Sapa Gadang Masih Ramai: Mayoritas Jamaah Lansia tak Pakai Masker

 

Kadis Kesehatan Yutiardi Rivai bagikan masker di lokasi Sapa Gadang. Foto: istimewa

Pariaman - Meski Pemkab Padangpariaman dan sejumlah tokoh masyarakat telah mengeluarkan keputusan bersama penundaan ritual Basyafa di komplek makam Syekh Burhanuddin di nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan kecamatan Ulakan Tapakis, kondisi di lapangan tidak demikian.

Sapa Gadang - hari Basyafa besar - yang jatuh pada Rabu 8 Oktober, masih banyak jamaah melakukan ritual di makam penyebar agama Islam tersebut tanpa mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

"Masih banyak yang tidak menggunakan masker," ujar kepala Dinas Kesehatan Padangpariaman, Yutiardi Rivai saat melakukan sosialisasi Perda AKB di lokasi Basyafa, Kamis (9/10).

Meski tidak seramai Sapa Gadang daripada tahun sebelumnya, ia mencemaskan para jamaah yang umumnya berusia lanjut dan rentan tertular Covid-19, tidak menggunakan masker dan menjaga jarak.

"Kita lakukan sosialisasi persuasif dan membagikan masker kepada para jemaah. Kita juga meminta pedagang di lokasi Basyafa agar menjaga kebersihan dagangan mereka, terutama menu siap saji," sambungnya.

Masih menurutnya, ritual Basyafa akan terus berlanjut hingga Rabu depan yang disebut dengan hari Sapa Ketek. Ia memperkirakan kawasan komplek makam Syekh Burhanuddin akan kembali ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah dalam dan luar provinsi.

Sebelumnya Pj Bupati Padangpariaman, Adib Alfikri mencemaskan peningkatan kasus infeksi Covid-19 di Padangpariaman terus meningkat. Dengan penundaan Basyafa 2020 ia berharap tidak terjadi klaster baru Covid-19 Padangpariaman.

"Disamping itu kita juga tengah mensosialisasikan Perda nomor 6 tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru, Pengendalian dan Pencegahan Covid-19 di Sumatra Barat," ujarnya. (Tim)