Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Waspadai Anak Remaja Kita Direkrut Teroris

5 Oktober 2012 | 5.10.12 WIB Last Updated 2012-10-05T00:58:17Z
Gundah gulana. Kata ini hadir di benakku. Kuwas-was usai melirik artikel di Kompas.com: Waspadai Anak Sekolah Direkrut Jadi Teroris. Artikelku ini, burai kecemasan atas nasib putraku -juga putra Anda- kelak jika benar-benar teroris itu menyasar anak sekolah sebagai area pengaderan (rekrutmen). Terbayang mimpi buruk itu, dada putraku bergantungan bom bunuh diri, berlilitan kabel-kabel, tewaskan puluhan manusia, hancurkan segala apa di seputarnya.

13491455962147293925
Nightmare…!. Bagaimana kalutnya Anda jika manusia di foto ini adalah putra Anda (rental.co.id image)
Pembaca
Para orangtua
Para guru
Yang kumuliakan. 
 
Anak-anak kita sedang dalam intaian teroris, mereka target empuk untuk menyandang gelar ‘teroris muda’. Kusebut teroris muda setelah mencermati dengan seksama ucapan mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abas mengingatkan agar semua pihak mewaspadai rekrutmen teroris yang mulai menyasar anak sekolah. Selanjutnya, kekhawatiranku sangat beralasan -dari sisi psikologik- sebab anak sekolah yang dalam Psikologi Perkembangan disebut sebagai remaja awal-remaja akhir.

Kecemasankupun berjengger-jengger setelah memahami bahwa masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke peralihan masa dewasa, di usia ini hadir periode perubahan, periode usia bermasalah. Berikutnya, zona usia sebagai era mencari identitas, ‘usia ketakutan’ dengan bergamnya bentuk penyesuaian diri.

‘Risetlah’ anak remaja kita jika kita bersamanya. Maka Anda akan menemukan perilaku mereka, persis yang terdapat di ruas buku Psikologi Umum (Usman Effendy). Remaja tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatiannya terpusat pada dirinya.
* * *
Pembaca sekalian.
Tulisan ini bukanlah ‘teror’ namun jika Anda sebagai orang tua dan tetap merasa aman-aman saja, maka berbedalah perasaanku dengan Anda. Sebab, kini kuberandai-andai, ber-nightmare. Bagaimana jadinya jika putraku jadi teroris dan tiada sama sekali firasatku akan tindakan kekerasan yang ia lakukan. Dan, hari ini kuberjanji akan bersosialisasi dan berinteraksi dengan putraku untuk urusan ‘maha berat’ yang satu ini.
* * *
Kutakut terlambat mem-protek pikirannya akan ‘gerakan cuci otak’ yang bakal dilakukan oleh para teroris. Sebelum semuanya terjadi, biarlah saya selaku  ayah mengalokasikan waktu istimewa untuk mengisi otaknya dengan pikiran-pikiran yang humansitik. Kutakut jika pikiran-pikiran dehumanistik akan rasuki dirinya dan menciptakan bentukan-bentukan ‘perilaku baru’ yang berorientasi kuat ‘tuk lenyapkan nyawa orang lain, nyawa sesama.
* * *
Dan ikrarkan dalam pikiran, batin dan seluruh isi kalbu Anda, katakan: “Saya tak rela menjadi ayah dari seorang teroris…!”. Selanjutnya, apa yang wajib Anda lakukan untuk mencegah semua itu?. Pikirlah baik-baik dan waspadalah….!!!. Sebab anak-anak kita dalam intaian teroris yang mematikan itu

catatan Muhammad Armand freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update