Aisyah Dahlan (Bako Nirina Zubir) Ulama dan Politikus Nasional dari Padusunan
Foto: istimewa
Oleh Sadri Chaniago (Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas
 / Anak Nagari IV Angkek Poadusunan, Pariaman)


~Adik bungsunya Zubir Amin Zubir pernah menjabat Kepala Humas di Departemen Luar Negeri RI. Ketika bertugas bertugas di KBRI Madagaskar tahun 1979-1982, Putrinya yang diberi nama Nirina Zubir dilahirkan, sebagai hasil perkongsian hidupnya dengan Cut Indria Marzuki, yang berasal dari Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Nirina Zubir kemudian dikenal sebagai presenter dan artis seni peran papan atas di Tanah Air.  

Aisyah Dahlan - yang memiliki nama kecil Aisyah Amin  - bagi kalangan anak nagari IV Angkek Padusunan khususnya dan Pariaman umumnya, merupakan sosok yang tidak terlalu familiar. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan oleh karena tidak banyaknya sumber tertulis yang mengeksplorasi tentang riwayat hidup (biografi) dan kiprahnya dalam kancah dunia pergerakan dakwah dan politik di pentas nasional.

Padahal, sebagai salah seorang “mutiara” anak nagari IV Angkek Padusunan, rekam jejaknya menunjukan bahwa ia merupakan seorang pendakwah (muballighah), pendidik, aktifis, yang pernah menjadi salah seorang ketua bidang dakwah dalam organisasi Muslimat Nahdhatul Ulama Pusat (1979), dan eksponen pejuang 45. Selain itu, dalam gelanggang politik praktis, ia pernah menjadi Anggota Majlis Konstituante (Pembuat Undang Undang Dasar), dan Anggota Majlis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1966-1971.

Dengan sederetan kiprah yang telah dilakukannya di atas merupakan salah satu pendorong yang kuat pentingnya dilakukan penelusuran terhadap riwayat hidup dan kiprahnya. Paling tidak, kiprah dan riwayat hidupnya ini diharapkan akan menjadi suri teladan, motivasi dan pemicu (trigger) bagi anak nagari IV Angkek Padusunan, dan Pariaman dalam mengembangkan kapasitas diri, demi kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, narasi singkat ini akan memaparkan sekelumit dari riwayat dan kiprah Aisyah Dahlan sebagai salah seorang tokoh wanita nasional.

Ayah dan Ibunya

Aisyah Dahlan menuturkan dalam bukunya: “Thawalib School Padusunan 55 Tahun” (1985), bahwa ia dilahirkan pada 27 April 1920, di Kampung Gadang, Nagari IV Angkek Padusunan, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Ibunya bernama Siti Nur Ali, yang merupakan sanak kemenakan Bagindo Djabang, dari trah keturunan Anggun Nan Tongga Magek Jabang. Sedangkan ayahnya adalah H. Tuanku Mudo Amin, seorang Ulama di Nagari Tungka, Kota Pariaman. H. Tuanku Mudo Amin ini merupakan anak tertua Syekh Tuanku Telur Nan Tua (Mufti Masjid Raya Nagari Padusunan pada tahun 1930-an), dari istrinya yang di Tungka.

Pada masa mudanya, H. Tuanku Mudo Amin pernah menempuh pendidikan di Sungayang Batu Sangkar, Parabek Bukittinggi, dan Padang Japang Payakumbuh. Ketika menempuh pendidikan pada tahun 1919, beliau satu kelas dengan Prof. Mahmud Yunus, yang kemudiannya menjadi seorang ahli tafsir Alquran kenamaan dari Minangkabau. Setelah menamatkan pendidikannya, H. Tuanku Mudo Amin menjadi guru pengajian surau di Masjid Raya Sikapak (Surau Taluak), dan menjadi pendakwah yang dikenali. Ia juga pernah beraktifitas sebagai staf pengajar di Thawalib School di Nagari IV Angkek Padusunan.

H. Tuanku Mudo Amin ini merupakan saudara se-ayah berlain ibu dengan H. Rasul Telur, anak dari Syekh Tuanku Telur Nan Tua dari istrinya yang lain. Sebagaimana diketahui, H. Rasul Telur ini merupakan jebolan Universitas al Azhar Mesir, yang kemudian menjadi salah seorang ulama terbilang di nagari IV Angkek Padusunan, dan berkiprah memimpin Thawalib School Padusunan, pada masa jayanya (1931).

Saudara-saudaranya

Aisyah Dahlan merupakan anak tertua dari 6 orang bersaudara kandung, hasil dari perkawinan Ibunya Siti Nur Ali dengan H.Tuanku Mudo Amin. Siti Nur Ali merupakan istri kedua dari H. Tuanku Mudo Amin (Istri pertamanya perempuan bersuku Chaniago di Nagari Cubadak Air, dikurniai dua orang anak: Aminah dan Habibah). Adapun urutan lengkap bersaudara adalah: Aisyah Dahlan (Aisyah Amin), Hasan Basri, Abdulah Gani (Dulah Balasuang), Ahmad Taher, Chadijah, dan Zubir Amin.

Saudara bungsu laki-laki Aisyah Dahlan yang bernama Zubir Amin, merupakan mantan diplomat senior Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yang sudah kenyang pengalaman dalam dunia diplomatik di luar negeri. Sebagaimana yang diberitakan Harian Singgalang (12 Juli 2009), alumni FISIP Universitas Indonesia lulusan tahun 1970 ini pernah bertugas di KBRI Madagaskar tahun 1979-1982, KBRI Ankara (Turki) tahun 1982-1984. Kemudian menjadi Konjen RI di Hongkong tahun 1986-1989, KBRI Beijing (China) tahun 1989-1998. Setelah itu, dipromosikan menjadi Konjen RI di Merseile, Perancis pada tahun 2000 - 2003.

Zubir Amin Zubir juga pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Hubungan Kemasyarakatan (Humas) di Departemen Luar Negeri RI. Ketika bertugas bertugas di KBRI Madagaskar tahun 1979-1982, Putrinya yang diberi nama Nirina Zubir dilahirkan, sebagai hasil perkongsian hidupnya dengan Cut Indria Marzuki, yang berasal dari Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Nirina Zubir kemudian dikenal sebagai presenter dan artis seni peran papan atas di Tanah Air. Sedangkan dari segi adat, Zubir Amin merupakan pemangku gelar keturunan Anggun Nan Tongga Magek Jabang (dengan gelar Sultan Riayatsyah Nan Kodo Bahar), dan penghulu suku Mandailing Padusunan (gelar Datuk Rajo Jambi).

Pendidikan

Aisyah Dahlan menempuh pendidikan perdana-nya di Sekolah Desa di Nagari Sikapak selama 3 tahun. Ia menamatkan pendidikan di sekolah desa ini pada umur 10 tahun. Kemudian pada tahun 1930, ia melanjutkan pendidikan “mengaji” di Taman Pendidikan Surau Taluak (Sekarang Masjid Raya Al Furqan), Dusun Sikapak Usang, Nagari Tungka, Pariaman Utara, Kota Pariaman. Di Surau Taluak, ia diasuh dan dibimbing langsung oleh ayahandanya: H. Tuanku Mudo Amin, dan Tuanku Sidi Muhammad Husin. Tuanku Sidi Muhammad Husin ini merupakan pimpinan Thawalib School Padusunan pada tahun 1934.

Kemudian pada tahun 1933, Aisyah Dahlan pindah ke Sekolah Agama Thawalib School di Padusunan, dan menempati kelas V, satu kelas dengan Kamarisah A.N dan Jamilah Majid. Adapun yang menjadi gurunya ketika itu adalah Gutuo Mendek. Pada saat itu, Thawalib School Padusunan sedang berada pada puncak kejayaannya. Pada tahun 1935 - sebagai salah seorang dari 5 orang pelajar kelas VII (3 perempuan, dan 2 lelaki) - Aisyah Dahlan menempuh ujian akhir (eind examen), yang terdiri dari materi Syafahy dan Kitabi. Aisyah Dahlan berhasil menempuh ujian itu dengan baik, dan menjadi salah seorang dari lulusan pertama Thawalib School Padusunan.

Dalam ujian akhir tersebut, Aisyah Dahlan diuji oleh Tim Penguji yang dipimpin oleh “Guru Besar” : H. Sutan Ahmad Nazarudin Darab (H. Sutan Darab). Beliau merupakan salah seorang ulama pelopor gerakan “kaum muda” dan pembaharu sistim pendidikan keagamaan di Pariaman, Pendiri Diniyah School dan “Mudir” Perguruan Islam Darul Ma’arif Pariaman (Surau Tepi Air). Sebagaimana penjelasan Bagindo Said Zakaria dalam: “Riwayat Kota Pariaman” (1933) H. Sutan Darab merupakan salah seorang cucu kandung Syekh Muhammad Jamil El Khalidi, seorang ulama terbilang dan berpengaruh di Nagari Pasar Pariaman. (1830 M – 1928 M).

Setelah menamatkan pendidikannya di Sekolah Agama Thawalib School Padusunanan, Aisyah Dahlan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Bovenbouw Darul Ma’arif Pariaman (Surau Tepi Air), yang dipimpinan oleh H. Sutan Darab. Kemudian Ia melanjutkan pendidikannya ke Islamic College di Padang, dan tamat pada tahun 1940. Selain menempuh berbagai jenjang pendidikan formal, Aisyah Dahlan juga pernah mengikuti berbagai kursus politik, pelatihan organisasi dan kepemimpinan, serta Academic Training Course. Modal pendidikan yang dimilikinya ini sangat menunjang berbagai aktifitasnya di kemudian hari.

Keluarga

Artikel berjudul: “KH Muhammad Dahlan, Ketua PBNU yang penuh inisiatif” (www.pustaka.Islam.net.web.id. 17 Juni 2006), menjelaskan bahwa Aisyah Dahlan menikah dengan KH. Muhammad Dahlan, Menteri Agama Republik Indonesia pada era Kabinet Pembangunan I (1967-1971). KH. Muhammad Dahlan ini juga merupakan salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (NU), seorang tokoh yang berjasa mempelopori: pendirian organisasi Muslimat NU, pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional, dan pendirian Perguruan Tinggi Ilmu al Qur’an (PTIQ). Hasil perkongsian hidup Aisyah Dahlan dengan K.H. Muhammad Dahlan dikarunia empat orang putra putri, yaitu: Dr. Aida Sofiati Dahlan, Hafiz Dahlan, Dian Dahlan, Hamdan Dahlan.

Perjalanan Karir

Aisyah Dahlan pernah berkiprah aktif sebagai pendidik pada Thawalib School di Padusunan, menjadi guru bantu (asisten guru) Tuanku Sidi Muhammad Husin. Kemudian, juga pernah tercatat menjadi guru di Sekolah Thawalib Putri di Padang. Setelah itu, Aisyah Dahlan pernah diangkat menjadi kepala sekolah Taman Pendidikan Islam di Air Bangis, Pasaman, Sumatera Barat. Ketika berhijrah ke Jakarta, ia menjadi dosen di Pondok Pesantren Luhur, dan Akademi Dakwah Istiqlal Jakarta, serta di Akademi Dakwah dan Publisitas Jakarta.

Aktifitas Dakwah Dan Politik

Aisyah Dahlan merupakan seorang aktifis pergerakan. Ia pernah memegang posisi sebagai ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Putri untuk wilayah Sumatera Barat dan Sumatra Tengah. Ia juga sangat aktif dalam kegiatan dakwah dan menjadi muballighah terkemuka, baik melalui mimbar dakwah maupun tulisan.

Dengan kapasitasnya sebagai istri dari Menteri Agama Republik Indonesia, semakin membuka pintu lebar untuk aktifitas dakwah dan politiknya. Pada tahun 1969-1971, ia mengkoordinir pendirian Ikatan Muallimah dan Muballighah (penceramah dan guru agama wanita), kemudian pada tahun 1980 memprakarsai berdirinya Himpunan Dakwah Muslimat Indonesia (NADWAH), sesuai dengan amanah Kongres X Muslimat NU di Semarang.

Selanjutnya, dalam kongres Muslimat NU tahun 1979 di Semarang, ia ditunjuk menjadi salah seorang ketua yang membidangi dakwah. Selama aktif di Muslimat NU, ia merintis berdirinya sekolah-sekolah di bawah naungan Muslimat NU.

Beberapa lembaga pendidikan yang didirikan dan dipimpinnya adalah lembaga pendidikan di lingkungan Istiqlal, seperti: TK, SD, dan Tsanawiyah Istiqlal, Taman Remaja Istiqlal, Perguruan Tinggi/Pesantren dan Akademi Dakwah Istiqlal, dan Pengajian Ibu-ibu Istiqlal. Puncak dari perjalanan karir Aisyah Dahlan adalah: ketika ia terpilih menjadi anggota Majlis Konstituante (Pembuat Undang Undang Dasar), dan Anggota Majlis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1966-1971.

Karyanya-karyanya

Aisyah Dahlan rupanya tidak hanya terkenal sebagai seorang aktifis dakwah dan politik saja. ternyata ia juga merupakan seorang penulis yang cukup produkti. Hal ini paling tidak tergambar dari beberapa karya tulis yang telah dihasilkannya, yaitu: Sejarah Lahirnya Muslimat NU di Indonesia (1955), Membina Rumah Tangga Bahagia (1969), Fatahillah dan Jayakarta (1970), Nabi Muhammad Saw. Rasul dan Pemimpin Ummat (1971), Membina Kehidupan Beragama dalam Keluarga (1973),  Menuju Keluarga Sejahtera Bahagia (1974), Wanita antara Monarche dan Monopouse (1978), Seratus Tahun Ibu Kartini(1979) - yang disusun bersama tokoh Muslimat NU lainnya -, Thawalib School Padusunan 55 Tahun (1985).

Penghargaan dari Pemerintah

Untuk menghargai peran dan keterlibatan Aisyah Dahlan dalam bidang penerangan dan pendirian dapur umum ketika terjadinya perang kemerdekaan, kemudian posisinya sebagai ketua GPII Putri Sumbar, dan perannya sebagai sekretaris Badan Pembantu Kecelakaan Korban Perang (BPKKP) selama masa pengungsian pada zaman Pemerintahan Darurat RI di Kota Tinggi Sumbar, maka ia dianugerahi “Piagam Penghargaan” sebagai eksponen Pejuang 45 oleh pemerintah Republik Indonesia. Aisyah Dahlan meninggal dan dikebumikan di Jakarta.

Demikian sekelumit narasi tentang kiprah Aisyah Dahlan ini disajikan. Walau apapun, narasi ini hanyalah sebuah permulaan, belum menyentuh secara menyeluruh mengenai kehidupan, kiprah dakwah dan politik Aisyah Dahlan. Ibarat gunung es di tengah lautan, narasi ini hanya baru menyentuh secuil puncaknya saja, belum mampu mengorek sampai ke dasar gunung es tersebut. Narasi ini hanya sekedar “mambantangan lapiak, ma ingek ingek an jikok talupo”, sebagai salah satu bentuk kecintaan anak nagari terhadap nagari tempat tumpah darah kelahiran. (*)
Bagikan Tautan Kampanye, Sekretaris Panwascam Lubuk Alung Diproses Bawaslu
Foto: Nanda
Pariaman - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Padangpariaman meneruskan hasil kajian dugaan pelanggaran netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilakukan kepala sekretariat Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Lubuk Alung, Medi Hendra ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).
        
"Terlapor adalah ASN, sehingga hasil kajiannya kami teruskan ke Komisi ASN untuk ditindaklanjuti," kata Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Padangpariaman, Zainal Abidin di Pauhkambar, Rabu (23/1).
         
Menurutnya, dugaan pelanggaran tersebut berawal dari hasil pengawasan Bawaslu Kabupaten Padangpariaman yang menemukan akun facebook terlapor yang membagikan unggahan bermuatan kampanye dari dua calon legislatif.
         
Konten diunggah akun facebook Mahatul Chaniago dibagikan oleh terlapor pada 11 Januari 2019 silam. Tidak hanya sekali, terlapor kembali membagikan tautan berita dari Sumbarnet.com, 56 menit setelah unggahan pertama dibagikan.
       
"Temuan itu menyimpulkan terjadinya pelanggaran netralitas ASN," ulasnya.
         
Sementara terkait dengan posisi sebagai kepala sekretariat, pihaknya akan melakukan pergantian yang saat ini sedang dipersiapkan oleh koordinator sekretariat Bawaslu Kabupaten Padangpariaman.
         
"Sedang diproses oleh sekretariat," pungkasnya.
         
Sebelumnya, Bawaslu Kabupaten Padangpariaman juga telah memproses dugaan pelanggaran netralitas ASN yang dilakukan oleh oknum pegawai Kantor Kemenag Kabupaten Padangpariaman. (Nanda)

Wow! Pemerintah Australia Mulai Lirik Potensi Kota Pariaman
Genius Umar bertukar cinderamata dengan pihak Kedubes Australia. Foto: Nanda
Pariaman - Asisten II Bidang Politik Kedubes Australia untuk Indonesia, Amy Keough mengunjungi Kota Pariaman. Dalam kunjungan itu, kemungkinan kerjasama di berbagai bidang antara Pemerintah Australia dan Pemerintah Kota juga menjadi topik pembahasan.

"Saya mewakili dubes bertemu untuk menjalin silaturahmi. Mungkin saja ada yang bisa dikerjasamakan ke depannya," ujarnya.

Ia menyebut Kota Pariaman akan melalui perkembangan yang pesat di bidang ekonomi dan pariwisata. Potensi keindahan alam, jika dikelola dengan maksimal akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Kota Pariaman. 

"Potensinya sangat bagus, jika dimaksimalkan pengelolaannya akan ada dampak ekonomi yang besar," pungkasnya.

Walikota Pariaman, Genius Umar mengatakan pertemuan dengan pihak kedubes Australia adalah awal yang baik untuk membuka peluang kerjasama antar pemerintah.

"Kita sedang meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pengembangan pariwisata. Kerjasama dengan perguruan tinggi untuk beasiswa anak muda kita di Kota Pariaman. Mungkin saja ada terbuka peluang untuk kerjasama dengan pemerintah Australia. Begitu pula di bidang pariwisata," kata Genius yang menguasai lima bahasa itu.

Sebagai kota kecil yang memiliki garis pantai sepanjang 12 kilometer, perkembangan dan kemajuan Kota Pariaman tidak meninggalkan nilai adat dan kebudayaan lokal Pariaman. Budaya, adat dan tradisi tetap dipertahankan.

"Pemko Pariaman mempertahakan kearifan lokal budaya Minangkabau dengan menghidupkan kembali fungsi Dubalang dan Barakai di setiap dusun yang ada di Kota Pariaman, serta menggerakkan semangat gotong royong masyarakat," ulasnya.

Dalam perbincangan itu juga, Genius Umar mempertegas komitmen pemerintah Kota Pariaman menolak perilaku LGBT yang saat ini menjadi permasalahan secara nasional.

"Ini menjadi perhatian khusus bagi Pemko Pariaman yang diwujudkan dengan dikeluarkannya Perda Trantibmum yang menindak pelaku asusila LGBT. Perilaku LGBT bertentangan dengan nilai agama Islam dan budaya Minangkabau," pungkasnya. (Nanda)
Pasar Pariaman Akan Dibangun, Apa Kata Pemilik Kios?
Foto: OLP
Pariaman - Walikota Pariaman Genius Umar menegaskan pembangunan ulang Pasar Pariaman harus tuntas tahun ini juga. Karena menurutnya dana untuk pembangunan ulang pasar dari pemerintah pusat senilai Rp120 miliar tersebut, punya batas/limit sesuai RPJM Nasional yang berakhir hingga 2019.

"Karena ini merupakan kesempatan emas bagi Kota Pariaman. Jika kita bangun dari dana APBD, selesainya bisa mencapai 10 hingga 20 tahun. Kita beruntung mendapatkan dana Inpres dari pusat," kata Genius Umar di Pariaman, Rabu (23/1).

Meski demikian, kata Genius, pihaknya perlu dukungan semua pihak demi kelancaran pembangunan ulang (revitalisasi) pasar Pariaman. Mulai dari tokoh masyarakat, Asosiasi Pedagang Pasar, para pemilik kios dan pedagang pasar itu sendiri.

"Peruntukan pasar Pariaman murni bagi masyarakat Pariaman. Murni bagi pedagang. Kita, Pemko, tidak berbinis. Kita hanya berpikir bagaimana warga Pariaman memiliki pasar yang resperentatif, higienis sekaligus indah. Pasar yang kita miliki sekarang sudah berumur 30 tahun, sudah berkali-kali kena gempa. Kita bisa lihat sendiri bagaimana rapuhnya kondisi pasar sekarang," ungkap Genius.

Pasar Pariaman sendiri merupakan Pasar Serikat B, milik empat kanagarian. Pasar sekarang dibangun pada 1988 pasca kebakaran 1987. Pasar Pariaman kemudian mulai dihuni pada 1990 hingga saat ini.

Pasar Pariaman berdiri di atas lahan seluas 4.545 meter dengan luas bangunan 4.500 meter. Pada lantai pertama pasar terdapat sebanyak 153 kios, di lantai dua sebanyak 205 kios, ditambah 5 unit los. Saat ini sekitar 210 pedagang aktif berdagang/jasa di kios Pasar Pariaman.

Kepala Dinas Koprindagkop/UKM Pariaman Gusniyetti Zaunit menyebutkan, progres pembangunan ulang pasar sudah masuk pada tahap lelang. Mulai dari tender pembangunan pasar yang dilakukan di Jakarta, hingga persiapan pembuatan pasar darurat penampungan.

Ia bilang, meski pasar yang akan dibangun memiliki 4 lantai, namun jumlah kios yang akan disediakan tetap sama dengan jumlah yang ada saat ini.

"Kita tidak punya kepentingan apa-apa. Jumlah kios sama dengan sekarang. Akan repot jika dilebih-lebihkan," kata Gusniyetti.

Pihaknya juga akan menerapkan sistim sewa pada bangunan pasar baru. Sistim kepemilikan sebagaimana sebelumnya akan dihapuskan.

"Prioritas penyewa tentu saja yang punya kartu kuning (pemilik kios)," imbuhnya.

Guna menyamakan persepsi dengan para pemilik kartu kuning, kata dia, pihaknya akan mengundangya pada tanggal 29 Januari mendatang.

"Kita akan hearing dengan pemilik kartu kuning. Ini penting dilakukan agar pemilik kios tidak termakan isu-isu lain di lapangan," pungkasnya.

Pemilik tiga unit kios di Pasar Pariaman, Life Iswar menyebut pihaknya mendukung revitalisasi Pasar Pariaman, asalkan ada kejelasan status pemilik kios.

Ia bilang, sampai saat ini banyak pemilik kios belum mendengar langsung dari pemerintah perihal status mereka jika pasar baru selesai dibangun.

"Siapa yang tidak ingin pasarnya bagus. Kita dukung, tentu saja. Di balik itu semua kita juga perlu kejelasan," ungkap Life Iswar yang juga anggota DPRD Kota Pariaman. (OLP)
Cekcok, Oknum PNS Padangpariaman Tusuk Warga Hingga Tewas
Foto: Nanda
Paritmalintang - Tiga luka mengangga akibat tikaman sangkur membuat nyawa Jupri, warga Nagari Anduriang, Kecamatan Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman melayang.
        
Ia merupakan korban penusukan yang diduga dilakukan oleh AN (39), ASN Dinas Perhubungan Kabupaten Padangpariaman di Pos Ronda Korong Balah Air, Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padangpariaman pada Selasa (22/1).
         
Kapolres Padangpariaman, AKBP Rizky Nugroho dalam keterangan resminya, Rabu (23/1) menerangkan, sebelum aksi penikaman korban sempat cekcok dengan adik pelaku, Bripka NN yang saat itu sedang bertugas mengatur arus lalulintas di jalan lokasi pengerjaan jembatan darurat Batang Kalu.
        
"Pertengkaran tersebut telah dilerai oleh Koptu Algut, Bhabinsa Nagari Kayutanam dan Bripka Afdal Jura anggota Sat Lantas Polres Padangpariaman. Sudah selesai," terangnya.
        
Usai dilerai petugas dan warga, korban pergi ke menuju Pos Ronda Lubuak Pauh di Korong Balah Air Nagari Anduriang. Tidak berselang lama, korban yang saat itu tengah duduk Pos Ronda bersama 4 orang warga, didatangi pelaku bersama salah seorang saudara pelaku yakni RPN.
       
Dilanjutkannya, setiba di lokasi, RPN mengeluarkan celurit kecil dan menunjuk ke arah korban. RPN sempat menantang korban, namun dilerai oleh warga. Secara tiba-tiba, pelaku AN langsung menikam korban menggunakan sangkur. Tiga tikaman di bagian dada, leher dan punggung membuat korban terkapar.
        
"Korban sempat dievakuasi ke Puskesmas Kayutanam, namun nyawa korban tidak bisa tertolong," ulasnya.
       
Saat ini tersangka diamankan di Mapolres Padangpariaman. Hingga saat ini polisi telah meminta keterangan kepada tiga orang saksi. Sementara motif perbuatan pelaku masih dalam penyidikan. (Nanda)
Jelang Tahapan Krusial Pemilu, Bawaslu Padangpariaman Perkuat Koordinasi dengan TNI-Polri
Jajaran Bawaslu Padangpariaman salam komando dengan Dandim 0308/Pariaman Foto: Nanda
Pariaman - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Padangariaman lakukan koordinasi dengan Kodim 0308/Pariaman, Polres Pariaman dan Kejaksanaan Negeri Pariaman, Selasa (22/1).

Koordinasi dilakukan untuk memperkuat sinergitas lembaga terkait sebelum masuknya tahapan krusial pemilu 2019, yaitu tahapan pemungutan, penghitungan dan rekapitulasi suara.

"Ini penting kami (Bawaslu) lakukan. Dalam kesempatan ini juga kami ingin menghimpun masukan untuk kelancaran pemilu," kata Ketua Bawaslu Kabupaten Padangpariaman, Anton Ishaq saat silaturahmi dengan Dandim 0308/Pariaman dan Kapolres Pariaman, Selasa (22/1).

Ia juga meminta saran dan informasi dari pihak terkait tentang kerawanan yang mungkin terjadi, sehingga pemilu 2019 menjadi terganggu. Pihaknya akan melakukan upaya untuk menimalisir terjadinya pelanggaran pemilu dengan memaksimalkan upaya pencegahan.

"Kita upayakan pencegahan terhadap hal yang menganggu kelancaran pemilu. Termasuk pelanggaran, dengan informasi kerawanan kita bisa maksimal mencegah terjadinya pelanggaran," ulasnya.

Dalam kunjungan itu, Bawaslu Padangpariaman mengingkatkan agar ASN, anggota TNI-Polri bersikap netral pada pemilu 2019.

"Ada satu pelanggaran netralitas yang telah kita proses. Belajar dari itu maka selalu kami ingatkan, mungkin melalui pimpinan instansi terkait agar tetap netral selama pemilu digelar," pungkasnya.

Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0308/Pariaman, Letkol Arm Heri Pujianto menyatakan kesiapan pihaknya mensukseskan pemilu 2019 di Kabupaten Padangpariaman.

Bahkan, personil Babinsa TNI sebagai pembinaan teritorial di desa juga mensosialisasikan pemilu dan imbauan pemilu agar masyarakat menciptakan pemilu damai 2019.

"Kita siapkan personil untuk mendukung pengamanan pemilu 2019. Kami juga sosialisasikan tentang penyelenggaran pemilu kepada masyarakat," pungkasnya. (Nanda)
Dandim Pariaman Pastikan Tindak Tegas Anggota yang Tak Jaga Netralitas di Pemilu
Jajaran Bawaslu Padangpariaman salam komando dengan Dandim 0308/Pariaman
Pariaman - Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0308/Pariaman, Letkol Arm Heri Pujianto menekankan agar jajarannya menjaga netralitas pada pemilu 2019.

Aturan tegas tersebut sesuai ketentuan aturan pemilu dan aturan internal TNI yang mengatur sanksi tegas apabila ada anggota TNI yang melanggar netralitas.

"Kita tetap instruksikan kepada seluruh personil menjaga netralitas dalam pemilu. Hak politik kami tidak ada. Jika ingin terlibat kampanye dan politik praktis, silahkan pensiun," kata dia di Pariaman, Selasa (22/1).

Ia mengatakan faktor personil TNI ataupun ASN melanggar netraltas pada pemilu, salah satunya dikarenakan adanya hubungan seperti hubungan suami, istri ataupun hubungan kekeluargaan lainnya.

"Istri personil TNI di Kodim 0308/Pariaman yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang Kodim 0308/Pariaman menjadi calon anggota legislatif pada pemilu 2019. Aturan sekarang memang memperbolehkan anggota Persit mencalonkan diri pada pemilu. Namun sekitar 250 orang keanggotaan persit tidak ada yang menjadi caleg," ulasnya.

Meskipun ada keluarga anggota yang menjadi calon pada pemilu, tindakan anggota TNI ada batasnya dengan tidak ikut kegiatan kampanye ataupun tindakan yang menunjukkan dukungan dan keberpihakan.

"Jangan penggunaan fasilitas dinas dipinjamkan untuk kampanye keluarga," pungkasnya.

Terpisah, Ketua Bawaslu Padangpariaman, Anton Ishaq mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi netralitas ASN, anggota TNI dan Polri pada pemilu 2019.

"Kita sudah sosialisasikan baik itu dalam kegiatan tatap muka dalam forum ataupun dengan surat resmi ke masing-masing instansi," ujarnya.

Bawaslu Kabupaten Padangpariaman, lanjut dia telah memproses satu temuan dugaan pelanggaran netralitas ASN di Kabupaten Padangpariaman.

"Kita sudah proses temuan terkait pelanggaran netralitas ASN tersebut. Kita akan sampaikan hasil dan rekomendasinya," pungkasnya. (Nanda)
Genius Serahkan Puluhan Unit Bantuan ke Kelompok Nelayan
Salah satu item bantuan yang diserahkan adalah unit becak motor. Foto: Junaidi
Pariaman - Pemko Pariaman melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan berikan bantuan kepada kelompok nelayan dan penjual hasil tangkap ikan Pariaman.

Bantuan yang diserahkan berupa 9 unit becak motor roda tiga, 20 unit mesing longtail, 80 unit fishbox dan 20 paket alat tangkap ikan atau gillnet.

Bantuan tersebut merupakan dana pokok pikiran (pokir) lima orang anggota DPRD Kota Pariaman pada APBD Perubahan 2018. Mereka di antaranya Reza Saputra, Hamdani, M Yasin, Jonasri dan Nasril.

"Kita terima proposal. Dari proposal tersebut kita buatkan kebutuhan apa yang diperlukan oleh mereka," ungkap Kepala Dinas Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Pariaman, Dasril, Selasa (22/1) di Pariaman.

Kepada para penerima pihaknya mengingatkan agar bantuan tersebut dipertanggungjawabkan dengan baik, dirawat dan dipelihara.

"Tidak boleh digunakan untuk kegiatan lainyna, apalagi dialihfungsikan kepada yang lain. Apabila kita temui hal tersebut di lapangan, maka bantuan ini akan kita tarik kembali," katanya.

Walikota Pariaman Genius Umar berharap bantuan tersebut dimanfaatkan penerima untuk peningkatan ekonomi keluarga. Pemberian bantuan guna memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat dalam rangka peningkatan usaha yang mereka geluti.

"Gunakan bantuan sebaik-baiknya. Kita berharap bantuan ini betul-betul bermanfaat bagi mereka," ujar Genius Umar.

Genius bilang tujuan diberikannya bantuan tersebut adalah untuk menjaga kualitas ikan agar sampai di tangan konsumen dalam keadaan segar dan layak konsumsi.

"Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, meningkatkan perluasan lapangan kerja serta kesempatan usaha dan produksi usaha perikanan tangkap," tandasnya. (Juned/*)