Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kamar Rontgen With Love

22 Oktober 2012 | 22.10.12 WIB Last Updated 2012-10-22T15:50:56Z


                                           foto singgalang.co.id

Oleh : Wahdini Dwiranda

Ketika anda membaca judul di atas, mungkin imajinasi anda akan langsung mengarah kepada rumah sakit, penyakit dalam, dan pemeriksaan medis. Atau bahkan mungkin saja anda berkhayal bahwa judul itu tentang sepasang kekasih, apakah itu doker dan suster yang jatuh cinta dikamar ronsen. Tapi ini bukan selurus itu! Kamar ronsen disini bukanlah prosedural pengecekan kesehatan yang akan dilalui seorang pasien. Dan kamar  ronsen yang satu ini hanya ada di daerah yang dikenal dengan adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah. Tidak lain dan tidak bukan adalah Sumatera Barat, tempatnya urang awak atau urang Minangkabau berketurunan

Kamar rontgen ini adalah tempat favorit para pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk oleh ombak asmara. Entah bagaimana istilah kamar rontgen itu ada, saya pun tidak begitu mengerti. Malahan awal mengetahui hal ini saya tertawa terpingkal-pingkal mengapa ada kamar rontgen di tepi pantai. Tempat ini tidak kalah pamornya oleh eifell tower yang ada di Paris. Dimana tempat itu dikenal sebagai tempat ter-romantis di dunia. Dan pasangan muda-mudi Kota Padang-pun juga punya tempat romantic bak eifell tersebut. Yakni kamar rontgen yang terletak di Bunguih.

 Bunguih sebenarnya bukanlah tempat yang pertama kali saya lewati. Namun baru kali ini tujuan saya ke Bunguih untuk melakoni peran pacar-pacaran dengan seorang senior guna mendapatkan reportase mengenai kamar rontgen. Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit kami pun sampai di Bunguih, di kawasan yang lebih dikenal dengan Bukik Lampu. Sepanjang jalan di kawasan ini banyak sekali tempat-tempat yang bisa disinggahi pasangan, karena memang tidak ada keluarga yang menjadikan bukit lampu sebagai daerah rekreasi keluarga. Parkiran di café-café padat merayap, motor-motor berjejer rapi. Tapi saya tidak melihat ramainya orang seramai motor. Dugaan sementara mungkin mereka tengah asik menikmati chandlight dinner dengan suasana romantic menatap laut yang kerlap-kerlip dengan lampu-lampu kapal ibarat bintang-bintang.

Akhirnya kami putuskan untuk masuk kesalah satu café yang terletak dipinggir jalan. Dominasi warna merah begitu terasa di Café yang dipenuhi dengan lampu kerlap-kerlip. Suara dentuman dahsyat music-musik DJ. Disco, bahkan dangdut koplo menambah semarak nuansa malam minggu. Seketika pandangan saya tertuju pada pasangan-pasangan yang terus masuk ke dalam café. Ke sisi kanan café. Mungkin melihat saya antusias melihat pasangan yang menikmati fasilitas kamar rontgen, pelayan café tersebut menawarkan fasilitas itu pada kami. Setelah menolak tawaran dari pelayan café kami pun segera duduk disalah satu meja yang dekat dengan pintu masuk utama café tersebut. 

Apakah itu bilik-bilik mesum yang dinamai kamar rontgen untuk berbuat mesum?? Saya tanyakan kepada senior yang menemani saya perihal bilik tersebut.

“Bang, itu bilik-bilik tempat mesum itu ya?”

“Ussssttt,,,jangan ngomong lantang begitu, itu masalahnya sensitive kalau kedengeran sama yang lain”, jawabnya setengah berbisik.

Memang untuk permasalahan penyimpangan yang satu ini terbilang cukup alot. Berbagai upaya telah dilaksanakan agar prostitusi bisa dihilangkan di Bukit Lampu ini. Mulai dari peringatan, razia, hingga pembakaran tempat yang diduga untuk bermesum-mesum ria yang berujung pada bentrok dengan pasukan loreng. Jika pariuak nasi menjadi pokok permasalahannya, ini akan tidak ada habisnya. Apa pun akan dilakukan asal dapua tatap barasok

Saya terus memperhatikan muda-mudi yang keluar masuk silih berganti ke dalam kamar rontgen ini. Berbagai ekspresi bisa saya lihat disaat pasangan itu keluar. Beberapa pasangan yang paling saya ingat yaitu, pasangan pertama masuk dengan langkah cepat. Wanita memakai dress se-lutut dengan rambut terurai panjang. Rapih memang. Namun ketika mereka keluar dari kamar rontgen ini, kok rambut wanita tadi jd lebih acak-acakan ya?? Apa mereka tadi main jambak-jambakan? Ora mudeng aku,,yang pasti cowoknya melangkah pasti dengan wajah yang sumringah. Mungkin rontgen mereka berjalan dengan aman. 

            Pasangan kedua yang saya lihat yaitu seorang wanita berparas lugu, terlihat dari kacamata dan stelan kemeja motif kembang. Ia dituntun seorang cowok gemuk dengan perawakan mengerikan. Rahang yang menonjol, badan besar, ditambah eksen kulit yang hitam legam. Baru selang beberapa menit pasangan tersebut keluar, wajah mereka tak seceria pasangan yang saya lihat tadi. Saya pikir mungkin aktivitas rontgen mereka tidak terlalu berjalan dengan baik. Apakah cowoknya yang gagal berperan dengan apik sebagai dokter, atau pasien nya yang enggan dirontgen sang dokter. Wallahualam.

            Setelah satu jam duduk mengamati pasangan-pasangan yang indehoy didalam kamar rontgen saya pun memutuskan untuk pulang. Pulang dengan tanda tanya besar. Apa yang sedang terjadi dengan pemuda-pemudi rekan seperjuangan dalam mengemban tongkat estafet perjuangan bangsa? Pemuda yang seharusnya melestarikan nilai-nilai adat kini justru memposisikan diri mereka dalam kehidupan yang hedonis dan tergerus westernisasi. Oh…kamar rontgen with love. Kau berhasil mengalahkan eifell with love.
×
Berita Terbaru Update