Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Siswa SUPM Pariaman Yang Diduga Dipukul Seniornya, Meninggal di RS M Jamil

12 Oktober 2014 | 12.10.14 WIB Last Updated 2014-10-12T10:50:53Z
Ruang tempat Yahya dirawat di RS M Jamil 



Yahya Suryaman (18) siswa tingkat II SUPM Pariaman yang diduga korban pemukulan salah seorang senior tingkat III bernama Aditya meninggal dunia di ruang instalasi syaraf RS M Jamil Padang pada pukul 13.30 WIB, Minggu, 12/10/2014. Sebelumnya keluarga Yahya telah melaporkan dugaan pemukulan tersebut ke Polres Pariaman melalui paman korban Iswarman (35) dengan nomor laporan No.STTL/115/B/X/2014/SPKT/Polres, Selasa, (7/10).

Dari keterangan salah seorang keluarga korban yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Yahya dipindahkan ke ruangan instalasi syaraf tersebut sejak dua hari lalu. Sebelumnya, kata dia, kondisi Yahya sempat agak membaik dan sudah bisa menggerakan badannya pasca tidak sadarkan diri sejak Kamis (2/10).

"Sekarang jenazah Yahya sedang dalam perjalanan ke rumah di Sungai Sariak Malay (17.10 WIB), (Padangpariaman). Sebagian keluarga ikut dalam ambulan," sebutnya.

Ketika kabar meninggalnya Yahya tersebut kami konfirmasi ke SUPM, pihak sekolah membenarkan hal tersebut. Namun pihak SUPM belum dapat dimintai keterangan resminya penyebab kematian Yahya, karena menurutnya, pihak sekolah harus menunggu keterangan resmi pihak dokter RS M Jamil apakah meninggalnya Yahya akibat pemukulan atau karena penyakit lain.

"Kami juga telah mendapat kabar bahwa Yahya meninggal dunia siang ini. Pihak SUPM belum bisa mengomentari penyebab kematian Yahya karena kami mesti menunggu keterangan resmi dari dokter. Sebelumnya kami telah memindahkan Yahya ke ruangan perawatan yang lebih baik," kata Akhirudin, salah seorang guru SUPM via seluler.

Berita sebelumnya, Kepala Sekolah SUPM (Sekolah Umum Pelayaran Menengah) dulu bernama SPP Pariaman, Harisjon, mendukung langkah keluarga korban melaporkan kasus dugaan penganiayaan yang menimpa siswa tingkat II Yahya Suryaman (18) oleh seorang senior tingkat III Aditya (19) ke Polres Pariaman yang mengakibatkan korban Yahya dalam keadaan kritis di RS M Jamil Padang sejak Kamis 2/10. Kata dia, kekerasan kepada adik kelas tersebut diketahuinya setelah mendapat laporan dari keluarga korban pada tanggal 10 September 2014 untuk berizin berobat di Klinik Nen yang beralamat di Kanagarian Sungai Sariak Malay, Padangpariaman.


Dia menyebut, atas laporan pihak keluarga tersebut pihak SUPM melakukan penyelidikan internal tehadap pelaku pemukulan. Dari hasil penyelidikan internal, pemukulan oleh senior kepada junior tersebut dipicu karena pelaku merasa di ejek oleh korban. 

"Kami perlu meluruskan isu, bahwa kejadian sebenarnya Yahya terlibat perkelahian dengan salah seorang seniornya, bukan dikeroyok. Kemudian Yahya masuk rumah sakit, jauh hari setelah peristiwa itu."

"Melalui sidang etik dewan guru, pelaku Aditya sudah kita skors selama satu tahun. Dengan dilaporkannya pelaku oleh orangtua korban, kami serahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Namun demikian pihak SUPM akan terus dampingi keluarga korban berobat dan kami siap membantu biaya pengobatannya karena semua siswa sudah kita anggap satu keluarga besar," kata Harisjon kepada wartawan di Polres Pariaman, Selasa, (7/10).

Sementara itu, menurut ayah korban Edi Warman (48) yang kami wawancarai sepulang mebesuk anaknya di ruang perawatan RS M Jamil Padang (7/10) mengatakan, sejak Kamis (2/10) Yahya di rawat di sana. Edi menceritakan, awalnya Yahya tidak mau mengakui bahwa dirinya telah dianiaya oleh Aditya. Kemudian setelah sering didesak, Yahya baru mengakui bahwa dia telah dipukuli oleh kakak seniornya di SUPM, bernama Aditya, siswa SUPM tingkat III asal Bukittinggi.

"Karena dia sering mengeluh sakit dibagian kepala, kami bawa dia berobat ke klinik dan sempat dirawat beberapa hari disana. Karena kondisi anak saya kian parah maka kami bawa ke RSU M Jamil. Yahya sempat tidak sadarkan diri waktu itu," terang Edi.

Edi menuturkan, selama dirawat di Padang, pihak SUPM tiap hari menjenguk anaknya, bahkan kata dia, pihak SUPM menanggung biaya pengobatan Yahya.

"Sekarang kondisi Yahya agak mending, sudah bisa bergerak," tuturnya.

Kemudian, kata Edi, pihak dokter RS mengambil sampel cairan di tulang sumsum Yahya untuk mengetahui penyebab Yahya tak sadarkan diri.

"Kami berharap agar pelaku segera ditangkap dan diadili. Kepada pihak SUPM kami juga berharap menanggung biaya pengobatan anak kami hingga sembuh," ungkapnya lirih.

OLP
×
Berita Terbaru Update