Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TANGISAN DITIMUR SANA.. PAPUA..

8 Juli 2012 | 8.7.12 WIB Last Updated 2012-07-09T03:23:08Z






134010030624487578

sumber gambar: lazuardibirru.org
Siang ini, usai belanja berbagai keperluan rumahtangga, saya iseng pengen nonton film. Dari berbagai pilihan film, ada 2 yang menarik perhatian: Soegija dan Di Timur Matahari. Mumpung lagi nonton sendiri (Chubby anak saya yang biasa menemani nonton sedang liburan di rumah kakeknya), saya bebas membuat pilihan.
Awalnya pilihan jatuh pada flm Soegija, tapi karena terlalu sore, akhirnya saya pilih untuk menonton ‘Di Timur Matahari’. 

Ini film Indonesia pertama yang saya tonton sejak saya pulang ke Indonesia. Film-film Indonesia lainnya kurang menarik minat.
Film buatan Alenia Production selalu memikat saya, sejak saya jatuh cinta pada film Denias, Senandung di atas Awan. Selain itu Papua memiliki makna tersendiri buat saya, karena ayah saya sempat lama berdinas di Sorong. Apalagi film ini berbau pendidikan, bidang yang cukup saya minati.
Film ini mengisahkan tentang kehidupan bocah cilik nan cerdas, Mazmur, yang hidup di pelosok Papua, bersama keluarga, saudara, dan sahabat-sahabatnya, Yokim, Agnes, dan Suryani.

Adegan pertama saja sudah membuatku menitikkan air mata haru, kala Mazmur dan teman-temannya sudah berkumpul di ruangan kelas hendak belajar, namun guru pengganti tak jua datang (suasana kelasnya mengingatkan saya saat dinas mengajar di Waingapu, Sumba. Sebelum mengajar saya menyapu dan membersihkan kelas dulu, dibantu murid-murid..hehe…gak ada yang namanya cleaning service).

Selain menggambarkan begitu memprihatinkannya dunia pendidikan di pelosok Papua,  juga menggambarkan tentang berbagai konflik di tanah nan indah dan kaya ini. Selain konflik antar suku yang menyebabkan terjadinya perang saudara, juga konflik di suatu perusahaan (dugaan saya ini perusahaan tambang emas, yang Anda tahu sendiri namanya), dimana terjadi penembakan yang mengancam karyawan perusahaan ini.
Upaya mendamaikan perang antar suku yang dilakukan Bapak Yakub, Pendeta Samuel (yang dimainkan sangat apik oleh Lukman Sardi) serta Michael (paman Mazmur), hampir saja tak membuahkan hasil.

Ayah Mazmur menjadi salah satu korban. Karena wafatnya sang suami, ibunda Mazmur memotong jarinya sebagai tanda duka. Dua hal ini menyebabkan trauma mendalam pada diri si kecil Mazmur. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya tewas dipanah dan saat ibunya memotong jarinya (orangtua harap dampingi putra-putrinya saat menonton film ini ya…karena saya saja ngeri melihatnya).

Selain itu, paman Mazmur yang lain juga tewas, dalam perang antar suku, hendak membalas dendam pada suku lain yang menyebabkan tewasnya sang kakak. Ayah Agnes (sahabat Mazmur) yang adalah anggota suku yang menjadi musuh ayah Mazmur, juga tewas mengenaskan.
Begitu mengerikannya akibat dari perang antar suku ini. Anak-anak yang kehilangan ayahnya dan istri-istri yang kehilangan suami dan jarinya sendiri (menjadi adat disana, istri memotong jarinya bila suami meninggal).

Selain masalah pendidikan dan keamanan, film ini juga menyoroti kemiskinan yang terjadi di Papua. Betapa mahalnya harga-harga barang, karena untuk mendatangkan barang diperlukan pesawat perintis yang sanggup terbang di medan sulit seperti Papua. Banyak rakyat miskin di tengah-tengah tanahnya yang kaya. Mengenaskan.
Bahkan pendidikan pun terasa sangat mahal.

Film ini sangat menyentuh, di tengah situasi memanas yang terjadi di Papua saat ini. Seandainya Presiden kita dan jajaran pemerintahnya mau menolehkan kepalanya sejenak melihat kondisi yang sebenarnya terjadi disana, maka makna sesungguhnya dari sila kelima Pancasila akan terwujud nyata: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bukankah Papua bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia?
Bukankah rakyat Papua, saudara-saudara kita juga?

catatan tyas freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update