Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aburizal Bakrie Klaim 99% Korban Lumpur Lapindo Berterimakasih Padanya

6 April 2013 | 6.4.13 WIB Last Updated 2013-04-06T04:47:45Z
1365147628743568763

foto : merdeka.com
“Masyarakat di sekitar kejadian lumpur Sidoarjo, 99 persen dari mereka, berterima kasih kepada saya dan keluarga. Karena mereka mendapatkan lebih dari apa yang mereka punyai sebelumnya (sebelum bencana),” ujar dia (Aburizal Bakrie – pen.) saat wawancara dengan Financial Times seperti yang dikutip Rabu (3/4).     Sumber baca di sini
Itulah pernyataan Abu Rizal Bakrie. Sebuah pernyataan yang muncul dari logika uang semata. 

Bagaimana mungkin seseorang yang menderita dalam berbagai aspek kehidupan, dianggap berterimakasih semata hanya karena nilai ganti rugi yang didapatkan lebih dari nilai taksiran obyek yang terendam lumpur. Sekarang mari kita cermati struktur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sidoarjo di daerah terdampak. Kebetulan sampai dengan awal tahun 2010 saya masih tinggal di Surabaya dan banyak teman-teman saya yang tinggal di Sidoarjo, bahkan perusahaan tempat saya bekerja dulu pernah membantu pengadaan rumah bagi karyawan di perum TAS-1 sebanyak lebih dari 200 unit rumah, yang semuanya kini sudah terendam lumpur Lapindo.
13651477221010750525
Ribuan rumah dan kehidupan yang berubah jadi kolam lumpur panas (foto : nunaahabsy.blogspot.com)
Sebelum munculnya semburan lumpur pertama kali pada 28 Mei 2006, kehidupan warga di desa Siring, kecamatan Porong dan sekitarnya aman-damai-tentram. Sebagian besar dari mereka hidup sederhana, tapi mereka memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan. Mayoritas penduduk di sana adalah warga yang sudah menempati tanah dan rumah peninggalan orang tua bahkan kakek nenek mereka. Makam leluhur mereka pun tak jauh dari sana. Tanah kelahiran memang memberikann romantisme yang berbeda dengan tanah perantauan. Tetangga pun rata-rata adalah orang yang sudah seperti saudara sendiri karena sudah puluhan tahun hidup berdampingan.

Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh dari perusahaan-perusahaan di daerah industri sekitarnya, menjadi petani penggarap lahan sendiri (warisan keluarga) maupun penggarap lahan orang lain, menjadi guru yang mengajar di sekolah-sekolah sekitar kelurahan dan kecamatan di situ dan beragam profesi lainnya. Ada juga yang berwirausaha, menjadi penjahit, membuka toko kelontong, membuka warung makan bahkan sekedar berjualan nasi pecel di pagi hari yang laris manis diserbu para pekerja yang tak sempat menyiapkan sarapan di rumah.

Ketika bencana semburan lumpur itu terjadi dan mulai masuk ke kampung mereka, banyak yang tak sempat menyelamatkan barang-barang pribadinya. Mereka hanya membawa bekal baju seadanya lalu mengungsi ke sebuah proyek pasar yang  baru selesai pembangunannya, belum diresmikan  dan sedianya akan dijadikan pasar baru di Porong. Berhubung ada ratusan KK mendadak butuh tempat pengungsian, Bupati Sidoarjo langsung menjadikan los-los pasar itu sebagai tempat penampungan pengungsi. Berdesakan 4-5 keluarga dalam bilik ukuran beberapa meter persegi saja. Mandi harus antri berjam-jam karena sarana MCK yang tersedia sangat tidak memadai mengingat peruntukannya memang bukan untuk tempat pengungsian ribuan warga sekaligus.
1365147840494268325
Pasa luapan lumpur panas, rumah warga hanya tampak atapnya saja (foto : tragedilapindo.wordpress.com)
Tidur tak leluasa karena bercampur dengan keluarga lain. Saat tidur, kaki bisa menyentuh kepala orang lain. Sering terjadi salah paham dan nyaris cekcok antar keluarga. Kaum laki-laki dewasa bahkan seringkali terpaksa mengalah dan tidak tidur di dalam los melainkan bergadang di luar demi memberikan tempat bagi wanita dan anak-anak agar bisa tidur. Keesokan harinya, yang masih bisa bekerja harus tetap bekerja dalam keadaan mengantuk dan badan sakit semua. Belum lgi pasutri yang rata-rata masih berusia muda itu terpaksa selama berbulan-bulan menahan hasrat seksual mereka karena tak ada tempat untuk melaksanakan hubungan suami istri. Jangankan menyalurkan kebutuhan biologis, sekedar ngobrol berdua istri untuk membicarakan masalah keluarga saja sulit, tetangga yang hanya berbatas tas atau selimut pasti mendengar.

Sebagian besar dari mereka bahkan tak punya lagi mata pencaharian. Buruh-buruh pabrik terpaksa mendadak jadi pengangguran yang tak diberikan pesangon, sebab pabrik mereka terendam lumpur dan merugi. Kaum ibu yang semula bisa membantu suami mencari nafkah dengan berjualan nasi dan lauk pauk untuk sarapan para pekerja, kini tak lagi bisa berbuat apa-apa.
13651479982079980316
Warga Porong korban Lapindo berdemostrasi menyebut Bakrie Menteri Kesengsaraan Rakyat dalam spanduk yang diusungnya. (foto : tempo.co)
Bahkan makan sehari 3x pun di jatah nasi bungkus. Saat Ramadhan tiba, sahur dan buka puasa memang disediakan, tapi sungguh tak nyaman karena harus antri pembagian nasi bungkus. Saya ingat tayangannya di TV saat itu, nasi bungkus untuk sahur sudah dingin, bahkan terkadang basi, maklum sudah disiapkan sejak sore/petang harinya. Selain itu mereka mengaku sama sekali tak nyaman terpaksa buka dan sahur dengan nasi dan lauk keringan. Nasi bungkus tak memungkinkan mereka menyantap sayuran berkuah. Mereka sebetulnya tak menuntut banyak, cukuplah sayur asem atau sayur bening, asal ada kuah untuk mendorong nasi agar bisa lancar masuk ke tenggorokan, maklum, makan sahur biasanya memang kurang selera.

Sekian bulan mereka memang diberi “jadup” alias jatah hidup, kalau tak salah Rp. 300.000,- per jiwa per bulan. Kemudian ada bantuan uang kontrak rumah sebesar Rp. 2 juta per KK per tahun, untuk 2 tahun ke depan. Area yang terendam lumpur makin meluas ke desa-desa dan kecamatan lain di sekitarnya, jelas pasar baru Porong tak bisa menampung jika pengungsi yang lama tak segera pindah. Masalahnya, mencari kontrakan rumah tidaklah mudah untuk begitu banyak keluarga sekaligus. Akhirnya mereka tercerai berai, beruntung yang masih punya ortu atau mertua bisa menampung, yang tak punya sanak keluarga, keleleran mencari kontrakan yang sesuai dengan uang jatah. Di tempat kontrakan baru belum tentu dekat dengan lokasi tempat kerja atau sekolah anak-anak mereka yang rata-rata masih SD. Yang ingin kembali buka usaha warung makan atau menjahit, kebanyakan gagal karena mereka sudah kehilangan kontak dengan pelanggannya dan pelanggan pun sudah pindah entah kemana.
13651481361418290242
Aksi kaum ibu korban lumpur Lapindo yang sampai menggelar istighotsah. Air mata dan jeritan mereka sesuatu yang tak bisa dinilai semata dengan uang (foto : www.lensaindonesia.com)
Janjinya, para korban lumpur itu akan dihitung nilai asset mereka. Untuk tanah berapa ganti rugi per meter persegi dan untuk bangunan berapa. Masalahnya, semua penggantian itu kemudian berjudul “jual-beli”. Jadi seolah-olah PT. Minarak Lapindo Jaya (MLJ) membeli asset warga yang sudah terendam. Padahal, seharusnya murni ganti rugibila perlu ganti untung, karena tak ada warga yang menghendaki disuruh pindah begitu saja – mana ada jual beli saat asset sudah terendam lumpur? Karena akte perjanjiannya “jual-beli”, maka PT. MLJ mensyaratkan sejumlah dokumen dan sertifikat yang rata-rata tak dimiliki warga yang tinggal di dusun mereka secara turun temurun berpuluh-puluh tahun. Suatu keanehan, karena sebelum terjadi semburan, ketika Lapindo membeli tanah warga untuk dijadikan lokasi pengeboran, mereka justru sengaja membeli tanpa sertifikat, sehingga harganya miring.

Selain persyaratan teknis dan administratif, “jual-beli” itu semula disepakati dibayar 20% di muka dan akan dibayar 80% setelah 2 tahun, ketika uang kontrak rumah habis. Pada kenyataannya tidak demikian. Ketika tiba saatnya dibayar yang 80%, tidak dibayar tunai melainkan dicicil alias diangsur. Nilai angsurannya pun kecil jika dibanding proporsinya yang 80% dari nilai asset. Kebanyakan diangsur Rp. 15 juta per bulan. Itu pun tak selamanya angsuran rutin selalu dibayar. Terkadang menunggak beberapa bulan tak ada angsuran masuk ke rekening korban.
1365148261770018916
Salah satu bentuk aksi protes korban lumpur Lapindo. BUKAN bentuk aksi teater persembahan rasa terimakasih untuk Bakrie lho (www.tribunnews.com)
Nah, dengan semua ketidaknyamanan yang harus dirasakan warga korban lumpur, layakkah mereka berterimakasih meski seandainya total uang “jual-beli” asset itu lebih besar dari nilai asset mereka ketika dimiliki? Bukankah wajar saja seseorang menjual rumah dan tanahnya dengan harga lebih besar dari harga belinya? Apalagi “jual-beli” itu sama sekali bukan kehendak warga, mereka terpaksa pindah dan terusir dari kampung halaman. Wajar jika mereka  menuntut diganti rumah dan tanah. Bukankah kenyamanan, keamanan, ketentraman dan harmoni kehidupan mereka sudah terusik dan terkoyak-koyak?
13651483861340734727
Ini pun bentuk aksi keprihatinan. BUKAN bentuk aksi kegembiraan dan ungkapan terimakasih (foto : inn.co.id)
Mari kita buat perumpamaan : anda ditabrak sebuah mobil mewah sampai kaki dan tangan anda patah. Si penabrak bertanggungjawab, anda dibawa ke sebuah RS bagus, dimasukkan ke kamar perawatan kelas VIP, semua biaya pengobatan dan operasi sampai sembuh diganti total. Anda yang sehari-hari bekerja mendapat gaji Rp 3 juta per bulan, selama berbulan-bulan harus terbaring. Sebagai ganti rugi, penabrak memberi jatah hidup Rp. 5 juta per bulan. Apakah anda berterimakasih pada pemilik mobil mewah yang telah menabrak anda? Meski akibat kecelakaan itu anda jadi cacat seumur hidup dan tak lagi bisa bekerja dan beraktivitas sebagaimana layaknya dulu?

Apakah anda perlu berterimakasih pada penabrak karena berkat dia anda bisa merasakan tidur di spring bed empuk dan sejuknya AC? Saya lebih memilih tidur di rumah sendiri meski kasurnya sudah tak lagi empuk dan kipas anginnya sudah berdenyit bunyinya, ketimbang harus menginap di RS. Saya lebih memilih bekerja 8 jam sehari selama 5 hari seminggu dengan upah 3 juat ketimbang terbaring tanpa daya dengan upah 5 juta.

Nah, apalagi penderitaan korban lumpur Lapindo tidaklah sebaik ilustrasi korban tabrakan di atas. Sebab mereka berbulan-bulan merasakan ketidaknyamanan lahir batin tinggal di pengungsian. Ribuan orang yang semula punya tempat tinggal layak dan keluarga yang tentram, mendadak jadi tuna wisma dan hidup tak  karuan di pengungsian. Para pekerja pabrik mendadak jadi pengangguran berbulan-bulan dengan jatah hidup hanya 300 ribu per jiwa, setelah sekian tahun mereka terpakse kerja serabutan seadanya demi menyambung hidup keluarganya. Anak-anak sekolahnya terganggu bahkan ada yang sempat terhenti sementara.
13651484871650073621
Uang kontrak rumah sudah habis selama 2 tahun tapi ganti rugi yang 80% tak kunjung dibayarkan. (foto : koran-jakarta.com)
Beberapa tokoh menjadi pendamping korban lumpur. Ada Emha Ainun Nadjib, ada Arswendo Atmowiloto yang menghibur anak-anak korban lumpur yang sudah bertahun-tahun hidup di pengungsian. Tahun 2012, sebuah film dokumenter tentang kehidupan warga korban lumpur Lapindo memenangkan kompetisi film dokumenter indie, Eagle Documentary Awards. Film itu dengan jelas menggambarkan kegetiran, rasa pilu dan amarah warga korban lumpur. Kalau saja kehidupan punya mesin waktu, mereka ingin kembali ke kehidupannya semula sebelum terendam lumpur.

Sampai sekarang, warga yang awal-awal kena luapan semburan lumpur Lapindo justru ada yang belum selesai proses ganti ruginya. Mereka adalah korban tahap awal yang disebut sebagai warga dari daerah “peta terdampak” dimana proses ganti ruginya menjadi tanggung  jawab keluarga Bakrie sebagai pemilik Lapindo. Itu sebabnya beberapa waktu lalu Presiden SBY pernah berujar dalam rapat kabinet : “Katakan pada Lapindo, jangan bohongi rakyat. Kalau bohong pada rakyat, tanggung jawabnya juga di akhirat!”.
1365148693955252141
Jangan suka bohong kata para korban. Sama artinya dengan membunuh secara halus (foto : www.satudunia.net)
Yang lebih sedikit “beruntung” justru warga yang belakangan terkena karena mereka berada di luar peta terdampak, dimana kemudian disepakati ganti ruginya dibayarkan oleh negara melalui APBN. Justru kewajiban negara yang menggunakan dana APBN – yang nota bene juga uang rakyat, dikumpulkan dari pajak rakyat dan seharusnya untuk kepentingan rakyat banyak – inilah yang sudah lebih dulu lunas.

Tak heran jika kemudian klaim Ical bahwa 99% warga korban lumpur Lapindo berterimakasih padanya dan keluaga, dibantah oleh warga korban itu sendiri. Apalagi mengingat sampai sekarang – sebulan menjelang 7 tahun tragedi lumpur Lapindo – proses ganti rugi itu belum juga beres. Sungguh sulit dimengerti, logika berpikir macam apa yang digunakan ARB. Sekedar mengacu pada ilustrasi korban tabrakan di atas, apakah Ical juga akan berterimakasih kalau dirinya dan keluarganya ditimpa musibah lalu diganti dengan uang yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya? Jika logika materialis yang digunakan, mungkin jawabnya “iya”. Tapi tak semua orang memilih menderita dan kehilangan kenyamanan hidup berkeluarga demi sejuta dua juta uang. Dan saya yakin warga korban lumpur kalau boleh memilih mereka lebih suka tak terpisah dari tanah leluhurnya!
13651487741691132536
Mereka sudah muak dengan janji cicilan ganti rugi yang 80%. Karena itu mereka minta dibayar tunai saja. (foto : news.detik.com)
Sebaiknya Pak Ical lebih sensitif pada rasa penderitaan warga korban lumpur. Bukannya malah mengklaim 99% berterimakasih hanya karena mendapat uang ganti rugi yang memang seharusnya mereka dapatkan. Mereka bahkan berhak mendapat lebih dari itu, sebab penderitaan non materiil tak bisa dihitung dengan uang. Apakah foto-foto dari berbagai media ini belum cukup berbicara tentang penderitaan dan jeritan hati mereka?

catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update