Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

LEMBAGA SURVEI "PATAH PINGGANG" , MEMPERTANYAKAN KREDIBILITAS LEMBAGA SURVEI PILGUB DKI

12 Juli 2012 | 12.7.12 WIB Last Updated 2012-07-12T11:46:59Z
                                         sumber foto rri.co.id


Ketika menjelang Pilkada DKI Jakarta kemaren,maka rakyat disuguhi berbagai macam data dari Lembaga Survei yang menempatkan pasangan Foke-Nara sebagai pasangan cagub-cawagub yang menduduki ranking 1 diatas pasangan lain,bahkan pasangan Jokowi-Ahok jauh dibawah dari 30%. Namun pada tgl.11 Juli 2012 kemarin hasil Quick Count atau perhitungan cepat menunjukkan bahwa pasangan Jokowi-Ahok melejit hingga diatas 40% . Semua Lembaga Survei kembali mencoba membuat analisis dan penelitian kembali tentang perolehan hasil suara yang terjadi. Maka kembali para Lembaga Survei membuat analisis mereka tentang hasil perolehan suara masing-masing pasangan cagub-cawagub di Pilkada DKI tersebut.

Kali ini Lembaga Survei dibuat malu oleh rakyat pemilih. Kesalahan yang begitu besar dan silent 'vote' yang ditunjukkan oleh rakyat pemilih pada Pilkada DKI kali ini menunjukkan bahwa rakyat DKI Jakarta tidak mau 'diarahkan' oleh Lembaga Survei untuk memilih pasangan tertentu. Rakyat pemilih DKI Jakarta rata-2 terpelajar dan rasionaldan tentunya punya hati. Walaupun bayang-2 kekuatan birokrasi dan isu kedaerahan yang dimiliki oleh Foke sebagai incumbent akan memenangkan dirinya kembali.


Namun diluar itu rakyat pemilih yang tidak merasakan kecipratan manisnya Foke, tidak mau terpengaruh dengan hal tersebut. Yang datang ke DKI Jakarta dan kemudian menetap menjadi penduduk DKI Jakarta ditaksir berpendidikan minimum SMU, mereka mempunyai cara pandang sendiri dalam berpolitik,tidak seperti di daerah lain yang mana rakyat pemilihnya masih relatif berpendidikan rendah dan selalu menjadi mangsa para politikus dan birokrat yang menjadi “antek” pasangan “incumbent” untuk ditekan memilih pasangan yang disebut petahana itu. Nah,para Lembaga Survei di Pilkada DKI Jakarta barangkali hanya mensurvei kalangan tersebut.

Pilihan kepada Jokowi-Ahok adalah bentuk protes para penduduk DKI Jakarta yang “datang” ke Jakarta dengan kemampuan (skill) dan berpendidikan serta sekarang rata-2 sudah mapan dalam hal ekonomi,mereka inilah yang menyaksikan DKI Jakarta dibawah Gubernur Foke itu tidak maju dan bahkan menuai kemacetan dimana-mana seperti sebuah kota yang tidak ada yang mengatur atau tidak ada pemerintahan. Sebagian birokrat DKI Jakarta yang dulunya juga pendatang dan kemudian menetap menjadi penduduk Jakarta tentu merasa sebagai “anak tiri” akibat isu kedaerahan yang diusung oleh Foke-Nara.

Lembaga Survei lupa menganalisis secara mendalam tentang Jakarta “siapa sebenarnya yang disebut penduduk DKI Jakarta?” . Padahal mereka sudah mensurvei rakyat pemilih berdasar umur,agama dan etnis…! Mustinya sudah tahu siapa penduduk Jakarta itu…! Penduduk DKI Jakarta yang lebih banyak pendatang ternyata mempunyai “dendam” terhadap Foke yang terus menerus merasa DKI Jakarta itu milik orang Betawi saja…! Foke lupa bahwa DKI Jakarta adalah “Indonesia Mini” ,ibukota NKRI, jadi isu kedaerahan dan SARA sudah tidak laku di DKI Jakarta. Atau Lembaga Survei menyesatkan Foke…?

Rakyat Pemilih DKI Jakarta juga kebanyakan mahkluk sosial yang berteknologi,mereka walau individualistis tetapi tetap berjejaring sosial melalui media jejaring sosial. Kekuatan jejaring sosial juga mempengaruhi kenapa Jokowi-Ahok melejit luar biasa di pilkada ini. Rakyat pemilih DKI Jakarta diperkirakan lebih dari 70% adalah berkemampuan ekonomi kelas menengah. Kelas Menengah inilah yang sekarang menguasai perpolitikan Jakarta. Mereka rasional,berpendidikan,dan menguasai teknologi informasi. Walau sebagian masih ada yang Rasis,namun prosentase nya sangat kecil.

Waktu menulis tentang bakal menangnya Foke karena DPT yang bermasalah,kelas menengah yang menjadi rakyat pemilih dan suka nongkrong di warung kopi sempat cemas dan haqul yakin bahwa dikutak-katik seperti apapun Foke tetap bakal unggul. Namun semakin lama mereka semakin cemas,ternyata mereka terus bergerilya melalui media jejaring sosial untuk mengalahkan kekuatan Foke dan menjungkir-balikkan hasil survei dari Lembaga-2 Survei. Dan ternyata berhasil untuk “putaran pertama” Pilkada DKI Jakarta 2012 ini.

Akankah ini akan berlanjut di “putaran kedua” ?? Lihat saja nanti di 20 September 2012…

catatan mania telo freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update