Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PERTARUNGAN ANTAR JURAGAN MEDIA

9 Juli 2012 | 9.7.12 WIB Last Updated 2012-07-10T10:40:10Z



Alkisah pada suatu masa, tersebutlah sebuah negeri bernama Nusantara. Setiap lima tahun sekali, negeri ini menggelar hajatan akbar yang disebut-sebut pesta rakyat – meski setelah hajatan itu usai, yang berpesta justru wakilnya rakyat dan rakyat gigit jari menunggu janji-janji ditepati dan biasanya tak pernah terwujud. Hajatan akbar akan digelar tahun 2014. Baginda Raja yang sekarang berkuasa tidak boleh lagi maju sebagai kontestan pasangan dansa dalam pesta nanti. Itu sebabnya banyak tokoh yang bersiap-siap mencalonkan diri untuk ikut pemilihan pasangan dansa. Para calon mempersiapkan diri sebaik-baiknya mulai dari menggalang dana sampai membentuk opini publik. Itu sebabnya media massa menjadi alat paling ampuh untuk menyetir opini publik.

Tiga tahun sebelum hajatan akbar, media massa di Nusantara mengerucut menjadi 2 kelompok besar. Terjadilah oligarki media massa. Wan Abud yang jadi Kepala Suku Partai Dodol Bakar (selanjutnya disingkat Dolkar) menguasai 2 stasiun TV dan sebuah portal berita internet. Salah satu stasiun TV milik Wan Abud meski masih tergolong muda usianya, tapi sudah sangat akrab di telinga pemirsa TV. Sejalan dengan nama Partainya – DodolBakar – stasiun TV yang punya motto “Terdepan Mengaburkan” ini suka membakar-bakar emosi pemirsa. Sedangkan Bung Brewok yang jadi sesepuh partai Nasi Goreng (selanjutnya disingkat Nasgor) punya sebuah stasiun TV dan koran. Merasa belum cukup kuat menghadapi Wan Abud, Bung Brewok menggandeng boss media massa lain : Pak Tani yang punya 3 stasiun TV, sebuah portal berita internet, koran dan sejumlah radio. Meski usianya masih muda, tapi Pak Tani sudah sukses di bisnis media.

 Senada dengan nama partainya – Nasi Goreng – stasiun TV Bung Brewok seringkali menggoreng dan membumbui issu-issu yang semula dingin dan hambar sampai menjadi panas dan berasa pedas. Baginda Raja dan para pungawanya sering dibuat keki karena berita-berita yang ditayangkan TV Bung Brewok. Makin keki pihak istana, makin komplit bumbu yang dibubuhkan dan makin spicy issunya.

Berbeda dengan Partai Dolkar pimpinan Wan Abud – yang merupakan partai peninggalan generasi sebelumnya, yang konon katanya sudah bertransformasi – Partai Nasgor ciptaan Bung Brewok justru partai yang baru lahir. Bukan tanpa sebab Bung Brewok bikin partai Nasgor. Dulu Bung Brewok rekan Wan Abud di partai Dolkar. Lalu mereka berebut topi Kepala Suku yang dimenangkan oleh Wan Abud. Tak mau kalah, Bung Brewok mendirikan ormas Nasgor yang janjinya dulu hanyalah sebuah gerakan non partai. Ternyata ketika sudah besar dan tersebar di seluruh wilayah Nusantara, Bung Brewok menyalahi janjinya dengan mengubah ormas Nasgor menjadi partai Nasgor. Banyak anggota partai Dolkar yang terjebak di dalamnya, sampai-sampai Wan Abud mengultimatum anggotanya untuk memilih : Dodol Bakar apa Nasi Goreng?

Pak Tani, yang direkrut Bung Brewok jadi Ketua Dewan Pakar Nasgor, ternyata punya riwayat yang tak jauh beda dengan Bung Brewok : riwayat sakit hati, PakTani pernah diremehkan oleh Wan Abud. Jadi lengkaplah sudah alasan Nasgor untuk bertarung head to head dengan Dolkar. Jaringan media massa milik masing-masing boss itu akan menyajikan berita sesuai versi mereka dan hanya akan menayangkan kabar yang menguntungkan kelompoknya sendiri. Tentu saja publik sangat dirugikan, sebab tak ada informasi yang berimbang dan obyektif yang mereka terima. Dulu ketika burung Nazar peliharaan Baginda Raja kabur dan terbang jauh, TV milik Wan Abud dan Bung Brewok berlomba-lomba mendapatkan kicauan si burung Nazar dari jarak jauh, Nah, jika nanti ada anggota partai Dolkar dan Nasgor ada yang bertingkah seperti si burung Nazar, dari mana publik akan dapat informasi yang aktual, tajam dan terpercaya?

Akhirnya sebagai salah satu milyarder yang menguasai jaringan media massa, aku bertekad akan memecah oligarki itu. Maka kuciptakan partai Si King (singkatan dari Nasi Aking). Sengaja kunamai nasi aking, sebab partaiku ini didedikasikan untuk jutaan rakyat Nusantara yang masih makan nasi aking.Kenapa begitu? Bukankah penduduk yang masih makan nasi aking gak mikirin partai dan gak mengikuti perkembangan informasi? Justru itu, inilah alasannya.

Meski jumlah penduduk super kaya di Nusantara menduduki peringkat ke-4 di Asia, tapi jumlah penduduk miskinnya masih jauh lebih banyak. Sebagian besar lagi adalah warga kelas menengah. Golongan menengah ini umumnya sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan cukup layak, namun mereka cenderung muak dengan perilaku para wakil rakyat yang hedonis. Memang kontras sekali kondisi ekonomi para wakil dengan rakyat yang diwakilinya. Golongan menengah ini punya rasa solidaritas yang kuat dan simpati yang sangat besar terhadap permasalahan yang dihadapi sesama kelas menengah dan kelas bawah. Karena umumnya kelas menengah ini melek informasi dan internet mania, mereka mudah sekali digerakkan untuk menggalang dukungan. Mereka pernah mengumpulkan koin untuk seorang ibu muda yang digugat sebuah rumah sakit asing. Pernah pula ada gerakan pengumpulan koin untuk seorang bayi penderita penyakit atresia billier. Yang terakhir, mereka pernah menggalang dana untuk membayar denda diyat seorang pembantu yang terancam hukuman mati di Arab. Jadi kalo kubikin partai Nasi Aking, golongan kelas menengah akan mudah bersimpati.

Partai Si King tak akan mengajukan pasangan pedansa dalam pesta rakyat nanti. Rakyat boleh pilih siapasaja pasangan pedansa yang mereka percayai. Yang jadi konsentrasi utama dan tujuan partai Si King adalah mendidik rakyat menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan berwawasan luas. Dalam perhelatan akbar, jumlah pemilih terbanyak adalah rakyat kelas menengah dan bawah. Kelak 2014 mereka tak boleh lagi mudah digiring untuk mendukung parpol atau tokoh tertentu hanya dengan bagi-bagi uang 20 – 50 ribu atau sekantong paket sembako yang dibagikan gratis. Dan karena ingatan rakyat Nusantara sangat pendek, mereka mudah sekali melupakan kejadian-kejadian lama. Itu sebabnya para politikus mengenakan topeng terbaiknya sekitar 6 – 3 bulan sebelum pesta rakyat. Ya, inilah kelemahan utama rakyat Nusantara : pelupa! Dan para politisi pandai memanfaatkan ini untuk bertransformasi dalam sekejap mata.

Untuk itulah jaringan media massa milikku akan terus menyajikan berita-berita tentang rekam jejak para politisi. Dan karena 58% pemilih di pesta rakyat adalah kaum wanita, maka mereka inilah lahan yang potensial untuk dirawat. Mereka senang bergosip dan suka mempengaruhi orang lain. Mereka bisa mempengaruhi suaminya, pacarnya, sahabatnya, tetangganya, orang tuanya yang sudah lanjut usia, sampai pembantu rumahnya. Sedikit saja cela dari seorang tokoh, akan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Karena itu, merekalah sesungguhnya jaringan informasi paling ampuh untuk memberitakan rekam jejak tercela para politisi. Maka tabloid milikku akan memberitakan skandal gelap para politisi yang selama ini mereka tutup rapat supaya tak tercium bau busuknya. Program acara infotainment di TV milikku tak akan mengabarkan gosip para artis – toh artis-artis itu tak makan uang rakyat, mereka hidup mewah dari hasil performanya sendiri – tapi justru akan mengabarkan para politisi yang doyan kawin dan suka menterlantarkan istri dan anaknya. Para paparazzi-ku kan kusuruh menjepret moment-moment special yang bisa bercerita banyak kepada publik. Maklumlah, para politisi selalu punya sejuta alasan untuk mengelak. Nah, hasil bidikan kamera para paparazzi-ku akan membuat mereka tak berkutik.

Enam bulan sebelum pesta rakyat digelar, tayangan TVku dan isi berita di portal internetku akan di dominasi oleh skandal-skandal lama, kasus-kasus korupsi, suap dan manipulasi yang sudah di-peti es-kan, masalah-masalah hukum yang masih menggantung, janji-janji politik yang belum juga dipenuhi, standard ganda dan kemunafikan khas politisi, hedonisme dan gaya hidup para politisi yang tak peduli dengan kondisi rakyatnya, kengototan para politisi untuk mendapatkan tambahan fasilitas, sampai kisah-kisah rebutan kursi kekuasaan yang melatar belakangi berbagai peristiwa politik selama 5 – 10 tahun terakhir. Ya, ingatan pendek rakyat Nusantara harus digugah dengan perjuangan melawan lupa. Mereka harus tahu siapa saja politisi dan dari parpol mana asalnya yang tidak pantas dipilih karena mencederai amanat rakyat.

Rakyat pemakan nasi aking tak akan nonton siaran TVku, tak sempat mendengarkan dialog di radio-radio milikku, apalagi buat baca koran dan buka portal berita internetku. Pemirsa dan pembaca jaringan media milikku adalah golongan kelas menengah. Mereka sudah lebih terdidik dan makin cerdas mengkritisi kondisi negerinya.Mereka tidak mudah lagi digiring dan diarahkan. Karena itu, akibat poligarki media milik Wan Abud kontra milik Pak Brewok, mereka akan mencari media alternatif yang non partisan. Dari sinilah jaringan media milikku akan merebut pemirsa dan pembaca untuk mengalihkan preferensinya ke media milikku. Masyarakat the have sudah pasti tak akan menyimak mediaku.Di rumah-rumah mewah mereka channel TV didominasi siaran TV asing. Anak-anak mereka yang memasuki usia pemilih pemula, sekolah di luar negeri. Ibu-ibu sosialita sibuk arisan dan keluar masuk butik untuk berburu barang-barang branded. Tak apa, toh jumlah mereka tak banyak-banyak amat.

Kubidik remaja-remaja pemilih pemula yang merasakan mahalnya ongkos pendidikan dan ketidakjelasan masa depan mereka. Kutarget ibu-ibu yang suka bergosip sambil nonton infotainment dan baca tabloid. Kuraih orang-orang kantoran yang selalu punya akses internet di kantornya. Mereka inilah yang akan menjadi agent of change. Ibu-ibu akan ngerumpi agar si Fulan atau partai Anu jangan di pilih, di pasar-pasar, di tukang sayur, di arisan RT,di pertemuan wali murid TK dan SD, bahkan di majelis taklim. Karyawan-karyawan akan mendiskusikan di kantor-kantor, di warteg tempat mereka makan siang, di atas taksi dan bis kota yang mereka tumpangi. Remaja-remaja akan membicarakan dengan teman sekolah mereka, dengan gurunya, di kantin sekolah, di angkot. 

Lama-lama, rakyat kelas bawah yang gak sempat nonton berita TV atau dengar siaran radio, gak bisa baca koran dan browsing internet, akan tahu juga kebobrokan para politisi dan kemunafikan parpol-parpol. Sebagus apapun topeng yang mereka kenakan, akhirnya rakyat tahu. Mereka yang sudah lupa dengan kasus-kasus lama, kini disegarkan lagi ingatannya. Rakyat yang makan nasi aking, sesekali juga nonton TV, numpang punya tetangga. Dari omongan tetangga lah mereka jadi lebih terdidik dan melek informasi. Setidaknya mereka tidak semudah dulu lagi dikooptasi kepentingan.

Lalu, apa jaringan media massa milikku gak bangkrut? Bukankah aku tak sekaya Wan Abud, Pak Brewok dan Pak Tani? Oh.., tidak! Dengan tidak punya kepentingan untuk berebut kursi kekuasaan dan tidak mengusung pasangan pedansa tertentu, spot iklan di media milikku tak berpotensi loss karena harus merelakan jatah iklan gratis untuk parpolku. 100% jatah iklanku kujual secara komersial kepada produsen mie instant, susu bayi, susu diet, susu ibu hamil dan menyusui, sabun mandi, detergen, pengharum ruangan, pasta gigi, obat nyamuk, obat batuk, obat pusing, jamu, minuman berenergi, dll. Para produsen pemasang iklan itu sebenarnya tak peduli apa afiliasi politik media massa yang akan menayangkan iklannya. Mereka hanya peduli pada berapa banyak pemirsa, pendengar dan pembaca media tersebut. Dan sebagai jaringan media massa yang netral dan tidak terkooptasi oligarki, media massaku pasti akan merebut perhatian publik yang kian kritis dan muak dengan kondisi negerinya. 

Sebagian perolehan iklan di jaringan media milikku akan kupakai untuk membayar lembaga survey yang bonafid. Aku berani membayar lebih mahal dari Wan Abud, Pak Brewok dan Pak Tani. Dengan syarat : lembaga survey ini harus benar-benar melakukan survey yang obyektif di 33 propinsi Nusantara dengan sampel mayoritas masyarakat kelas menengah dan bawah. Tak apa merogoh kocek dalam-dalam, asal hasilnya untuk pendidikan dan perluasan wawasan pemilih. Nusantara sudah diambang tubir kehancuran. Jika pesta rakyat 2014 nanti hanya menghasilkan tokoh-tokoh yang kualitas dan mentalitasnya seperti sekarang, masih dikuasai parpol-parpol yang itu-itu juga atau parpol baru tapi isinya tokoh-tokoh lama yang ganti jaket saja, maka Nusantara akan menuju Negara gagal. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan berwawasan luas. Juga membantu mereka berjuang melawan lupa.

Kriiiiiing!!! Kriiiiiing!!! Alarm HP ku berbunyi. Aku gelagapan dan buru-buru mematikan. Kugosok mataku, aah…, 15 menit lagi adzan Subuh. Ternyata, itu tadi cuma mimpi toh?! Kunyalakan TV, dan lagi-lagi TV milik Pak Brewok dan Wan Abud sudah bersaing menyajikan berita. Lha, trus siapa dong Boss Media yang mau dengan tulus memberdayakan publik pemirsa, pendengar dan pembacanya tanpa dipolitisir keinginan pemilik modal untuk berebut kekuasaan? Oalaaah…, kasian rakyat Nusantara, bahkan untuk urusan informasi saja dimanipulasi kepentingan segelintir orang super kaya. Kuasailah media..

CATATAN IRA OEMAR FREEDOM WRITERS KOMPASIANER
×
Berita Terbaru Update