Minim Pasokan Lokal, Ikan dari Sibolga Dominasi Pasar Pariaman

ilustrasi



Tingginya curah hujan disertai angin akibat fenomena cuaca buruk akhir tahun, tidak hanya pengaruhi hasil panen petani cabai yang mengakibatkan makin "pedasnya" harga cabai di sejumlah pasar di Pariaman, tetapi juga harga ikan.

Dari pantauan wartawan di lapangan, Rabu (23/11), mayoritas nelayan biduk bermesin robin tidak melaut karena gelombang besar. Akibatnya berpengaruh kepada pasokan jenis ikan tertentu yang diperdagangkan di sejumlah pasar di Pariaman.

"Nelayan robin umumnya tidak melaut hari ini karena gelombang dan arus di laut tidak memungkinkan bagi kami. Nelayan robin 'manundo' (memacing ikan saat biduk berjalan), tidak buang jangkar dan memukat," ujar Boncel (38), nelayan Pasir Pariaman.

Sementara itu Devi (39), pedagang ikan di pasar Pariaman membenarkan minimnya pasokan beberapa jenis ikan yang dijual di Pasar Ikan. Ikan tangkapan lokal yang diperjualbelikan saat ini menurutnya hanya beberapa jenis saja, yakni ikan sarai dan gurigak.

Sedangkan jenis ikan favorit masyarakat Pariaman seperti gambolo (kembung), cumi-cumi, kerapu, capa, gabua, dan muambu pelor (tongkol kecil berat tiga ekor satu kilogram), hingga siang ini belum masuk ke pasar ikan karena nelayan pukat dan payang (biduk besar mesin tempel) belum menepi.

"Pukat payang tak banyak melalut karena cuaca. Jika kena (dapat ikan) mungkin jumlahnya tak seberapa dan harganya lebih mahal. Untuk jenis ikan besar kita pasok dari Sibolga. Ikan jenis tuna dijual seharga Rp40 ribu/kilogram," ujarnya.

Pesokan ikan dari Sibolga, Sumatera Utara, di Pasar Ikan Pariaman menurutnya sudah berlangsung sejak lama di Pariaman. Ikan didatangkan dengan peti (viber/pes) dalam keadaan beku yang sudah berhari-hari dalam perjalanan.

Terpisah, Yeni (34), ibu rumah tangga asal Pariaman Tengah, mengaku lebih suka dengan ikan tangkapan nelayan lokal dibanding ikan pasokan luar daerah. Dia bahkan dapat mengenali ciri ikan tangkapan nelayan lokal dan ikan yang didatangkan dari luar daerah.

"Cirinya gampang saja, kalau ikan kita (tangkapan lokal) matanya jernih, insang merah menyala dan terlihat berkilau. Sedangkan ikan usang atau ikan yang didatangkan, mata ikan biasanya sudah kabur cenderung kekuning-kuningan, insangnya juga sudah berwarna merah pudar," ungkapnya.

Jika menemukan ikan yang matanya sudah merah dan isang sudah berwarna merah muda atau sudah mulai memutih, kata Yeni, sebaiknya ikan tersebut jangan dibeli.

"Itu ikan sudah lama dan rasanya sangat tidak enak, bahkan bisa menimbulkan alergi saat dimakan," pungkasnya.

Di lain pihak, Kepala Dinas Koperindag Kota Pariaman Gusniyetti Zaunit, menyatakan pihaknya selalu mengawasi standar kelayakan konsumsi ikan asal Sibolga. Menurutnya dari hasil rutin pemeriksaan bersama Balai POM Padang terhadap ikan asal Sibolga, dinyatakan aman konsumsi.

"Hasil pemeriksaan negatif zat berbahaya. Ikan tersebut aman dikonsumsi," kata dia.

OLP