Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika nama Anas Malik terkenal di Mekkah dan kisah si Ibu yang tak punya sapu lidi

8 Januari 2024 | 8.1.24 WIB Last Updated 2024-01-08T06:10:29Z

Mantan Kepala Depag Padangpariaman, H Bukhari, SE


Pariaman - Mantan Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Padangariaman, H Bukhari, SE (70), mengenang masa kabupaten Padangpariaman di bawah kepemimpinan mendiang Bupati Kolonel Purn Anas Malik (1980-1990). Kala itu wilayah Padangpariaman meliputi Kota Pariaman dan Kabupaten Kepulauan Mentawai.


Menurut tokoh masyarakat Pariaman ini, di zaman pemerintahan Anas Malik hubungan atarinstansi sangat harmonis. Pegawai-pegawainya saling mengenal satu sama lain dan kompak. Tidak seperti saat ini.


Bahkan Bukhari sendiri pernah merasakan betapa meriahnya HUT RI tahun 1983 di zaman Anas Malik di mana ia sebagai pegawai muda Depag ikut serta dalam lomba mengetik 17 Agustusan. Kala itu seluruh instansi dan Muspida mengirim perwakilannya yang jago mengetik menggunakan mesin ketik. Pesertanya dari Pemda, Bank, Pos, Kejari, Polres, Kehakiman, Depag dan instansi vertikal lainnya.


"Saya berhasil meraih juara satu dan dapat hadiah dari Pak Anas Malik. Betapa bangganya saya waktu itu sebagai pegawai Depag karena beliau juga memuji saya di depan Kakandepag," ungkap Bukhari di Pariaman, Senin (8/1).


Anas Malik bersama cucu tertuanya masa kecil, H Teuku Muhammad Gadaffi 


Lomba mengetik yang diadakan Pemda Padangpariaman itu, sambung Bukhari, berlangsung dengan fair. Seluruh peserta diberi format ketikan sama, tapi disuruh mengetik sesuai format kantor masing-masing.


Selain itu, sambung Bukhari, setiap Senin selalu diadakan upacara bendera pagi yang diikuti seluruh instansi. Saking disiplinnya Anas Malik, Bukhari mengaku selalu melihat Anas Malik terlebih dahulu se sampainya di halaman kantor bupati. Anas Malik yang dikenal disiplin, tidak pernah telat hadir meski ia pemilik jabatan tertinggi di Padangpariaman.


Begitu juga setiap hari Sabtu. Anas Malik selalu tiba lebih dulu dan ikut senam pagi bersama dengan pegawai Pemda beserta pegawai Muspida.


"Saya belajar disiplin dari beliau. Disiplin Anas Malik saya terapkan hingga ke anak-anak saya," kenang Bukhari.


H Teuku Muhammad Gadaffi merupakan caleg DPR RI dapil Sumbar 2 nomor urut 3 Partai Demokrat.



Yang tidak pernah dilupakan Bukhari sampai saat ini adalah ketika ia terpilih sebagai peserta ABRI Masuk Desa (AMD) Manunggal Bakti membangun jalan di Kanagarian Sunur. Kala itu pejabat kementerian dari Pusat ikut meresmikan pembukaannya, di antaranya Sudarmono dan Harmoko.


"Saya masih ingat Anas Malik panggil Abang atau Adek kepada pejabat yang datang itu. Mereka terlihat sangat akrab. Baru kali itu saya sangat bangga sekali memiliki seorang pemimpin," imbuhnya.


Sebagai pegawai Depag, Bukhari kala itu ikut mengawasi proses mambantai daging satu hari jelang lebaran. Jika sebelum Anas Malik menjabat bupati para penjual daging santai merokok dan minum bir di pasar (puasa terakhir), di zaman Anas Malik tidak ada yang berani. Semua takut dan segan sama Anas Malik. 


"Semuanya kena mental. Siapa yang berani tidak puasa, makan minum depan umum zaman Anas Malik, bisa kena tempeleng. Semua pada takut," kata Bukhari sambil tertawa.


Sedangkan hal tentang Anas Malik yang membuat Bukhari tidak habis pikir adalah popularitasnya yang mendunia.


"Anas Malik tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi sampai ke Mekkah" ungkap Bukhari.


Menurut Bukhari, seluruh pegawai Depag Padangpariaman sampai geleng-geleng kepala bagaimana ceritanya sampai petugas Maktab yang asli orang Arab di Mekkah mengenal sosok Anas Malik.


Jamaah haji asal Padangpariaman era 1980-an, imbuh Bukhari, pasti akan bercerita sama. Dia tidak mengarang-ngarang cerita.


"Ketika jemaah haji Padangpariaman ditanya petugas Maktab berasal dari mana dan dijawab dari Padangpariaman, petugas Maktab langsung menjawab, 'Oh, Bupatinya Anas Malik'. Ini sangat luar biasa dan betapa bangganya jemaah haji kita di Mekkah kala itu," jelas Bukhari.


Sedangkan perihal kebersihan, sambung Bukhari, Anas Malik tidak bertoleransi. Suatu ketika, kenang Bukhari, Anas Malik melewati satu rumah. Halamannya kotor belum disapu. Singkat cerita Anas Malik memanggil orang rumah, dan keluar seorang ibu paruh baya.


Ketika ditanya Anas Malik kenapa halaman rumah masih kotor dan belum disapu, si ibu tadi menjawab tidak punya sapu lidi. Ia tidak punya uang untuk membeli sapu.


"Seketika Anas Malik memberikan uang untuk membeli sapu dan uang beras. Selepas hari itu, rumah tadi yang paling bersih dari rumah-rumah tetangganya. Begitu cara Anas Malik," ucap Bukhari.


Di zaman Anas Malik, pungkas Bukhari, kabupaten Padangariaman juga memecahkan rekor dunia karena memiliki rumah berpagar terpanjang di dunia. Mulai dari batas Agam sampai batas Tanah Datar, semua rumah warga memiliki pagar.


"Rata-rata semua rumah berpagar bambu yang dicat merah putih," tandasnya. (OLP)

×
Berita Terbaru Update