuk sharing informasi dengan SKPD dalam menyusun perencanaan dan skala prioritas pembangunan di tiap desa sesuai potensi yang dimiliki.

Hal itu dikatakan oleh Wakil Walikota Pariaman Genius Umar saat membuka rakor pelaksanaan tata kelola pemerintahan desa sekota Pariaman, di Aula Balaikota setempat, Rabu (24/8).

Disamping itu dia mengimbau agar kepala desa terus menjalin komunikasi yang baik dengan lembaga desa dan SKPD terkait, dalam rangka mempercepat peningkatan pertumbuhan pembangunan. Kepada aparatur desa yang hadir agar saling bertukar pikiran, diskusi dan memberikan gagasan terbaiknya.

Saran, kritik dan ide yang disampaikan dalam forum, kata dia, bentuk nyata keberpihakan dan rasa memiliki aparatur desa terhadap Kota Pariaman.

“Banyak hal dapat kita lakukan dalam upaya memajukan desa, asalkan memiliki nawaitu yang kuat untuk itu. Tidak hanya pembangunan fisik semata, namun juga pembangunan di bidang sosial dan ekonomi,” imbuh Genius.

Rapat Koordinasi yang dihadiri 169 peserta tersebut bertujuan memberi pemahaman kepada aparatur desa tentang jalannya pemerintahan dan tata kelolanya.

Juned/OLP

Kasus Pencabulan Anak Meningkat di Padangpariaman





Berbagai kasus pencabulan (asusila) melibatkan anak yang terjadi di tengah keluarga terus meningkat di Kabupaten Padangpariaman. Data tahun 2015 menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. Sebenarnya bukan kasusnya yang meningkat, namun kepedulian masyarakat untuk melaporkan kasus kepada pihak yang berwenang semakin meningkat.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Dra. Gusnawati, MM mengungkapkan hal itu pada saat menyerahkan bantuan kepada anak korban pencabulan dan  bermasalah yang difasilitasi oleh Lembaga Konsultasi Kesejahteran Keluarga (LK3) Padangpariaman, Senin (22/8).

Penyerahan di tiga titik, masing-masing di SDN 2 Sungai Limau, Malai Tangah Nagari Malai V Suku Kecamatan Batang Gasan dan Batu Mangaum Nagari Kuranji Hulu Kecamatan Sungai Geringging.

Menurut Gusnawati, tingginya angka kekerasan dan pencabulan terhadap anak-anak yang berhasil diungkap ke permukaan, perlu mendapat perhatian semua pihak.

“Kepedulian terhadap lingkungan harus semakin ditumbuhkan sehingga kasus-kasus asusila yang menimpa anak-anak jangan terus terjadi. Masyarakat harus semakin peduli dengan keamanan dan keselamatan anak-anak, terutama anak perempuan,” kata Gusnawati didampingi Ketua LK3 Rahmat Taunku Sulaiman.

“Kepada masyarakat Padang Pariaman jika terjadi masalah di tengah keluarga yang tidak bisa diselesaikan di dalam rumah tangganya, bisa dilaporkan kepada LK3 Padang Pariaman. Mudah-mudahan LK3 bisa mencarikan solusinya,” kata Gusnawati.

Penyerahan bantuan dihadiri Kabid Pembinaan Usaha dan Kesejahteraan Sosial Ponimin, Kasi Pembinaan dan Kelembagaan Sosial Ali Aripin, S.Sos, MM. Sedangkan dari LK3 Ketua Rahmat Tuanku Sulaiman, S.Sos, MM, Pekerja Sosial Fatma Yetti Kahar, Armaidi Tanjung dan Reza Mayang Sari. Turut memandu dari Polsek Sungai Limau Bintara Tinggi Aiptu Afrizon, anggota Reskrim Bripda Melda Aulia.

Ketua LK3 Padang Pariaman Rahmat Tuanku Sulaiman menyebutkan, penyerahan bantuan ini merupakan bantuan untuk memperlihatkan kepedulian dari LK3 bersama Dinas Sosial. Dari tiga titik yang dikunjungi, dua orang anak korban tindakan asusila. Sedangkan satu orang tindakan kekerasan.

“Kita memang prihatinkan dengan kondisi masyarakat yang kini makin banyak terjadi tindakan asusila terhadap anak-anak. Ironisnya, pelaku merupakan orang-orang terdekat atau dikenal oleh korban. Padahal, anak adalah anugrah dari Tuhan yang  wajib dididik  dan dirawat sebaik mungkin,” kata Rahmat yang juga Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat ini.

Dikatakan, lingkungan harus lebih peka dengan masalah sosial anak-anak. Kalau masyarakat semakin tidak peduli dengan anak-anak ini, maka kehancuran masa depan anak yang sudah dirusak mentalnya akibat perlakukan yang tidak senonoh.

“Tahun ini saja sudah 36 kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) dan 32 anak yang terlibat dengan perbuatan cabul,” tambah Pekerja Sosial Fatma Yetti Kahar yang akrab disapa Teta Sabar ini.

AT/OLP

Alkamarrahim Peringkat 9 Nasional Petugas Operasi dan Pemeliharaan Irigasi




Juru Pengairan Dinas PU Padangpariaman, Alkamarrahim, raih peringkat 9 Petugas Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Tingkat Nasional sebagai wakil Provinsi Sumatera Barat dalam Pemilihan Petugas Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Tingkat Nasional untuk kategori Juru Pengairan di Banjarmasin awal Agustus 2016 yang lalu.

Menurut Kabag Humas Hendra Aswara, Rabu (24/8), Alkamarrahim sebelumnya terpilih mewakili Provinsi Sumatera Barat setelah berhasil mendapatkan peringkat pertama dalam Pemilihan Petugas OP, kategori Juru, tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Dinas PSDA Sumatera Barat melalui serangkaian seleksi, baik berupa presentasi maupun penilaian lapangan pada tanggal 25 s/d 26 Mei 2016 lalu.

"Sedangkan untuk kategori Pengamat Pengairan Provinsi Sumatera Barat diwakili oleh Suhadi dari Kabupaten Tanah Datar. Kriteria yang dinilai dalam lomba ini adalah presentasi 40%, komitmen Pemda 10% dan penilaian lapangan 50%," ujarnya.

Untuk tingkat nasional kategori Juru Pengairan ini, imbuh Hendra, secara keseluruhan diikuti oleh 26 Provinsi. Dalam lomba itu Alkamarrahim didampingi oleh tim official yaitu Kasi Irigasi, Sungai dan Waduk, Fafdal Andrianos,ST, MPSDA dan Kepala UPT OPPJJP wilayah III yang merupakan atasan langsung Alkamarrahim yaitu Hasan Basri.

"Setelah melakukan presentasi dihadapan dewan juri yang merupakan pakar-pakar OP irigasi di indonesia, Alkamarrahim belum berhasil menembus posisi 5 besar yang selanjutnya akan dilakukan penilaian lapangan. Alkamarrahim berada di posisi 9 dengan total nilai presentasi 383,78. Posisi 5 besar diraih oleh Jawa Timur dengan nilai 455.45, Jawa Tengah 444.45, Jawa Barat 426.08, Sulawesi Tengah 422.15, Lampung 420.98," runut Hendra.

Menyikapi hasil yang diperoleh oleh Alkamarrahim, secara terpisah, Plh. Kepala Dinas PU Padangpariaman, Budi Mulya, ST, M.Eng menyampaikan rasa bangga dan bahagia atas raihan Juru Pengairan Padangpariaman sebagai Juru Pengairan Nasional di posisi 9.

"Posisi 9 ini merupakan suatu prestasi yang sudah memuaskan bagi kita di PadangPariaman, mengingat bahwa saingan di tingkat nasional adalah provinsi-provinsi yang kinerja operasi dan pemeliharaan sudah berjalan sangat bagus dan Padangpariaman masih jauh ketinggalan," ungkapnya.

Hal ini juga diamini oleh Kasi Irigasi, Sungai dan Waduk Fafdal Andrianos, ST, MPSDA yang menyampaikan bahwa Juru Pengairan yang dikirim adalah salah satu juru senior yang sangat memahami tupoksi sebagai Juru Pengairan di lapangan.

Lebih jauh Budi Mulya menyampaikan bahwa OP irigasi sangat penting dalam upaya memenuhi kebutuhan air irigasi untuk masyarakat. Dan Juru Pengairan adalah ujung tombak pelaksanaan OP irigasi di lapangan, sehingga lomba ini juga sangat penting dalam rangka memotivasi Juru Pengairan dalam pelaksanaan tugasnya di lapangan.

“Mudah-mudahan kedepannya dengan pengalaman yang sudah didapatkan ini kita bisa meningkatkan Kinerja OP irigasi kita sehingga tidak hanya berhasil di lomba saja tetapi di dalam pelaksanaan OP irigasi di lapangan juga dapat berjalan maksimal,” jelas Budi Mulya didampingi Fafdal dan TKIP Dinas PU Tisna Amijaya.

Dilaporkan oleh Tisna Amijaya, TKIP Dinas PU
Editor: OLP

Cuaca Ekstrim, BPBD Kota Pariaman Larang Nelayan Melaut



Kepala BPBD Kota Pariaman, Yaminurizal melarang seluruh nelayan melaut karena cuaca ekstim sedang melanda Kota Pariaman dalam beberapa hari kedepan.

"Cuaca ekstrim berupa angin kencang disertai hujan deras membahayakan bagi keselamatan jiwa nelayan jika nekat melaut. Kita menghimbau agar mereka stop dulu hingga cuaca kembali membaik," kata Yaminurizal, di Pariaman, Rabu (24/8).

Ungkap dia, saat ini banyak titik angin dan awan terpantau radar BMKG yang dapat menimbulkan potensi hujan badai di wilayah pesisir Sumatera Barat termasuk Kota Pariaman.

"Intensitas hujan disertai badai sangat tinggi. Ombak di lautan juga sangat besar saat ini," sambungnya.

Pihaknya menyatakan tidak satupun nelayan berani melaut pada hari ini setelah dilakukan pemantauan lapangan.

"Nelayan kita juga punya kearifan lokal terhadap cuaca. Disamping itu kita harap mereka juga mematuhi himbauan kita," pungkasnya.

Sementara itu, Ujang (48), seorang nelayan di Desa Pauh Barat mengaku sudah dua hari tidak melaut karena cuaca buruk.

"Melaut dengan cuaca seperti ini sama saja minta mati," kata dia.

Cuaca ekstrim yang sedang berlangsung dalam beberapa hari ini menurutnya disebabkan karena perkisaran bintang kuning (istilah nelayan) yang menyebabkan angin kencang disertai hujan deras.

"Pohon kelapa hingga bungkuk ditiup angin kencang semalam," ungkap dia.

OLP

Topik Terhangat

postingan terdahulu