FKPT, Sumbar Rentan Penyebaran Paham Radikal

FKPT Sumbar foto bersama dengan Wallikota Genius Umar di Balaikota Pariaman. Foto: Nanda
Pariaman - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Barat audiensi dengan Walikota Pariaman di Balaikota Pariaman, Kamis (27/6). Pertemuan itu membahas upaya antisipasi penyebaran radikalisme dan terorisme di wilayah Kota Pariaman. 

Ketua FKPT Provinsi Sumatera Barat, Zaim Rais mengatakan selain upaya pendeteksian orang atau kelompok penganut radikalisme oleh aparat intelijen (apintel) berbagai instansi, upaya pencegahan harus dilakukan.      
Ia mengatakan penangkapan beberapa orang warga Sumatera Barat yang diduga terkait jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pada Agustus tahun 2018 silam, menandakan Sumatera Barat juga rentan dari penyebaran dari radikalisme.

"Hal itu adalah "warning", nyatanya Sumatera Barat juga rentan penyebaran radikalisme. Makanya upaya pencegahan terhadap paham ini menjadi sangat penting," katanya.

Salah satu upaya pengecegahan yang dilakukan FKPT Sumatera Barat yakni dengan mengenalkan masyarakat dengan ciri-ciri paham radikal, kelompok teroris.

FKPT Sumatera Barat, katanya, akan melakukan literasi informasi dengan aparat pemerintahan desa se Kota Pariaman untuk pencegahan radikalisme dan terorisme. 

"Penganut dan kelompok radikalisme sangat eksklusif dan tidak bergabung dengan orang lain serta mudah menyalahkan orang lain. Jika ditemukan sikap seperti itu, mengindikasikan terpapar paham radikalisme. Dengan mengenalkan ciri-cirinya masyarakat bisa menolak dan melaporkan keberadaan penyebaran paham tersebut dan kelompok teroris ini," lanjutnya.

Walikota Pariaman, Genius Umar, mengatakan pihaknya belum mendeteksi adanya penyebaran paham radikal di wilayahnya.

"Di Pariaman paham radikal belum banyak kita mendengar. Tadi arahan BNPT melalui FKPT Sumatera Barat akan melakukan sosialisasi pencegahan radikalisme kepada aparatur desa dan pihak terkait pada Juli mendatang," katanya.

Pencegahan penyebaran paham radikal perlu melibatkan banyak pihak. Ulama, pemerintah dan aparatur desa bekerjasama mensosialisasikan pencegahan radikalisme di wilayah masing-masing.

Menurut Genius, pihak pemerintah desa juga perlu melakukan deteksi dini. Jika menemukannya dapat menginformasikan kepada Pemko Pariaman atau aparat keamanan (apkam) wilayah masing-masing.

Keberadaan Forum Deteksi Dini Masyarakat (FKDM) tingkat kecamatan dan Kota Pariaman juga akan dimaksimalkan untuk mendeteksi keberadaan paham radikal.

"Saya instruksikan kepada OPD yang membidangi ini yakni Kesbangpol untuk memaksimalkan deteksi dini," tegasnya.

Dijelaskannya, radikalisme yang bersifat eksklusif ini. Paham ini pada akhirnya menjadi dasar orang atau kelompok melakukan terorisme. 

"Hanya mereka (penganut radikalisme) saja yang benar. Sedangkan orang atau kelompok lain salah semua. Ini salah satu cikal bakalnya, hingga ujungnya mudahkan mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengannya atau kelompoknya," pungkasnya. (Nanda)