Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nasib Tukang Koran

22 Oktober 2012 | 22.10.12 WIB Last Updated 2012-10-22T15:59:21Z




Rambutnya yang sudah putih tidak menghalangi laki-laki ini untuk terus berusaha, umur tidak menghalanginya untuk mencari nafkah, dengan memakai kaos oblong yang sudah lusuh dan celana pendek, di sebuah lapak dia menjajakan jualannya dilindungi payung besar yang  sedikit berlubang berguna untuk melindungi barang dagangannya dari panas teriknya matahari dan dari hujan badainya kota Padang. Ketika saya menghampiri lapaknya dia terkantuk-kantuk bersandar di kursi plastiknya, berusaha terjaga untuk mengawasi pembeli datang atau tidak. 

Lapaknya diletakkan di tepi jalan raya, dekat bundaran DPR Padang yang selalu disibukan dengan kendaraan lalu lalang melintasi kawasan tersebut. Saya melihat barang daganganya masih banyak yang terpajang dengan rapi, “masih banyak ya pak?” tanya saya. “Iya nak” jawab Pak Darkin. Darkin itulah namanya ketika saya menanyakan namanya , Pak Darkin menjelaskan kalau barang dagannganya sudah kalah dengan berita-berita yang ada di Televisi sekarang dan berita-berita online yang bisa diakses setiap detiknya, jadi barang dagangannya banyak tak laku. “kalau masalah bersaing dengan pedagang lainnya,itu tidak apa-apa” tambahnya kepada saya . 

Pak Darkin mengaku akhir-akhir ini dia sering mengalami rugi karena sering hujan, “akhir-akhir ko apak acok rugi nak, soalnyo hujan” terang pak Darkin kepada saya, tapi itu tidak menbuatnya menyerah dari usahanya yang sudah digelutinya dari tahun 1974 sampai sekarang. Pak Darkin juga menjelaskan kalau barang dagannganya harus dibayar tunai sebelum menjualnya kembali, kalau barang dagannganya  tidak laku dijual pak Darkin menjualnya perkilo. “Kalau dulu manggaleh koran untungnyo dapek ameh sa ameh”, canda Pak Darkin kepada saya ,” kini koran indak laku lai do!” terangnya kepada saya. 

Di umur senjanya Pak Darkin tak pernah mengeluh untuk berusaha apapun akan dilakukannya untuk kelangsungan kehidupannya dan keluarganya. Pak darkin menpunyai istri dan 3 orang anak, ketiga anaknya sudah menikah, tetapi kehidupan anaknya tak lebih baik darinya sehingga Pak Darkin tak bisa bergantung kepada anaknya. Pak Darkin mulai jualan dari pukul setengah 8 pagi dan menutup lapaknya jam 6 sore yang dilakukannya dengan ikhlas. Saya merasa tersentak dengan semangat Pak Darkin di usianya yang senja Pak Darkin masih bersemangat untuk berusaha walaupun dengan rintangan- rintangan yang di dapatkan usahanya tapi Pak Darkin selalu optimis usahanya akan lebih baik suatu saat nanti.

Pak Darkin adalah salah seorang penjual koran yang masih ada di kota Padang ini, yang masih optimis terhadap usaha yang di jalanninya di tengah era globalisasi dan era informasi yang mudah di dapat seperti sekarang, Pak Darkin juga masih optimis terhadap usahanya di tengah minat baca yang masyarakat yang rendah. Pak Darkin juga menceritakan penjualannya per hari, ”kalau surat kabar lokal cuma laku rata-rata 50-60 per hari, surat kabar nasional 15-20 per hari”. Untuk menyiasati kerugian Pak Darkin akan mengurangi Permintaan kepada  Produsen surat kabar atau Agennya apabila cuacannya akan hujan atau pada hari sebelumnya penjualan Pak Darkin menurun. Pak Darkin percaya suatu saat minat baca masyrakat akan tinggi dan korannya habis laku terjual sehingga dia tidak sering rugi lagi.
×
Berita Terbaru Update