Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ratusan Anak Ikuti Lomba Hafiz Pariaman, Yota Balad: Dari Hafalan ke Amalan, Menyemai Generasi Qurani Pariaman

25 September 2026 | 25.9.26 WIB Last Updated 2026-09-25T03:23:53Z


PARIAMAN - Sebanyak 400 peserta mengikuti Lomba Hafiz MDTA dan Hafiz Cilik se-Kota Pariaman 2026 yang digelar Pemerintah Kota Pariaman di GOR Rajo Bujang, Jumat (25/9/2026), dalam upaya memperluas pembinaan generasi penghafal Al-Qur'an sekaligus menghubungkan kemampuan menghafal dengan pembentukan karakter.

Lomba yang berlangsung 25-27 September itu menjadi bagian dari Program Pariaman RISALAH yang masuk dalam program unggulan Wali Kota Pariaman Yota Balad dan Wakil Wali Kota Mulyadi. Program tersebut membawa agenda Beriman, Saleh dan Berakhlak, Satu Keluarga Satu Hafiz, Kembali ke Surau dan Pesantren ASN.
Lomba tahun ini mencakup enam cabang yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Kota Pariaman. Hadiah utama yang disiapkan panitia berupa enam unit sepeda dan hadiah lainnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Pariaman menetapkan kategori Hafiz Cilik untuk anak berusia maksimal delapan tahun serta kategori Hafiz antar-MDTA untuk hafalan 1 juz tilawah dan 1 juz non-tilawah. Babak penyisihan berlangsung pada 25-26 September di GOR Rajo Bujang, sedangkan final dan penutupan dijadwalkan pada 27 September.

Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan ukuran keberhasilan pembinaan hafiz tidak berhenti pada kemampuan anak mengingat ayat-ayat Al-Qur'an atau meraih juara dalam perlombaan.

Menurut dia, hafalan harus terlihat dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam hubungan anak dengan guru, orang tua dan masyarakat.

"Ketika hafalan itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di situlah kita melihat hasilnya. Menjadi generasi Qurani bukan hanya untuk mencari juara," kata Yota.

Ia mengatakan pendidikan yang tinggi perlu berjalan bersama pembentukan akhlak. Menurutnya, masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu membawa nilai agama dalam kehidupan sosial.

"Anak-anak boleh memiliki pendidikan tinggi, tetapi kalau tidak diiringi akhlak mulia, tentu ada yang kurang. Karena itu hafalan Al-Qur'an harus menjadi pedoman dalam bersikap," ujarnya.

Yota mencontohkan penerapan nilai tersebut dalam hubungan seorang anak dengan guru. Hafalan, kata dia, semestinya membentuk sikap hormat, cara berbicara, tanggung jawab dan kemampuan meninggalkan kesan baik di tengah masyarakat.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan orang dewasa, termasuk aparatur pemerintah. Nilai agama, menurut Yota, harus tercermin dalam menjalankan tugas dengan ikhlas, bersyukur dan mengamalkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Arah itu sejalan dengan program Pariaman RISALAH yang menjadi bagian dari visi pembangunan Yota Balad-Mulyadi. Dalam dokumen RPJMD Kota Pariaman 2025-2029, program "Satu Keluarga Satu Hafiz Al-Qur'an" dirancang untuk mendorong keterlibatan keluarga dalam pembelajaran dan penghafalan Al-Qur'an serta membangun lingkungan keluarga yang mendukung nilai-nilai agama.

Program Satu Rumah Satu Hafiz sebelumnya juga telah diluncurkan Yota Balad bersama Mulyadi pada Juni 2025. Pemerintah kota saat itu menegaskan bahwa targetnya bukan hanya mencetak anak yang hafal Al-Qur'an, tetapi menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup dan fondasi akhlak dalam keluarga.

Yota mengatakan pelaksanaan lomba juga harus menghasilkan data yang lebih jelas mengenai perkembangan hafiz di Kota Pariaman. Pemerintah daerah, kata dia, perlu mengetahui berapa jumlah penghafal Al-Qur'an yang telah terbentuk, bagaimana persebarannya dan bagaimana perkembangan hafalan mereka dari waktu ke waktu.

"Harus ada data dan evaluasi. Sudah berapa hafiz yang ada di Kota Pariaman, bagaimana perkembangannya, dan bagaimana kita memastikan program Satu Rumah Satu Hafiz berjalan," katanya.

Menurut Yota, data tersebut penting agar program pembinaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau perlombaan tahunan. Pemerintah dapat menggunakan data tersebut untuk melihat kebutuhan pembinaan, menentukan bentuk dukungan dan mengukur perkembangan program.

Wakil Wali Kota Pariaman Mulyadi mengatakan pembinaan generasi muda berbasis nilai Islam merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang dirancang pemerintah daerah secara berkelanjutan.

Ia mengatakan pembangunan tersebut tidak hanya dilakukan melalui satu kegiatan, tetapi melalui rangkaian program, mulai dari MTQ tingkat kecamatan hingga lomba hafiz dan berbagai kegiatan pembinaan keagamaan lainnya.

"Lomba hafiz ini merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang islami. Kita ingin pembinaan dilakukan secara berkelanjutan sehingga anak-anak tidak hanya memiliki kemampuan menghafal, tetapi tumbuh menjadi generasi yang berakhlak, cerdas dan memiliki karakter," kata Mulyadi.

Dalam persiapan lomba, Mulyadi sebelumnya meminta panitia memperluas sosialisasi hingga desa dan kelurahan agar potensi hafiz di seluruh Kota Pariaman dapat terjaring. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru mengaji dan orang tua dalam pendidikan anak.

Mulyadi mengatakan pembangunan sumber daya manusia juga tidak berhenti pada sektor keagamaan. Pemerintah kota, menurut dia, perlu menyediakan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang.

Karena itu, program pengembangan generasi muda juga didukung pembangunan infrastruktur publik, ruang terbuka dan ruang kreativitas. Pemerintah kota mendorong kegiatan olahraga dan kreativitas anak muda, termasuk sepatu roda, tenis, bulu tangkis serta cabang olahraga lainnya.
Arah tersebut juga tercantum dalam RPJMD Kota Pariaman 2025-2029 melalui program Pariaman Perkasa sebagai pusat kreativitas pemuda serta program olahraga wisata dan percepatan pembangunan Gelanggang Olahraga Kota Pariaman.

Dengan demikian, lomba hafiz ditempatkan sebagai salah satu bagian dari agenda pembangunan manusia yang lebih luas. Bagi pemerintah kota, kemampuan menghafal Al-Qur'an menjadi fondasi yang perlu diterjemahkan ke dalam perilaku, sementara pendidikan, olahraga, kreativitas dan ruang publik menjadi bagian lain dari pembentukan generasi muda.

Tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan tersebut menghasilkan pembinaan yang terukur. Data jumlah hafiz, keberlanjutan hafalan, keterlibatan keluarga serta perkembangan akhlak dan pendidikan anak menjadi indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana agenda Satu Keluarga Satu Hafiz berkembang di Kota Pariaman.

Dengan 400 peserta yang hadir dalam lomba tahun ini, pemerintah kota Pariaman memiliki basis awal yang cukup besar untuk memperluas pemetaan sekaligus pembinaan penghafal Al-Qur'an di seluruh wilayahnya. (OLP)
×
Berita Terbaru Update