Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Beban Barek Baralek

13 September 2012 | 13.9.12 WIB Last Updated 2017-07-24T15:58:12Z

Dalam kesempatan pulang kampung bersama keluarga, saya menghadiri sejumlah acara baralek. Macam-macam jenisnya, mulai dari baralek nagari, baralek perkawinan, sampai baralek biasa untuk pernikahan. Biasanya, dalam masa lebaran, acara baralek ini begitu banyak. Adik saya bahkan dapat undangan antara empat sampai tujuh acara baralek per hari.

Baralek adalah kegiatan kenduri yang dilangsungkan secara terbuka. Kenduri ini tidak terbatas kepada pernikahan dan perkawinan, tetapi juga meliputi pendirian rumah, rumah ibadah, pasar atau posko pemuda. Ada yang dilakukan dalam sehari semalam, namun ada juga yang sampai seminggu.

Tujuan baralek ini selain silaturahmi, juga untuk menanggung beban bersama-sama. Biasanya, warga yang datang memberikan sumbangan alias badoncek dalam kamus Padang Pariaman. Untuk baralek perempuan, jumlah sumbangan dipanggilkan pakai pengeras suara. Sementara untuk baralek laki-laki, sama sekali tidak pakai pengeras suara, hanya diberikan ke penganten laki-laki. Untuk baralek surau, mesjid, sampai rumah, jumlah sumbangan juga disebutkan. Kecuali untuk kegiatan yang benar-benar sudah ditanggung oleh pihak penyelenggara, seperti Baralek di Pasar Basung, Kec V Koto Kampung Dalam.

Saking banyaknya acara baralek ini, saya sering mendengar keluhan dari warga biasa sampai pejabat setingkat bupati atau anggota DPRD. Bagaimana tidak, dalam sehari waktu habis dari siang sampai malam mengunjungi acara-acara baralek ini. Bukan hanya waktu, melainkan juga energi dan dana. Apalagi setelah gempa 2009, banyak sekali pembangunan di Pariaman dan Padang Pariaman. Dalam setiap pembangunan itu, tidak lupa acara peresmian yang dibungkus dengan acara baralek.

Bayangkan, ketika acara Alek Nagari digelar selama seminggu, kegiatan berlangsung siang dan malam. Mulai dari perlombaan olahraga, pertunjukan kesenian, berburu babi, sampai pertemuan-pertemuan panitia dan tokoh-tokoh masyarakat. Karena kuatnya raso jo pareso, ada perasaan malu kalau tidak menghadiri satupun dari rangkaian acara baralek ini. Namun ada juga yang hadir setiap hari.

Apa yang kemudian terjadi? Bagi yang pergaulannya terbatas, tentu mengikuti satu atau dua alek dalam seminggu bukan masalah besar. Namun bagi yang pergaulannya luas, menghadiri lebih dari satu alek dalam sehari tentu menyita waktu, tenaga dan dana. Kalaupun dana tidak jadi masalah, waktu yang habis, mengingat lokasi alek saling berjauhan.

Dampak lain adalah sedikitnya kegiatan untuk pekerjaan produktif. Contoh, membersihkan kebun, sawah atau ladang. Saya melihat ada banyak kebun yang tidak diurus secara benar. Kebun-kebun itu termasuk kategori yang memang perlu diurus, seperti kakao atau buah naga. Dua jenis kebun ini, kalau tidak diurus setiap hari, akan berakibat kepada penurunan hasil, serangan hama sampai semak belukar.

Untuk iklim tropis seperti Padang Pariaman, waktu efektif untuk ke kebun hanya pagi hari menjelang jam sebelas siang atau setelah jam tiga sore. Soalnya, panas begitu terik. Nah, bayangkan kalau pada jam efektif itu digunakan untuk tidur akibat begadang semalaman atau justru menghadiri alek sore hari guna mengejar alek berikutnya di malam hari. Belum lagi waktu yang habis untuk bercerita (maota) yang memang paling banyak terpakai.

Bagi tokoh masyarakat yang memang mengandalkan acara-acara seperti ini untuk sosialisasi dan silaturahmi, tentu baik-baik saja. Tetapi bagi yang memiliki tanggungan berupa beban pekerjaan di kebun, sawah dan ladang, atau pekerjaan lain sebagai tukang, tentulah menjadi masalah. Dan tunggu dulu, keluhan sudah mulai banyak juga di kalangan tokoh, mengingat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.

Baralek sudah masuk dalam kategori arisan publik. Publik saling membantu kesulitan orang lain. Sehingga, acara untuk pergi baralek dengan rajin, biasanya dilakukan oleh orang atau pihak yang sudah melakukan acara baralek juga. Atau orang yang mengundang untuk alek yang akan datang. Jaraknya bisa setahun atau dua tahun, baik di muka atau di belakang. Sebagai arisan, ada waktu untuk menerima, ada masa untuk memberi.

Baik, mari bikin kategori. Ada alek yang benar-benar memang diperlukan, seperti acara di surau, mesjid ataupun pribadi seperti perkawinan atau membangun rumah. Namun belakangan, anak-anak rantau membuat alek masing-masing dengan menggelar orgen tunggal. Di lapau-lapau, kini terdapat dinding khusus undangan alek anak-anak muda lintas korong dan nagari ini. Gengsi korong dan nagari menjadi pertaruhan. Rombongan demi rombongan berangkat bergantian.

Apakah baralek ini sudah menjadi semacam kegiatan hura-hura? Tergantung tujuannya. Kalau memang hanya untuk mencari dana pembangunan, sebaiknya kegiatan iuran wajib dan iuran sukarela bisa dibuat. Tetapi kalau sudah masuk kepada kegiatan berjoget dan bernyanyi untuk sekadar menunjukkan rantau mana yang diarungi, tentu perlu kegiatan lain yang lebih efisien.

Program kembali ke nagari yang dihelat pemerintah Provinsi Sumatera Barat berbuah manis, banyaknya acara baralek di level nagari. Saya berpikir, jangan-jangan dibutuhkan semacam Komite Baralek Nagari atau Komite Baralek Kabupaten dan Kota. Kegunaannya, untuk mengatur frekuensi, jadwal dan bentuk kegiatan baralek ini, supaya tidak terlihat silang-sengkarut.

Kenapa? Karena usai baralek, tidak semua mendapatkan laba, banyak juga yang rugi dan punya hutang. Nah! 


catatan Indra J Piliang
×
Berita Terbaru Update