Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anas Malik, pedati, kusir bendi dan anak "cabut" sekolahan

9 Januari 2024 | 9.1.24 WIB Last Updated 2024-01-09T14:19:51Z

H. Kolonel Purn Anas Malik bersama cucu tertua H Teuku Muhammad Gadaffi, SH (kini 52 tahun) foto dokumentasi keluarga.


Pariaman - Mantan anggota DPRD Kabupaten Padangpariaman tiga periode, H. Bagindo Jamohor, S.iP, M.iP, banyak belajar dan menjadikan mendiang Bupati Padangpariaman (1980-1990) Kolonel (Purn) Anas Malik sebagai contoh teladan seorang pemimpin yang komplit. 


Anas Malik memimpin Padangpariaman yang saat itu wilayahnya meliputi kota Pariaman dan kabupaten Kepulauan Mentawai.


"Dengan APBD sangat kecil, Anas Malik mampu merubah Padangpariaman. Baik dari segi pembangunan maupun pemberdayaan masyarakat. Hal yang dinilai sangat mustahil dilakukan saat itu," ungkap kandidat doktor sekaligus dosen ilmu politik ini di Pariaman, Selasa (9/1).


H. Teuku Muhammad Gadaffi, SH bersama nenek buyut Hj Aswar Malik (ibunda Anas Malik) foto dokumentasi keluarga.


Langkah yang dilakukan Anas Malik menurut Jamohor, sangat sederhana, namun konsisten dan dijalankan dengan penuh integritas. Yakni program K-3 (Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan) dan ABRI Masuk Desa.


H. Kolonel Purn Anas Malik bersama tokoh masyarakat Pariaman. (Foto: Elvis Betrizon/OLP)


Anas Malik juga bahkan sukses menyatukan seluruh elemen masyarakat Pariaman. Baik yang di ranah maupun di perantauan. 


Foto keluarga (kiri ke kanan) Anas Malik, Cindy (cucu) Teuku Muhammad Gadaffi (cucu) Shanty (anak bungsu Anas Malik) dan Ira Zalena Malik, putri tertua Anas Malik (ibu Gadaffi)


"Sehingga lahirlah PKDP yang sangat kompak. Mereka dengan senang hati badoncek (iuran) untuk ikut membangun Padangpariaman," sambung Jamohor.


H. Kolonel Purn Anas Malik saat menjabat Dandim Bekasi (dokumen keluarga)


Di zaman Anas Malik, sambung pria 61 tahun itu, kontraktor dan pengusaha lokal juga berkembang. Proyek yang bersumber dari APBD itu dilelang secara fair. Tidak ada istilah uang setoran untuk bupati. Asal pekerjaannya bagus, kontraktor lokal pasti dapat kerjaan.


"Tidak ada istilah komisi 10 persen untuk bupati. Kejujuran dan integritas seorang Anas Malik perlu dicontoh dan diteladani," kata wakil ketua KADIN Sumbar ini.



Di zaman Anas Malik, terang Jamohor, ruangan kerjanya terbuka dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB khusus untuk menerima masyarakat. Selama tiga jam itu tidak ada seorangpun pegawai dan pejabat yang berani menghalangi masyarakat yang ingin bertemu dengan pemimpinnya tersebut. Kemudian dari jam 11.00 hingga 12.30 WIB seluruh pekerjaan administrasi di meja kerjanya, ia tuntaskan.


"Selepas itu ia ke lapangan hingga seharian. Malamnya ia kembali menerima masyarakat di pendopo, subuhnya salat ke masjid dan musala lalu ke rumah-rumah warga mengecek kebersihannya menggunakan sepeda. Jika ada halaman rumah yang belum disapu pasti kena tegur," sebutnya.


Pensiunan guru SMP Negeri 1 Pariaman, Samsuardi (60) masih mengingat penegakan disiplin di awal zaman Anas Malik. Kala itu ia masih sekolah di SMA Negeri 1 Pariaman. Sepulang sekolah, ia bersama temannya nongkrong di warung hendak main domino. Seketika, orang kedai bersorak, bupati lewat. Sontak saja ia bersama temannya kabur dan sembunyi di rumpun pohon Rumbia.


"Sejak saat itu saya tidak pernah lagi nongkrong di kedai. Sepulang sekolah langsung ke rumah. besoknya orang kedai bilang ia sempat ditegur Anas Malik agar tidak main domino di kedai kecuali malam hari," kenang Samsuardi.


Hal berbeda disampaikan warga Pariaman Timur, Murni (56) mewakili ayahnya (lagi sakit) yang di zaman Anas Malik bekerja sebagai sais pedati.


Menurut penuturan ayahnya kepada Murni, ayahnya pernah membeli tempurung dari Sungai Limau hendak dijual ke rumah makan yang ada di Pasar Pariaman pada tahun 1981, menggunakan pedati. 


Sesampai di Desa Nareh, pedatinya dicegat Bupati Anas Malik. Saat itu menurut Murni, ayahnya sangat ketakutan karena nama Anas Malik baru bergema sebagai bupati yang pemarah dan main tempeleng.


"Bupati tanya ke ayah mau dibawa kemana tempurung-tempurung ini dibawa, dengan ramah. Lalu ayah saya jawab mau dijual ke Pariaman," ujar Murni.


Selanjutnya, sambung Murni, Anas Malik betanya mau dijual berapa tempurungnya. Ayahnya Murni menjawab Rp 16 ribu, karena modal pembeliannya di Sungai Limau Rp 10 ribu.


Sontak saja, sambung Murni, Anas Malik keluarkan uang Rp 20 ribu dan menyuruh ayahnya antarkan tempurung itu ke Pendopo Bupati di Karanaur. Uang segitu nilainya sangat besar kala itu. Harga emas seberat 2,5 gram hanya Rp 16 ribu.


"Lalu Anas Malik berpesan ke bapak agar roda pedatinya dilapisi karet ban bekas agar tidak merusak jalan aspal. Saya ingat betul sepulang dari pendopo mengantar tempurung, ayah semalaman melapisi ban pedati (dulunya tanpa pelapis karet) dengan ban bekas. Besoknya roda pedati ayah sudah berlapis ban karet," ungkapnya.


Singkat cerita, ayah Murni sempat bertemu istri Anas Malik, mendiang Juwita di pendopo. Juwita sempat meberikannya minum air teh manis sebelum ia bongkar isi pedati di halaman belakang pendopo bupati.


"Sejak saat itu ayah saya selalu cerita, ke anak, ke cucu, pokoknya ke semua orang. Setiap ingat Anas Malik beliau pasti cerita, hehe," pungkas Murni.


Hal senada juga disampaikan Man (48) yang ayahnya (almarhum) dulu seorang kusir bendi. Menurut cerita ayahnya ke dia, suatu ketika ayahnya pernah diberi uang oleh Anas Malik buat beli keranjang penampung kotoran kuda.


"Zaman itu kan masih banyak bendi yang belum punya penampung kotoran. Semuanya ditertibkan Anas Malik, tapi dengan cara-cara yang humanis," ungkapnya.


Menurut PNS di Pemkab Padangpariaman ini, zaman itu banyak juga kusir pedati yang bandel dan suka melawan. Tapi di hadapan Anas Malik semuanya patuh. Anas Malik dengan ketegasannya mampu memberikan pemahaman kepada para kusir bendi.


"Kata ayah saya Anas Malik mengajak pada kebersihan. Ia terangkan mudarat dan manfaatnya sehingga kusir bendi mengerti dan paham. Sejak itu tidak ada lagi bendi yang tidak memiliki keranjang penampung kotoran sehingga tidak ada lagi kotoran kuda berserakan di jalan," pungkasnya.


Kisah Anas Malik semasa memimpin kabupaten Padangpariaman memang tidak ada habisnya. Setiap masyarakat punya kisah tersendiri dengan pria kelahiran 1929 dan wafat pada 1994 itu.


Hingga kini nama Anas Malik terus dikenang. Bahkan ketika cucunya, Teuku Muhammad Gadaffi mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI dapil Sumbar 2 nomor urut 3 Partai Demokrat, masyarakat Padangpariaman sangat antusias.


"Ketika saya melihat baliho Gadaffi bersama Anas Malik, saya mencari tahu dia cucu Anas Malik dari anaknya yang mana," ungkap mantan Walinagari Mangguang (1980-1985) Sudirman Palo.


Sudirman Palo yang merasa penasaran pada sosok Gadaffi ini berharap Gadaffi melanjutkan cita-cita Anas Malik membangun Pariaman yang dicita-citakan oleh Anas Malik.


"Majukan kampung halaman. Anas Malik pemimpin Padangpariaman yang tidak tergantikan. Semoga Gadaffi menjadi pewaris trah Anas Malik yang sesungguhnya," kata pria 77 tahun itu. (OLP)



×
Berita Terbaru Update