19 August 2017

Dipimpin Hendra Aswara, Investasi Padangpariaman Naik 4 Kali Lipat
Bupati Ali Mukhni serahkan piagam penghargaan kepada Kadis PMPTP Hendra Aswara usai upacara Kemerdekaan RI di Halaman Kantor Bupati di Parit Malintang, Kamis (17/8).
Paritmalintang -- Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman memberikan penghargaan kepada empat orang ASN berprestasi dan memiliki inovasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Keempat ASN tersebut yaitu Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu dan Peridustrian (DPMPTP) Hendra Aswara, Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Budi Mulia, Kabag Umum Eli Marni dan Kabag Pengadaan Barang dan Jasa Deni Irwan.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Bupati Ali Mukhni didampingi Wabup Suhatri Bur usai upacara bendera Hari Kemerdekaan RI di Halaman Kantor Bupati di Parit Malintang, Kamis silam (17/8).

"Jadikan penghargaan ini sebagai bahan bakar, sebagai penyemangat, untuk terus berinovasi dan bekerja untuk kepentingan umat," ujar Ali Mukhni sambil menepuk bahu Kadis PMPTP Hendra Aswara.

Bupati Ali Mukhni mengatakan, keempat ASN tersebut setelah dilakukan evaluasi kinerja dan target, menunjukkan hasil yang membanggakan.

Pada DPMPTP telah melaksanakan perijinan online sehingga menumbuhkan nilai investasi. Tahun 2017 ini, kata dia, target investasi yang dibebankan Pemprov Sumbar kepada Pemkab Padangpariaman sebesar Rp47 miliar. Namun pada bulan Agustus telah tercapai 168 miliar. Artinya investasi meningkat hampir empat kali lipat dari target propinsi.

"Investasi meningkat pesat, artinya, kita berikan pelayanan perijinan yang mudah, transparan dan tanpa pungli. Jadi investor merasa nyaman berbisnis di Padangpariaman," ungkap Ali Mukhni.

Sedangkan Dinas Pekerjaan Umum dinilai berhasil dalam penyerapan anggaran fisik tertinggi di Sumbar sebesar 98,57% pada tahun 2016. Artinya, seluruh pekerjaan fisik berhasil dituntaskan dan telah dinikmati masyarakat.

"Kita ingin prestasi serupa dipertahankan pada tahun ini. Pembangunan jalan, jembatan, irigasi dan gedung tetap menjadi prioritas," ungkap Peraih Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI itu.

Kemudian pada Bagian Umum layak diapresiasi dalam penataan ruangan kantor bupati yang berbasis lingkungan. Mulai dari pintu masuķ, lobby hingga aula terjaga kebersihannya. Kemudian berkomitmen menjadikan kantor bupati sebagai kawasan tanpa asap rokok.

Selanjutnya Bagian PBJ dinilai berhasil dalam percepatan proses tender dimana lelang dimulai di awal Januari, sehingga pekerjaan bisa segera dimulai dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Bahkan tahun ini sebelum lebaran sudah ada proyek yang telah PHO. Jadi tender lebih awal sangat berdampak positik untuk ekonomi masyarakat," tandasnya.

Sementara itu Kadis PMPTP Hendra Aswara, di Pariaman, Sabtu (19/8), mengaku tidak menyangka akan diberikan reward oleh orang nomor satu di Padangpariaman itu.

"Kami ucapkan terima kasih pada Bapak Bupati. Penghargaan ini dipersembahkan untuk seluruh personil DPMPTP. Dengan kerja bersama, kita berikan best service untuk masyarakat," kata Jebolan STPDN Jatinangor itu. (Tim)

18 August 2017

Veteran 45 Sedih Merah Putih Tak Banyak Berkibar di HUT RI

Lubuak Pandan -- Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih di halaman rumah, perkantoran dan gedung lainnya dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72 tahun 2017, membuat pejuang kemerdekaan RI sangat prihatin.

"Kami berjuang mengusir bangsa penjajah Belanda dengan tetesan darah berwarna merah. Ribuan pejuang bercucuran darah hingga tewas akibat serangan tentara Belanda," ungkap salah seorang pejuang Kemerdekaan RI 1945 di Kabupaten Padangpariaman bernama Labai Burhan, Jumat (18/8/2017).

Burhan yang ditemani istrinya Rabaani, kini tinggal di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padangpariaman.

Burhan mengaku sedih menyaksikan generasi sekarang yang seakan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Mereka harus berhadapan dengan bedil, senjata mortir dan tank tentara Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali dalam agresi Belanda membonceng Sekutu.

”Nyawa mereka dipertaruhkan. Tapi hari ini dengan memasang bendera merah putih sebagai simbol bangsa Indonesia di hari peringatan kemerdekaan saja, terlihat banyak yang tidak memasang. Hendaknya ini perlu menjadi perhatian para pemimpin di masyarakat,” kata Burhan.

Burhan juga menceritakan perjuangannya pada perang kemerdekaan tahun 1949. Ia berkata, suatu hari Komandan Pleton Abdulllah PO (dibaca pe o) di Pakandangan menyuruhnya menjemput peluru ke Sicincin.

Dengan seorang teman, berangkat ia ke Sicincin. Dalam perjalanan bertemu dengan 12 orang pasukan Belanda. Mereka sangat kuatir jika tentara Belanda menembakan senapan, pasti tewas.

Agar tidak menarik perhatian tentara Belanda, ia tetap berjalan tanpa menunjukkan akan melakukan perlawanan. "Nasib baik, tentara Belanda tidak melakukan penempakan,” kata Burhan yang kini sudah berumur 100 tahun, namun di KTP tertulis kelahiran 15 April 1929 karena alasan naik haji tahun 2007, tahun kelahirannya terpaksa dimajukan.

Menurut Burhan, meski turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan RI, dirinya tidak pernah menerima pensiun sebagai veteran.

"Dulu memang ada yang mau mengurusnya. Namun hingga kini tidak ada hasilnya. Sedangkan teman-teman dan anggota sesama pejuang di pleton 142 sudah lama wafat. Komandan Pleton Datuak Borong dan Wakilnya Buyung Gili, keduanya dari nagari Lubuk Pandan," jelasnya.

Bahkan kata dia, dalam mengurus pensiun veteran, ada pula yang mau mengurus status veterannya, tapi dimintai sejumlah emas sebagai imbalannya yang hingga kini tak jelas,” kata Burhan yang memiliki 4 isteri dan 18 orang anak.

Tokoh muda Padangpariaman Zeki Aliwardana, rendahnya perhatian masyarakat terhadap pemasangan bendera merah putih menunjukan rendahnya pemahaman nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Generasi muda semakin tidak akrab dengan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan.

”Apalagi derasnya arus melalui media sosial, televisi dan media internet yang tidak sebanding dengan penyebaran nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. Sinetron atau tayangan di televisi yang banyak digandrung masyarakat, terlihat lebih  banyak tidak menumbuhkan nilai-nilai semangat nasionalisme dan kebangsaan tersebut,” kata Zeki.

Menurut Ketua Ansor Padangpariaman itu, harus ditanamkan sejak dini nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada anak-anak bangsa. Sekolah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan tersebut. (Tim)
Jadi Kampung Makanan Ringan, Jalan Sempit di Kampung Perak Akan Diperlebar

Pariaman -- Pemko Pariaman rencanakan pelebaran jalan di kawasan Kampung Makanan Ringan di Keluahan Kampung Perak, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman. Pelebaran jalan tersebut merupakan dukungan Pemko Pariaman memudahkan akses jalan di kawasan sentral makanan ringan yang menjadi oleh-oleh khas Kota Pariaman itu.

Saat ini, jalan kawasan yang mencapai panjang 300 meter itu memiliki lebar 4 meter. Kondisi jalan yang sempit di kawasan tersebut, hanya bisa dilalui oleh dua kendaraan minibus dan akan tersendat jika ada kendaraan mobil parkir dibadan jalan.

“Dengan akses jalan yang luas dan lalulintasnya yang lancar, secara tidak langsung akan membuat pengunjung nyaman berbelanja oleh-oleh khas Pariaman,” ujar Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, usai meresmikan gapura Kampung Makanan Ringan di Kelurahan Kampung Perak, Jumat (18/8) pagi.

Rencana pelebaran akses jalan di kawasan sentra makanan ringan kata dia juga merupakan bentuk komitmen Pemko Pariaman mengembangkan UMKM yang ada --menupang perkembangan wisata di Pariaman.

“Wisata harus didukung dengan oleh-oleh, tentunya berkembangnya kawasan ini (kampung makanan ringan), akan membuat wisatawan betah datang ke Kota Pariaman,” sebutnya.

Kata Mukhlis, saat ini di kampung makanan ringan Kota Pariaman, terdapat 25 UMKM yang telah memiliki izin PIRT dan telah disertifikasi halal dengan jumlah tenaga kerja lebih kurang 150 orang dengan produksi mencapai 100 kg/hari dan Rp1.5 miliar.

Dikatakannya, perkembangan UMKM di kawasan kampung makanan ringan tersebut, juga mendapat dukungan dari dukungan CSR PT Semen Padang dalam melakukan pembinaan terhadap UMKM di Kota Pariaman.

“Melalui program CSRnya dengan membangun gapura kampung makanan ringan, pembinaan langsung IKM dengan tenaga ahli berkompeten dan bantuan pinjaman lunak kepada 54 IKM dari PT Semen Padang sebesar Rp 525 juta," ungkap dia.

Ia juga mengapresiasi kerja keras dan komunikasi yang dibangun Kadis Perindag Koperasi dan UMKM Kota Pariaman yang menggaet program CSR PT Semen Padang untuk dikucurkan kepada UMKM.

“SOPD yang lain harus mencontoh, kita bisa kerjasama dengan pihak lain untuk memajukan masyarakat, bukan hanya mengandalkan ABPD,” pujinya.

Sementara itu, Kepala Departemen KUS PT Semen Padang Iskandar Lubis, mengatakan, PT Semen Padang memiliki pandangan bahwa pengembangan usaha tidak hanya berorientasi pada "provite oriented", namun juga memperhatikan aspek pemberdayaan ekonomi masyarakatnya, melalui CSR perusahaan semen tertua di Asia Tengara itu, mempertegas komitmen PT Semen Padang mengembangkan ekonomi masyarakat nagari.

Ia menilai, pemusatan UMKM dengan produk sejenis dalam satu kawasan seperti di kampung makanan ringan Kampung Perak, sangat memudahkan melakukan pembinaan dan pemberian dukungan modal lainnya.

“Ibaratnya satu cluster ya, kita jadi mudah mengawasinya karena letaknya dalam satu kawasan dan juga satu jenis, jadi enak pembinaannya nanti,” ujarnya.

Ia juga berharap Pemko Pariaman melalui dinas terkait dapat terus memfasilitas PT Semen Padang melalukan kemitraan dengan pelaku UMKM di Kota Pariaman. Keterbatasan sumber daya manusia yang membidangi CSR yang hanya 10 orang dengan mitra binaan berjumlah 1800 mitra binaan, akan sangat membutuhkan dukungan dari pemko setempat.

“Kita harap dukungan fasilitasi dari Pemko Pariaman, karena memang tidak hanya saat ini saja pembinaan dan kemitraan ini kita lakukan. Bahkan bagi pelaku UMKM di sini dapat berpeluang mendapatkan pinjaman lunak dari PT Semen Padang dengn bunga 3 persen. Maka dari itu, kerjasamanya sangat kita harapkan,” pungkasnya. (Nanda)
Kampung Perak, Kampung Makanan Ringan Pariaman

Pariaman -- Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindag Kop UMKM)Kota Pariaman, meriahkan peringatan Hari Koperasi tahun 2017 dengan jalan santai di Pantai Gondariah, Jumat (18/8). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian rangkaian peringatan HUT RI ke-72 tahun 2017 di Kota Pariaman.

Kepala Dinas Perindag Kop UMKM Kota Pariaman Gusniyetti Zaunit, mengatakan, kegiatan jalan santai dilaksanakan dalam peringatan hari koperasi tahun 2017 dan akan dilaksanakan setiap tahunnya. Selain jalan santai, juga dilaksanakan peresmian Kampung Makanan Ringan di Kelurahan Kampung Perak, Kota Pariaman.

Menurutnya, perkembangan koperasi di Kota Pariaman menunjukan peningkatan. Tidak hanya dari sisi jumlah, namun juga kualitas koperasi itu sendiri.

“Bukan hanya sisi jumlahnya saja, juga kualitas koperasi,” ujarnya.

Ketua Dekopinda Kota Pariaman Romi Rusli, mengatakan, di tahun 2017, koperasi di Kota Pariaman yang dominan bergerak di bidang usaha UMKM kerajinan dan kuliner khas Pariaman, mendapatkan bantuan berupa etalase, bantuan modal yang bersumber dari CSR PT Semen Padang dan Dinas Perindag UMKM Kota Pariaman.

“Dukungan dari pihak pemko dan BUMN untuk koperasi sangat baik. Tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga pembinaan secara berkelanjutan,” kata dia.

Ia juga mengingkatkan agar masyarakat tidak asal mendirikan koperasi. Belakangan di daerah lain, banyak dijumpai praktik pendirian koperasi yang dilatari untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah ataupun BUMN, namun pada operasionalnya sarat dengan permasalahan.

“Pendirian dan operasional koperasi juga mengandung peluang terjadinya korupsi. Di daerah lain ada terjadi praktik untuk mendapatkan bantuan, didirikanlah koperasi, tapi kegiatannya tidak jelas,” sebutnya.

Sementara itu Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, berkomitmen akan terus mengembangkan koperasi menjadi kekuatan ekonomi di Kota Pariaman. Menurutnya, koperasi yang didasari oleh azas kekeluargaan dan gotong rotong terbukti memiliki pondasi yang kuat saat terjadinya krisis ekonomi.

Selain Walikota Pariaman, dalam kegiatan itu juga dihadiri Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, Kepala Departemen KUS PT Semen Padang Iskandar Lubis, Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyuddin, Kasdim 0308/Pariaman Mayor Inf Marjoni M, Kapolres Pariaman AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, Sekdako Pariaman Indra Sakti, Ketua Dekranasda Kota Pariaman Reni Mukhlis dan SOPD se Kota Pariaman. (Nanda)
Calon Haji Padangpariaman Doakan Negeri dari Tanah Suci

Mekkah -- Jika di Indonesia seluruh daerah memperingati HUT RI ke-72 melalui upacara bendera, jamaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) 15 embarkasi Padang yang sedang berada di tanah suci, juga memperingatinya dengan mengadakan taushiah, zikir dan doa bersama.

"Tema kegiatan yang diangkat oleh panitia adalah "Doa untuk Negeri, dari Tanah Suci" dilaksanakan di Hotel Asfar Plaza, sektor 7, berjarak sekitar 3,5 km dari Masjidil Haram," ujar Afrinaldi Yunas, Tim TPHD Padangpariaman melalui surat elektoniknya yang diterima redaksi, Jumat (18/8/2017). JCH Padangpariaman memang tergabung dalam kloter 15.

Diawali dengan arahan dan amanat dari Sekda Padangpariaman Jonpriadi, kegiatan dimulai lebih awal dari jadwal yang direncanakan, yaitu pukul 05.37 waktu setempat.

Pada kesempatan tersebut Jonpriadi berpesan agar jamaah ikut serta menjaga kebersamaan dalam membangun bangsa, negara, dan daerah melalui doa dari tanah suci.

"Saat berada di tempat mustajab agar jamaah ikut mendoakan negara dan daerah asal mereka," kata Jonpriadi.

Selanjutnya, jemaah mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustadz Tuanku Baharudin. Baharudin dalam tausiahnya mengingatkan bahwa di antara asbab bisa sampai di tanah suci adalah karena negara Indonesia aman dan telah merdeka.

"Kemerdekaan yang diupayakan oleh segenap pahlawan bangsa," ujarnya.

Dalam doa yang dipanjatkan dengan khusyu oleh seluruh jamaah calon haji itu diperuntukan bagi negara, daerah dan keluarga. Jamaah berharap doa yang mereka panjatkan menjadi bagian (kado) kecil untuk negara mereka di ulang tahun yang ke-72. (Tim)
Laporan Haji: JCH Padangpariaman Laksanakan Umrah Sunnah

Mekkah -- Seusai tausiah, zikir dan doa untuk bangsa, jamaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) 15 embarkasi Padang, mulai melaksanakan umrah sunnah, Jumat (18/8/2017), di Makkah, Arab Saudi. Tegabung di sana JCH Padangpariaman.

Tepat pukul 08.15 waktu setempat, dari total 392 JCH, sebanyak 88 orang berangkat dari hotel menuju Miqat (tan'im) menggunakan mobil sewaan yang didampingi oleh petugas haji untuk melaksanakan Ihram (niat umrah).

12 orang diantaranya menggunakan kursi roda oleh keterbatasan fisik --kondisi fisik yang terbatas. Setiba di Tan'im, jamaah melakukan salat sunnah 2 rakaat dan mulai berniat Ihram.
 

"Selama perjalanan menuju Masjidil Haram, gema Talbiyah berkumandang, serasa hamba dan Tuhan amatlah dekat," ujar Afrinaldi Yunas Tim THPD Padangpariaman dalam surat elektroniknya yang diterima redaksi.

Di Baitullah, para jamaah melakukan Thawaf dan Sa'i, diakhiri dengan memotong rambut (tahalul).

Dalam rombongan tersebut terlihat Sekda Padangpariaman, Jon Priadi dan Staf Ahli Bupati, Taslim. Selesai mengerjakan serangkaian ibadah umrah, JCH kembali menuju hotel untuk beristirahat.

"Esok kegiatan jamaah calon haji adalah ibadah mandiri ke Baitullah," sebut Afrinaldi Yunas. (Tim)

17 August 2017

Merah Putih di Zaman Anas Malik
Foto: Istimewa/internet
Di pelosok desa, hampir seluruh warga sibuk membenahi pagar rumahnya masing-masing. Bermodal pagar kayu dan beberapa kaleng cat, seketika pagar disulap jadi dua warna merah-putih. Bambu betung sebagai tonggak bendera juga dicat pucat. Sore harinya berkibarlah ribuan bendera merah putih di setiap halaman rumah. Esok paginya tanggal 17 Agustus.

Kenangan 30 tahun silam itu, masa Pariaman dan Padangpariaman plus Mentawai masih menyatu dalam kepemimpinan Bupati Anas Malik. Program K-3 teraplikasi penuh di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada kambing, kerbau, jawi dan ternak lainnya lepas sembarangan. Tidak ada kambing mengacak isi pagar tetangga pemilik mereka. Tidak ada ayam melancong ke dapur. Semua ternak dikandangkan.

Pengisahan di zaman Anas Malik itu dituturkan oleh wartawan senior Nasrun Jon hampir setiap bertemu saya. Ia merupakan pegawai Departemen Penerangan merangkap Staf Humas di masa Anas Malik menjabat Bupati Padangpariaman periode 1980 hingga 1990.

Perihal hari kemerdekaan di zaman Anas Malik, saya sendiri saksi sejarah. Rutinitas cat pagar, membuat gapura bambu bercat merah putih di persimpangan desa lengkap pula ornamen bambu runcingnya. Bahkan pemuda desa dengan bangganya berselempang kepala merah putih, macam gaya di film Rambo.

Ketika Anas Malik tidak menjabat lagi, ketika saya pulang ke kampung halaman di tahun 1994, pagar rumah yang indah di Desa Pasir Pauh (kini Pauh Barat) tiada lagi. Menjelang 17 Agustus, jangankan untuk mengecat gapura, mencari selembar bendera untuk dipasangkan di halaman rumah hampir tak bersua. Akhirnya ditemukan Ibu saya dalam sebuah koper di lipatan paling bawah. Bendera kumal itu berkibar juga akhirnya. Tahun itu merah putih terakhir Ibu yang wafat di Bukittinggi pada tahun 1995.

Kambing, jawi, kerbau, ayam, kembali ramai berbaur dengan penduduk. Halaman rumah dipenuhi kotoran kambing dan ayam. Jika pintu rumah terbuka, kambing dan ayam tiba pula di dapur. Tak jarang kambing dan ayam tertabrak mobil di depan rumah yang dilalu-lalangi oplet tambangan Pariaman-Sungai Limau-Kampung Dalam-Tiku.

Nuansa hari kemerdekaan benar-benar terasa di zaman itu. 17 Agustus disambut bak Hari Raya Idul Fitri. Acara panjat pinang pun dihimpun dari swadaya masyarakat. Tidak ada penghampangan jalan mencari dana seperti saat ini yang acap kita temui di jalan-jalan. Dalam satu kilometer terkadang terdapat dua portal, macet tidak jalan olehnya.

Mengutip pemberitaan yang pernah keluar di media massa, portal jalan meminta sumbangan di Sumatera Barat, pernah mendapat teguran dari Gubernur Gamawan Fauzi. Namun tindak lanjut persoalan itu tidak terdengar lagi hingga sekarang.

Semangat hari kemerdekaan merubah semangat swadaya masyarakat dengan maraknya portal-portal itu. Padahal jika mereka menghimpun dana dari sumbangan masyarakat saja, diyakini akan mencukupi untuk sekedar menghelat acara sekelas panjat pinang. (OLP)
Mengenang Tragedi Berdarah Surau Batu Sintuak

Sintoga -- Peristiwa penembakan 40 orang anggota TRI/TNI,  pemuda pejuang kemerdekaan dan penduduk lainnya dari Nagari Sintuak Tobohgadang, Pakandangan, Kototinggi, Pauhkamba, Bintungantinggi dan sekitarnya oleh tentara Belanda, diperingati Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman dengan menyelenggarakan upacara 17 Agustus 2017 di lokasi pembunuhan.

Peristiwa tersebut terjadi pada  Selasa 7 Juni 1949, yang dilakukan oleh serdadu Belanda. Pembina Upacara Peringatan HUT RI ke-72, Ketua GP Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, menyebutkan, pelaksanaan upacara sengaja diselenggarakan di lokasi pembunuhan keji oleh tentara Belanda kepada TRI/TNI dan rakyat  untuk mengenang peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Surau Batu Sintuak.

"Karena eksekusi pembunuhan tersebut dilakukan di dekat surau Batu, persisnya di pinggiran sungai Batang Tapakih. Kita ingin mengingatkan semua pihak bahwa di lokasi ini pernah terjadi pembunuhan puluhan orang akibat mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan tentara Belada," kata dia.

Ia juga prihatin tidak adanya kepedulian pihak terkait terhadap pembangunan tugu yang dibangun untuk mengenang peristiwa tragis tersebut. Hingga kini tugu itu masih terbengkalai dan dipenuhi semak belukar. Karena dilaksanakan upacara peringatan 17 Agustus di tempat itu, lokasinya dibersihkan

Rangkaian sejarah perjuangan saat itu bermula dari gencarnya perlawanan pemuda dan pejuang TRI/TNI di Sintuak Tobohgadang sekitarnya membuat Belanda kalap dan melakukan serangan membabi buta.

Rakyat biasa, petani, saudagar jadi sasaran. Pagi 7 Juni 1949, satu kompi serdadu Belanda  melakukan penyisiran ke arah Barat dari Lubuak Aluang. Operasi dipimpin Kapten Backer Komando Markas Teritorial Belanda yang bergerak dari tiga jurusan, yaitu dari Selatan melalui Pungguangkasiak, dari Utara melalui Pakandangan dan Kototinggi serta dari Barat melalui Bintungan Tinggi, Pauhkamba, dan Tobohgadang.

Ketiga rombongan menyatu dan bertemu di pasar Sintuak, tepat di lapangan dekat stasiun kereta api Sintuak. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga rombongan  membawa orang-orang tangkapannya. Tujuan penyisiran menangkap gerilya pemuda pejuang kemerdekaan dan anggota TNI. Namun, setiap laki-laki dewasa yang ditemui digiring.

Di stasiun kereta api Sintuak, semua tangkapan dikumpulkan,  dibagi   tiga kelompok. Pertama, 20 orang dibawa ke Lubuak Aluang untuk diperiksa. Kedua,  35 orang disuruh pulang. Ketiga,  40 orang dibawa Belanda ke Surau Batu Sintuak. Kelompok ini  di halaman Surau  Batu mula-mula  disuruh duduk melingkar  mendengarkan tuduhan sebagai gerilya, ekstrimis, penghianat, perampok dan sebagainya.

Walaupun ada diantaranya  berteriak menyatakan bahwa ia petani, tidak tahu apa-apa,  tidak dihiraukan oleh serdadu Belanda. Kemudian digiring ke pinggir sungai Batang Tapakih berbaris  membelakangi kepada serdadu Belanda dan menghadapi aliran sungai. Tiga senapan mesin siap memuntahkan peluru.

Tiba-tiba terdengar komando tembak! Door… door….door. Sebanyak 37 orang tewas.  Mayatnya  dihanyutkan  Batang Tapakih yang waktu itu tengah banjir. 

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Masyarakat setempat tidak ada yang menyaksikan langsung, hanya bunyi tembakan dari jauh.  Tiga orang  terhindar dari maut. Ketiganya,  saat letusan senjata api musuh terdengar, mereka  cepat terjun  ke  sungai. Lalu menghanyutkan diri bersama air banjir.

Masing-masing  Zakaria alias Buyuang Gati,  ditangkap  di  Tobohluaparik,  Tobohgadang. Setelah hari gelap,  baru berani  keluar dari sungai dan pulang. Kedua,  Hongkong yang dibangunkan ketika masih tidur pukul 05.30 WIB   di Bayua Kototinggi.  Ketiga, Nasir Labai Buyung Itik,  ditangkap tentara Belanda di Surau Buluah Apo Sawahmansi Tobohgadang, ketika selesai shalat Subuh.

Nasir Labai Itik malam harinya sampai di Balaiusang Sintuak. Ia menceritakan kejadian pada masyarakat setempat. Informasinya dengan cepat tersebar luas dan malam itu juga masyarakat Sintuak  bersama-sama membawa lampu petromak mencari korban.

Karena  Batang Tapakih  banjir, masyarakat kesulitan mencari jenazah korban. Tidak semua  korban dapat ditemukan. Hanya beberapa  korban  dapat ditemukan.  Enam  korban yang tidak dikenal dikuburkan di tepi Batang Tapakih.

Jenazah yang dikenal segera dibawa  keluarga  dan besoknya dikuburkan di pandan pekuburan masing-masing. Yang dikuburkan keluarga  Nazir, Mulek Dodok dan Yusuf Jalang. Namun dapat dicatat hanya 26 orang teridentifikasi. Tiga orang selamat, 6 orang dikuburkan secara massal dan 5 orang lagi tidak ditemukan.   (Tim)