Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menata Pesisir Pantai Pariaman

1 Juli 2013 | 1.7.13 WIB Last Updated 2013-07-04T04:53:18Z




Salah satu kekuatan dan kekhasan yang dimiliki Kota Pariaman adalah pesisir pantai. Dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, hanya 7 kabupaten dan kota yang memiliki laut, yakni Pesisir Selatan, Padang, Kepulauan Mentawai, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat dan Pariaman. Idealnya, satu badan otoritas bisa dibuat bagi kerjasama antar daerah. Di luar itu, mengingat kekhasan masing-masing daerah, termasuk budaya dan topografi, tentunya keunggulan masing-masing daerah perlu ditprioritaskan. 

Pesisir pantai Kota Pariaman terdiri dari 14 desa/kelurahan, yakni Padang Biriak-Biriak, Balai Nareh, Nareh I, Nareh Hilie, Mangguang, Apar, Ampalu, Pauah Barat, Pasie, Kampuang Perak, Lohong, Karan Aue, Taluak, Pasie Sunue. Ke-14 desa/kelurahan ini perlu mendapatkan perhatian khusus, karena mewakili wajah Kota Pariaman bagi masyarakat luar. Di sepanjang daerah pesisir ini, berserakan kelompok-kelompok nelayan, koperasi nelayan, perahu-perahu nelayan, tempat pelelangan ikan, rumah-rumah makan dan minum, rumah-rumah penduduk, talao/talago, muara-muara sungai, sampai hotel dan restoran. 

Kalau ditotal, 20% jumlah desa/kelurahan di Kota Pariaman terletak di pesisir Pariaman. Di sinilah para penduduk beraktivitas. Dilihat dari sisi ekonomi, pesisir pantai Pariaman masih dihuni penduduk miskin (lower class) sampai menengah (middle class), jarang yang berasal dari kalangan ekonomi atas (upper class). Sehingga, aktivitas ekonomi juga meliputi pekerjaan yang tetap ataupun tidak tetap. 

Interaksi dengan penduduk luar Kota Pariaman juga tinggi. Misalnya, para wisatawan, orang-orang yang mencari makan, para pedagang (terutama ikan) perantara, sampai sopir-sopir angkot dan kendaraan pribadi, apalagi pengendara sepeda motor. Dulu, ada daerah-daerah yang dikenal memiliki pondok baremoh, namun belakangan sudah mulai hilang. Pondok itu identik dengan kesusilaan. Ketika saya masih menempuh pendidikan Sekolah Menangah Atas di Kota Pariaman, wilayah pesisir dikenal sebagai wilayah keras. Namun, sebelumnya, Bupati Anas Malik sudah berhasil mengubah julukan sebagai WC terpanjang di dunia. 

Satu Payung Manajemen
Untuk memudahkan pengelolaan pesisir pantai Pariaman, perlu dibuat semacam badan khusus dalam satu payung manajemen. Karena Kota Pariaman hanya terdiri dari 4 kecamatan, sementara desa/kelurahan di pesisir pantai Pariaman menjadi bagian dari tiga kecamatan, tentu dibutuhkan manajemen yang bersifat lintas desa. Bisa jadi badan khusus ini yang menanganinya. Kita sebut saja Badan Pengelolaan Pesisir Pantai, Laut dan Pulau Kota Pariaman. 

Dengan satu payung manajemen ini, kegiatan di masing-masing desa/kelurahan bisa diatur. Begitu juga aktivitas warga. Selama ini, primadona penduduk luar Kota Pariaman hanya di sekitar Pantai Gondoriah. Padahal, hampir semua kawasan memiliki kekhasan sendiri-sendiri.

Saya membayangkan, dengan kesatuan manajemen, tidak ada lagi acara balimpik di sepanjang pantai. Misalnya, apabila Desa Marunggi di Pariaman Selatan mengadakan pertandingan sepakbola pantai, maka kegiatan yang sama tidak boleh diadakan di sepanjang bulan di seluruh pesisir Kota Pariaman. Begitu juga dengan bola volley pantai, pertandingan pacu itik, pertandingan layang-layang, adu ketangkasan memanjat pohon kelapa, pacu robin, parade payang, lomba marathon, berenang, balap sepeda, acara KIM, bahkan lomba memasak ikan. 


Sebagai pasangan yang mengusung visi meramaikan Kota Pariaman bersama rakyat badarai, kami tentu sangat memikirkan pengelolaan pesisir pantai Kota Pariaman ini. Apalagi, perkembangan kota Padang ke depan semakin moderen. Sebuah kota besar seperti Padang, membutuhkan kota-kota satelit di sekitarnya. Tingkat kejenuhan yang tinggi di perkotaan, bisa diobati dengan bepergian ke kota-kota satelit di sekitarnya. Apabila selama ini ada Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi dan Kota Solok yang menjadi kota satelit dari Kota Padang, Kota Pariaman ke depan layak mengambil peran lebih besar.

Lomba Triathlon

Untuk itu, Kota Pariaman layak menyusun kalender acara bulanan. Setiap bulan, kalender itu terisi penuh. Selama ini, ada kalender wisata berupa Pesta Pantai pada bulan Muharram, bersamaan dengan pesta Tabuik. Ada juga Tour de  Singkarak yang menjadikan Kota Pariaman sebagai kota lintasan saja. Di luar itu, agenda serabutan dibuat oleh masyarakat atau pemerintahan daerah dengan keterlibatan masyarakat di luar Kota Pariaman yang minim. Padahal, posisi strategis Kota Pariaman sangat layak bagi orang-orang dari daerah lain untuk berkunjung. 

Salah satu lomba yang layak digagas adalah Lomba Triathlon. Inilah lomba yang mulai digemari di seluruh dunia, namun terbatas penyelenggaraannya di Indonesia. Salah satu daerah yang rajin mengadakannya adalah Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kebetulan, saya mengenal secara pribadi bupatinya yang sudah periode menjabat, yakni Ansar Ahmad. Saya beberapa kali berjumpa dengannya, baik di Jakarta maupun di Tanjung Pinang. 

Kini, lomba Triathlon Bintan sudah menyedot peserta sampai ribuan orang dari seluruh dunia. Sehingga, hotel dan penginapan berkembang, baik kecil, menengah, berbintang dan bahkan resort-resort ekslusif yang berharga puluhan juta sehari-semalam. Padahal, sebelum Selat Malaka ditaklulkkan Portugis pada tahun 1511, bahkan sesudahnya, wilayah pesisir pantai barat Sumatera sudah dilalui banyak kapal-kapal asing, tidak terkecuali singgah dan menetap di Kota Pariaman. 

Karena itu, Kota Pariaman sangat layak dijadikan sebagai lokasi Lomba Triathlon. Lomba ini berupa lomba renang, naik sepeda dan lari yang dilakukan oleh satu olahragawan. Ada minimal empat jenis jarak yang bisa dilakukan.

Pertama, jarak pendek (sprint), yakni 750 meter berenang, 20 kilometer bersepeda dan 5 kilometer lari.
Kedua, jarak menengah (intermediate), yakni 1,5 kilometer berenang, 40 kilometer bersepeda dan 10 kilometer lari. 

Ketiga, jarak jauh (long course), yakni 1,9 kilometer renang, 90 kilometer bersepeda dan 21,1 kilometer lari.

Keempat, jarak maksimal (ultra distance), yakni 3,9 kilometer berenang, 180 kilometer bersepeda dan 42,2 kilometer lari. 

Bayangkan, pulau-pulau dipenuhi oleh berjenis manusia, lalu menyebur ke laut secara serentak, dengan sistem pengamanan yang sesuai standar internasional, lalu naik sepeda mengelingi kota Pariaman, terakhir berlari di sepanjang pantai. Pariaman akan ramai. Iko Jaleh Piaman!!! 

Catatan Indra Jaya Piliang, Calon Walikota Pariaman Independent
×
Berita Terbaru Update