Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kepribadian Ganda di Dunia Maya

8 Juli 2012 | 8.7.12 WIB Last Updated 2012-07-08T15:01:45Z

Ketika kehidupan masih sederhana, piranti teknologi komunikasi masih sangat terbatas, interaksi umat manusia hanya sebatas interaksi langsung. Tapi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, terlebih setelah internet mendominasi hampir semua sisi kehidupan, manusia hidup di 2 dunia : dunia nyata dan dunia maya. Betapa tidak, ada beragam situs jejaring sosial yang memungkin orang berinteraksi dengan banyak orang sekaligus, meski berada di belahan dunia yang berbeda dan meski tak saling kenal sebelumnya. Di dunia maya, seperti halnya di dunia nyata, orang bisa menyatakan pendapat, bisa curhat, bisa mengekspresikan emosinya, bisa bertanya banyak hal, bisa berdiskusi bahkan bisa berbisnis.

Bedanya, jika di dunia nyata seseorang harus jelas identitasnya, maka di dunia maya justru sebaliknya : bisa dengan bebas menyembunyikan identitas. Toh alamat di dunia maya tak mudah untuk dilacak, apalagi jika online menggunakan jaringan yang berbeda-beda dan pindah-pindah tempat, semisal di warnet. Karena itu, pilihan untuk menampilkan jati diri atau tidak, sepenuhnya ada di tangan pengguna. Alasannya pun beragam. Ada yang memang merasa perlu menutupi identitasnya karena alasan keamanan atau sekedar untuk having fun, namun ada pula yang menyembunyikan identitas agar bisa berbuat sesuka hati tanpa perlu bertanggungjawab. Semua alasan dan tujuan itu pun terpulang kepada penggunanya.

Kita tak bisa serta merta men-judge bahwa sebuah akun di media sosial yang menggunakan nama samaran serta memasang bukan foto diri adalah akun yang pemiliknya bertujuan jelek. Sebab hal itu baru bisa diketahui dari bagaimana penggunaan akun itu. Ada akun dengan nama dan foto palsu yang dalam berinteraksi cukup santun, beretika dan tak pernah berbuat buruk pada sesama pengguna internet. Tapi ada pula akun yang sengaja dipakai untuk menyerang pendapat pihak lain atau bahkan menyerang pribadi seseorang, untuk menyebarkan suatu paham tertentu atau bahkan sekedar “menyampah” di dunia maya, mumpung tak kelihatan jati dirinya.

Sebaliknya, akun yang jelas menggunakan nama asli lengkap sesuai yang tercantum dalam KTP, memasang foto diri close up, tapi akunnya digunakan untuk hal-hal yang kurang baik dan tak bertanggungjawab. Sebagai contoh, di Kompasiana misalnya, pernah ada 3 akun milik bapak Iman Rachman, ibu Novi Touristiani Susan dan seorang pelajar Rifka Novia yang ternyata mereka satu keluarga (bapak-ibu-anak), dimana akun-akun mereka digunakan untuk membuat tulisan plagiat antar mereka, lalu diikutsertakan dalam lomba-lomba yang diadakan sponsor Kompasiana. Cukup satu tulisan, lalu didaur ulang menjadi 3 tulisan, supaya probabilitas menang lebih besar.

13386994081252548588
(sumber foto : yangketiga.wordpress.com)

Ketika saya tanyakan mengapa mereka melakukan kebohongan dan kecurangan seperti itu, baik pak Iman maupun ibu Novi berkilah bahwa semua itu hanya fitnah, namun tak mampu menjelaskan bantahan atas bukti-bukti otentik, termasuk foto keluarga mereka yang dimuat di media lain. Mereka beragumen bahwa bagi mereka Kompasiana hanyalah bagian kecil saja dari kehidupannya. Secara tak langsung, keduanya memamerkan bahwa mereka memiliki kehidupan yang cukup mapan di dunia nyata dan punya bisnis yang baik.

Nah, justru disinilah letak kejanggalannya menurut saya. Jika kita punya kehidupan mapan di dunia nyata, punya reputasi baik dan bisnis yang sukses di dunia nyata, kenapa kita harus mencemari nama baik sendiri dengan perbuatan tak terpuji di dunia maya? Pengalaman Ibu Novi memenangi lomba penulisan yang diadakan oleh produk teh, yang tujuannya untuk memberikan testimoni positif atas produk tersebut, rupanya membuat keluarga itu berambisi untuk memenangkan lomba-lomba sejenis. Nah, dengan melakukan plagiat antar keluarga lalu bukti-buktinya ditulis di media sosial dan di-share ke FB dan Twitter, bukankah ini justru merusak reputasi Ibu Novi? Dan justru menutup peluangnya untuk menang.

Itu hanyalah sebuah contoh akun dengan nama dan foto asli, tapi digunakan untuk maksud tak baik dan justru jadi bumerang mencoreng nama baik mereka sendiri. Contoh lain adalah Kompasianer AS yang bulan Maret lalu sudah berpamitan untuk “pisah ranjang” dengan Kompasiana. Meski memasang foto diri jelas, mencantumkan alamat blog pribadinya, dimana pada blog pribadi beliau mencantumkan “titel” haji dan sederet profesi yang digelutinya, tapi ternyata di Kompasiana bapak AS ini tak segan-segan melakukan plagiat dan daur ulang dari tulisan sesama Kompasianer, bahkan terakhir menebar fitnah keji kepada 15 Kompasianer yang dianggap telah “menelanjangi” aksi kebohongannya dalam menulis.

Memang, dalam dunia maya, tanggung jawab atas perbuatan kita tak diterima secara langsung dan instant. Kalau di dunia maya anda memukul/menggampar seseorang, maka anda akan mendapat balasan pukulan/gamparan atau bisa lebih parah diadukan ke polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan. Jika di dunia nyata anda mencuri karya orang lain, bisa langsung dipidanakan dan dapat berakibat denda yang sangat besar. Tapi di dunia maya, anda bisa mencerca orang sesuka hati, “menghantami”nya sampai babak belur, mem-bully secara psikis sampai mental lawan anda down, mencuri karyanya, paling-paling cuma akan berbalas cacian, makian, atau akun anda ditutup/diblokir karena dianggap melanggar ketentuan yang berlaku.

1338699646644971241
(sumber foto : sumberkita.com)
Sejak awal mengenal internet, saya memang memilih menggunakan identitas asli. Alamat email saya sejak dulu sampai sekarang tak berubah, nama asli saya. Begitupun ketika membuat akun di FB, tujuan saya ingin menemukan kembali teman-teman saya di masa lalu – SD, SMP, SMA – dan menjalin silaturahmi lagi dengan mereka. Benar saja, hanya dalam hitungan 4 bulan sejak punya akun FB, saya “bertemu” kembali dengan teman-teman sekolah dulu dan bahkan menggagas reuni akbar bulan depannya. Tak terbayang kalau akun FB saya memakai nama samaran dan bukan foto diri. Seorang teman pernah mengeluhkan dirinya sering ditolak ketika meminta pertemanan pada eks teman sekolahnya dulu. Teman saya yang lain langsung menyahuti : “bagaiman orang tahu kalau itu dirimu? Nama, bukan namamu. Foto, bukan fotomu. Jangan salahkan yang me-reject dong”.

Pun juga ketika mulai tertarik untuk membuat akun di Kompasiana, saya memakai nama asli. Buat saya sendiri, memakai nama asli dan memasang foto diri membuat saya lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya. Ini jadi semacam fungsi kontrolbagi diri saya, untuk tak melakukan kebohongan publik atau melakukan perbuatan tercela lainnya. Bagaimana tidak, teman FB saya mayoritas adalah orang-orang yang mengenal saya secara langsung : teman SD, SMP, SMA, kuliah, teman kantor di Surabaya dulu, teman kantor saat ini, sanak saudara dekat maupun jauh. Jadi dengan begitu saya terbiasa menampilkan diri apa adanya.
Setelah mengenal Kompasiana lebih jauh, saya juga bergabung dengan sebagian Kompasianer dalam grup-grup di FB bahkan sebagian dari mereka punya pertemanan pribadi di FB saya. Meski sebagian besar belum pernah kopdar - maklum, yang sering bertemu saya baru sebatas Mbak Mira - tapi saya merasakan persahabatan yang tulus dan hangat dari sesama Kompasianer. Solidaritas mereka sangat tinggi. Ketika ada yang “nyampah” atau berkomentar tak sopan di tulisan salah satu, yang lain akan ikut berkomentar atau melaporkan akun yang dianggap melanggar etika itu.

 Di sinilah saya makin merasakan bahwa mayoritas Kompasianer adalah orang-orang yang bertanggungjawab, meski interaksinya sebatas di dunia maya, namun mereka sadar betul bahwa perilaku di dunia maya pun dituntut memperhatikan etika. Meskipun mungkin ada yang tak menggunakan nama asli, namun tujuannya bukan agar bisa bebas berbuat apapun tanpa harus bertanggungjawab.

13386997391805068858
(sumber foto : rasthaspinelli.blogspot.com)
Pertemanan di dunia maya yang dilandasi kejujuran, keterbukaan, keikhlasan dan ketulusan, buat saya pribadi membuahkan banyak manfaat, yang terkadang membuat saya terharu. Beberapa hari lalu saat saya memposting status di FB bahwa saya sedang sakit batuk kering dan dulu pernah sembuh berkat syrup obat batuk yang saya beli di Arab ketika umroh, seorang teman FB dan teman Kompasiana saya langsung bereaksi, mengirim BBM kepada adiknya yang sedang umroh dan sudah bersiap pulang, untuk membelikan obat itu. Kemarin, kiriman obat itu sudah saya terima, karena dikirim dengan paket same day service. Sungguh saya terharu dengan ketulusan Ibu Srie Kusumandari Dradjat ini. Meski kami belum pernah sekalipun berjumpa langsung.

Seorang teman FB lainnya yang seorang pengusaha UMKM, sering men-tag foto-foto koleksi Rumah Sulam miliknya. Usahanya memang memberdayakan perempuan-perempuan putus sekolah dengan pendidikan hanya SD/SMP, diajari membordir dan menyulam, diajari internet, dididik menjadi admin bagi akun FB Rumah Sulam-nya. Ketika beberapa minggu lalu saya tertarik memesan selembar kain sulam dan selembar kain bordir, betapa kagetnya saya saat 3 hari kemudian pesanan saya sampai, di dalamnya ada selembar jilbab sulam dan sepasang sepatu pesta berbahan beludru yang disulam. Saya pikir pegawainya telah melakukan kesalahan pengiriman. Saat saya SMS, ternyata si pemilik Rumah Sulam itu sendiri yang memberikan bonus benda-benda itu. Sungguh, pertemanan yang didasari keikhlasan, sering membuat kita tak percaya bahwa sahabat di dunia maya bisa sedemikian dekatnya dengan kita. Bukan semua pemberian itu yang membuat saya terharu, tapi kepercayaan mereka untuk berbagi apa yang mereka punya, meski tak kenal langsung.

——————————————————-
13387000071389968766
(sumber foto : suzannita.wordpress.com)
Kemarin pagi, saat sedang menunggu obat di apotik, saya mendapat telpon dari seorang Kompasianer, sebut saja si A. Dengan sedikit tegropoh-gopoh si A bercerita kalau tulisan salah seorang Kompasianer diserang oleh seorang Kompasianer yang memang sudah lama dikenal sebagai tukang rusuh. Si A sendiri tahu hal ini dari Kompasianer B, yang saat itu sedang chating di Yahoo Messenger dengannya. Karena si A tak bisa login Kompasiana, dia meminta saya membuka Kompasiana. Sayang sekali, saya sendiri sedang tidak di rumah. Sampai di rumah pun saya lebih memilih istirahat setelah minum obat.

Sorenya baru saya buka Kompasiana dan tahulah saya tulisan yang dibikin rame itu. Ternyata itu tulisan lama, sudah tayang 10 hari sebelumnya dan saat itu sempat HL. Jadi si penyerang memang kelihatan mencari-cari perkara. Dia membalas beberapa komentar orang lain, sambil memprovokasi menjelek-jelekkan penulis artikel tersebut. Fokusnya bukan pada adu argumen terhadap isi tulisan, tapi lebih kepada menyerang pribadi dan menghina penulisnya. Baik hinaan secara fisik maupun psikis. Kompasianer yang menyerang ini memang dikenal suka menghina orang lain, merendahkan, membodoh-bodohkan atau menghina fisik. Meski akunnya sudah diblokir 3x oleh Admin, ia tak jera juga mengulangi kelakuannya.

Maka tak heran jika kemarin komentarnya langsung mendapat “sambutan” perlawanan dari Kompasianer lain. Si penulis sendiri baru muncul kemudian, karena saya dengar dari teman, ia sedang terbaring sakit, jadi tak bisa merespon saat itu juga. Saya – seperti juga 2 komentator yang telah menjawab komentar si penyerang sebelum saya – jadi bertanya-tanya : apa ya tujuannya selalu merusuh ke lapak-lapak orang lain? Kalau saya perhatikan, terutama yang dirusuh biasanya tulisan yang HL, Terekomendasi atau masuk dalam salah satu kategori ter-ter-an. Mungkinkah si penyerang merasa lebih eksis jika “aksi”nya dibaca banyak orang? Sebab tulisan yang HL atau Terekomendasi umumnya hit-nya tinggi dan yang berkomentar pun banyak.

Masih keheranan yang sama dengan Kompasianer lain, kenapa ya si penyerang itu tak memaksimalkan energinya untuk berkarya dan menghasilkan tulisan-tulisan bermutu yang bermanfaat atau setidaknya disuka banyak orang? Salah satu komentar disitu menyebut “kayak kurang kerjaan”, saya rasa ungkapan ini tepat karena untuk apa berkeliaran ke lapak-lapak orang lain, mencari-cari tulisan yang sudah diposting beberapa hari lalu, hanya untuk sekedar di rusuh.

Komentar lainnya bahkan secara sarkastik menulis : “beraninya sama perempuan. Pake rok aja lu XXXX”. Pernyataan ini pun benar, sebab saya perhatikan penulis-penulis yang dimusuhinya hampir semuanya perempuan. Mungkinkah ia lupa dirinya terlahir dari rahim seorang perempuan? Mungkinkah ia lupa istri, ibu dari anak-anaknya adalah seorang perempuan? Sungguh saya heran, jika ada seseorang yang mengaku berjenis kelamin pria, tapi kerjanya memusuhi kaum perempuan. Terkadang serangannya kepada pribadi Kompasianer lain sangatlah tidak esensial : yang bedaknya tebal-lah, yang fotonya menor-lah, yang giginya tonggos-lah, yang bodoh-lah.

Padahal, si pelaku mengaku dirinya seorang entrepreneur. Kebetulan, selama puluhan tahun tinggal di Surabaya dulu saya banyak mengenal teman yang jadi entrepreneur, baik yang sukses banget maupun yang biasa saja. Setahu saya ciri khas mereka adalah selalu mengembangkan pertemanan, menjaga silaturahmi dan berbaik-baik dengan semua orang. Sebab siapapun bisa berpotensi menjadi pengembang bisnisnya, peluas rizkinya. Ini juga sejalan dengan ajaran yang selalu disampaikan motivator dan konsultan bisnis seperti Mario Teguh atau Adrie Wongso.

Jadi, jika benar si penyerang itu memang punya kehidupan baik di dunia nyata, untuk apa ia merusak citranya di dunia maya? Untuk apa ia “bertopeng” dan mengindentikkan diri dengan tokoh kartun jahat? So…, mungkinkah dia berkepribadian ganda? Entahlah. Yang jelas, kemunculan akunnya yang ke-4 ini sudah dibicarakan di FB maupun di YM oleh teman-teman Kompasianer, tepat saat pertama kali ia muncul. Artinya, akun ini memang sudah jadi sorotan banyak pihak dan banyak pula yang geram serta melaporkannya pada Admin, lagi dan lagi. Semoga saja yang bersangkutan segera sadar, sudah banyak yang mendoakannya agar jadi orang baik-baik. Tapi doa itu akan dijawab Tuhan hanya jika yang bersangkutan juga mau berubah menjadi baik.

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update