Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iwan Piliang : Merebut Peluang Bisnis Korupsi

13 Agustus 2012 | 13.8.12 WIB Last Updated 2012-08-13T03:34:52Z



Aksi melegalkan bisnis kolusi, korupsi
Perjalanan hidup komunitas sosial, berbisnis, media, mengantarkan saya menemui banyak orang. Mereka dari presiden hingga gembel pengisi gerobak berarak di malam hari di emperan Manggarai, Pasar, Rumput, Jakarta Selatan. Mereka dari Ketua MPR, DPR hingga orang biasa penyapu jalan. Di kala sendiri, decak “kagum” acap mengalir spontan di mulut saya mengamati prestasi korupsi.


Telaah korupsi menjadi prestasi kalau kita memang kufur. Kekufuran mengantar hati legam-hitam tanpa malu menumpuk pundi-pundi harta dari berkolusi, dari berkorupsi. Tentu tidaklah haram menjadi kaya. Wajib kaya. Melalui kekayaan bisa berbuat banyak untuk sesama; menyediakan lapangan kerja.

Saya memberi contoh dua penguasaha positif. Pertama Delia Murwihartini, pengusaha tas di Jogja. Sejak lama ia merintis pembuatan tas dari bahan alami, dari naik sepeda mengasong lalu mengekspor untuk merek-merek ternama seperti The Sak, Gianfranco Ferre. Melalui ekspor rutin tiap tahun, ia menjadi pembayar pajak UKM terbesar di Jogja. Kini ia menunggang sedan Maserati di Jogja.

Sosok kedua, Jokowi, kini Walikota Solo, periode kedua. Saya justeru mengenal produk uasahanya terlebih dahulu, yakni furnitur dan rumah kayu. Melalui ekspor rumah kayu yang diminati dominan masyarakat Timur Tengah, pundi dolar mengalir. Menjadi walikota bagi Jokowi melayani publik, sebuah pengabdian memperbaiki kulitas peradaban; tulus, jernih.

Bandingkan dengan kenalan, kawan saya, mereka koruptor yang pernah masuk penjara. Sebutlah salah satu bernama Munap, belum lama ini keluar penjara. Sebelumnya ia duduk menjadi anggota DPR. Awal 90-an sosoknya hanyalah ikut-ikutan menjadi “pembantu” mungkin lebih tepat disebut pesuruh anak pejabat di era Orba.

Dari situ agaknya ia melihat peluang kaya raya hanyalah berkolusi dengan penguasa. Maka era reformasi, kesempatan terbuka baginya menjadi anggota DPR. Dari sanalah pundi rupiah memang akhirnya membesarkannya. Dari memiliki rumah kecil biasa, lalu membesar lebar. Bahkan kemudian punya rumah besar beberapa di antaranya di bilangan Kebayoran Baru, pemberian konglomerat yang ia “bantu” urusannya di era BPPN silam.

Tabungannya pun bukan lagi di Indonesia. Munap memiliki rekening besar di Singapura. Tiap tahun ia Umroh, Hajji. Kartu kredit platinum-nya juga keluaran bank Singapura. Mungkin agaknya, pembayaran pemakaiannya tiap bulan sudah otomatis diambilkan dari bunga deposito.

Dipenjara tak sampai dua tahun, saya mengamati kekayaan Munap tak berkurang. Di penjara pula ia acap mengadakan “pesta” kambing guling dan memiliki “ajudan” tamping.
Kawan lainnya, yang juga sepenjara dengan Munap, sebutlah Bidin, kini sudah berani memasang spanduk dengan logo partainya. Mungkin sosok seperti mereka itu, pada 2014 akan menjadi calon anggota legislatif lagi.

Jabatan memang harus direbut, kekayaan diraih serta korupsi digapai, begitu agaknya falsafah mereka.
Dari verifikasi di lapangan saya amati, bahwa korupsi itu sudah menjadi lapangan usaha baru. Bagaikan peluang usaha prima. Mengapa? Karena untung ruginya dapat dihitung dan dikalkulasikan. Makin besar korupsi, sama dengan bisnis, makin bagus performa usaha. Yield-nya tambun kali!

Maka berbisnis korupsilah yang besar. Kalkulasinya simpel; jika saja Omset Rp 200 miliar dari bisnis korupsi, dipenjara dua tahun tak akan habis Rp 50 miliar. Maka keluar penjara Anda masih untung Rp 150 miliar. Saya pastikan akan lebih banyak orang yang masuk ke bisnis korupsi di negeri Pancasila ini kelak.

Lebih sakti lagi, ada di antara pejabat yang melakoni bisnis korupsi itu, memiliki tabungan lebih dari Rp 1 triliun,menjadi pejabat vital di negeri ini. Sebutlah namanya Malanca. Malahan ia bisa bercokol di lemabaga yang mengurus lekak-lekuk pemeriksaan uang negara. Pejabat sebelumnya di mana ia pernah menjabat, malah menjadi donator banyak pendirian partai. Bahkan happy-jali di sebuah partai, acap hadir di momen sosial gerakan anti korupsi.

Melalui bisnis korupsi, bisa membeli keadilan dan segalanya, termasuk nyawa orang. Hari ini saya membaca berita satu lagi wartawan dibunuh di Aceh.

Penghujung pekan lalu, mereka yang emoh disebut koruptor tetapi memanfaatkan bisnis korupsi membeli-beli slot siaran tivi mensossialisasikan akan adabnya baik, enggan disebut koruptor namun kuat dugaan menjalani bisnis kolusi dan korupsi.

Mungkin agaknya, agar peradaban kita tidak heboh hari-hari bersengketa soal korupsi, biarkan sajalah bisnis korupsi ini menjadi line of business abadi di negeri ini.

Toh sosok seperti Munap yang tiap tahun Umroh, Hajji, bahkan rutin pengajian di rumahnya, mungkin meneruskan usahanya di bisnis kolusi dan korupsi. Mungkin pula tuhan mereka sudah merestui lapangan usaha korupsi ini. Buktinya, mereka kian happy saja. Mereka bisa membeli segalanya, termasuk kepala manusia.

catatan Iwan Piliang
×
Berita Terbaru Update