Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diperlaki Gadis Jepang

17 Juli 2012 | 17.7.12 WIB Last Updated 2012-07-17T06:39:52Z

Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja.

Pada masa libur, harga tiket pesawat membubung tinggi mencapai awan sebagai kompensasi atas kurangnya penumpang di luar musim tersebut. Kalau saja penerbangan lewat Metro Manila dan bukannya penerbangan langsung, bisa dipastikan semua bangku tersebut bakal penuh terisi pantat manusia.

Hengkang menuju Pulau Cebu, Balinya Filipina, di luar musim liburan di Jepang memberi nilai lebih dibandingkan dengan masa libur yang harus bersaing dengan pelancong Jepang yang ingin mengebaskan kepenatan kerja dan buang hajat ke daerah wisata tropis. Hasil jerih payah memeras keringat di negeri orang dengan menabung sedikit demi sedikit untuk liburan perlu dinikmati sebelum jengkang terkapar mati.

"Mari berlupa segala," ucapku.

"Ya," setuju Natsuko.

"Kebaskan segala debu-debu kerja yang melekat di badan."

"Ya, perlu refresh-kan jiwa raga."

Buku "Memimpin, Mengikuti, atau Menyingkir" yang diracik oleh James L. Lundy rajin menemaniku menghabiskan waktu selama hampir lima jam di atas awan, sementara Natsuko sibuk menggarisbawahi halaman buku turis "Pulau Cebu" yang menerakan tourist spots yang hendak ditandanginya. Sang burung logam yang besar ini merentangkan sayapnya dan meluncurkan kakinya dengan anggun di landasan pacu yang sudah terpagut gelapnya malam.

Saat meninggalkan Jepang, sang mentari sudah mulai merebahkan diri ke arah barat pada musim salju yang menggigit tulang. Saat mendarat di Pulau Cebu, sang bola langit ini sudah berbaring di peraduannya pada musim panas yang hangat (Maaf, di Filipina hanya tersedia musim panas). Sisa-sisa dinginnya salju dari jangatku yang hitam sudah jatuh berluruhan dalam pesawat itu.

Pegawai imigrasi enggan bertanya sepatah kata pun dan begitu saja memberi cap OK pada paspor hijauku. Barangkali bersebab akan menumpang tinggal di Shangri-La's Mactan Resort and Spa Cebu yang dibintangi lima, kecurigaan akan kami yang tak beruang yang akan memusingkan mereka sirna begitu saja dari jaringan benaknya.

Kecuali turis dari negara ASEAN dan beberapa biji negara tertentu, rakyat Indonesia lewat Departemen Kehakiman dan HAM memajaki turis mancanegara, termasuk warganegara Jepang, dengan biaya visa on arrival sebesar $10 untuk 7 hari tinggal dan $25 untuk 30 hari tinggal. Natsuko yang berwarga negara Jepang tidak perlu mengeluarkan pundi-pundinya untuk membayar visa on arrival di Filipina.

Hal yang sama juga diberlakukan padaku yang masih setengah hati memiliki paspor hijau yang sekaligus membedakanku dengan Habe yang sudah dicap "Paman Sam". Juga, petugas imigrasi hanya memelototi saja sekejap angket barang bawaan yang kusodorkan dan begitu saja mempersilakan kami mendorong kopor tanpa usah diacak-acak dulu isinya.

Biro perjalanan di Jepang sudah mengontak perwakilannya di Pulau Cebu tentang kehadiran kami pada jadwal yang sudah ditetapkan. Sesegera menapaki kaki di pintu keluar terminal kedatangan, seseorang yang mengacungkan kertas dengan nama biniku yang bertulisan besar sudah menunggu di sana. Senyumnya terpampang lebar dengan bahasa Jepang yang lumayan lancar dan menggamit kami menuju mobil van yang sudah menanti di pelataran depan dengan sopirnya yang pun murah senyuman.

"Orang Filipina?" tanya sang pemandu yang raut wajahnya dari semula sudah menyiratkan kecurigaan akan mukaku yang mirip amat dengan warganya.

"Bukan, saya orang Indonesia," jawabku.

"Oh, mirip orang Filipina, ya?"

"Ya."

Tentu saja, adalah kebebasan mutlak baginya untuk menganggapku sebagai orang Indonesia yang diperlaki gadis Jepang dan disuruh bekerja membanting tulang di sana.

Sesaat berselang sepasang sejoli Jepang yang juga diurus oleh biro travel ini menaiki mobil yang sama. Tak tahu aku bagaimana suasana hati sejoli ini karena mereka hampir tak buka mulut sepatah pun sampai kami diantarkan ke Shangri-La's Mactan Resort sementara mereka diboyong ke hotel yang berbeda. Boleh jadi kepala mereka sibuk dihiasi rencana-rencana honeymoon yang berwarna-warni pelangi yang terajut dari benang-benang sutra cinta yang sejati.

Makan waktu sekitar 20 menit bermobil sebelum memasuki daerah resort hotel yang gerbangnya ketat dijaga oleh manusia, anjing, dan pistol. Dua makhluk yang disebut terakhir ini bisa menyalak kapan saja sesuai dengan keinginan makhluk yang disebut pertama. Sama dengan hotel-hotel di Indonesia yang dijaga ketat dari serangan maut penganut islam radikal, tak satu pun hotel yang mau menjadi korban keganasan manusia liar yang beringas tak terkendali demi jihad sesatnya itu.

"Good evening, Sir!"

"Good evening."

Sesudah menyoroti bagian bawah dan memeriksa isi mobil, sang petugas bersenjata yang berjumlah empat orang tersebut dengan ramah mempersilakan mobil melaju menuju lobi. Mobil van yang bertuliskan besar nama biro perjalanan serta sang sopir yang senantiasa lalu-lalang mengantarkan tamu ke hotel tersebut membuat sang penjaga tidak perlu menghabiskan waktu bermenit-menit memelototi tiap sudut mobil yang mungkin menyembunyikan bom yang akan memorakporandakan hidup mereka. Selain sang penjaga yang awas mata selama 24 jam, kamera yang dipasang di tiap sudut areanya juga memberikan ketenangan bagi mereka yang bermalam di sini.

Pemandu dari biro travel membereskan urusan check-in dan memberikan penjelasan tentang rencana selanjutnya, termasuk opsi kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam pamflet biro travel mereka. Selanjutnya kami diantar oleh staf hotel menuju lantai 7 "Ocean Club" yang dipersiapkan untuk kami. Berwajah cantik dengan bahasa Inggris yang fasih pastilah menjadi aset utama yang disediakan Tuhan untuknya agar bisa dipekerjakan di hotel ini. Sementara yang diberi nasib sial oleh Tuhan, tidak cantik dan kurang mampu berbahasa Inggris, harus pasrah menerima nasib sebagai tukang cuci, tukang sapu, tukang masak, dan sebagainya.

Kalau saja berani aku mendendangkan perasaan hati, "Gadis ini cantik amat, ya?", boleh jadi tendangan maut Natsuko akan mematahkan bingkai kacamata tebal + batang hidungku. Jadi, perasaan erotis ini mesti disimpan jauh-jauh di relung hati yang terdalam atau harus berdiam di rumah sakit sendirian.

Sehabis menguakkan pintu kamar, sang gadis memberikan informasi secara umum fasilitas yang terdapat dalam kamar serta daerah resort tersebut. Sehabis menutup pintu kamar, sang gadis kembali menuju lobi. Dan kami pun merebahkan diri melepas penat dinegara bermayoritas katolik ini..



catatan edizal the indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update