Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tanpa Disadari Kota Pariaman Kehilangan 60 Milyar Rupiah Setahun

28 Oktober 2013 | 28.10.13 WIB Last Updated 2013-10-28T14:57:28Z




Dampak dari kepindahan Kantor IKK (Ibu Kota Kabupaten), serta Polres Padang Pariaman ke Parit Malintang memang sangat terasa bagi perekonomian Kota Pariaman. Misalkan saja ada sekitar 5000 Orang total Jumlah PNS dan Anggota Polres Padang Pariaman membelanjakan per-orangnya Rp.1.000.000 Sebulan di Kota Pariaman, jumlah totalnya mencapai Rp.5.000.000.000,-, jika setahun dikalikan 12X5.000.000.000, totalnya 60 Milyar Rupiah, Jumlah yang sangat Fantastis.

Sangat beralasan sekali Pedagang Pasar Pariaman mengeluhkan sepi pembeli, juga pedagang ditempat lain seputaran Kota Pariaman. Sekarang Uang 5 Milyar sebulan dan 60 Milyar setahun tersebut tentu berpindah ke Kabupaten Padang Pariaman.

Pemko Pariaman harus memikirkan cara untuk meramaikan Kota Pariaman kembali dengan mengaktifkan sektor yang menarik Orang untuk berkunjung ke Kota ini. Kota Pariaman musti menjadi Kota Destinasi agar mampu menghidupi dirinya sendiri.

Dalam pemikiran kami ada beberapa hal yang musti dilakukan Pemko Pariaman untuk meramaikan Kota Pariaman sementara sebelum menemukan Formula yang tepat. Diantaranya adalah dengan Sewa Kelola Perkantoran yang ditinggalkan Pemkab Padang Pariaman seperti Area Perkantoran Bupati lama, Kantor PU di Pauh Barat, untuk dijadikan atau disewakan pada Investor atau Pihak ketiga. Bisa saja tempat tersebut mereka jadikan Pabrik, Sekolah, atau apa yang dirasa memungkinkan.

Dimana ada gula disana pasti ada semut, demikian kata pepatah yang selalu relevan sepanjang zaman. Agar Kota Pariaman ramai dan pusat kunjungan (Destinasi) baik Pariwisata, Pendidikan, maupun Perdagangan dll, Kota ini musti punya daya tarik untuk semua hal tersebut.

Dari sektor Pariwisata dan Budaya ada beberapa hal yang musti kita pahami sebelum menggarap sektor tersebut.

Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan, dalam hal ini Kota Pariaman memiliki Festival Budaya Tabuik, sayangnya Kalendernya hanya setahun sekali. Bagimana dengan Kebudayan yang kita miliki lainnya yang belum digarap untuk menarik minat Wisatawan?

Sebagian kalangan mungkin akan berkata bahwa Pariwisata memperkuat budaya, sebagian lain sebaliknya.

Walaupun tidak sedikit pihak yang menentang perkembangan pariwisata berbasis budaya ini, namun banyak juga Sosiolog dan Antropolog yang justru melihat bahwa pariwisata (internasionalisasi) tidak merusak kebudayaan, melainkan justru memperkuat, karena terjadinya proses yang disebut involusi kebudayaan (cultural involution). Hal tersebut bisa dilihat dari kasus Bali. Philip F. McKean (1978) mengatakan,

“Meskipun perubahan sosial ekonomi sedang terjadi di Bali, semua itu terjadi secara bergandengan tangan dengan usaha konservasi kebudayaan tradisional. Kepariwisataan pada kenyataannya telah memperkuat proses konservasi, reformasi, dan penciptaan kembali berbagai tradisi,"


Philip F. McKean (1973) bahkan menulis bahwa “the traditions of Bali will prosper in direct proportion to the success of tourist industry” (dikutip dalam Wood, 1979). Ahli lain berpendapat bahwa dampak kepariwisataan di Bali bersifat aditif, dan bukan substitutif. Artinya, dampak tersebut tidak menyebabkan transformasi secara struktural, melainkan terintegrasi dengan kehidupan tradisional masyarakat (Lansing, 1974)

Kota Pariaman menurut Pandangan saya hanya bisa Maju dari sektor Pariwisata saja. Kenapa demikian? Mari kita berdebat, jika Anda mengatakan Kota ini akan ramai dengan menjadikannya sebagai Kota Pendidikan, Jasa dan Perdagangan, secara logika Anda butuh 1000 Tahun lamanya Untuk mewujudkan Hal tersebut. Kenapa demikian, Untuk Menjadikan sebuah Kota sebagai Pusat Pendidikan, tidak hanya dengan mendirikan Perguruan Tinggi dan Universitas saja, sebab Orang selalu akan memilih tempat terbaik diantara yang ada sebagai tempat Pendidikan bagi Anak Anaknya. Untuk mendapatkan hal tersebut Orang lebih memilih menyekolahkan Anak-anaknya ke Jogjakarta, Bandung, Jakarta, serta pilihan terakhir Kota Padang.

Sedangkan Untuk menjadikan sebuah Kota sebagai Kota pusat perdagangan dan Jasa untuk Kota Pariaman, tidak berlebihan jika saya sangat pesimis sekali, bagaimana tidak, Kota Padang saja yang Ibukota Provinsi tidak sanggup mengimbangi Kota Bukittinggi. Kota Bukittinggi adalah sentral Perdagangan di pulau Sumatera, diluar Pulau Jawa. Kota Medan dan Batam saja tidak mampu mengimbanginya meskipun sudah berupaya melakukan pembenahan berbagai sektor. Kenapa? Karena selain Kota Bukittinggi sudah punya reputasi sebagai pusat Perdagangan Grosir, mereka sudah memiliki Sindikat yang hebat dengan simpul simpul yang sudah terjalin dengan sangat eratnya.



Penerapan kegiatan pariwisata berbasis budaya di Indonesia telah ditunjukkan oleh beberapa provinsi. Selain provinsi Bali, provinsi lain yang fokus dalam pelaksanaan sektor ini adalah Daerah Istimewa Jogjakarta khususnya kota Jogjakarta. Sejak tahun 2008, daerah ini telah mencanangkan diri sebagai kota pariwisata berbasis budaya.

Di Jogjakarta, pengembangan pariwisata disesuaikan dengan potensi yang ada dan berpusat pada budaya Jawa yang selaras dengan sejarah dan budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Banyak rencana aksi telah dicanangkan untuk mendukung pelaksanaan program ini. Mulai dari pengembangan dan peningkatan kuantitas serta kualitas fasilitas, memperbanyak event-event wisata, seni ,dan budaya, sampai ke optimalisasi pemasaran program. Hasilnya pun mulai terlihat, salah satunya adalah keberadaan Taman Pintar Yogyakarta yang tidak hanya memiliki arena permainan, tetapi juga mengajak pengunjung untuk mengenal sejarah dan budaya Jogjakarta. Nah Kota Pariaman kurang apa lagi dalam hal Kebudayaan?

Catatan Oyong Liza Piliang
×
Berita Terbaru Update