Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dentang Genta Sapi untuk PKS

5 Februari 2013 | 5.2.13 WIB Last Updated 2013-02-07T14:28:51Z

Lebih dari 3 dasawarsa yang lalu, ketika saya masih anak-anak dan tinggal di kota kecil Bondowoso, tiap Selasa pagi saya suka berdiri di depan halaman rumah menunggu sapi lewat. Sebuah kota kecil di tahun ’70-an umumnya hanya punya satu hari pasar besar. Pasar Selasa-an, sebutannya, saat dimana para “blantik” sapi membawa sapinya ke pasar untuk diperdagangkan. Bukan sapinya yang menarik perhatian anak-anak seusia saya. Tapi genta kecil yang menggelantung di leher sapi dan berbunyi tiap kali sapi melangkah. Kami menyebutnya “klenengan sapi”.

Ketika saya dewasa dan tinggal di Surabaya, terkadang, jauh tengah malam bahkan jelang dini hari, sesekali saya mendengar klenengan sapi itu berdenting lewat depan rumah kost saya. Esok paginya biasanya saya temui rumput-rumput yang berjatuhan dari pedati yang ditarik sapi semalam. Kota metropolitan seperti Surabaya tentu tak ramah bagi kendaraan pedati yang ditarik sapi. Itu sebabnya sapi-sapi itu lewat tengah kota setelah warga kota larut dalam lelap. Kini, pasca pindah ke Banten, saya bahkan tak pernah lagi mendengar denting genta sapi. Rabu malam kemarin, tiba-tiba genta itu berdentang keras sekali, membuat saya terperanjat. Bukan hanya saya, sebagian besar bangsa ini pun terkaget-kaget mendengar “genta sapi” itu.

========================================

1359957262351679172
Pidato menggebu Anis Matta sambil telunjuk menuding ada konspirasi (foto : www.tribunnews.com)

Dalam beberapa kesempatan saya “bersentuhan” dengan kader PKS di tingkat grass root, harus diakui bahwa mereka memang sangat tinggi militansi dan loyalitasnya pada partai. Bahkan sudah mengarah pada fanatisme buta. Pernah suatu kali salah seorang teman FB saya men-share sebuah link berita – kejadiannya sudah beberapa tahun lalu – tentang PKS. Link tersebut kemudian mengundang banyak komentar dari teman-temannya yang kebanyakan memberikan persetujuannya atas isi berita dalam link itu. Namun ada salah seorang temannya teman FB saya yang berkomentar sebaliknya : membela PKS. Si pembela – seorang wanita – bahkan dengan penuh semangat menjawab semua komentar yang ada di sana.

Ketika saya baca, yang berkomentar sudah banyak sekali. Saya pun ikut nimbrung karena tertarik dengan jawaban dan argumen si wanita yang membela membabi buta itu. Menariknya : apapun yang disampaikan komentator lainnya, ia tak mau mendengar. Alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan, ia justru berulangkali menegaskan bahwa ia tak mau mendengar informasi negatif dari luar. “Saya hanya percaya saja pada apa kata murabbi saya”, tegasnya. Meski banyak komentator yang memberikan kesaksian atau cerita seputar perilaku politik para kader PKS di DPRD mereka, si wanita ini tetap tak mau mendengar. Ketika ada yang memberikan contoh tentang sepak terjang elite politik dan keputusan/kebijakan PKS di level nasional, si wanita memilih untuk tak menjawabnya – yang saya duga karena ia memang tak punya wawasan soal itu – namun justru berargumen “biar saja orang mau bilang apa, kita yang di bawah kan tidak tahu kebenarannya. Saya lebih percaya apa yang dikatakan murabbi saya”.

Apa yang saya alami dalam diskusi di FB itu hanya satu contoh kecil saja. Tulisan Ilyani Sudardjat yang saya baca Jumat pagi kemarin, judulnya “Bu Jangan Kagum Sama PKS Lagi Ya”, juga menyampaikan pengalaman yang sama : kader PKS di level bawah tak pernah mau mendengar apapun info negatif dan keluhan orang lain tentang politisi PKS. Mereka selalu membela membabi buta, meski tak tahu betul faktanya seperti apa. Dipandang dari sisi internal partai, mungkin hal ini baik karena kader tak mudah dipengaruhi. Tapi ada sisi negatifnya : taqlid buta membuat para kader jadi tak berani kritis. Informasi hanya top down. Itu sebabnya setiap kritikan yang masuk, terutama jika menyangkut elite politiknya, langsung ditolak mentah-mentah oleh para kader di bawah. Informasi negatif dinafikan dan dianggap hanya fitnah semata. Seolah elite partai adalah insan tak tersentuh yang immun, tidak mungkin melakukan kesalahan. Bahkan bagi mereka yang well educated dan melek internet sekalipun, hal seperti ini juga terjadi. Terbukti dari pengalaman Ilyani menerima bertubi-tubi email yang membela PKS membabi buta setelah ia menulis kritik tentang PKS.

13599573921639074840
Jumpa pers pertama yang penuh ketegangan (foto : nasional.kompas.com)

Sejak aktif berkompasiana, saya menemukan fakta yang sama dari akun-akun milik pendukung PKS dalam tulisan atau komentar mereka. Info yang dijadikan landasan hanya versi mereka sendiri.Mereka cenderung menolak informasi dari media mainstream. Itu sebabnya tak heran jika Kompasianer AS dengan haqqul yaqin menyatakan pasangan Hidayat–Didik akan memenangkan Pilgub DKI cukup hanya satu putaran saja dengan raihan suara 65%. Fantastis sekali! Padahal, kalau soal polling melalui internet, kader PKS jagonya dan bisa dikerahkan untuk aktif berpartisipasi. Kebetulan pasca pendaftaran Hidayat–Didik ke KPUD DKI, ada salah seorang teman yang memasukkan saya ke Grup FB dukungan Hidayat–Didik. Saya pun tak menolak dan tidak keluar dari Grup FB tersebut, karena justru dari sana saya bisa mengamati jalannya diskusi antara mereka, termasuk ajakan meramaikan berbagai polling di beberapa media. Inilah dampak negatif hanya percaya pada info yang menyenangkan selera mereka saja : tidak siap menghadapi kenyataan hanya bisa mengumpulkan suara 11%, jauh dari perolehan suara Pemilu di dapil DKI yang 20% dan lebih jauh lagi dari target perolehan suara Pilgub DKI.

Kini, pasca penetapan LHI menjadi TSK oleh KPK, reaksi serupa : denied, bisa kita temukan dalam sejumlah tulisan dan komentar. Bahkan ada yang secara ekstrim menulis KPK tak perlu repot-repot mengerahkan penyidik, toh hanya akan menemukan uang semilyar saja. Kalaupun nanti LHI terbukti menerima suap, itu kecil, hanya semilyar, tak akan mempengaruhi citra bersih PKS. Beberapa bagian tulisan itu saya copas pada tulisan saya sebelumnya.

Ada juga yang tidak terima atas persepsi publik. Bahkan kemudian mengecam yang membicarakan issu tersebut sebagai menggunjing, fitnah dan sebagainya. Menjadi aneh karena ketika berbulan-bulan selama hampir 2 tahun tulisan di Kompasiana didominasi oleh “gunjingan” soal kader-kader Partai Demokrat, tak seorang pun yang terpanggil untuk bertausiyah agar publik tidak membincangkan issu itu. Juga ketika banyak tulisan membahas kasus korupsi pengadaan Al Qur’an oleh kader Golkar atau dana PPID oleh kader PAN, tak ada himbauan yang mengajak agar para penulis di Kompasiana jangan dulu menulis soal itu sebelum ada kepastian hukum. Lalu kenapa ketika yang jadi TSK kader PKS, publik tidak boleh berpersepsi?

Mungkin hanya tulisan Kompasianer Aulia Gurdi saja yang secara jujur menulis kesan dan pendapatnya sebagai mantan kader PKS, yang ditulis secara rasional dan proporsional. Selama ini memang Mbak Aulia Gurdi tidak pernah melibatkan diri dalam adu argumen membela PKS dalam berbagai tulisan, namun ketika terjadi kasus yang menimpa LHI, beliau menyampaikan suara hatinya sebagai kader yang merasa perjuangan kader di level bawah tercederai oleh perilaku politik elitenya. Memang benar apa yang beliau tulis, yang paling terpukul dalam kasus ini tentu mereka yang berada di grass root, yang selama ini berjuang dengan tulis ikhlas dan merogoh kocek pribadi demi membantu perjuangan partai, namun kini mereka pula yang harus menerima cibiran masyarakat dan tak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada konstituen yang pernah diajak memilih PKS. Kader di grass root belum tentu sepintar para elitenya bersilat lidah di media massa, bukan?

13599578411209375757
Masih ongat dengan jumpa pers Nazaruddin yang ini awal Mei 2011 lalu? Saat itu mati-matian menyangkal tidak kenal Mindo Rosalina Manullang. Jumpa pers yang terkenal dengan istilah : katanya…katanya…katanya… (foto : nasional.kompas.com)

DEFENSE MECHANISM ALA ANIS MATTA YANG JADI BLUNDER

Kalau apa yang ditulis di atas itu hanya sikap kader militan di level grass root, bagaimana dengan sikap para petinggi PKS? Kamis, ketika menyampaikan pernyataan pengunduran dirinya, LHI masih beretorika soal target pemenangan Pileg 2014 yang akan menjadikan PKS parpol terbesar ketiga. Seolah beliau menafikan fakta bahwa besarnya suara PKS tak bisa hanya mengandalkan kader militannya saja. Pilgub DKI tak cukupkah menjadi pelajaran? Tidakkah itu membukakan mata PKS bahwa besarnya perolehan suara PKS dalam Pileg 2004 di DKI ternyata disokong oleh swinging voters yang pada saat itu menjatuhkan pilihan pada PKS karena dalam penilaian mereka PKS-lah partai yang layak dipilih. Namun seiring berjalannya waktu, setiap sikap politik PKS menjadi penilaian publik. Politik sejatinya dalah persepsi publik. Masyarakat tak akan menunggu sampai selesainya proses hukum untuk menjatuhkan penilaian mereka. Persepsi publik tidak bisa diadili, sebab sejatinya persepsi publik itu sendirilah yang menjadi pengadilan yang memberikan sanksi sosial.

Malam harinya, ustadz Hidayat Nur Wahid diwawancarai oleh sebuah stasiun TV berita. Dalam forum itu hadir pula pengamta politik Burhanuddin Muhtadi. Saya tak terlalu detil mendengar semua argumen Pak HNW, hanya saja mungkin esensinya sama : hanya berpikir soal partai bukan soal konstituen. Sehingga Burhanuddin mempertanyakan : jika demikian statemen Pak HNW, dimana lalu posisi konstituen, dimana rakyat pemilih? Kenapa yang dipikirkan hanya kepentingan partai?

Jumat, pasca diumumkannya Anis Matta menjadi Presiden PKS pengganti LHI, Anis langsung berpidato dengan menggebu-gebu dia menyeru : “Yang dihadapi PKS hari ini adalah sebuah konspirasi besar yang bertujuan akan menghancurkan bangsa ini!” Bahkan ada perumpamaan “membangunkan macan tidur”. Kemudian disambut tepuk riuh pendukungnya yang datang ke kantor DPP PKS. Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa mereka (kader PKS) saat ini sedang dijadikan “target”. Ada juga statemen Anis Matta : “pemberantasan korupsi yang tiran!”. Saya tak menyangka kalimat-kalimat seperti ini yang akan keluar dari Presiden baru PKS. Alih-alih mengajak semua kader introspeksi, malah menudingkan tulunjuknya keluar dan menuduh tanpa jelas kemana alamatnya dan lebih parah lagi tanpa bukti!

Tidak sadarkah Anis apa dampak dari orasinya yang bak Bung Karno ketika membangkitkan nasionalisme menyeru rakyat Indonesia agar “Ganyang Malaysia, antek nekolim!” itu? Sejak Jumat malam, saya perhatikan bunyi kicauan twitter yang masuk ke media TV dari pendukung PKS, isinya nyaris sama : konspirasi! KPK ikut dalam arus konspirasi politik! KPK menjadi alat politik PD! Nah lho, sebuah tuduhan membabi buta tanpa bukti bukan? Bukankah ini lalu membuat sentimen negatif pada upaya pemberantasan korupsi oleh KPK? Seolah KPK lah yang kini jadi musuh.

Sementara di sisi lain, kicauan twitter yang sama dari pihak yang tidak mendukung PKS justru makin menunjukkan antipati publik karena sikap PKS yang tidak mau introspeksi tapi malah menuduh pihak luar. Ya, orasi Anis Matta telah sangat efektif membuat kristalisasi dalam 2 kutub : yang taqlid makin membabi buta menuduh, yang swinging voters dan kritis makin antipati.

13599579811050204290
Yusuf Supendi, mantan pendiri PK saat melapor ke KPK (foto : politik.news.viva.co.id)

Saya mikir : apa bedanya reaksi defence mechanism ala Anis Matta ini dengan hal serupa yang dilakukan oleh kader-kader Partai Demokrat? Bukankah dulu Ruhut Sitompul juga sering berkata di media massa bahwa badai yang melanda PD karena ulah mereka yang tidak suka PD menjadi besar? Bukankah dulu Ramadhan Pohan juga pernah mengeluarkan statement : “Ada Mr. A yang ingin mengobok-obok PD” yang sampai kini Pohan gagal membuktikan siapa Mr. A itu. Bukankah dulu Nazaruddin juga mati-matian mengelak kenal Mindo Rosalina Manullang dalam jumpa pers-nya di kantor Fraksi PD, sampai kemudian di media massa muncul foto Rosa bersama Neneng (istri Nazar) dalam sebuah pesta. Dulu Polri pernah menuduh KPK ngawur karena ada berita miring tentang Kabareskrimnya saat itu, Susno Duadji, sampai akhirnya KPK membuka rekaman percakapan telepon Anggodo Widjoyo dengan beberapa pihak.

Anis boleh saja mengajak kadernya untuk “TOBAT NASIONAL”, tapi retorika tobat nasional itu harus dibarengi dengan aksi nyata. Bukankah tobat itu artinya mengakui kesalahan, menyesalinya dengan sepenuh hati dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tak mengulangi lagi? Kalau pertobatan itu dilakukan secara nasional, maka yang harus tobat duluan para petinggi partai. Bukankah mandi besar itu dimulai dengan menyiramkan air bersih dari atas kepala? Kader yang di bawah sudah bersusah payah menjaga perilaku mereka, sudah menginfakkan dana mereka dengan sukarela, sudah susah payah mengajak orang sekitarnya memilih PKS. Jangan suguhi grass root denga issu konspirasi yang mereka tak sanggup pertanggungjawabkan jika ditanya masyarakat : konspirasi yang seperti apa maksudhnya? Konspirasi pihak mana?

Yusuf Supendi – ustadz sepuh pendiri PKS – telah mencoba mengingatkan elite PKS. Namun alih-alih direspon dengan baik, Yusuf Supendi justru balik dituduh memfitnah. Akhirnya, putus asa mengingatkan baik-baik dari dalam, Yusuf Supendi kemudian melaporkan 3 petinggi PKS ke KPK (2 diantaranya LHI dan AM). Kalau sesepuhnya saja tak didengar, saya tak heran jika kadernya di bawah juga tak mau mendengar aspirasi dan masukan dari pihak luar. Kalau sudah begini, siapa yang masih bisa mengingatkan PKS?
========================================

1359958050381563011
Menunggu genta sebesar ini? Jangan ah! (foto : id.prmob.net)

Belasan tahun lalu ketika Mario Teguh jadi konsultan di Perusahaan tempat saya bekerja, saya pernah mendengar Pak Mario menasehati kurang lebih begini : “Tuhan di atas sana telah menyediakan genta yang akan berdenting ketika langkah kita sudah keluar dari garis lurus. Mulanya genta itu berdenting pelan. Sebenarnya nurani kita mendengar, tapi kita terus saja melangkah dan tak mau mendengarkan. Lalu genta itu berdenting lagi, makin lama makin nyaring. Tapi karena kita sudah terbiasa menutup telinga, maka kita tak mendengar lagi denting genta itu. Sampai kemudian ketika dentangnya sudah memekakkan telinga, kita tersadar sudah di tubur jurang”.

Nah, genta itu sudah pernah di dentingkan oleh Yusuf Supendi di “dalam rumah”. Hanya saja penghuninya menolak mendengarkan, maka ia mendentangkannya di halaman KPK. Lalu genta itu berdenting lagi pada 2011 melalui reportase utama majalah Tempo, soal daging impor, lagi-lagi tak didengar. Pada trimester terakhir 2012, dentang  genta itu makin nyaring ketika para pengamat mulai membincangkan aroma tak sedap daging sapi impor pasca ditemukannya ratusan kontainer berisi daging sapi impor yang menumpuk di pelabuhan. Kini, genta itu sudah tak lagi berdenting tapi berdentang keras, membahana ke seluruh pelosok negeri. Sayangnya, mereka kembali menutup telinga dan memilih menuding keluar. Apakah menunggu dentang genta yang lebih keras lagi? Semoga saja tidak.

Catatan Ira Oemar Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update