Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iwan Piliang : Banggakah Bersekolah ke NTU?

7 Agustus 2012 | 7.8.12 WIB Last Updated 2012-08-07T00:31:12Z


Sekolah menurut kamus Umum Bahasa Indonesia, bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran, menurut tingkatannya. Bersekolah saya artikan pergi menuntut ilmu ke sekolah. Kata nenek saya dulu bersekolah selain mencari kepintaran juga mengasah laku, budi, menjadi orang jujur, memahami keberadaan sebagai makhluk sosial.

Kata sekolah ingin saya kupas, setelah pekan lalu, Ketua Ikatan Alumni Nanyang Technological University, Valdy Oktafianza menemui saya. Ia menyapa saya di twitter. Ia tergelitik dengan komentar saya: mengapa pula Prabowo Subianto harus bangga tampil menjadi dosen tamu di NTU, duan pekan lalu, wong pada 2009 di NTU, David Hartanto Wijaya, mahasiswa cerdas asal Indonesia dibunuh di kampus itu.

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke NTU, Singapura, pastilah kagum akan kawasan lebih dari 100 hektar, dengan bangunan dikitari pohon rindang, hijau, segar, mancaragam tanaman hias mengeliling. Ada bangunan untuk jurusan art, atapnya sengaja berumput dan bisa diinjak dinaiki, dituruni bak bukit turun naik.

NTU memberikan: beasiswa bagi mahasiswa cerdas dari Indonesia boleh bersekolah di sana dengan mendapatkan full biaya, apartment dalam kampus, ikatan kerja selama 6 tahun. Dalam kacamata sepintas, dapat bersekolah di tempat bagus, masuk dalam dereten kampus terbaik di dunia pula, tamat di tampung kerja, bergaji dolar.

Dari sudut kacamata mahasiswa, apalagi mereka dari strata ekonomi menengah bawah, kesempatan itu bak hadiah dari surga. Namun bagi saya dari kacamata kebangsaan, kenyataan itu membuat larinya para jenius, darah segar bangsa, di saat usia puncaknya, bekerja untuk Singapura. Brain drain. Begitu mereka letih, setelah diperah otaknya, mereka pulang ke Indonesia dan atau berarak ke negara lain.

Padahal dari sudut keilmuan tak ada yang harus dibanggakan dari NTU itu. Laboratorium Computer Vission tempat tugas akhir David dibunuh, juga ada kok di ITB. Lab seperti itu menghasilkan aplikasi untuk kepentingan militer dan entertainment. Kalau di ITB, Lab Computer Vission mereka di antaranya membuat aplikasi DS MAX, pemandu rudal agar tepat sasar untuk TNI.

Namun kenyatan bisa lain. Konglomerat cukong yang berbisnis dari cere di Indonesia, lalu tambun dan pernah menyekolahkan anaknya ke NTU, seperti grup Sinar Mas, Mayapada, setiap tahun membantu NTU lebih US $ 1 Juta. Bagi mereka melakukan hal itu di Singapura, di mana salah satu pasar uang dunia, dianggap sebagai pride. Nama mereka akan disebut di kalangan pebisnis di Singapura bahkanAsia. Belakangan laku membantu NTU juga diikuti oleh kelompok Bakrie, agaknya karena pride tadi juga.

Inti soal kini mengapa darah segar bangsa diambil orang? Lalu mengapa pula berbangga ria menyokong pendidikan negara lain?
Pada tatanan inilah tampaknya tiada lain menyalahkan pengelola negara. Saya teringat bagimana sistem pendidikan di INS, Kayu Tanam, Sumatera Barat di era silam sudah mempraktekkan pelajaran umum dengan ekskul di siang hari. Siswa dikembangkan bakatnya, tanpa istilah sekolah berstandar internasional. Dari INS di antaranya lahir sosok Mochtar Loebis, novelis, pelukis, pembuat furniture presisi.

Maka ketika saya bertemu dengan alumni INS Kayu Tanam, pekan lalu, ia memaki pengelola pendidikan dan pemimpin bangsa ini dengan langgam Minang amat kasar. Katanya, (maaf) “Panteklah utak para pemimpin dan pengelola Indonesia kini.” Makian sangat kasar, Anda cek ke orang Minang.

Bagi saya makian itu sejatinya kurang kasar. Apalagi setelah jaringan indie Presstalk, melakukan verifikasi mendalam tengang dana DAK pendidikan yang terindikasi dimainkan cukong besar bernama Wimpi Ibrahim. Di belakangnya duduk para politisi, bahkan pimpinan partai yang mengaku anti korupsi, memainkan anggaran puluhan triliun tiap tahun mencetak buku-buku pelajaran.

Menurut kawan penyalur buku buku pendidikan itu di Bukittinggi, di banyak sekolah buku itu ditumpuk saja. Penyalur wajib membeli buku dari jaringan, bila tidak kejaksaan bisa memproses hukum. Indikasi cukong buku menggunakan tangan kejaksaaan demi keuntungan menyamun APBN, APBD sebanyaknya, menggila.

Kembali ke NTU, bila disimak sistem belajar dan mengajar di sana, saya menduga, semangat menjadi manusia super pintar tinggi. Tetapi semangat menjadi sosok manusia utuh yang juga menjadi bagian masyarakat sosial, memiliki kecerdasan sosial, kok ya tidak.
Maka, saya berjanji tak akan akan menyekolahkan anak saya ke NTU. Juga ke Singapura. Mengapa? Anda jawab sendiri.

Saya hanya geli, terlalu banyak cukong yang mengangkangi bangsa ini, berhimpun di Singapura, dan akhirnya negeri yang membesarkan mereka ini, hanyalah persinggahan untuk kemudian mereka “tertawai” dari Singapura. Anda akan sulit cari Wimpi Ibrahim di Indonesia, misalnya. Anda tahulah dia di mana.

Makanya pesan saya ke Valdy, Ketua Alumni NTU di Indonesia: cobalah bangkitkan setidaknya ada Merah Putih di Dada 4.000-an alumni NTU kini di Indonesia.

catatan Iwan Piliang
×
Berita Terbaru Update