Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jatuh Bangun Risma dalam Pusaran Permainan Politik PDIP Surabaya

4 Februari 2014 | 4.2.14 WIB Last Updated 2014-02-05T15:03:03Z
13914227371779481087
foto : www.rimanews.com

“SBY” DAN “SABAR” – SOSIALISASI SEBELUM ADA REKOMENDASI

Sekitar Oktober 2009, Bambang Dwi Hartono (BDH), Walikota Surabaya saat itu, mengajukan judicial review terhadap pasal 58 huruf o UU No.32/2004 tentang Pemerintah Daerah ke Mahkamah Konstitusi, agar dirinya berkesempatan maju lagi pada Pilwali 2010. Beralasan masa jabatannya tidak penuh dua periode (periode pertama menggantikan Soenarto yang meninggal dunia, dari 2002-2005), BDH menggugat ke MK, meski pasal yang sama sudah pernah digugat 2 orang sebelumnya dan ditolak MK. Selasa, 12 Nopember 2009, MK menolak permohonan uji materi BDH. Saleh Ismail Mukaddar sempat menuding Mahkamah Konstitusi tidak konsisten.

Tak putus asa, BDH pun ‘mengakali’ aturan : maju sebagai calon Wawali dengan menggandeng Saleh Ismail Mukadar. Akhir 2009 Surabaya mulai dipenuhi poster bergambar Saleh dan Bambang berbusana khas arek Suroboyo lengkap dengan udheng di kepala. Slogan yang diusung “SBY, Saleh Bambang Yes!” Maraknya poster yang dipaku di pepohonan sempat menuai kritik dari warga Surabaya karena BDH dianggap melanggar aturan yang dibuatnya sendiri untuk tidak memasang poster di pepohonan. Sosialisasi itu sebenarnya curi start, karena dari DPP PDIP belum ada rekomendasi siapa yang akan diajukan. Akhirnya PDIP mempersilakan Satpol PP Surabaya untuk mencopoti poster “SBY” tersebut.

Slogan “SBY” dikabarkan memicu kekecewaan dan kemarahan Megawati. Mega menanyakan kenapa pakai slogan SBY,apa tak ada slogan lain. Mega kecewa karena SBY afiliasinya pasti ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, musuh Megawati. Apalagi tahun 2009–2010 popularitas SBY masih tinggi. BDH disuruh mengganti slogan itu. BDH membantah issu Megawati marah soal slogan “SBY”. Menurutnya slogan SBY tetap dipakai dan tidak diganti dengan slogan SaBaR (SAleh BAmbang Rek). Namun belakangan terbukti bahwa slogan SaBaR itulah yang digunakan, bahkan muncul di situs resmi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

13914229671991716945
SBY dipaku di pepohonan Surabaya (foto : news.detik.com)

Meski belum ada rekomendasi DPP, relawan SaBaR optimistis Saleh-Bambang bisa maju dalam Pilwali Surabaya, karena dianggap perwujudan aspirasi berbagai kalangan di Surabaya, yang masih menginginkan BDH meneruskan pembangunan yang telah dilakukan selama menjabat Walikota, demikian klaim dari Ketua Posko SaBaR, sebagaimana dimuat dalam situs resmi PDIP Jatim.
 
PENCALONAN YANG KONTROVERSIAL

Sementara itu, di masyarakat Surabaya menguat citra positif terhadap sosok Tri Rismaharini yang saat itu menjabat Kepala Badan Perencanaan Kota (Bapeko) Surabaya. Sebelumnya Bu Risma pernah menjabat Kadis Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan sebelumnya lagi Kadis Tata Kota. Di tiap Dinas yang dipimpinnya, Risma memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi kebaikan dan kemajuan Kota Surabaya. Alumni Teknik Arsitektur ITS itu memang seorang birokrat yang puluhan tahun berkarir sebagai PNS di Pemkot Surabaya. Pemberitaan positif media lokal atas sejumlah prestasi Risma, membuatnya makin disuka dan populer di kalangan warga Surabaya.

Di internal PDIP tampaknya ada intrik untuk menjegal Saleh-Bambang. Upaya itu dilakukan Soetjipto (mantan Sekjen PDIP dan Wakil Ketua MPR), yang tak lain ayah Wisnu Sakti dan dikenal sangat dekat dengan Megawati. Ada upaya trio kader PDIP, yakni Soetjipto, Seno dan Wisnu Sakti Buana (Ketua DPC PDIP Surabaya) untuk menemui Megawati di ruang VVIP bandara Juanda setelah terlebih dahulu mengelabui BDH (yang hendak mengajak Saleh menjemput Megawati) soal jam kedatangan pesawat Mega yang dimundurkan 2 jam. 


Buntut dari penelikungan Saleh-Bambang, DPP PDIP resmi merekomendasikan pencalonan Risma sebagai calon Walikota dan BDH Calon Wawali-nya. 10 Februari 2010, relawan pendukung SABAR (Saleh Bambang Rek) mengancam memboikot PDIP jika dukungan pada Risma tak dicabut. Mereka mengaku sudah mengenal Saleh sebagai kader yang mumpuni. Sangat ironis kalau kader PDIP sendiri diabaikan tapi calon non kader justru didukung.

1391423247320421111
Saleh Bambang Rek SaBaR (foto : pdiperjuangan-jatim.org)

Penolakan terhadap Risma terus bergulir, dari 31 PAC, 19 PAC menolak paket Risma-BDH lantaran Risma bukan kader partai. Sebelumnya, PDIP dalam Rakercabsus telah merekomendasikan Saleh Ismail Mukadar, Bambang DH dan Wisnu Sakti Buana. “19 PAC menolak. Banyak kader partai yang berkualitas, kenapa harus mendukung orang yang bukan berasal kader partai ini”, kata Sri Hono Yularko, Ketua PAC Semampir saat jumpa pers di Posko Relawan SaBaR pada Senin (8/2/2010)

Jumat, 19 Maret 2010, dalam silahturahmi bersama Saleh Ismail Mukadar di RM Taman Sari, sejumlah PAC ngotot menolak Risma dan mengancam kabur dari partai. 22 Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP meneriakkan yel-yel menolak Risma-BDH karena tak sesuai mekanisme partai. Massa juga mengancam tak akan menggunakan hak pilihnya dalam Pilwali 2 Juni 2010 dan siap mundur dari PDIP bila partai tetap mempertahankan pencalonan Risma-BDH. Pencalonan Risma dinilai melukai kader PDIP, bahkan muncul opsi melayangkan mosi tak percaya pada DPP PDIP yang memberikan rekomendasi cawali kepada Risma. Di acara itu, kader PDIP membentangkan kain putih berisi tanda tangan sebagai bentuk penolakan atas pencalonan Risma-BDH.

Padahal, majunya Risma menjadi Cawali sebenarnya bukan atas keinginan Risma. Birokrat tulen ini bukanlah seorang yang memiliki ambisi pada jabatan politik. Risma maju karena dipinang oleh sesepuh PDIP, Soetjipto. Sebagian warga Surabaya saat itu mencurigai sikap PDIP yang tiba-tiba memaksakan menggandeng Risma, padahal sebelumnya BDH ngotot ingin maju. Kekhawatiran warga : Risma hanya dimanfaatkan popularitasnya untuk meraih dukungan pemilih. Bahkan ada yang mengkhawatirkan jikalau Risma diturunkan di tengah jalan, sehingga BDH bisa naik kembali, menggantikan Risma. Maklumlah Risma bukan orang politik dan sama sekali tak berafiliasi pada parpol, sebab beliau PNS.

1391423381608254125
Aksi penolakan atas rekomendasi DPP PDIP untuk Risma (foto : news.detik.com)

RISMA TERPILIH, RISMA DIMAKZULKAN

Akhirnya pasangan Risma-BDH memenangi pilwali dan dilantik pada 28 September 2010. Jelang 100 hari kepemimpinannya, DPRD Surabaya sudah “cari gara-gara” untuk menjegal Risma dengan mempersoalkan penerbitan Peraturan Walikota Surabaya (Perwali) No. 56/2010 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame dan Perwali No. 57 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame Terbatas di Kawasan Khusus Kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25%. Kabarnya banyak kalangan DPRD Surabaya yang tidak senang dengan sepak terjang Risma yang terkenal tak mau kompromi dan terus maju berjuang untuk kebaikan Kota Surabaya, termasuk menolak keras pembangunan tol tengah Kota Surabaya yang dinilai tidak akan bermanfaat untuk mengurai kemacetan dan lebih memilih meneruskan proyek frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang akan menghubungkan area industri Rungkut hingga Jembatan Suramadu melalui area timur Surabaya yang juga akan bermanfaat untuk pemerataan pembangunan kota. Bahkan diduga, salah satu anggota DPRD Kota Surabaya adalah pemilik biro reklame yang tentu “dirugikan” dengan Perwali tersebut.

Senin 31 Januari 2011, DRPD Surabaya menggelar Rapat Paripurna yang merekomendasikan pelengseran Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya kepada Mahkamah Agung. Keputusan pemakzulan itu didukung oleh 6 dari 7 fraksi di DPRD Surabaya, termasuk PDIP yang mengusung Risma. Hanya fraksi PKS yang menolak pemakzulan dengan alasan belum cukup bukti dan data. Fraksi PKS saat itu satu-satunya fraksi yang tidak mau tandatangan kesepakatan pelengseran Walikota Tri Rismaharini.

Litbang PKS Kota Surabaya melakukan 2 kali survei terkait wacana pelengseran Walikota Surabaya. Survey pertama dilakukan Januari 2011, hasilnya 52% warga Surabaya tidak setuju keputusan impeachment, 13% setuju dan 35% tidak menjawab. Tingginya prosentase yang tidak menjawab lantaran warga Surabaya masih banyak yang belum mengetahui rekomendasi Pansus Hak Angket untuk memberhentikan walikota. Namun, setelah warga tahu dari media massa, jumlah yang tidak setuju Risma dilengserkan semakin meningkat. Terbukti pada survey kedua yang dilakukan awal Februari 2011, 77% warga Surabaya tidak setuju alias menolak keputusan impeachment, 10% menyetujui dan 13% menyatakan tidak tahu. Ini menunjukkan warga Surabaya semakin tak mendukung akrobat politik yang dilakukan para “wakil rakyat” mereka.

Risma sendiri beralasan pajak di kawasan khusus perlu dinaikkan agar pengusaha tak seenaknya memasang iklan di jalan umum dan agar kota tak menjadi belantara iklan. Dengan pajak yang tinggi pemerintah berharap pengusaha iklan beralih memasang iklan di media massa ketimbang memasang baliho di jalan-jalan kota. Akhirnya, Mendagri Gamawan Fauzi angkat bicara dan menegaskan bahwa Tri Rismaharini tetap menjabat sebagai Walikota Surabaya dan menilai alasan pemakzulan Risma adalah hal yang mengada-ngada.

13914237931315299046
foto : news.detik.com

PDIP DINILAI NABOK NYILEH TANGAN” DALAM MELENGSERKAN RISMA

Polemik antara Walikota Tri Rismaharini dengan DPRD Kota Surabaya berlangsung sampai hampir 2 bulan, sementara Wawali BDH sama sekali tak bersuara. Padahal, sebagai mantan Walikota 2 periode dan sekaligus kolega separtai Wisnu Sakti yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya, semestinya BDH bisa menjembatani kesalahpahaman itu, kalau dia punya itikad demi kemaslahatan Surabaya. Sikap diam BDH itu kemudian memunculkan spekulasi di kalangan warga Surabaya : BDH sengaja membiarkan polemik itu membesar hingga posisi Risma terjepit. Endingnya BDH bisa kembali naik ke kursi Walikota menggantikan Risma yang dilengserkan. Meski kemudian BDH membantahnya.

DPRD Surabaya sempat mencurigai manuver BDH. Sempat muncul issu dicabutnya dukungan PDIP kepada Risma dan rencana mundurnya BDH sebagai Wawali. Bahkan SL, wakil ketua Komisi C DPRD Surabaya mengatakan, wacana mundurnya Bambang DH saat ini merupakan tindakan yang memancing di air yang keruh.

Pengamat politik Unair M Asfar menilai kisruh itu sebagai upaya PDIP Surabaya untuk “nabok nyileh tangan” (menampar dengan meminjam tangan orang lain – pen.). Tindakan ini karena Risma dinilai menyeleweng dari ‘rute’ milik PDIP Surabaya, sebagai partai pengusungnya. Upaya nabok nyileh tangan disinyalir akan terus digagas sampai Risma lengser dari kursi Walikota. “Secara politis hal itu bisa saja terjadi. Karena di dunia pilitik apa saja yang menyangkut kedudukan dan kepentingan golongan hal itu tidak mustahil”, kata Asfar. Apalagi ada keinginan dari sebagian kalangan PDIP untuk mengisi kursi Walikota dengan kader aslinya sendiri. Belakangan fraksi-fraksi di DPRD Surabaya kompak mencari kesalahan kebijakan Risma. Ironisnya, PDIP sebagai pengusung Risma justru memilih diam bahkan ikut memanaskan suasana dengan agenda pemanggilan Risma oleh DPC PDIP Surabaya.

13914241771897337864
Wisnu Sakti Buana dan Bambang Dwi Hartono alias BDH (foto : ns2.centroone.com)

Muncul pula issu yang menyebutkan, Perwali pajak reklame sengaja digulirkan untuk menjebak Risma. Padahal proses pembuatan Perwali tersebut justru mulai dilakukan pada awal 2009, jauh sebelum Risma terpilih sebagai Walikota. Pada Desember 2009 Perwali telah selesai. Artinya, Perwali itu dibuat pada era BDH menjadi Walikota. Dari hasil angket ditemukan bahwa rumusan Perwali tersebut hanya dikerjakan oleh Kepala Bidang Pendapatan Pajak Daerah Djoestamaji. Pada saat itu, rumusan sudah diajukan kepada Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan, Purwito, tapi diminta untuk disimpan dulu tanpa alasan jelas. Ketika Risma sudah menjabat menjadi Walikota, pada November 2010 rumusan Perwali tersebut diajukan ke Dinas Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan, yang Kepalanya telah dijabat oleh Soehatoyo. Perwali itu kemudian diajukan ke bagian Hukum dan Asisten II Sekkota (Muhlas Udin), Asisten I Sekkota (Hadi Siswanto Anwar) dan Sekkota, (Sukamto Hadi). Walikota pun menyetujui dan Perwali itupun akhirnya sampai ke meja Dewan.

Agenda kedua rapat Pansus Hak Angket yang memeriksa tenaga ahli Walikota Surabaya, Don Rosano bahkan berlangsung panas. Seorang pengusul hak angket berinitial “A” melontarkan pertanyaan dengan nada tinggi, bahkan cenderung membentak sambil menggebrak meja. Sehingga Don merasa diintimidasi dan langsung melayangkan protes. Aksi saling serang tak terelakkan. Yang menarik, selama aksi adu mulut tak ada satupun anggota Pansus yangmenengahi, begitu juga pimpinan sidang. Seolah anggota Dewan A tersebut sengaja diberi waktu untuk menjatuhkan mental serta menyerang secara psikologis saksinya. Semacam “destroyer” pada debat politik. Dengan demikian memang terkesan ada upaya bersama-sama untuk memojokkan Walikota. Atau memang paradigma berpikir anggota DPRD Surabaya saat itu hak Angket memang harus berujung pada pemakzulan?

DUO WISNU SANG INISIATOR

Upaya pemakzulan Risma dimotori oleh “Duo Wisnu”, yaitu Ketua DPRD Surabaya Wishnu Wardhana (Demokrat) dan Wakil Ketua DPRD Surabaya Wisnu Sakti Buana (PDIP). Muncul Gerakan Rakyat Surabaya (GRS) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mereka bertekad akan melengserkan duo Wisnu tersebut yang dianggap biang keladi pelengseran Risma. Mat Mochtar, koordinator GRS, bahkan menuding Wisnu Sakti Buana sebagai orang yang haus kekuasan. Karena itu mereka ‘kongkalikong’ menghalalkan segala cara tidak elegan untuk melengserkan Risma. 

“Ini keinginan Wisnu jadi wali kota. Apalagi, PDIP selaku partai pengusung malah mendukung upaya penurunan Risma. Kalau seperti ini, PDIP itu brengsek”, ujar Mat Mochtar

Mat Mochtar menegaskan bahwa Bu Risma dipilih oleh rakyat, bukan dewan. Jadi yang bisa menurunkan Bu Risma adalah rakyat, bukan dewan. Mereka menyesalkan keputusan Dewan yang merekomendasikan pemberhentian sementara Risma dari jabatannya sebagai Walikota. Risma dinilai figur Walikota yang jujur dan berjuang demi membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan pengusaha reklame.

13914243001264862743
Aksi para pendukung Risma (foto : news.detik.com)

Belakangan, Wishnu Wardhana (WW) dipecat oleh Partai Demokrat. WW disebut terlibat kasus korupsi Bimtek (Bimbingan Teknis) yang diduga merugikan negara hingga Rp. 2,7 milyar. Bahkan WW diakui Kapolrestabes Surabaya sempat berupaya melobby dirinya dengan satu tas kresek uang, agar kasus yang menetapkan WW sebagai tersangka itu tak sampai ke meja hijau, namun ditolak. Kini, Wishnu Wardhana pindah ke Partai Bulan Bintang dan menjadi caleg DPR RI Dapil jatim I dari PBB. Namun menurut Komisioner KPUD Jawa Timur, pencalonan mantan Ketua DPRD tersebut berpotensi masalah jika ada protes dari masyarakat tentang pencalonannya saat uji publik menyusul keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi bimtek. Nah, apakah masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sudah menyadari hal ini dan protes ke KPUD Jatim?!

Sekedar informasi, sebelum Risma menjadi Walikota, Duo Wisnu pernah diminta koleganya di DPRD Surabaya untuk lengser karena dianggap menghambat RAPBD Pemkot Surabaya untuk tahun 2010. Koleganya sesama pimpinan Dewan, MR, menyebut : Agar RAPBD Pemkot Surabaya 2010 disetujui Gubernur Jatim, mau tidak mau dua pimpinan dewan, yakni Ketua DPRD Wisnu Wardhana dan wakil pimpinan Dewan Wisnu Sakti Buana harus dilengser terlebih dahulu. Jadi rupanya kedua tokoh bernama Wisnu tersebut memang sering berakrobat politik di DPRD Surabaya, siapapun Walikotanya.

139142452749748714
Wishnu Wardhana (foto : www.centroone.com)

============================================

Sejak pelengseran yang gagal, nyaris tak ada lagi upaya menganggu dan menjegal Risma. Sejak itu pula Risma fokus bekerja dan bekerja membangun kota Surabaya. Prestasi demi prestasi diukirnya hingga membuat forum-forum internasional memberikan penghargaan. Secara riil, perubahan kota Surabaya juga cukup signifikan. Selain makin hijau dan asri, meriah dengan taman-taman kota thematik di mana-mana, mirip di luar negeri. Bahkan bunga mirip sakura pun bisa ditemui di dekat komplek perbelanjaan besar di Surabaya, membuat makin nyaman ditinggali.

Mengubah mindset dan habit, itu kata Bu Risma, agar kelak kalau beliau sudah tak lagi menjabat, masyarakat Surabaya tetap terbiasa hidup bersih dan teratur. Warga kini tak lagi membuang sampah sembarangan. Titik-titik genangan air bisa dikurangi, bahkan sudah 2 kali musim penghujan ini tak ada lagi kabar Surabaya kebanjiran, meski curah hujan sangat besar seperti tahun 2013-2014. Kali-kali di Surabaya dibenahi, tak lagi boleh jadi tempat buang sampah. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya layak “dipamerkan” ke masyarakat Internasional.

Kini, setelah Risma sukses di Surabaya, PDIP mengaku akan mengadu Risma dan Jokowi, karena Risma menjadi pesaing berat Jokowi dalam survei Political Communication Institute. Sebagaimana ditulis Tempo.co, PDIP belum memastikan apakah kandidat calon presidennya Megawati atau Jokowi. PDIP menyatakan baru akan mengumumkan kandidatnya usai pemilu legislatif 2014, sebagaimana pernyataan Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari. Menurut Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo : apabila Megawati capres, cawapresnya sudah pasti. Namun, cawapres PDIP masih belum jelas, apabila PDIP mengusung Jokowi. Meski tak menyebut nama, tampaknya Jokowi akan jadi cawapres Megawati jika Ketum PDIP itu maju sebagai capres.

13914247291024517813
foto : www.metrotvnews.com

Mungkin karena sudah kenyang dipolitisir oleh PDIP, itu sebabnya Bu Risma menyatakan tak mau di-capreskan, saat ditanya sikapnya soal wacana pengusungan dirinya dalam Pilpres 2014. “Saya tidak mau jadi yang terakhir masuk surga dari 250 juta rakyat Indonesia. Misalnya hanya karena ada satu orang yang tidak suka hasil kerja saya”, kata Risma. Sebenarnya sejak dulu dirinya tidak berminat menjadi orang nomor satu di Surabaya. Namun, dia diminta oleh PDIP. Menurutnya, kepemimpian dan jabatan adalah amanah dan bukan obsesi. Jadi, jabatan harus datang dari Tuhan, Risma menambahkan. Sepakat Bu Risma, jangan mau dikadalin parpol, hanya akan menjerumuskan ke lembah dosa. Tapi terimalah amanah jika rakyat yang mengusung.

Ira Oemar
×
Berita Terbaru Update