Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mental Maling Manusiawi ? "Birds of the same flock fly together"

14 Juli 2012 | 14.7.12 WIB Last Updated 2012-07-13T20:10:15Z

Manusia adalah "homo suggestibilis" yaitu manusia yang dapat menerima persuasi. Anak balita berada pada kondisi yang paling mudah disugesti secara lemah lembut oleh orang tuanya. Pnedidikan nilai itu dilakukan melalui dongeng sebelum tidur, seperti kisah "Si Kancil Yang Cerdik", atau kisah-kisah para orang kudus (aulia) dari alkitab. Boleh dikatakan inilah momentum yang optimal bagi para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai luhur ke dalam lubuk hati (dalam psikologi diistilahkan sebagai alam bawah sadar) si buah hati. 

Maka seumur hidup ia akan teringat bahwa dulu sewaktu kecil ibunya pernah menasihatkan dirinya untuk hidup prihatin, hidup jujur, hidup suci, dsb. Kita sudah kerap mendengar kisah klasik seperti ini. Bila anak itu setelah dewasa saat sedang menghadapi godaan untuk berbuat kejahatan maka "internal warning system" (suara hati nurani) mengingatkan dia akan "kata-kata ibunya" sehingga ia urung melakukan perbuatan buruk tersebut. Ia hanya akan jatuh, bila ia dengan secara sengaja (volunter, volisional) dan sadar melawan bahkan membunuh suara hati tersebut karena telah dikuasai keinginan atau nafsu yang kuat akibat akumulasi dan fortifikasi (penguatan) yang terus-menerus.
 

Setelah balita masuk TK dan SD maka pengaruh sugesti para orang tuanya semakin berkurang. Idola mereka sekarang ialah bapak atau ibu guru. Nasihat guru menjadi pegangan mereka sehingga dalam pertentangan antara pendapat guru dan pendapat orang tua biasanya dimenangkan oleh pendapat guru. Sia-sialah usaha orang tua untuk "meneriakkan" segala macam nilai-nilai luhur, karena kata-kata orang tua itu akan cenderung masuk telinga kiri untuk keluar dari telinga kanan. Apalagi apabila nasihat yang lebih merupakan kecaman atau kritik itu disertai dengan hawa amarah. Ibaratnya mengajarkan navigasi (ilmu pelayaran) pada saat kapal dilanda angin taufan 'teaching navigation during the storm".

Ada orang tua yang menghajar babak belur anaknya sendiri untuk, katanya, mendidik nilai sopan santun. Anak ini hanya menjadi anak korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) sekaligus tertanam bibit "luka batin" yang harus dideritanya seumur hidup, sebelum ia mengikuti tuntas sessi "penyembuhan luka batin", baik oleh psikolog ataupun konselor keagamaan. Bila ia tidak menjalankan proses penyembuhan batin seperti itu, maka jangan heran kalau tingkah lakunya berkembang menjadi pervert (menyimpang). Bila ayahnya 'bajingan' maka anak ini akan menjadi 'super-bajingan" karena ia ingin "mengalahkan" ayahnya secara psikologis yang tidak mampu dilawannya dalam dunia nyata. Hanya dengan menjadi "super-bajingan' ia merasa telah mampu mengalahkan ayahnya secara telak karena ayahnya akan dipermalukan oleh perbuatnnya. Tragis memang kalau sampai terjadi hal yang demikian itu ujung-ujungnya.

Selewat masa pra-akil balig maka idola anak akan bergeser lagi dari guru menuju sahabat terdekat. Bila sahabat terdekat memiliki nir-nilai atau nilai yang sama maka mereka akan akrab satu sama lain. Kata pepatah "Birds of the same flock fly together." Bahasa joroknya, hanya lalat dan belatung saja yang sama-sama mengerumuni bangkai-bangkai. Maka peranan orang tua di sini ialah mengawasi sahabat akrab dari anaknya dan mencegahnya untuk bergaul apalagi untuk bersahabat dengan anak "yang imoral".

Untuk orang dewasa diperlukan sarana lain yang sifatnya reflektif dan meditatif. Kuliah Manajemen Qolbu dari AA Gym misalnya, dapat memberikan renungan-renungan reflektif-meditatif yang sarat nilai-nilai luhur bagi para audiencenya yang membanjir di setiap kota besar yang dikunjunginya. Di kalangan kristiani hal ini diusahakan lewat sessi-sessi rekoleksi dan retreat di luar kota dalam suasana lingkungan yang te-Nang, he-Ning serta cocok untuk mere-Nung..



catatan juswan the indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update