PARIAMAN - Wali Kota Pariaman Yota Balad mencanangkan Kampung Sanitasi, Program BILINK (Bina Lingkungan) Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) serta Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, Jumat (28/8/2026).
Pencanangan ditandai dengan pemukulan gendang tambua secara bersama. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sanitasi, kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat, sekaligus mendukung upaya penurunan masalah kesehatan seperti stunting.
Kegiatan dihadiri Ketua DPRD Kota Pariaman Muhajir Muslim, Asisten I Setdako Pariaman Elfis Candra, Ketua TP PKK Kota Pariaman Yosneli Balad, Plt Kepala Dinas Kesehatan Rudy Repenaldi Rilis, Kepala Dinas Kominfo Yalviendri, Kepala Dinas Perkim dan LH M. Arif Gunawan, Ketua HAKLI Kota Pariaman Syaiful Indra, jajaran puskesmas, organisasi profesi kesehatan, pemerintah Kecamatan Pariaman Timur, Pemerintah Desa Koto Marapak, mahasiswa Poltekkes Padang serta masyarakat.
Yota mengatakan pembangunan kesehatan masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk organisasi profesi dan masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi atas terlaksananya kegiatan ini. Membangun kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, dibutuhkan kerja sama dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” kata Yota.
Menurut Yota, kegiatan tersebut memperlihatkan kolaborasi antara Dinas Kesehatan, HAKLI, Pemerintah Desa Koto Marapak, puskesmas, mahasiswa Poltekkes Padang, organisasi profesi, tokoh masyarakat dan DPRD.
Ia mengaitkan program sanitasi dengan program unggulan Balad-Mulyadi, Pariaman Risalah, yang antara lain menekankan pembangunan masyarakat yang beriman, saleh dan berakhlak.
“Berakhlak bukan hanya bagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia. Berakhlak juga berarti bagaimana kita memperlakukan lingkungan,” ujarnya.
Yota mengatakan perilaku membuang sampah sembarangan, mencemari air, membiarkan lingkungan kotor serta mengabaikan kebersihan rumah dan tempat ibadah menunjukkan masih adanya tanggung jawab lingkungan yang belum dijalankan.
Ia juga menyoroti perkembangan angka stunting di Kota Pariaman. Berdasarkan data yang disampaikan Yota, prevalensi stunting turun dari 20,3 persen pada 2021 menjadi 18,4 persen pada 2022, kemudian 17,7 persen pada 2023 dan 15,7 persen pada 2024.
Angka 15,7 persen pada 2024, kata Yota, berada di bawah rata-rata Sumatera Barat sebesar 24,2 persen dan menjadi capaian terendah di provinsi tersebut.
Yota menilai penurunan itu menunjukkan efektivitas intervensi lintas sektor melalui program gizi spesifik dan sensitif, dukungan berbagai sektor serta partisipasi masyarakat.
“Kita bersama-sama mewujudkan lingkungan sehat, masyarakat sehat, generasi Pariaman hebat, Pariaman semakin maju. Kita sehatkan lingkungan, lingkungan sehatkan kita,” katanya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudy Repenaldi Rilis mengatakan kondisi lingkungan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Menurut Rudy, penyediaan air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, kebersihan rumah dan lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan.
“Kita tidak hanya ingin masyarakat mengetahui apa itu lingkungan sehat, tetapi mampu menerapkan dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ketua HAKLI Kota Pariaman Syaiful Indra mengatakan kegiatan tersebut mengusung slogan “AYOK GAS” atau Ayo Kampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dengan tema “Putus Rantai Stunting dengan Sanitasi”.
HAKLI menghadirkan Ketua HAKLI Provinsi Sumatera Barat Miladil Fitra dan Direktur Bank Sampah Ampang Saiyo Mandiri Kota Padang Nora Fitriawati sebagai narasumber.
Syaiful mengatakan pencanangan Kampung Sanitasi, Program BILINK HAKLI dan Kampanye GERMAS merupakan bagian dari pembinaan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan fokus pada penerapan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Program tersebut akan difokuskan di Desa Koto Marapak dan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas lingkungan serta kesehatan masyarakat di Kota Pariaman. (*)