Pariamantoday #Tabuik2026 - Setiap masyarakat memiliki cerita yang mereka wariskan dari generasi ke generasi. Cerita itu tidak selalu berupa buku, prasasti, atau dokumen resmi. Kadang ia hadir dalam bentuk tarian, musik, bangunan, ritual, atau sebuah perayaan yang setiap tahun kembali dihidupkan oleh ingatan kolektif masyarakatnya.
Di Pariaman, Sumatera Barat, cerita itu bernama Tabuik.
Ketika bulan Muharram tiba, Kota Pariaman tidak hanya menyelenggarakan sebuah acara. Ia sedang memperagakan bagaimana sebuah komunitas menjaga hubungan dengan masa lalunya. Ratusan tahun sejarah, simbol, konflik, adaptasi, dan kebanggaan sosial bertemu dalam satu panggung bernama Hoyak Tabuik.
Pesona Hoyak Tabuik 2026 kembali berlangsung meriah sejak prosesi awal pada 1 Muharram melalui ritual maambiak tanah oleh dua kelompok besar, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Dari sana, rangkaian tradisi berjalan menuju puncaknya, Tabuik diarak dan akhirnya dihanyutkan ke laut.
Namun, seperti banyak warisan budaya di dunia, Tabuik tidak pernah hanya menjadi objek kekaguman. Ia juga menjadi objek kecurigaan.
Mengapa sebuah tradisi yang telah hidup selama hampir dua abad masih harus menjelaskan keberadaannya? Mengapa sebuah simbol budaya sering kali dinilai bukan dari sejarah panjangnya, melainkan dari prasangka terhadap asal-usulnya?
Jawabannya mungkin terletak pada satu kenyataan sederhana, budaya manusia selalu berubah. Dan setiap perubahan sering meninggalkan pertanyaan tentang identitas.
Dari Kenangan Karbala Menuju Identitas Anak Nagari
Tabuik adalah contoh bagaimana sebuah tradisi melakukan perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu.
Secara sejarah, Tabuik bukan berasal dari kebudayaan asli Minangkabau. Tradisi ini masuk ke Pariaman pada abad ke-19, sekitar tahun 1826–1828, melalui pengaruh pasukan Sipahi, tentara Muslim asal India yang berada dalam struktur militer Inggris di kawasan Bengkulu dan kemudian memiliki hubungan dengan wilayah pesisir Sumatera Barat.
Nama Tabuik diyakini berasal dari kata Arab tabut, yang berarti peti atau kotak kayu. Pada masa awalnya, tradisi ini berkaitan dengan penghormatan terhadap peristiwa wafatnya Imam Husain bin Ali dalam Pertempuran Karbala.
Tetapi sejarah manusia tidak pernah berhenti pada titik awal kelahirannya.
Ketika sebuah tradisi berpindah tempat, ia berinteraksi dengan masyarakat baru. Ia menyerap bahasa lokal, nilai lokal, simbol lokal, dan cara pandang masyarakat yang merawatnya. Dalam proses panjang itulah Tabuik mengalami transformasi.
Tabuik yang dahulu memiliki dimensi keagamaan tertentu, perlahan berubah menjadi identitas budaya masyarakat Pariaman. Ia tidak lagi berdiri sebagai ekspresi kelompok tertentu, melainkan menjadi milik bersama masyarakat Piaman sebagai warisan budaya.
Di sinilah banyak kesalahpahaman muncul. Sebagian orang melihat budaya seperti benda mati, jika awalnya berasal dari suatu tempat, maka selamanya harus memiliki makna yang sama.
Padahal budaya lebih mirip organisme hidup. Ia lahir, berkembang, beradaptasi, dan berubah mengikuti manusia yang menjaganya.
Ketika Tradisi Berhadapan dengan Ketakutan
Tidak ada tradisi besar yang bebas dari perdebatan.
Tabuik, khususnya prosesi basalisiah, menjadi salah satu bagian yang sering diperdebatkan. Bagi sebagian pihak, adegan tersebut dianggap memiliki potensi konflik karena melibatkan energi emosional yang tinggi antara dua kelompok Tabuik.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pelaksanaan masa lalu, ketegangan dapat berubah menjadi tindakan yang membahayakan. Karena itu, pengelolaan keamanan menjadi bagian penting agar nilai budaya tidak berubah menjadi persoalan sosial.
Namun, melihat basalisiah hanya sebagai potensi keributan juga berarti mengabaikan lapisan makna yang lebih dalam.
Bagi anak Tabuik dan masyarakat Piaman, basalisiah bukan benturan fisik. Ia adalah drama budaya. Sebuah panggung simbolik yang memiliki aturan, batas, dan kesepakatan sosial yang dipahami oleh pelakunya.
Ada sebuah filosofi lokal yang menggambarkan hal itu: "Biduak lalu, kiambang batauik."
Hari ini mereka berada dalam suasana kompetisi dan ketegangan simbolik. Namun setelah ritual selesai, hubungan sosial kembali pulih. Mereka tetap satu kampung, satu nagari, dan satu masyarakat.
Kemampuan manusia menciptakan konflik simbolik sekaligus mengakhirinya melalui aturan budaya adalah salah satu ciri peradaban.
Antara Pelestarian dan Tanggung Jawab Zaman
Tradisi yang bertahan bukanlah tradisi yang tidak berubah. Tradisi yang bertahan adalah tradisi yang mampu beradaptasi.
Tabuik masa lalu jauh berbeda dengan Tabuik hari ini. Sebelum era modern, beberapa unsur ekstrem pernah muncul dalam pelaksanaan tradisi, mulai dari aksi berbahaya hingga konflik fisik yang sulit dikendalikan.
Namun masyarakat berubah. Standar keselamatan berubah. Cara manusia memandang hiburan, ritual, dan ruang publik juga berubah.
Karena itu, pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan semua bentuk masa lalu tanpa kritik. Pelestarian berarti memilih apa yang harus diwariskan dan apa yang harus ditinggalkan.
Dalam konteks inilah peran Pemerintah Kota Pariaman, niniak mamak, anak Tabuik, serta aparat keamanan seperti TNI, Polri, dan Satpol PP menjadi penting. Mereka tidak hanya menjaga sebuah acara berjalan lancar, tetapi menjaga keseimbangan antara warisan sejarah dan kebutuhan masyarakat modern.
Keberhasilan Hoyak Tabuik 2026 bukan hanya tentang meriahnya sebuah festival. Ia adalah bukti bahwa sebuah masyarakat mampu merawat masa lalu tanpa kehilangan kendali atas masa depan.
Tabuik dan Pelajaran Tentang Identitas
Setiap bangsa, setiap daerah, dan setiap komunitas memiliki simbol yang mereka anggap sebagai bagian dari diri mereka.
Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan lagi replika bangunan yang diarak menuju laut. Ia adalah ingatan kolektif. Ia adalah cara sebuah generasi berbicara dengan generasi sebelumnya.
Menghakimi sebuah tradisi hanya berdasarkan potongan informasi atau prasangka adalah cara termudah untuk kehilangan pemahaman.
Sebuah budaya harus dilihat sebagai perjalanan panjang manusia, bagaimana sebuah gagasan berpindah, beradaptasi, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas baru.
Tabuik Piaman hari ini bukan cerita tentang masa lalu. Ia adalah cerita tentang kemampuan manusia mengubah warisan menjadi kebersamaan.
Dan mungkin, di situlah nilai terbesar Tabuik berada. Bukan pada kontroversinya, tetapi pada kemampuannya bertahan melewati zaman. (OLP)