Malas Bahas Pilkada, Si Midun Takut Puasanya Sumbing

Gambar ilustrasi/istimewa/internet
Midun membetulkan posisi kacamata progresifnya yang melorot dari batang hidungnya yang tinggal sedikit. Midun selain teman diskusi handal, juga tetangga dekat rumah kami yang lahap bicara politik Pilkada Pariaman. Anehnya, di bulan puasa Midun lebih suka membahas politik nasional dan luar negeri ketimbang perpolitikan Pariaman.

Topiknya selalu ihwal Presiden Amerika Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Republik Demokratik Korea/Korea Utara Kim Jong Un, isu lampu kuning ekonomi Indonesia karena melambungnya dolar Amerika dan sidang kasus terorisme Aman Abdurrahman. Di mana Midun duduk, selalu ramai oleh pendengar. Ia cukup kompeten bicara politik, linier dengan kebiasaannya yang rajin membaca dan aktif berdialetika di warung-warung politik.

"Ngomongin Pilkada Pariaman mengundang dosa. Bisa bikin puasa sumbing. Di antara kita kan beda-beda pilihan, ngomongin Pilkada kelar lebaran saja," kata dia mendehem usai bicara. Ia memang memiliki track record selalu mendehem sehabis bicara politik.

Sejak 1 Ramadhan, penampilan Midun include berubah. Padanan busananya: atasan baju koko dan peci haji meski ia belum pernah ke Mekkah. Untuk bawahan ia memilih padanan sarung bermotif kotak-kotak dan sandal jepit kulit. Kontras dengan celana pendek dan kaos oblong di hari biasa.

Midun sebenarnya nyaris ke Mekkah. Ia salah satu korban penipuan dari ribuan calon jamaah oleh salah satu agen travel umrah. Setoran umrah ia bersama istri dan kedua orangtuanya, lenyap begitu saja. Awal-awal buncahnya kasus penipuan travel umrah itu, Midun sempat mengundang wartawan menggelar konferensi pers guna menuntut haknya.

Sore ini ia kelihatan sehabis mandi. Mukanya samar oleh bedak. Midun terlihat gagah jelang buka puasa di Ramadhan minggu pertama ini. Ia menduduki kursi persis di depan saya. Selain saya dan Midun, nimrung pula Kacak dan Bolon. Beduk buka puasa kekira satu jam dua puluh lima menit lagi.

"Habis pangkas (rambut) Dun. Klimis sekarang," tanya Kacak.

"Enggak, cukur kumis dan jenggot sendiri di rumah, rambutkan masih pendek," jawab Midun kalem.

"Jika dollar bertahan di atas Rp14 ribu, harga mobil, sepeda motor, barang konsumsi, BBM hingga tarif listrik akan menyesuaikan. Pemerintah harus mutar otak agar hal itu tidak terjadi karena imbasnya ke rakyat kecil, ehem!" Midun memulai.

"Rakyat kecil mana ada beli mobil. Yang saya cemaskan BBM dan tarif listrik ikut naik. Kemarin (tarif listrik) sudah naik bertubi-tubi. Biasa bayar Rp150 ribu per bulan kini nyaris Rp500 ribu. Gawat jika naik lagi," Bolon menyahut.

"Seberapa kemungkinan BBM dan tarif listrik akan naik seiring melambungnya dolar?" saya menatap Midun.

Midun sejenak diam. Ia menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi seiring meningkatnya imbal hasil sejumlah obligasi di Amerika Serikat. Pelaku pasar uang masih cenderung meningkatkan permintaanya terhadap dolar AS.

Pelemahan kurs rupiah dalam sepekan terakhir tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Melihat fundamental yang ada, Midun mengatakan rupiah mestinya berada di kisaran Rp13.500 hingga Rp13.600 per dolar AS.

Midun menghela nafas. Ia berujar pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal. bahkan ia mengaitkan gejolak nilai tukar ini dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Minggu lalu, sambung Midun, Presiden AS Donald Trump berkicau di Twitter.

Trump berkicau di Twitter menuduh Cina dan Rusia sebagai manipulator kurs karena melakukan devaluasi mata uangnya. Devaluasi mata uang biasanya dilakukan agar ekspor suatu negara menjadi lebih murah dan lebih bersaing di pasar global.

"Kicau Trump di Twitter: Rusia dan Cina melakukan permainan devaluasi mata uang ketika Amerika terus menaikkan suku bunga. Tidak bisa diterima!" demikian Midun menirukan kicauan Trump di Twitter.

Anehnya, sambung Midun, kicauan Trump di Twitter tersebut diunggah beberapa hari setelah Departemen Keuangan Amerika menolak untuk menyebut kedua negara tersebut sebagai manipulator mata uang dalam laporan terbarunya.

Di samping itu, Midun yang lagi semangat melanjutkan, sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar uang adalah kenaikan yield surat utang AS bertenor 10 tahun. Yield surat utang ini melewati level tiga persen untuk pertama kalinya sejak 2014. Kondisi itu membuka potensi adanya kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Selain yield obligasi yang tinggi, menguatnya dolar AS juga karena data ekonomi Amerika Serikat yang optimistis. Indeks Kepercayaan Konsumen AS selama April meningkat ke level 128.7, naik dibandingkan bulan sebelumnya. Penilaian konsumen AS saat ini membaik, dengan begitu maka kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja di AS cukup menguntungkan.

Sedangkan imbasnya ke rupiah, jelas Midun, pelemahan tak semata akibat persoalan di luar negeri. Persoalan menurunnya kepercayaan stake holder, pasar, investor dan publik pada pemerintah ikut memberi andil terhadap merosotnya rupiah.

Dengan adanya dana yang mengalir keluar negeri, sebut Midun, juga terjadi karena ada ketidakpercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Misalkan risiko utang yang terus meningkat, serta pengelolaan fiskal yang tidak kredibel, yang tercermin dari shortfall pajak yang terus terjadi selama kepemimpinan Jokowi.

Midun menilai pemerintah gagal mengoptimalkan investment grade yang diraih pada 2017. Utang yang ditarik ternyata juga tidak mampu menggerakan ekonomi yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang medioker di antara negara-negara emerging market. Target pertumbuhan ekonomi tujuh persen pun tidak tercapai.

"Dampak pelemahan rupiah ini terhadap beban pembayaran bunga dan pokok utang berdenominasi dolar AS. Rupiah yang lemah membuat beban pembayaran utang bertambah berat. Saat ini untuk utang pemerintah saja ada sekitar 109 miliar dolar AS yang memakai valas. Ini tentu akan membebani APBN," jabar Midun dengan lugasnya.

"Dari mana kamu tahu semua itu Dun?" tanya Bolon.

"Kita tahu jika kita ingin tahu. Ya membaca berita, laporan analis ekonomi dalam dan luar negeri," sahut Midun.

Tiap Midun bicara semua pada melongo. Pengetahuan Midun tidak sebatas ilmu politik saja rupanya, ekonomi pun cukup mumpuni.

"Lalu dampaknya ke kita-kita rakyat biasa apa Dun? Jangan pakai bahasa tinggi-tinggi Dun, saya susah nelannya," sela Bolon antusias.

"Jika dolar naik, produk kita baik domestik maupun ekspor menjadi melemah lantaran beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dari luar negeri yang belinya pakai dolar," jawab Midun seketika.

Sambung Midun, jika hal itu terjadi ujung-ujungnya harga barang menjadi mahal. Dengan begitu tentu masyarakat membatasi konsumsinya, pendapatan pengusaha menjadi rendah. Jika dolar terus demikian, pengusaha akan berupaya dengan lebih keras dengan keuntungan yang semakin minim.

"Daya beli masyarakat menengah ke bawah menurun jika harga barang pada mahal kan?" tanya Midun.

"Iya juga sih. Tapi tidak bagi mereka yang super kaya" kata Bolon.

"Lalu bagaimana dengan BBM dan tarif listrik?" Kacak bersuara yang dari tadi lebih banyak mengangguk-angguk.

"Nah" Midun menghela nafas. "Importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Impor minyak kita sekitar 350 hingga 500 ribu barel per hari karena produksi minyak dalam negeri tak mencukupi konsumsi BBM kita semua," tutur Midun.

"Jika rupiah melemah terhadap dolar, harga BBM pasti tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan" jelas Midun.

Midun mencontohkan 24 Februari lalu Pertamina telah menaikkan harga BBM non-subsidi pertalite dan pertamax kisaran Rp100 hingga Rp300 per liter.

"Ini disebabkan sebelum kenaikan tersebut terjadi, harga acuan minyak mentah Indonesia telah naik terlebih dahulu," tegasnya.

Sebagaimana dinyatakan Tim Harga Minyak Indonesia, urai Midun, dari hasil perhitungan Formula ICP, harga rata-rata ICP Januari 2018 mencapai 65,59 dolar per barel, naik sebesar 4,69 dolar per barel dari 60,90 dolar per barel pada Desember 2017.

ICP telah turun dari Januari, yaitu menjadi 61,61 dolar per barel. Namun, harga ICP saat ini lebih tinggi dari patokan APBN 2018, yang sebesar 48 dolar per barel. Karena ini tentu saja Pertamina mulai melakukan perhitungan kembali terhadap patokan ICP dan alokasi subsidi energi untuk APBN-P 2018.

"Karena 2018 dan 2019 tahun politik, kemungkinan harga BBM dan tarif listrik tidak akan dinaikan karena hal ini bisa menggerus suara Jokowi yang akan maju lagi. Tapi konsekwensinya keuangan negara kita terbebani jika rupiah terus melemah, langkah penghematan sana-sini mesti dilakukan," Midun menghela nafas.

Penjelasan Midun panjang lebar ihwal pelemahan rupiah rupanya mudah dicerna. Ia mampu memaparkan dengan detail dan pemilihan bahasa yang mudah dimengerti. Berhubung telah menunjukan pukul 17.45 WIB, serempak kami sepakat berburu takjil ke Pasar Kuraitaji Pariaman. Brum!

Oleh: Oyong Liza Piliang* dengan mengambil referensi terpercaya. Semua nama tokoh dalam postingan ini fiktif belaka.