Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bedah 100 Hari Kepemimpinan Jokowi - Ahok

28 Januari 2013 | 28.1.13 WIB Last Updated 2013-01-28T10:12:52Z

Jokowi-Ahok banyak dipuji karena kepemimpinannya mereka selama 100 hari memberi warna tersendiri dalam mengelola sebuah pemerintahan. Walau skalanya hanya seluas Jakarta,namun karena itu merupakan daerah Ibukota Negara Republik Indonesia,maka menjadi barometer dan sorotan lokal maupun internasional. Jokowi dipuji karena sikapnya yang sangat manusiawi dalam memperlakukan warganya. Sedangkan Ahok dipuji karena tegas dalam memimpin aparat Pemkot DKI Jakarta. Keduanya juga dikenal bersih diri,sebutan untuk pejabat yang sampai sekarang tidak pernah terlibat kasus-2 korupsi dan perbuatan amoral lainnya.

Namun sayang sekali para pendukungnya dan warga yang justru dibela oleh Jokowi-Ahok kadang justru mempermalukan mereka. Ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki dari sikap para pendukung Jokowi-Ahok,yaitu :

1. Dalam berdiskusi,bila sedikit saja ada pernyataan yang mengkritik kebijakan Jokowi-Ahok langsung marah-2 dan mengumpat tidak wajar serta mencerminkan kekerdilan intelektual dan kedewasaan berpikir. Kalau pernyataan dalam tulisan atau lesan mengejek Jokowi-Ahok (contoh “Jokowi itu apa…dia kan cuman mantan Walikota Kota kecil/Solo,masak mau memimpin Jakarta yang lebih kompleks dan luas” …seperti yang disampaikan oleh salah satu anggota DPRD DKI Jakarta pada acara “Live” di sebuah stasiun TV swasta),maka wajar banyak pendukungnya yang menyerang dan marah serta kesal terhadap pernyataan tersebut. Kalimat mengejek ke Jokowi-Ahok memang seringkali membuat para pendukungnya (seperti di Kompasiana) marah dan mengumpat,jadi mereka tidak beda dengan para pengejek itu sendiri. Sebuah tulisan yang mengkritik atau memberi masukan kepada Jokowi-Ahok,sebaiknya disikapi dengan baik dan tidak perlu mengumpat.

2. Membaca sebuah berita,bahwa Ahok marah kepada beberapa orang yang menjadi korban banjir di Pluit yang seenaknya saja memperlakukan para relawan sebagai “tukang antar” dan pemberi bantuan dikarenakan sikap para korban banjir tersebut yang diminta mengungsi tetapi tetap ngotot tinggal di rumahnya yang kebanjiran,kemudian para korban banjir itu “marah-marah” terhadap orang yang sudah berjerih payah memikirkan mereka ; Ahok pun sampai berceloteh “…jahat benar itu orang…” ; Walau tidak diketahui pasti mereka memilih siapa di Pilkada DKI Jakarta yang lalu,tetapi kalau melihat angka kemenangan Jokowi-Ahok yang cukup besar di daerah Pluit,maka bisa dikira-kira seperti apa “watak” pendukung Jokowi-Ahok (”….gue udeh pilih elu,sekarang gue susah…gantian elu bantuin gue dong…”)

Nah,melihat pendukung Jokowi-Ahok yang seperti itu….mengingatkan kilas balik sewaktu Megawati Soekarnoputri memimpin bangsa ini. Banyak sekali rakyat kecil yang merasa tertindas di jaman Soeharto dan menjadi pendukung PDIP bersorak dan sangat senang sampai kebablasan. Dimana-mana berdiri pos-pos “keamanan” PDIP yang katanya untuk menjaga “keamanan” warga. Tetapi ujung-ujungnya waktu itu adalah “uang keamanan” harus disetor oleh warga ke oknum-2 yang mengatas-namakan parpol tersebut. Ketakutan warga dari rasa tertekan secara politik di jaman Soeharto berganti menjadi tertekan karena merasa tidak aman di kampungnya sendiri. Untungnya di kota Solo,justru warga PDIP menjadi “penjaga kestabilan” kota tersebut. Banyak daerah lain tidak seperti di kota Solo. Partai “wong cilik” itu mulai ditinggalkan oleh kaum intelektual karena mereka tidak bisa diajak berdiskusi dan berdemokrasi secara benar,akhirnya pada Pemilu 2004 parpol tersebut kalah telak dengan Golkar dan Pemilu 2009 semakin merosot dengan kemenangan mutlak SBY sebagai Presiden RI 2009-2014. Perilaku dan sikap para pendukung Megawati yang mencoreng jiwa besar Megawati membuat rakyat meninggalkan PDIP.

Demikian pula dengan Jokowi-Ahok….Mereka berdua adalah aset bangsa Indonesia,tetapi bila para pendukungnya seperti tidak mencerminkan kebaikan mereka berdua,maka rakyat Indonesia akan merasa jengkel bukan dengan Jokowi-Ahok,tetapi jengkel kepada para pendukung Jokowi-Ahok,sebab para pendukung itu tidak mau dan tidak bisa menerima kritik yang membangun serta berdiskusi dengan benar. Pada akhirnya Jokowi-Ahok tidak akan pernah bisa menyelesaikan program kerjanya karena para pendukungnya justru tidak mendukung kebaikan mereka berdua.

Para pendukung Jokowi-Ahok supaya lebih berperan aktif saja dalam merealisasikan janji-janji Jokowi-Ahok,seperti “Jangan membuang sampah sembarangan” , “Berlaku tertib dalam berlalu-lintas” , “Menjalankan instruksi Jokowi-Ahok sebaik-baiknya” , “Naik busway dan angkutan umum untuk tidak menambah macet Jakarta” , dll….Sanggupkah? Katimbang membentengi Jokowi-Ahok dengan kata-2 yang mengumpat dan marah-2 kepada pengkritik Jokowi-Ahok,lebih afdol para pendukung tersebut berbuat baik….! Sebuah ungkapan “Emas tetap emas,walau ditimbun dalam lumpur sampai ribuan tahun” harus menjadi pedoman para pendukung Jokowi-Ahok.

Melalui tulisan ini,untuk selanjutnya para pendukung Jokowi-Ahok yang suka mengumpat dan marah-2 bila Jokowi-Ahok dikiritik,berarti mereka adalah pecundang yang mencundangi Jokowi-Ahok. Dikhawatirkan justru musuh-2 politik Jokowi-Ahok sekarang itulah yang menyamar menjadi pendukung Jokowi-Ahok dan suka mengumpat serta marah-2 …Mereka telah membuat imej buruk bagi Jokowi-Ahok. Apa bedanya mereka yang suka marah dan mengumpat dengan para pengejek Jokowi-Ahok…? Tidak ada bedanya sama sekali…!

Kiranya Jokowi-Ahok bisa mengendalikan para pendukungnya dengan kerja…kerja…kerja,seperti yang dilakukan oleh mereka berdua…! Bravo..!

Catatan Mania Telo Freedom Writers Kompasianer
×
Berita Terbaru Update