sang bidadari bengek


"Dari mana?" tanya senyumnya.
"Dari Indonesia," jawabku singkat.
"Oh …" 

Dirapikannya lagi bantal yang sudah ditutupi disposable sheet dan ramah dia menyuruhku merebahkan badan di atas tempat tidur. Pantatku kutaruh duluan di empuknya kasur, kuangkat kedua tungkaiku, dan lurus aku memandangi langit-langit yang putih.
"Indonesia panas, ya?"
"Ya, panas bagi orang Jepang. Tapi, bagi kami yang lahir dan dibesarkan di ranah tersebut tidak memiliki perasaan yang begitu."
"Oh …"

Sang bidadari yang berpakaian putih tersebut menarik selimut putih menutupi hampir seluruh tubuhku. Hanya kepala dan tangan kanan dengan lengan baju yang tersingsing tinggi rebah di permukaan selimut. Sebelum melakukan gawenya, dia membacakan tulisan yang tertera dalam file-ku bagai seorang kyai atau pendeta menasbihkan pernyataan untuk penganut baru yang akan menjadi seorang murtad bagi mantan agamanya.

"Nomor urutnya 138?"
"Ya."
"Namanya Edizal?"

"Ya."
"Tanggal lahirnya 22 Desember 19..?"
"Ya."

Sang bidadari yang berpakaian putih tersebut menaruh file-ku dan kembali menghadiahiku senyuman manisnya karena prosedur ritual baku sudah terlaksana dengan lancar. Boleh jadi ini merupakan tata cara bertele-tele yang berlebihan bagi sistem pelayanan rumah sakit di Indonesia. Tapi, manakala tanggung jawab kedokteran yang tegas terletak telak pada tiap bahu pekerja rumah sakit, prosedur ritual baku menjadi salah satu kiat untuk melenyapkan malapraktek yang menyalahi undang-undang atau kode etik kedokteran yang mudah bermuara di pengadilan. 

Pun, namaku yang tertera pada infus yang sudah digantung lurus itu jelas menunjukkan bahwa infus tersebut diperuntukkan bagiku dan bukannya bagi "Ishibashi", "Susumu", atau orang yang lain.
"Pernah ke Indonesia?"
"Belum."
"Silakan jalan-jalan ke sana."
"Ya, mau."

Disuruhnya aku mengepalkan tangan dengan ampu jari di dalamnya dan dikebatkanya slang karet khusus di bagian atas sikuku yang menyebabkan aliran darah mampat dan pipa darah yang menyusuri lenganku agak menggelembung jadinya. Beberapa oles alkohol terasa mendingini jangat di bagian atas siku-siku yang menandakan dalam hitungan detik jarum infus yang tipis itu akan menghunjam ke dalam pipa darahku. 

Cairan putih yang mulai menetes dari plastik infus tersebut mengabarkan akan obat yang mulai berlarian dalam batang tubuh dan dia membuka pembalut lengan serta menyuruhku melepaskan kepalan tangan.
"Terasa mual?"
"Tidak".

Sang bidadari yang berpakaian putih tersebut kembali menyigi infus dan memperbaiki posisi lenganku yang rebah dengan lembut putih jemarinya. Manis amat sipit matanya bersama kelentikan bulu mata yang menawan. Kalau saja mau menyingkapkan penutup hidung dan mulut itu, niscaya akan bisa aku beroleh rahmat menikmati keindahan ciptaan Dewi Amaterasu Omikami ini. Boleh jadi ini hanya naluri alami saja dari seorang pejantan, tapi adakah perasaaan begini merupakan pengkhianatan terhadap biniku? 

Andai saja mau bidadari ini menyingkapkan maskernya, tentulah akan bisa dievaluasi kecantikannya dan disandingkan dengan biniku. Mungkin bidadari ini kalah cantik. Tapi, agaknya biniku tidak ada apa-apanya ketimbang Vicky yang secantik Cleopatra. Bagaimanapun juga Vicky yang orang Amerika itu terlalu cantik buat Habe yang bertampang kapalan.
"Kalau perlu apa-apa, silakan tekan bel ini, ya?"
"Ya. Terima kasih."

Bidadari itu menggeser tabir yang menutupi keseluruhan ruang tempat aku menjadi pesakitan dan berlalu meninggalkan kesenyapan yang mendinding kehampaan. Kupandangi infus yang tetes-menetes perlahan bagai sisa air hujan yang menitik dari pinggiran atap. 

Maunya tetesan tersebut mengalir cepat saja bagai air Bumi yang psssst dari barangku di toilet.
Ah, terkenang aku akan waktu terkapar di RS Hasan Sadikin, Bandung, sehabis operasi hidung yang tidak beruntung. Beda dengan suasana jiwa yang tidak mudah boyak saat ini, masa itu aku senewen memelototi infus yang lamban amat mengalirnya. Dan, tiba-tiba hanya dalam bilangan detik, infus tersebut mencurah dua kali lipat daripada yang seharusnya. 

Apa pasal? Kebetulan kakak laki-lakiku yang datang membezuk yang bersimpati akan keluhanku sigap ambil inisiatif sendiri dan memutar pengatur aliran infus tersebut. Tubuhku merespon bergetar, tapi tidak membuatku modar.

 Bidadari RS Hasan Sadikin yang datang meronda kaget setengah mati menengok infus yang sudah kosong melompong karena parohan kedua aliran infus itu baru saja mulai. Sementara itu, sang pelaku utama kejahatan tersebut sudah lama hengkang berlalu meninggalkanku yang terus membisu.
Alat pengatur aliran tidak terpasang pada infusku kali ini. Seandainya kakak laki-lakiku berada di ruang ini, boleh jadi kecewa berat dia lantaran tidak bisa melakukan gawenya mempercepat aliran infus tersebut.

catatan edizal the indonesian freedom writers