Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iwan Piliang : Sosok 2014 Itu..

7 November 2012 | 7.11.12 WIB Last Updated 2012-11-08T15:10:37Z

HINGGA saat ini saya tak lagi melanggani koran cetak. Hampir semua berita pagi saya lahap dari online. Beberapa kabar penting layak kliping, barulah saya cari bahan printnya. Bila tidak, bahan digital, meng-copy link, atau copy paste masukkan ke file dokumen, simpan. Selalu.

Senin, 6 November 2014, salah satu opini atau kolom layak kliping, tulisan Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelilijen Negara (BIN), kini Komisaris Utama BlitzMegaplex, jaringan bioskop. Di Kompas halaman 6 ia mengkritisi TNI, mengomentari ihwal kemungkinan “perang bintang” pada 2014, jangan sampai memberi stigma generasi muda TNI, tujuan pengabdian: presiden.

Bagian akhir tulisannya, menggelitik saya menulis opini ini. Ia menuliskan bahwa pada 2014 nanti prediksinya, presiden kita adalah sosok muda, sipil. Sekilas kongklusi itu disampaikannya berkait ke tampilnya Jokowi sebagai gubernur di DKI Jakarta.

Dalam perjalanan mengelaborasi sosok muda itu, saya berberapa kali mendapatkan pembelajaran luar biasa. Kawan-kawan di media sosial yang mengikuti tulisan-tulisan saya, tentu masih ingat bagaimana saya pernah mendukung sosok Anas Urbaningrum, melalui gerakan Koin Rp 1000 di facebook, untuk Anas menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Alasan saya mendukungnya, muda, sipil, cerdas. Saya awalnya tak mengenal sosoknya, melihat harapan baru. Namun dalam perjalanan waktu sosok ini terindikasi bermasalah di kasus kolusi dan korupsi di proyek Hambalang di antaranya, termasuk pengingkarannya tidak satu atap usaha dengan Nazaruddin, membuat sinar harapan sirna di dada.
Sebelum tidur, kepada Sang Maha Pencipta, acap saya bertanya siapakah pemimpin bangsa yang mampu membangun peradaban bangsa dan negara? Langkah menggiring saya untuk bertemu dengan orang-orang muda baru. Nama seperti Jokowi, sebagai mana sudah banyak saya tulis, terlebih dulu saya ketahui produk rumah kayunya di Dubai, 2010. Produk unik dan laku itu, membuat saya penasaran siapa Jokowi.

Alam mengalir mempertemukan saya dengan Jokowi pada Oktober 2011, di Tvone di saat live. Alam pula yang entah mengapa tanpa recana, membuat saya otomatis hadir di deretan 6 kursi di KPUD ketika pendaftarannya menjadi Cagub. Alam pula seakan menggerakkan saya menjawab pertanyaan Jokowi di saat kami berjalan kaki di depan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Jokowi bertanya, ini tanda-tanda apa? Saya jawab, Bapak Gubernur, Bapak Presiden! Alam pula entah mengapa di Bundaran HI, kala itu, “menciptakan” saya membaca dua konten doa saja untuk Jokowi; jadilah pemimpin hanya selangkah didahulukan warga, dan tempatkan intangible asset di atas kebendaan. Saya senang hingga hari ini dalam istilah saya Jokowi masih mencium bau keringat rakyat.

Alam pula entah mengapa membuat saya punya akses membuat sosok Jokowi tampil menyampaikan kuliahnya di Puspen Mabes TNI, Cilangkap, pada 25 Oktober lalu dalam rangka Hut ke-5 Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).

Di saat momen yang sama, alam pula membuat sosok muda baru saya kenal Komarudin Watubun, Wakil Ketua DPR Papua, Salah satu Ketua di DPP PDIP, kelahiran 1966, turut hadir memberi pengantar bagi Jokowi di momen acara di Cilangkap itu.

Dalam perkenalan singkat, saya menyimak sosok Komarudin sederhana, tegas memimpin, dan paling penting ia tahu arah tujuan hidup. Sebagai seorang ayah, tujuan hidup utama pria mendidik, menyekolahkan anak setinggi-tingginya, bukan sebaliknya meninggalkan rumah di Pondok Indah, deposito dan dua Ferrari, misalnya. Di sosok Komarudin saya menyimak ketegasan lebih, kesederhanaan lebih, kejernihan lebih.

Saya tak paham, apakah setelah hari ini, alam juga akan mempertemukan saya dengan sosok muda lain lebih cemerlang; seleras kecerdasan otak dan hatinya? Wallahualam.

Namun di tengah media mainstream seakan terkooptasi oleh politik uang dan kekuasaan, opini ini saya tuliskan sebagai sebuah perjalanan mencari. Mencari sosok-sosok alternatif, sebagaimana dituliskan oleh Hendropriyono, sipil, muda, berintegritas.

Dari perajalanan transenden “aliran” alam itu, tidak berlebihan bila acuannya hingga saat saya menuliskan hal ini, dua nama itulah kandidat presiden saya pada 2014 mendatang. Sebelumnya di media sosial saya pernah menyebut nama seperti Ganang Soedirman, cucu pertama Panglima Besar Soedirman, juga Japto Soerjo Soermarno. Namun pada akhirnya kedua nama itu menjadi bagian dialektika tampaknya.

So, jika acauan hari ini, jika bukan Jokowi ya Komarudin. Sosok Komar-lah yang mencetuskan ide Gerakan Pertaubatan Nasional, secara spontan sudah digulirkan pada 25 Oktober dari Cilangkap itu. Siapa tahu, melalui gerakan itu, heboh rusuh isu korupsi dan kolusi tak bertepi kini, dengan tampilnya salah satu dari mereka menjadi presiden mengakhiri karut-marut bangsa. Bagi saya mereka berdua solusi. Bukan KPK sebagai solusi.

Bagi saya peluang mereka besar. Apalagi dalam verfikasi saya, Megawati Soekarno saya pastikan tidak akan maju menjadi presiden. Juga sosok Jusuf Kalla tak kalah fenomenon, lebih disambut publik, saya duga kuat, tak akan maju pula. Maka jauh di lubuk hati dua tokoh bangsa itu: saya meduga mereka yakin dengan dua nama saya tuliskan.

Terkesan berlebihan kalimat saya?

Pada akhirnya waktu jualah menguji.

catatan Iwan Piliang
×
Berita Terbaru Update