Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indra J Piliang: Mengapa Saya Mendukung Jokowi

24 Mei 2014 | 24.5.14 WIB Last Updated 2014-05-24T13:31:30Z



Pada akhirnya, setelah melewati sejumlah pergolakan batin, saya memutuskan untuk mendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019.  Dan dukungan ini dengan konsekuensi yang serius, yakni saya meletakkan jabatan sebagai Ketua Dewan Pelaksana Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Golkar, sekaligus Ketua Departemen Kajian dan Kebijakan DPP Partai Golkar. Posisi yang masih melekat dalam diri saya tinggal Deputi Sekjen DPP MKGR, Wakil Sekjen DPN HKTI yang dipimpin oleh Pak Prabowo Subianto dan anggota Partai Golkar sejak tahun 2008. 

Saya mengembalikan mandat yang diberikan Ketua Umum DPP Partai Golkar dan sekaligus guru politik saya, Ir Aburizal Bakrie. Tentu dengan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, setulus-tulusnya, disertai permintaan maaf kalau ada yang memandangnya sebagai persoalan personal.

Keputusan ini saya ambil setelah bersama sejumlah inisiator FPGmI menemui Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie pada hari Kamis, 22 Mei 2014, dalam pembicaraan hampir dua jam. Inti dari pertemuan itu adalah pemahaman saya atas alasan-alasan yang disampaikan Ketum Aburizal Bakrie. Sungguh suatu sikap yang jarang saya lihat dan temukan, berupa pengorbanan besar yang dilakukan Ketum ARB untuk kebaikan dan kebesaran bangsa dan negara Indonesia di masa depan. Saya menyimak dengan takjub semua informasi detil, teknis dan kadang off the record yang beliau sampaikan. 

Saya ingin belajar memiliki sikap kebesaran hati seperti yang disampaikan oleh Ketum ARB. Hanya saja, pilihannya memang berbeda, walau tujuannya sama. Seperti dua sisi dalam satu mata uang yang sama. Yakni, ingin melihat Indonesia yang lebih baik, bermartabat, melindungi kepentingan masyarakat kecil, berdaulat secara ekonomi, serta mampu berdiri tegak di jajaran negara-negara (besar) lainnya di dunia. Saya belajar memandang segala sesuatu secara positif dan optimis. 

Terus terang, saya memiliki hubungan emosional dengan Ketum Aburizal Bakrie, sejak pertama kali mengenali pada tahun 2003. Bahkan, pada saat pemilu 2014, saya hampir setiap hari berkomunikasi dengan Ketum ARB. Di samping itu, saya terlebih dahulu mengenali Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, ketika pernah menjadi anggota Departemen Seni dan Budaya DPP PAN (1999-2001). Hubungan saya sangat baik, bahkan bisa dikatakan dekat, kecuali dalam lima tahun terakhir. Di luar itu, saya menjadi satu-satunya fungsionaris DPP Partai Golkar yang bergabung dengan DPN HKTI yang dipimpin oleh Pak Prabowo Subianto. Bagi saya, tiga serangkai yang kini bergabung menjadi satu kekuatan besar itu adalah sosok-sosok yang memiliki ketekunan, keuletan, serta pantang menyerah dalam menghadapi persoalan bangsa dan negara. 

Bahkan, jauh sebelum Ir Aburizal Bakrie menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar, saya sudah menebaknya, tepatnya dalam sebuah buku yang ditulis pada tahun 2004. Pada saat yang sama, saya bahkan menyampaikan kepada para jurnalis bahwa Ir Aburizal Bakrie sangat layak menjadi Presiden RI, ketimbang hanya menjadi menteri. Saya masih mengingat semuanya. Walau saya bukan Tim Sukses Ir Aburizal Bakrie pada Munas Partai Golkar tahun 2009, saya ikut mengucapkan selamat, sekaligus juga membuktikan apa yang pernah saya tulis lima tahun sebelumnya. Salah satu cara saya berlaku hormat adalah dengan mengambil jarak, ketika ARB menjadi menteri. Hal yang sama saya lakukan kepada Ir Hatta Rajasa, kecuali ketika beliau membutuhkan sejumlah nama ahli hukum tata negara untuk dimasukkan ke jajaran Sekretariat Negara. Kalau dipanggil, saya datang, tapi tak diundang, saya menjauh.

Tentang Joko Widodo


Saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan Jokowi, jangankan bersalaman. Namun, saya menyatakan dukungan terbuka kepada Jokowi, ketika maju dalam putaran kedua Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sikap yang berseberangan dengan DPP Partai Golkar, kemudian. Soalnya, dukungan saya secara terbuka terlontar sebelum DPP Partai Golkar mengambil keputusan. 


Ketika Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham mengundang saya sebagai bagian dari Tim Pemenangan Fauzi Bowo, saya menolak dengan cara pulang kampung, menanam buah naga.

Walau sering mengkritik Jokowi, saya adalah orang yang terus memperhatikan segala sepak-terjangnya. Seseorang yang mengkritik orang lain, tentulah harus selalu memperhatikan orang yang dikritiknya. Apalagi sebagai warga DKI Jakarta, tentu setiap hari saya bisa menemukan jejak-jejak kebijakannya di bidang pemerintahan. Namun, saya tidak pernah mau menemuinya, walau ada kawan-kawan saya yang mengajak. Bagi saya, “Untuk apa?” Toh saya bisa mengetahui informasinya setiap hari, lewat ulasan pelbagai wartawan di sekelilingnya. 

Terakhir kalinya, saya malah dengan setengah berang, membaca tulisan Jokowi di Harian Kompas dengan judul “Revolusi Mental”. Bagi saya, tulisan itu terlalu sumir. Saya mengulasnya di website ini, dengan menyisipkan sejumlah koreksi, sekaligus juga perspektif. Tulisan itu dibaca oleh lebih dari 8.000 orang. Di balik banyak kritik para pendukung Jokowi ke saya, sungguh saya menikmati bahwa ada “pengaruh” dari pemikiran saya terhadap pemikiran Jokowi yang diakuinya ditulis oleh tim. Ya, pengaruh, yakni memperbaiki apa yang saya anggap sebagai kekeliruan cara berpikir (paradigma).

Apa yang ada di pikiran saya hampir sama dengan memandang tokoh manapun. Saya pernah menyebutnya sebagai kader Beringin yang besar di kandang Banteng. Kebetulan, Jokowi adalah seorang tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi dalam bursa Capres. Sudah setahun Jokowi ada di posisi itu, mengalahkan dua orang Ketua Umum tempat saya menjadi pengurus, yakni Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie. Bagaimana mungkin orang yang menggaruk kepalanya ketika debat Cagub ini begitu tinggi popularitasnya? Bagaimana bisa seseorang yang “hanya” mantan Walikota Solo dan kini menjadi Gubernur DKI Jakarta begitu “sederhana” dan bahkan “berperasaan” ketika ditanya persoalan berat? Ada apa dengan sosok ini? 

Di luar itu, bagaimana bisa Jokowi bisa memberikan hiburan akan sebuah harapan bagi publik Indonesia yang juga rata-rata sederhana dan hidup di bawah garis kemiskinan? Keingintahuan saya yang besar itulah yang kemudian mewajibkan saya untuk terus-menerus mengamatinya, dari soal besar sampai kecil. Di tengah sederet pekerjaan rumah yang masih ia kerjakan, macet yang melanda Jakarta, saya melihat sosok ini bekerja. Saya pergi ke Waduk Pluit yang ia “bebaskan” dari pemukiman warga, tanpa ada kekerasan sedikitpun. Saya sering melewati pasar Blok G Tanah Abang dan jalur jalan yang ia juga bentuk kembali sesuai aslinya. 

Bagi seseorang yang belajar Ilmu Sejarah yang merupakan cabang dari ilmu budaya dan humaniora seperti saya, termasuk magister di bidang ilmu komunikasi, tentulah sosok Jokowi ini menarik. Ia humanis. Ia bukan seseorang yang super, apalagi Superman yang merupakan makhluk luar angkasa yang mampir ke bumi. Ia berkomunikasi seadanya, lain yang ditanya, lain yang dijawab. Ia tak berperilaku seperti kalangan terpelajar yang membungkus diri dengan idiom-idiom ilmiah. Ia mungkin seorang Batman yang bertubuh ceking yang doyan bepergian kemana-mana, membungkus wajah aslinya. Tapi Batman tetaplah seseorang yang kayaraya dalam wujud aslinya sebagai manusia.

Ya, Jokowi adalah wajah manusia Indonesia kebanyakan. Karena sering berada di lapangan, tentu saya sering menghadapi soal yang sama, ketika bertemu dengan berjenis-jenis manusia. Dengan income per kapita yang rendah, rata-rata pendidikan penduduk Indonesia hanya pada jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, tentulah sulit mengajak berpikir dalam konteks seorang sarjana atau pasca sarjana yang bersosok terpelajar. Jokowi tidaklah manusia yang seperti itu. Kadang, atau mungkin sering, ia salah berkata-kata. Ia juga menunjukkan kecanggungannya

Walau untuk konteks seorang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, seorang Jokowi belumlah pas, seperti pernah diucapkan oleh Jusuf Kalla. Ia memiliki sejumlah kekurangan. Tapi, bukankah manusia tidak ada yang benar-benar memiliki kelebihan, bahkan melulu kekurangan, dalam setiap detik kehidupan? Makanya, saya suka menikmati pelbagai kampanye negatif, bahkan kampanye hitam yang ditujukan kepada Jokowi. Begitulah cara berpikir yang mungkin dominan dewasa ini. Satu selimut hitam dalam arus demokrasi yang semakin dekaden. Tak apa-apa. Bagi saya, itulah makna dari Jokowi adalah Kita yang muncul dalam iklan-iklannya itu. Ia bukan orang lain. Ia bukan siapa-siapa, apalagi sosok Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan yang angker dan sulit didekati.

Dalam wujud itulah saya merasa lebih berguna untuk menjadi bagian dari pemenangan Jokowi, ketimbang sosok yang mungkin sudah lebih segalanya dari saya. Setiap orang, apalagi kelas menengah, kaum terpelajar, profesional, atau mereka yang ada di level atas, bisa melakukan dan memberikan sesuatu kepada Jokowi. Gotong royong dalam era demokrasi. Saya orang yang tidak terlalu suka dengan kesempurnaan, bahkan pernah dikenal anti-kemapanan. Ketika masuk ke dunia politik praktis, bahkan saya menyebutnya sebagai proses bunuh diri kelas, berhubung saya bukan bertambah kaya, walau tidak juga terlalu miskin.

Jadi, bismillahirrahmanirrahim, izinkan saya menjadi bagian dari relawan pemenangan Jokowi. Walau saya tidak pernah bertemu muka dengannya. Walau tak pernah bersalaman. Saya tidak berpikir tentang apa yang akan terjadi pada 09 Juli 2014 nanti. Biarlah semuanya mengalir saja. Seberat apapun perjalanan ini, mengingat elektabilitas Jokowi mulai melorot seiring dengan mulai terbiasanya orang dengan sosoknya, tetap saja karakter pribadinya menurut saya tidak bisa dibengkokkan. Ia akan tetap mencium tangan Ibu Megawati dan Pak JK, sesuatu yang tak pernah saya bisa lakukan sebagai orang Minang, kecuali kepada orang tua saya dan kedua almarhum ayah dan ibu mertua saya. Ia tetap culun dan pintar menyembunyikan perasaannya. 

Catatan Indra Jaya Piliang
×
Berita Terbaru Update