Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

FBI Menjebak Pelaku Bom Boston ?

21 April 2013 | 21.4.13 WIB Last Updated 2013-04-21T15:10:57Z



Jika kita memperhatikan sikap dan pernyataan dari keluarga para teroris yang menggunakan cara-2 kekerasan sampai dengan tindakan bom bunuh diri ; Maka yang keluar dari mulut mereka adalah ketidak-percayaan bahwa anak,sanak familinya sanggup melakukan hal tersebut. Mereka selalu memberikan gambaran “kebaikan” hati dan tutur kata serta perilaku yang sangat “rohani” dari semua pelaku teror tersebut. Gambaran itu selalu dimunculkan untuk memberi kesan bahwa para pelaku teror tersebut bukanlah orang yang “sebenarnya” melakukan tindakan teror,bisa saja mereka mau mengatakan bahwa para pelaku tersebut memang dijebak,dipakai oleh aparat negara atau penguasa negeri untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri,dll.

Itulah juga yang dimunculkan oleh orang tua dan sanak keluarga dari pelaku bom Boston yang dirilis beritanya di media massa. Bantahan orang tua terduga pelaku bom Boston bahkan berani mengatakan bahwa FBI telah menjebak mereka…! Ini artinya mereka sekarang membuat kontra opini kepada masyarakat Amerika Serikat maupun dunia,bahwa apa yang dilakukan oleh anak-2 mereka berdasarkan bukti-2 CCTV yang dimiliki oleh aparat keamanan Amerika Serikat dibantah berdasar nalar mereka saja. Bukti versus penalaran yang subyektif bisa berakibat perang opini yang melahirkan kebencian turun temurun dan mengarah pada ketidak-jelasan masalah yang sebenarnya dan akhirnya melahirkan masalah yang tak pernah selesai…!

Bentuk penyangkalan ini selalu muncul dan dilakukan oleh keluarga teroris. Bukan permintaan maaf atau rasa penyesalan telah mengakibatkan banyak korban tak berdosa jatuh,tetapi mereka mengundang perhatian seolah anak-2 atau sanak saudaranya adalah “manusia suci” ,bukan penjahat sebenarnya (dijebak), bahkan muncul anggapan para teroris itu adalah sedang melakukan tugas suci agama atau keyakinan yang dianutnya.

Bila itu dibiarkan,maka tragedi demi tragedi akan terjadi …entah dilakukan oleh pelaku yang lain,atau dalam beberapa tahun kedepan bisa saja dilakukan oleh anak-2 para pelaku yang ingin “membalas dendam” atas kematian orang tuanya yang dianggap sebagai teroris. Karena konteks perjuangan mereka selalu bersifat gerilya,tidak nampak terus terang,dan menganggap dirinya berjalan diatas kebenarannya sendiri.

Oleh karena itu,negara atau pemerintah sebaiknya memberi stempel khusus kepada orang-2 ini. Karena mereka jauh lebih berbahaya daripada teroris yang sudah dibinasakan oleh aparat keamanan. Kemunculan mereka bisa dalam bentuk yang lebih ekstrim karena perang opini yang menyesatkan. Peristiwa teror seperti itu tidak dilakukan oleh gerombolan atau sekelompok orang yang terus terang menyatakan eksistensi mereka ; Berbeda sekali dengan peristiwa politik pada era pengalihan ORLA ke ORBA ,dimana kelompok orang yang dinaungi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) disikat habis oleh Soeharto. Balas dendam anak-2 PKI tidak berupa pembalasan teror,tetapi tuntutan hukum terhadap pelaku pelanggaran HAM pada era pemerintahan Soeharto yang mengenyahkan orang tua mereka. Akibatnya,pembalasan dendam anak-2 para teroris bisa lebih berbahaya,sebab mereka di indoktrinasi dengan ayat-2 kitab suci menurut keyakinannya.
Melakukan teror dengan berpegang pada suatu ajaran Kitab Suci yang telah diselewengkan jauh lebih berbahaya,karena pengaruhnya bisa merasuk sampai ke “sumsum” sang penerima doktrin. Apalagi janji masuk Sorga dan diterima Malaikat Allah ….! Itu sangat mengerikan sekali. Teror karena ajaran ideologi yang tidak umum bisa diperdebatkan dengan nalar sehat,tetapi orang-2 yang melakukan teror dengan berpegang doktrin ajaran agama/Kitab Suci yang mengatas-namakan Allah tidak bisa menggunakan debat pakai nalar sehat. Orang bilang “keyakinan atau religiositas mengalahkan batas akal sehat manusia”

Oleh karena itu,sebaiknya para orang tua dan sanak keluarga para pelaku teror dibimbing secara khusus dengan pemahaman agama atau keyakinan kepada Tuhan secara benar. Kalau mereka berani menyangkal dan tidak meminta maaf,jangan-2 mereka juga termasuk jaringan teror yang selama ini selalu menggunakan opini publik berbeda dengan bukti-2 yang dimiliki oleh aparat keamanan negara. Ini persis sama dengan para pelaku premanisme yang menggunakan Komnas HAM untuk memutar-balikkan fakta kejahatan terhadap masyarakat sipil yang dilakukan oleh para preman tersebut. Para preman sebenarnya identik dengan para pelaku teror,sama-sama meresahkan kehidupan masyarakat umum.

Sebaiknya kita berhati-hati terhadap orang-2 jahat yang tidak mengenal rasa maaf,sebab sesungguhnya mereka berhati setan tetapi bermuka manusia…….!

catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update