Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Politik Pencitraan ala SBY & Soeharto

30 Juni 2012 | 30.6.12 WIB Last Updated 2012-07-01T16:53:05Z

Survey tentang popularitas SBY yang menurun kembali menjadi topik hangat di media akhir-akhir ini. Beberapa pengamat politik & media memberitakan banyak ketidak-puasan atas kinerja pemerintahan SBY serta sosok pribadi SBY yang dianggap kurang tegas,dsb.

Politik pencitraan dituding sebagai awal naiknya SBY & terpilihnya kembali untuk periode 2009-2014,juga bisa jadi akan  menjadi “awal” dari kemerosotan popularitas SBY hari-hari kedepan ini.

Lawan-lawan politik SBY sudah menjadikan senjata “pencitraan” SBY sedemikian rupa sebagai alat untuk mempengaruhi rakyat bahwa SBY & kroni-2nya terus menerus memberi “angin sorga” yang tak kunjung datang; Dan lawan-2 politik SBY tetap harus was-was & terus mengingat kejadian-2 di awal pemilu 2009 ,dimana ada pengamat politik yang menyampaikan bahwa ciri khas SBY adalah membuat “keresahan” di awal pemerintahannya & akan memberi “kenyamanan” pada menjelang akhir pemerintahannya dengan berbagai tingkah laku “pencitraan” seperti pengucuran dana BLT yang akan dikucurkan untuk orang miskin,dan berbagai kebijakan yang membuat “enak” sebagian besar pengusaha besar untuk mendukung kembali partainya (dan tentu Presiden pilihan SBY mendatang),dll

Ini tentu akan “merisaukan” lawan-2 politik SBY,bahkan semboyan pun mungkin akan diganti “Now or Never”….artinya setiap isu yang timbul akan dipakai sebaik-baiknya untuk “menjungkir-balikkan” SBY & kroni-2nya.

Peristiwa “pencitraan” bukan sekali ini saja terjadi di Indonesia. Sebelumnya Soeharto sudah menggunakan politik ini & berhasil mempertahankan kekuasaan selama 32 tahun (+ tindakan-2 represif tentunya),dimana rakyat  diberikan gambaran seolah Soeharto adalah pemimpin yang bagaikan “malaikat” turun dari Sorga dengan menyelamatkan Indonesia dari kehancuran ekonomi akibat “salah urus” negara dari pemimpin sebelumnya,kegiatan-2 politik yang bernuansa bisa menggoyang stabilitas ekonomi “dihancurkan” dengan sistem 3 partai saja,dengan alasan-2 yang dapat mengganggu keamanan,maka gerakan-2 yang dituding dapat mengganggu keamanan disikat habis tanpa kompromi,semuanya demi stabilitas ekonomi…! 

Citra sebagai pemimpin yang dapat mengurus “ekonomi” lebih baik dari pendahulunya serta membuat nuansa “aman” selalu didengungkan setiap saat,kemajuan-2 pembangunan yang seolah “tanpa dosa” terus dibeberkan kepada rakyat ; Soeharto bagaikan wajah “malaikat penolong” bangsa & negara Indonesia.
Kenapa Soeharto melakukan pencitraan seperti itu? Sebab banyak rakyat Indonesia yang belum mengenal sosok Soeharto sebelumnya,maka diperlukan segala cara untuk mendongkrak “image” serta memperluas “Soeharto” sebagai pemimpin bangsa pengganti Soekarno….! Soeharto dibuat seolah “suci bersih” dengan membuat “sejarah baru” tentang perjuangan-2nya di masa lalu,padahal setelah ybs lengser,banyak orang mulai terhenyak dengan “kebusukan-2″ masa lalunya yang sampai sekarang menjadi pergunjingan banyak orang.


Pencitraan Soeharto mulai redup dengan seiring zaman yang telah berubah,globalisasi ekonomi & informasi telah menyeret Soeharto mulai “tidak disukai” oleh rakyat,khususnya kaum intelektual yang mulai sadar bahwa “image” Soeharto sudah tidak bisa ditolong lagi,dimana korupsi keluarga & kroni-2nya menyebabkan kemarahan luar biasa bagi rakyat dan pemimpin-2 oportunis (khususnya yang sudah lama tidak “kebagian” korupsi…)
Bagaimana dengan SBY?

Kita tahu,bahwa SBY pun sosok yang bukan “orang suci” ,dosa-2 & prestasi yang “hambar” masa lalu masih melekat erat pada diri SBY,cerita-2 dibalik pertengkaran Megawati dengan SBY menjadi gunjingan manis di warung kopi….Namun,karena untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa sulit butuh “orang suci” & “malaikat penolong”,maka politik pencitraan kembali dimunculkan,apalagi sekarang sudah dikembangkan yang namanya “Political Marketing”….Semua ilmu Marketing tentang membangun suatu “brand image & awareness serta loyaty” dikembangkan di ilmu Politik.


SBY digambarkan seolah pemimpin yang “bersih & demokratis”,itulah “jualan” SBY & kroni-2nya pada masa-2 kampanye pemilu 2009 ; Namun apa yang terjadi di periode kedua pemerintahannya?
  4 tahun setelah periode pemerintahan SBY yang kedua,kondisi bangsa dinilai sangat carut-marut,korupsi meraja-lela,”gurita Cikeas” diungkap & tidak dapat disingkap (karena pengarang bukunya juga orang yang tangguh & mempunyai data pendukung yang valid),skandal demi skandal di lingkungan SBY mulai terkuak,dari skandal seks sampai skandal korupsi,berita kriminalisasi suatu lembaga anti-korupsi menjadi gunjingan,dan yang terakhir menghadapi Malaysia-pun menggunakan alasan ekonomi sebagai landasan untuk tidak berani tegas….!


Keterbukaan informasi & globalisasi kembali “menggoyang” SBY & kroni-2nya,persis ketika menjelang Soeharto jatuh….Namun apakah nasib SBY akan berakhir sama dengan Soeharto? Mari kita tunggu bersama.....

catatan mania telo freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update