Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KENANGAN BERSAMA IBU DAN KELUARGAKU

11 Juni 2012 | 11.6.12 WIB Last Updated 2013-07-02T14:21:41Z
Almarhumah ibuku memang selalu ceria dan senang bercanda. Tapi bukan berarti dia tidak pernah menangis atau bersedih. Bersedih, tentu saja ibuku pernah bersedih (atau mungkin sering hanya saja aku tidak tahu? Entahlah). Air mata sering aku lihat meluncur di keduabelah pipinya. Tapi, khusus untuk kasus air mata ini, tidak bisa dikatakan bahwa air mata ini meluncur karena beliau sedang bersedih. Karena, jika sedang terlalu bergembira pun, ibuku sering meneteskan air mata. Termasuk ketika sedang terharu.
Setidaknya ada tiga peristiwa dimana ibu meneteskan air matanya, khusus untukku (ya, air mata ini spesial hanya untukku, tidak untuk yang lain).

Peristiwa itu adalah, ketika aku sedang tertidur di kamar pembantuku. Tiba-tiba saja, ada setetes air yang menetes tepat menimpa wajahku. Bukan hanya setetes atau dua tetes, tapi banyak. Mengganggu tidur siangku, dan membuatku terjaga bangun, tapi lalu mengerang.

Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika ibu pergi dengan teman-temannya untuk ikut kegiatan PKK di Kecamatan. Ibu memang seorang aktifis pemberdayaan keluarga dan masyarakat di Kelurahan tempatku tinggal. Dia sering bepergian untuk membantu keluarga tidak mampu, anak-anak dhuafa dengan teman-teman PKK-nya yang bekerja sama dengan Kementrian Sosial kala itu (era tahun 70-an). Siang ketika ibu sedang ikut kegiatan sosial tersebut, aku dan adikku bermain pimpong di halaman garasi rumah kami. Aku dan adikku tidak bisa main pimpong tapi seperti halnya kanak-kanak yang lain, kami tetap memainkan permainan pimpong tersebut dengan cara kami sendiri. 

Kebetulan, aku berkali-kali menang dan tentu saja kebalikannya, adikku berkali-kali kalah. Kondisi yang menyebalkan dan menyesakkan itu adalah kondisi kalah. Dan setelah mengalami kekalahan berkali-kali, kemarahan adikku pun mulai muncul. Terlebih mungkin setelah melihat kepongahanku karena kembali meraih kemenangan. Akhirnya, karena kesal, adikku melempar raket pimpongnya ke arahku. Mungkin dia tidak sengaja karena sudah terlalu kesal, dan melemparnya dengan main-main. Tapi, takdir rupanya berbicara lain. Raket itu terlempar begitu saja dan langsung ujung kayu bulatnya menimpuk kepalaku.
ZING…

Aku langsung menghentikan tawa kemenanganku dan langsung memelototi adikku. “Kenapa sih? Sakit tahu.” Sementara adikku hanya menatapku dengan bengong dan terkejut. Tidak berkedip.
“Kenapa?”
Adikku masih terdiam menatapku dengan terpana. Spontan aku meraba ujung pelipisku. Ujung jemariku terasa basah. Lalu aku bawa ujung jemari itu ke depan wajahku hingga aku bisa melihat ternyata ujung jemariku sudah dipenuhi oleh lumuran darah. Panik, aku melihat ke arah jendela kaca dan langsung melihat bahwa saat itu, ternyata wajahku sudah dilumuri oleh darah. Barulah aku menangis kencang hingga semua orang datang dengan panik dan memberi pertolongan. Setelah lukaku kering, aku yang masih marah pada adikku, menolak untuk bertemu dengannya dan lebih memilih untuk tidur di kamar pembantu. Ketika sedang terlelap dalam tidurku itulah ibuku datang dan langsung mengelus pelipisku yang terluka bocor tersebut sambil meneteskan air matanya. “Maafin ibu ya nak, ibu sedang pergi ketika kepalamu bocor.” Sejak itu, ibu mengurangi semua kegiatan sosialnya dan lebih banyak berdiam di rumah saja.

Peristiwa kedua ibu meneteskan air matanya khusus untukku adalah, ketika suatu pagi ibu dan ayah memanggil-manggil namaku dengan suara yang penuh gegap gempita. 
“Adeeeeeeeeeee…adeeeeeeeeeee.”
Aku sedang tertidur. Pagi-pagi kedua orang tua kalian memanggil kalian, apa yang langsung terlintas di kepala kalian? Ya. Benar. Aku langsung merasa bahwa mereka memanggilku untuk menyuruhku melakukan sebuah pekerjaan. Padahal, aku sedang bergelung dengan selimutku menikmati sisa pagi yang dingin. Selimut aku tinggikan, menutupi seluruh tubuh dan kepala, berharap tidak terdengar lagi panggilan itu.
“ADEEEE…”
Duh. Apa sih nih? Nggak bisa melihat orang senang sebentar. Ini kan hari minggu!
Akhirnya dengan merenggut kesal, aku melempar selimutku dan turun ke bawah (rumahku memang bertingkat). Di lantai bawah, kulihat ayah dan ibu sedang duduk berdampingan sambil tersenyum-senyum ke arahku. Koran bergelimpangan di depan mereka, lembar per lembar.
“Ade, kamu diterima di UI.”
Kantukku langsung menguap hilang tanpa bekas.
Lalu dimulailah hari pendaftaran dimulai. Setelah selesai mendaftar, ayah dan ibu mengajakku berkeliling kampus. Jika saja mungkin, pasti mereka ingin naik ke atas kap mobil dan berteriak pada semua orang “Hei, lihat, anak saya akan bersekolah disini.”… aku tahu itu akan terjadi jika saja kami naik mobil dengan sun roof di atasnya. Untungnya mobil kami adalah mobil kijang biasa.
Setelah puas berkeliling kampus, kami makan di tempat jajan mahasiswa. “Wah, berarti nanti kamu bakalan makan di sini ya De?” Aku mesem-mesem salah tingkah. Di sekelilingku ada banyak mahasiswa dan mereka menatap kami sambil tersenyum (karena kami datang dengan anggota keluarga yang lengkap!!!).
Lalu, ketika aku izin ke kamar mandi seorang diri, ibu tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut menemani. Di kamar mandi itulah, ibu tiba-tiba memelukku erat dan air matanya aku rasa menempel di leherku. Basah.

“Ade, terima kasih ya karena kamu sudah berusaha keras untuk bisa masuk di UI. Ibu bangga banget sama kamu. Ibu tahu pasti, kamu usaha keras banget untuk prestasi ini. Pasti berat apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Ibu inget, guru-guru SD kamu dulu, yang pernah bilang bahwa kamu adalah anak yang bodoh dan tidak sepantasnya bersekolah tinggi-tinggi. Tapi, ternyata kamu hebat. Kamu bisa menepis semua cemooh orang itu. Terima kasih ya nak.”
Aku langsung ikut menangis juga.
Aku memang punya kelainan sejak kecil. Yaitu, orientasi kiri kananku kacau balau (juga ditambah dengan sakit asma yang parah, hingga setiap tahun pasti ada waktu dua sampai tiga kali harus opname). Tapi terutama orientasi kiri kananku itu yang terasa mengganggu. Karena, itu menyebabkan aku mengalami kesulitan untuk membaca, menulis dan otomatis juga mengenal angka. Aku tidak bisa membedakan huruf b – d, p – g, h – 4, s – z, a – e, bahkan juga u – n. Lebih parah lagi, aku sering sulit terbalik-balik menulis akhiran ng, ny (selalu ditulis gn, yn). Kepandaianku hanyalah berhitung sampai dengan 10. Lebih dari sepuluh, selalu terbalik-balik dan itu berakibat parah. Mau nulis 12 malah menulis 21…dan seterusnya.

Raportku terbakar. Seluruh nilainya merah yang parah. Yang tersisa biru hanya ada dua pelajaran, yaitu pelajaran kesenian (karena memang tidak ada teori, yang ada hanyalah menyanyi dan menggambar saja), serta pelajaran agama Islam. Tapi inipun setelah guru agamamu memanggil ibuku secara khusus hanya untuk memberi nasehat, “Bu, anak ibu parah banget. Sepertinya dia bukan duduk di sekolah ini dan bercampur dengan anak-anak yang lain. Seharusnya, nilai agamanya merah, tapi, peraturan pemerintah tidak membolehkan seorang anak mendapat merah di pelajaran agamanya kecuali kalau keluarga ibu memang seorang keluarga komunis.”
Sejak itu, ibu langsung memanggil seorang guru les khusus. Guru les inilah yang mengajari aku membaca, menulis dan berhitung. Cara mengajarnya amat kreatif. Namanya Tante Pop, seorang guru dari suku Ambon yang punya anjing besar bernama Leksi (hehehe, jujur, aku sebenarnya takut anjing, tapi karena tidak ada pilihan, terpaksa aku les di rumahnya dengan kedua kaki terlipat di atas kursi belajar).

“Ingat ya Ade. Huruf ‘b’ itu, perutnya sedang hamil; sedangkah huruf ‘d’ adalah huruf dengan pantat yang besarrrrrrrrr.” Hahahah…kreatif kan? Tante Pop ini juga yang memberi saran padaku untuk meletakkan sesuatu di tangan kananku agar aku tahu, bahwa inilah tangan kananku dan inilah sebelah kanan. Itulah sebabnya, hingga sekarang, aku selalu mengenakan jam tangan di sebelah kanan dan selalu ada sebuah cincin yang melingkar di jemari tangan kananku. Cincin ini tidak pernah lepas. Ketika cincin ini kekecilan, suamiku membelikanku cincin baru yang muat. Cincin di jemari tangan kananku itu sebuah keharusan untukku.
Itu sebabnya ibu langsung memeluk dan menangis penuh haru di kamar mandi FISIP UI. Dan aku, juga ikut menangis karenanya.
Lalu, yang terakhir, ibu menangis ketika aku akhirnya wisuda sarjana. Hanya ada satu perkataannnya yang aku ingat seumur hidupku, “Terima kasih ya De. Kamu sudah berhasil jadi sarjana. Setidaknya, ibu tidak terlalu malu pada keluarga kesar kita, karena ternyata meski anak ibu kebanyakan perempuan semua, tapi bukan berarti tidak bisa bercahaya seperti keluarga yang lain.”

(Oh, bunda. Aku tahu betapa berat tekanan dari sebuah keluarga dengan patron Patrilineal yang kental yang melingkupimu. Memiliki anak laki-laki itu adalah sebuah keharusan. Kalau perlu, seorang suami boleh menikah lagi demi mendapatkan seorang anak laki-laki. Alhamdulilah, anak ke empat ibuku seorang laki-laki dan hanya dialah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku).


×
Berita Terbaru Update