PARIAMAN - Lapangan Tenis Karan Aur menjadi panggung yang mempertemukan olahraga, persahabatan dan pariwisata. Di sana, Wali Kota Pariaman Yota Balad tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi ikut turun ke lapangan dan keluar sebagai juara Turnamen Tenis Internasional BAVETI Piala Wali Kota Pariaman 2026.
Yota Balad bersama Sulistio Wibowo meraih juara pertama kategori Kelompok Umur 100 Tahun dalam turnamen yang berlangsung 4-6 September 2026 tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Pariaman Afrizal Azhar yang juga turun bertanding bersama Sulistio Wibowo berhasil menjadi juara pertama kategori Kelompok Umur 110 Tahun.
Turnamen ditutup Wakil Wali Kota Pariaman Mulyadi di Lapangan Tenis Karan Aur, Minggu malam (6/9).
Mulyadi menyampaikan selamat kepada seluruh pemenang, termasuk Yota Balad dan Afrizal Azhar yang ikut merasakan langsung atmosfer kompetisi bersama para atlet veteran dari berbagai daerah dan negara.
“Selamat kepada para pemenang. Bagi yang kalah jangan berkecil hati, tahun depan bisa kembali hadir di sini untuk meraih kemenangan,” kata Mulyadi.
Namun bagi Pemerintah Kota Pariaman, kemenangan di papan skor bukan satu-satunya hasil yang penting.
Kehadiran ratusan atlet veteran dari berbagai daerah dan mancanegara dinilai ikut menghidupkan aktivitas olahraga sekaligus memperkuat posisi Pariaman sebagai tujuan sport tourism.
“Kami melihat lapangan ini semakin cantik dan cerah dengan kehadiran bapak-bapak semua,” ujar Mulyadi.
Ia mengatakan kehadiran para atlet veteran tersebut memberi warna tersendiri bagi Lapangan Tenis Karan Aur, baik ketika sebuah turnamen berlangsung maupun di luar agenda pertandingan.
“Jadi, ada ataupun tidak ada event di sini, kehadiran bapak-bapak semua selalu kami nantikan,” katanya, yang disambut tepuk tangan peserta.
Turnamen BAVETI Piala Wali Kota Pariaman 2026 memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi cara lain untuk memperkenalkan sebuah kota.
Para peserta datang bukan hanya membawa raket dan pengalaman bertanding, tetapi juga membawa jaringan pertemanan, keluarga dan komunitas olahraga yang tersebar di berbagai daerah.
Peserta berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Aceh, Sumatera Utara, Jambi hingga Sumatera Selatan. Peserta dari luar negeri juga ambil bagian, di antaranya Prof. Zul dan Pudin dari Kelantan, Malaysia.
Bagi Pariaman, pola seperti ini penting. Atlet datang untuk bertanding, tetapi kota memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan ruang publik, suasana kota dan daya tarik wisatanya.
Hasil pertandingan mencatat Randy Purnomo/Noor Iman sebagai juara kategori Kelompok Umur 32 Bebas. Posisi kedua ditempati Guna/Franky, sedangkan juara ketiga Halim/Arif dan Hayatullah/Julio.
Pada kategori Kelompok Umur 100 Tahun, Yota Balad/Sulistio Wibowo menjadi juara pertama, disusul Afrizal Azhar/Noor Iman sebagai juara kedua. Posisi ketiga ditempati Marvianus/Prima Surya, Edi Gunawan/Farid, Ronaldi/Atma Jaya, Kusnadi/Priyanto, Budi/Emilmon dan Heribon/Tobi.
Kategori Kelompok Umur 110 Tahun dimenangi Afrizal Azhar/Sulistio Wibowo. Juara kedua Ucok Junaidi/Suhardi Amis, sementara posisi ketiga ditempati Bahtiar/Bahrizal, Anas Akbar/Farid, Budi/Zulifwadi, Ramal Pane/Joni, Prof. Ganefri/Marvianus dan Sahrul/Sujarwanto.
Untuk Kelompok Umur 120 Tahun, Annas Akbar/Tryanto keluar sebagai juara pertama, Sahrul/Sujarwanto juara kedua, sedangkan posisi ketiga ditempati Prof. Zul/Zaepudin, Bahtiar/Bermansyah, Dodi/Amirsah, Prof. Anes/Agus Salim, Nafril Faufik/Hidayat dan Prof. Ganefri/Prima Surya.
Bagi Yota Balad, keberhasilan meraih gelar di tengah turnamen yang membawa nama Kota Pariaman itu menjadi cerita tersendiri. Ia berada di dua posisi sekaligus: kepala daerah yang menyambut para tamu dan atlet, sekaligus pemain yang ikut mengejar kemenangan di lapangan.
Dan justru di situlah olahraga menjadi lebih dari sekadar pertandingan.
Ketika seorang wali kota ikut memegang raket, bertanding bersama atlet veteran, sementara ratusan pemain dari berbagai daerah datang ke kotanya, batas antara pemerintah, olahraga dan promosi pariwisata menjadi semakin tipis.
Karan Aur malam itu tidak hanya mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia juga menunjukkan bagaimana sebuah lapangan olahraga dapat menjadi pintu masuk bagi sebuah kota untuk dikenal lebih jauh. (*)