Sejarah Pembuatan Benteng Jepang dan Ampang Santok yang Akan Dijadikan Destinasi Wisata Desa

Bendungan Santok dibangun pada 1 Juli 1951 dan diresmikan oleh Wapres Muhammad Hatta. Sayang prasasti yang diteken Bung Hatta sudah rusak dan diganti prasasti PSDA Sumatra Barat. Foto: OLP

Pariaman - Desa Air Santok Pariaman Timur akan hadirkan wisata sejarah guna melengkapi destinasi wisata di desa itu. Di desa ini terdapat tiga benteng Jepang dan irigasi tertua di Sumatra Barat dengan kode nama Bendungan "Bas 0" yang diresmikan oleh wakil presiden pertama RI Muhammad Hatta ditemani tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Aminuddin Yunus pada 1 Juli 1951.

Aminuddin Yunus sendiri asli putra Air Santok dan istrinya berasal dari Kampuang Perak. Di zaman itu, Aminuddin Yunus merupakan tokoh penting Masyumi sekaligus ahli ekonomi yang kerap dimintai Muhammad Hatta membantu kabinet bentukannya.

"Saat ini kita sudah memiliki taman rekreasi di area persawahan dan taman bermain di saluran irigasi yang bisa untuk mandi-mandi," kata kepala desa Air Santok, Edison beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk benteng Jepang, sambung Edison, pihak desa mulai awal 2021 ini sudah menganggarkan APBDes untuk melakukan pembenahan area benteng yang dilengkapi taman.

"Sebenarnya akan kita bangun pada 2020 lalu. Namun karena pandemi dananya terpakai untuk penanganan Covid-19," kata dia.

Benteng pertahanan Jepang sendiri, sambung Edison, dibangun pada 1943 oleh tentara Jepang. Ada tiga buah benteng pertahanan Jepang yang hingga saat ini masih ada di desa itu.

"Nanti akan kita lampirkan juga sejarah daripada benteng tersebut yang bisa dibaca pengunjung," kata Edison.

Ketua BPD Desa Santok, Dedi Afrizal mengatakan benteng Jepang dibangun tentara Jepang pada malam hari guna merahasiakan lokasi dan bahan yang digunakan dari mata-mata.

"Agar tidak diketahui penduduk desa dan merahasiakan material yang mereka pakai dari mata-mata," kata Dedi Afrizal, Sabtu (9/1).

Dari penuturan orang-orang tua desa dan dokumen yang ada di Belanda, dituturkan Dedi Afrizal, ratusan tentara Jepang turun dari kereta api di Pariaman menuju Santok membawa ember berisi material untuk membangun benteng pada malam hari dengan sepeda.

Iringan sepeda tentara Jepang itu berbaris tak terputus langsung menuju Desa Air Santok. Di lokasi pembangunan benteng sudah menunggu ratusan tentara Jepang yang akan melakukan pengecoran.

"Benteng dibuat dalam semalam. Paginya masyarakat Santok kaget karena sudah berdiri tiga buah benteng pertahanan," terang Dedi.

Sedangkan saluran irigasi Santok yang dikenal dengan sebutan Ampang Santok sebenarnya sudah dibangun sejak zaman Belanda dan dimodernisasi oleh pemerintah pusat pada 1951. Ampang Santok mengambil dan membelokan air dari Batang Piaman untuk keperluan irigasi pertanian.

Ampang Santok terletak di Desa Cubadak Mentawai yang dulunya merupakan satu kanagarian dengan Desa Air Santok. "Nanti kita akan koordinasi dengan Desa Cubadak Mentawai guna mengintegrasikan zonasi wisata Ampang Santok," pungkas Dedi. (OLP)