Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Geng Motor Nero Hingga Brigez dan Moonraker

13 Juli 2012 | 13.7.12 WIB Last Updated 2012-07-13T00:44:50Z


PENGALAMAN DULU : Senin, 16 Juni 2008 KETIKA menulis judul motor untuk pertama pada 1 April 2008 lalu: Senin, 16 Juni 2008 KETIKA menulis judul motor untuk pertama pada 1 April 2008 lalu,saya tidak membayangkan akan
berlanjut terus menulis tajuk berjudul motor. Akan tetapi ada saja momen di mana
judul motor, laksana mata air pegunungan, terus-terusan mengalirkan ide, membuat
tangan memencet keyboard komputer untuk, lagi-lagi, kembali menulis topik motor.
Kendati sudah bagian lima, topik motor saya perkirakan akan berlanjut entah
sampai ke muara berapa.

SIANG di Gang Cinta, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Timur. Gambar video
di telepon genggam warga Pati menggemparkan. Ada seorang gadis pelajar SMP
berkaus merah diminta berdiri, mengangkat tangan kanan memberi hormat macam
tentara.

Dua remaja puteri lain, seusia SMU, menampari bergantian wajah remaja puteri
yang bekaus merah itu. Ia harus memberi hormat kepada anggota Genk Nero.
Tamparan terus dilakukan, tanpa peduli bahwa jalan tempat adegan kekerasan itu
berjudul Gang Cinta – - kata yang berkait ke laku kasih sayang.

Adegan kekerasan itu kental sekali mengingatkan saya kepada pemukulan senior
kepada yunior di STPDN, Jatinangor, Jawa Barat, yang beritanya hangat setahun
silam.

Pada rekaman video yang lain, seorang remaja puteri di sebuah jalan. Ia
dikeroyok oleh empat remaja puteri lainnya. Sosok remaja yang dipukuli itu,
sampai harus tersungkur, terjungkal ke aspal jalan. Dia rebah, dipukuli,
ditendang.

Salah seorang menjambak rambut.

Adegan tarik-menarik rambut dengan salah satu pemukul. Tendangan terus mengayun.
Beberapa orang tampak berdiri menonton, terlihat dari beberapa pasang kaki yang
tampak di kamera. Mereka menyimak seru adegan laksana gulat di sebuah ring itu.
ada teriakan pukul, pukul dan pukul.

Dari penelusuran di internet, saya mendapatkan berita bahwa dua dua orang siswa
kelas dua sebuah SMP di Juwana, Elia , 14 tahun dan Widyawati, 14 tahun, kepada
wartawan mengaku pernah menjadi korban aksi perpeloncoan yang dilakukan anggota
Geng Nero.

Diungkapkan Widyawati, aksi itu ia alami sudah beberapa hari lalu. Saat itu,
lanjutnya, ia diajak dengan setengah paksa oleh empat orang temannya yang
menjadi anggota Geng Nero.
”Saya diajak ke Ujung (nama sebuah jalan yang lokasinya dekat dengan areal
pertambakan di Desa Bajomulyo, Juwana). Sampai di sana saya sempat ditanya
beberapa hal, kemudian saya ditampar berulang kali,” katanya.

Widya menambahkan, dirinya tidak berani melawan karena ia menghadapi empat orang
yang usainya lebih tua dari dirinya.
”Saya tidak berani karena sedang sendirian saat itu,” ujarnya.

Pasal perpeloncoan siswi itu, hanya urusan ringan. Jika ada siswi yang
berpakaian, bergaya rambut, bersikap macam anak-anak Geng Nero, bisa dipastikan
anak pengekor gaya dan tabiat itu akan dihajar oleh anak Geng Nero. “Upacara”
menghajar itu mereka rekam dengan kamera hand phone. Rekaman itulah kini yang
beredar di masyarakat, bahkan seperti saya saksikan, diputar di Liputan 6 Petang
SCTV, Minggu 15 Juni 2008.

Berdasarkan laporan warga masyarakat dan rekaman yang beredar itu, polisi
memburu para anggota geng tersebut. Empat orang di antara enam anggota geng itu
berhasil diringkus.

Seorang anggota geng , RT, mengaku melakukan penganiayaan karena ada masalah
dengan korban. Lantas, dia menceritakan kepada ketiga rekannya sesama anggota
Geng Nero.

Atas cerita itulah, mereka lantas menghajar korban. Namun, RT tidak menjelaskan
apa masalahnya dengan korban.
Pelaku menjelaskan, rekaman video dibuat sekitar April lalu di Gang Cinta. Dalam
aksi itu, RT mengaku tidak ikut memukuli korban. Yang menampar ialah TK dan YN.

Keempat anggota geng tersebut tidak ingat berapa kali melakukan perbuatan
serupa. Mereka juga tidak ingat lagi siapa saja yang menjadi korban. Mereka juga
menolak menyebutkan pimpinan geng.

Menurut Kapolres Pati AKBP Hilman Thayib melalui Kasatreskrim AKP Sulkhan,
anggota Geng Nero enam orang. ”Saat ini hanya tinggal empat orang. Dua orang
lainnya sudah pindah, ke Bali dan Jogjakarta.”

Geng Nero tersebut dibentuk saat mereka duduk di bangku SMP. Meski telah
berkurang dua orang, geng itu tetap beraksi. Namun, baru empat orang korban yang
berani melapor polisi. Dan, hingga kemarin, polisi masih memeriksa saksi guna
penyelidikan lebih lanjut.

Atas perbuatan itu, pelaku akan dikenakan pasal 170 KUHP tentang Kekerasan.
Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara.

H Jamari, anggota komite sekolah di Kecamatan Juwana dan Batangan menjelaskan,
nama Geng Nero bukan tanpa arti. Nero berasal dari kata neka-neka dikeroyok
(macam-macam dikeroyok). Ketika ada pelajar puteri yang dianggap macam-macam
oleh geng tersebut, mereka tak segan menculik dan menganiaya.

Menurut dia, pihak sekolah mengetahui kasus itu sekitar sebulan terakhir. ”Pihak
sekolah sudah memanggil orang tua para anggota Geng Nero,” jelas Jamari.

PADA Agustus 2007, Polresta Bandung Tengah, Jawa Barat, pernah menyampaikan
publikasi perekrutan anggota geng motor Bandung yang diwarnai aksi-aksi
kekerasan. Dalam perekrutannya, anggota senior geng motor kerap melakukan
tindakan kekerasan terhadap calon anggota.

Calon anggota geng motor juga kerap terlibat baku pukul hingga babak belur.
Bahkan, pada pertengahan Oktober 2007 seorang anggota tewas akibat tindakan
kekerasan. Polresta Bandung Tengah sudah menangkap menangkap lima orang pelaku
pembunuhan keji tersebut. Sejumlah anggota geng motor yang kerap meresahkan
warga sekitar juga sudah ditangkap.

Di Bandung setidaknya kini ada empat geng motor: Excalt to Coitus (XTC),
Brigadir Seven (Briges), Moonraker, dan Grab on the Road (GBR).

Salah seorang anggota geng motor Bandung itu pernah merusak kendaraan roda dua
warga dan swalayan di Cihampelas, Bandung, Jawa Barat. Meski dua kali
tertangkap, sang pelaku mengaku tidak menyesal.

Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung juga menangkap tujuh anggota geng motor
lainnya. Mereka dibekuk saat tengah berkelahi sesama geng di Jalan M. Toha,
Bandung. Polisi memanggil orangtua mereka dan mengharuskan semua anggota geng
ini wajib lapor.

Ketujuh pelaku terancam sembilan bulan penjara karena berniat melakukan tindak
kejahatan serta menganggu orang lain. Polisi berjanji menindak dan tidak memberi
toleransi pada para pelaku meski diprotes karena kebanyakan anggota geng motor
di bawah umur.

Polwiltabes Bandung mempertontonkan video ritual penerimaan anggota baru geng
motor, Brigez. Dalam rekaman tampak prosesi penerimaan anggota baru Brigez
dimulai dengan memberi pukulan dan tendangan. Ritual diadakan dalam hutan di
Gunung Puntang, Bandung.

Acara penerimaan tidak berhenti sampai di situ. Calon anggota baru lantas
bertelanjang dada dan kaki sebab tugas baru telah menunggu. Mereka harus
berkelahi satu sama lain. Usai berkelahi, mereka kemudian direndam beberapa saat
di sebuah sungai.

Cara-cara yang dipakai ini jelas menunjukkan tindak kekerasan dekat dengan
mereka. Apabila terhadap anggota sendiri mereka berani melakukannya apalagi
kepada orang lain. Sejak dua tahun terakhir, aksi beberapa geng motor di Bandung
meresahkan warga

Selain persaingan di antara sesama anggota geng yang seringkali berujung
bentrokan fisik, kerap kali anggota geng motor tersebut mengganggu warga lain di
jalanan. Di antaranya menjarah barang hingga membunuh orang.

ACAP saya perhatikan di seputar lingkungan rumah kami. Khususnya di setiap Sabtu
dan Minggu petang. Segerombolan anak-anak sebaya SMU dan SMP, tanpa memakai
helm, berkelompok berputar-putar naik motor di ruas jalan Guntur, Jakarta
Selatan. Mereka seakan cuek kepada sekitar, bahwa jalanan itu milik umum.

Mereka memborong ruas jalan. Tidak ada yang menegur. Padahal di pojok jalan, ada
markas Polisi Militer (PM). Pengendara motor “norak” itu seakan raja jalanan.

Beberapa tampak bergaya seronok. Sosok remaja puteri di usia SMP, bercelana
jeans ketat dengan pinggang menggantung. Dari jauh tampak belahan, maaf,
pantatnya. Deru motor, suara riuh sesama pengandara dengan boncengannya, menjadi
adegan rutin saya akhir pekan kini.

Ketika berita geng motor Nero di Pati, Jawa Timur, itu kini membuncah, ingatan
saya kian lekat kepada kelompok anak-anak muda bermotor yang melanggar total
aturan berlalulintas dekat pemukiman kami itu. Melihat gayanya, bukan berarti
laku kekerasan juga akan jauh dari mereka.

Di Liputan 6 SCTV, Seto Mulyadi mengatakan alasannya. “Bisa jadi orang tua mulai
sangat sibuk dengan urusan keseharian, sehingga kurang memberikan perhatian
kepada anak-anaknya,” ujarnya. Anak-anak ingin mendapatkan lebih perhatian dari
bergaya di komunitasnya, termasuk melakukan kekerasan untuk sesama.

Saya tak menyalahkan para remaja itu. Saya akan tetap menyalahkan trias
politika, pemimpin, yang ada di bangsa ini. Karena mereka menempatkan segalanya
yang paling mulia adalah uang; yang paling berharga adalah harta, yang paling
berharga adalah mobil. Maka masyarakat yang di bawah pun demikian. Mereka yang
cuma sekadar bisa naik motor ingin menunjukkan jati diri lebih agul. Orang
kampung saya menyebut keadaan demikian bergaya ongeh.

Keongehan seakan membuat seseorang halal berbuat dan melampiaskan segalanya.

Contoh berlaku kasar, menginjak hak sesama sehari-hari, bahkan dipertontonkan
oleh masyarakat yang seharusnya memberi tauladan.

Lihat saja laku penegak hukum di semua lini kini dapat kita nikmati macam
rekaman dialog antara Artalyta Suryani dan kalangan Jaksa di Kejagung itu.
Selama tauladan yang di atas sana menginjak-injak rasa keadilan yang hakiki,
jangan berharap laku norak di kalangan masyarakat kian berkurang.

Jika selamanya bangsa ini tidak memberi nilai kepada sisi intangible, macam
memberikan perhatian pendidikan musik, melukis, menari,memahat dan seterusnya,
maka Geng Nero dan Brigez yang sangar itu, bahkan akan muncul yang lebih kejam
lagi akan terus terjadi. Indikasinya saya jamin akan meninggi.

Di tengah semua elemen bangsa kini memang menempatkan sisi tangible, seperti
uang di atas segalanya. Bahkan menempatkan uang di atas nilai hati nurani, maka
selama materi yang terus diagungkan itu pula – - termasuk mendapatkannya dengan
menghalalkan semua cara – - selama itu pula geng “rusak” lain akan bertambah
dalam kehidupan kita.

Jadi, mohon maaf Kak Seto Mulyadi, perihal laku geng motor beringas ini, bukan
ihwal perhatian orang tua, tetapi fakta: peradaban bangsa Indonesia terdegradasi
oleh laku pemimpin yang tidak memberi tauladan kebaikan.. saya tidak membayangkan akan
berlanjut terus menulis tajuk berjudul motor. Akan tetapi ada saja momen di mana
judul motor, laksana mata air pegunungan, terus-terusan mengalirkan ide, membuat
tangan memencet keyboard komputer untuk, lagi-lagi, kembali menulis topik motor.
Kendati sudah bagian lima, topik motor saya perkirakan akan berlanjut entah
sampai ke muara berapa.

SIANG di Gang Cinta, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Timur. Gambar video
di telepon genggam warga Pati menggemparkan. Ada seorang gadis pelajar SMP
berkaus merah diminta berdiri, mengangkat tangan kanan memberi hormat macam
tentara.

Dua remaja puteri lain, seusia SMU, menampari bergantian wajah remaja puteri
yang bekaus merah itu. Ia harus memberi hormat kepada anggota Genk Nero.
Tamparan terus dilakukan, tanpa peduli bahwa jalan tempat adegan kekerasan itu
berjudul Gang Cinta – - kata yang berkait ke laku kasih sayang.

Adegan kekerasan itu kental sekali mengingatkan saya kepada pemukulan senior
kepada yunior di STPDN, Jatinangor, Jawa Barat, yang beritanya hangat setahun
silam.

Pada rekaman video yang lain, seorang remaja puteri di sebuah jalan. Ia
dikeroyok oleh empat remaja puteri lainnya. Sosok remaja yang dipukuli itu,
sampai harus tersungkur, terjungkal ke aspal jalan. Dia rebah, dipukuli,
ditendang.

Salah seorang menjambak rambut.

Adegan tarik-menarik rambut dengan salah satu pemukul. Tendangan terus mengayun.
Beberapa orang tampak berdiri menonton, terlihat dari beberapa pasang kaki yang
tampak di kamera. Mereka menyimak seru adegan laksana gulat di sebuah ring itu.
ada teriakan pukul, pukul dan pukul.

Dari penelusuran di internet, saya mendapatkan berita bahwa dua dua orang siswa
kelas dua sebuah SMP di Juwana, Elia , 14 tahun dan Widyawati, 14 tahun, kepada
wartawan mengaku pernah menjadi korban aksi perpeloncoan yang dilakukan anggota
Geng Nero.

Diungkapkan Widyawati, aksi itu ia alami sudah beberapa hari lalu. Saat itu,
lanjutnya, ia diajak dengan setengah paksa oleh empat orang temannya yang
menjadi anggota Geng Nero.
”Saya diajak ke Ujung (nama sebuah jalan yang lokasinya dekat dengan areal
pertambakan di Desa Bajomulyo, Juwana). Sampai di sana saya sempat ditanya
beberapa hal, kemudian saya ditampar berulang kali,” katanya.

Widya menambahkan, dirinya tidak berani melawan karena ia menghadapi empat orang
yang usainya lebih tua dari dirinya.
”Saya tidak berani karena sedang sendirian saat itu,” ujarnya.

Pasal perpeloncoan siswi itu, hanya urusan ringan. Jika ada siswi yang
berpakaian, bergaya rambut, bersikap macam anak-anak Geng Nero, bisa dipastikan
anak pengekor gaya dan tabiat itu akan dihajar oleh anak Geng Nero. “Upacara”
menghajar itu mereka rekam dengan kamera hand phone. Rekaman itulah kini yang
beredar di masyarakat, bahkan seperti saya saksikan, diputar di Liputan 6 Petang
SCTV, Minggu 15 Juni 2008.

Berdasarkan laporan warga masyarakat dan rekaman yang beredar itu, polisi
memburu para anggota geng tersebut. Empat orang di antara enam anggota geng itu
berhasil diringkus.

Seorang anggota geng , RT, mengaku melakukan penganiayaan karena ada masalah
dengan korban. Lantas, dia menceritakan kepada ketiga rekannya sesama anggota
Geng Nero.

Atas cerita itulah, mereka lantas menghajar korban. Namun, RT tidak menjelaskan
apa masalahnya dengan korban.
Pelaku menjelaskan, rekaman video dibuat sekitar April lalu di Gang Cinta. Dalam
aksi itu, RT mengaku tidak ikut memukuli korban. Yang menampar ialah TK dan YN.

Keempat anggota geng tersebut tidak ingat berapa kali melakukan perbuatan
serupa. Mereka juga tidak ingat lagi siapa saja yang menjadi korban. Mereka juga
menolak menyebutkan pimpinan geng.

Menurut Kapolres Pati AKBP Hilman Thayib melalui Kasatreskrim AKP Sulkhan,
anggota Geng Nero enam orang. ”Saat ini hanya tinggal empat orang. Dua orang
lainnya sudah pindah, ke Bali dan Jogjakarta.”

Geng Nero tersebut dibentuk saat mereka duduk di bangku SMP. Meski telah
berkurang dua orang, geng itu tetap beraksi. Namun, baru empat orang korban yang
berani melapor polisi. Dan, hingga kemarin, polisi masih memeriksa saksi guna
penyelidikan lebih lanjut.

Atas perbuatan itu, pelaku akan dikenakan pasal 170 KUHP tentang Kekerasan.
Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara.

H Jamari, anggota komite sekolah di Kecamatan Juwana dan Batangan menjelaskan,
nama Geng Nero bukan tanpa arti. Nero berasal dari kata neka-neka dikeroyok
(macam-macam dikeroyok). Ketika ada pelajar puteri yang dianggap macam-macam
oleh geng tersebut, mereka tak segan menculik dan menganiaya.

Menurut dia, pihak sekolah mengetahui kasus itu sekitar sebulan terakhir. ”Pihak
sekolah sudah memanggil orang tua para anggota Geng Nero,” jelas Jamari.

PADA Agustus 2007, Polresta Bandung Tengah, Jawa Barat, pernah menyampaikan
publikasi perekrutan anggota geng motor Bandung yang diwarnai aksi-aksi
kekerasan. Dalam perekrutannya, anggota senior geng motor kerap melakukan
tindakan kekerasan terhadap calon anggota.

Calon anggota geng motor juga kerap terlibat baku pukul hingga babak belur.
Bahkan, pada pertengahan Oktober 2007 seorang anggota tewas akibat tindakan
kekerasan. Polresta Bandung Tengah sudah menangkap menangkap lima orang pelaku
pembunuhan keji tersebut. Sejumlah anggota geng motor yang kerap meresahkan
warga sekitar juga sudah ditangkap.

Di Bandung setidaknya kini ada empat geng motor: Excalt to Coitus (XTC),
Brigadir Seven (Briges), Moonraker, dan Grab on the Road (GBR).

Salah seorang anggota geng motor Bandung itu pernah merusak kendaraan roda dua
warga dan swalayan di Cihampelas, Bandung, Jawa Barat. Meski dua kali
tertangkap, sang pelaku mengaku tidak menyesal.

Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung juga menangkap tujuh anggota geng motor
lainnya. Mereka dibekuk saat tengah berkelahi sesama geng di Jalan M. Toha,
Bandung. Polisi memanggil orangtua mereka dan mengharuskan semua anggota geng
ini wajib lapor.

Ketujuh pelaku terancam sembilan bulan penjara karena berniat melakukan tindak
kejahatan serta menganggu orang lain. Polisi berjanji menindak dan tidak memberi
toleransi pada para pelaku meski diprotes karena kebanyakan anggota geng motor
di bawah umur.

Polwiltabes Bandung mempertontonkan video ritual penerimaan anggota baru geng
motor, Brigez. Dalam rekaman tampak prosesi penerimaan anggota baru Brigez
dimulai dengan memberi pukulan dan tendangan. Ritual diadakan dalam hutan di
Gunung Puntang, Bandung.

Acara penerimaan tidak berhenti sampai di situ. Calon anggota baru lantas
bertelanjang dada dan kaki sebab tugas baru telah menunggu. Mereka harus
berkelahi satu sama lain. Usai berkelahi, mereka kemudian direndam beberapa saat
di sebuah sungai.

Cara-cara yang dipakai ini jelas menunjukkan tindak kekerasan dekat dengan
mereka. Apabila terhadap anggota sendiri mereka berani melakukannya apalagi
kepada orang lain. Sejak dua tahun terakhir, aksi beberapa geng motor di Bandung
meresahkan warga

Selain persaingan di antara sesama anggota geng yang seringkali berujung
bentrokan fisik, kerap kali anggota geng motor tersebut mengganggu warga lain di
jalanan. Di antaranya menjarah barang hingga membunuh orang.

ACAP saya perhatikan di seputar lingkungan rumah kami. Khususnya di setiap Sabtu
dan Minggu petang. Segerombolan anak-anak sebaya SMU dan SMP, tanpa memakai
helm, berkelompok berputar-putar naik motor di ruas jalan Guntur, Jakarta
Selatan. Mereka seakan cuek kepada sekitar, bahwa jalanan itu milik umum.

Mereka memborong ruas jalan. Tidak ada yang menegur. Padahal di pojok jalan, ada
markas Polisi Militer (PM). Pengendara motor “norak” itu seakan raja jalanan.

Beberapa tampak bergaya seronok. Sosok remaja puteri di usia SMP, bercelana
jeans ketat dengan pinggang menggantung. Dari jauh tampak belahan, maaf,
pantatnya. Deru motor, suara riuh sesama pengandara dengan boncengannya, menjadi
adegan rutin saya akhir pekan kini.

Ketika berita geng motor Nero di Pati, Jawa Timur, itu kini membuncah, ingatan
saya kian lekat kepada kelompok anak-anak muda bermotor yang melanggar total
aturan berlalulintas dekat pemukiman kami itu. Melihat gayanya, bukan berarti
laku kekerasan juga akan jauh dari mereka.

Di Liputan 6 SCTV, Seto Mulyadi mengatakan alasannya. “Bisa jadi orang tua mulai
sangat sibuk dengan urusan keseharian, sehingga kurang memberikan perhatian
kepada anak-anaknya,” ujarnya. Anak-anak ingin mendapatkan lebih perhatian dari
bergaya di komunitasnya, termasuk melakukan kekerasan untuk sesama.

Saya tak menyalahkan para remaja itu. Saya akan tetap menyalahkan trias
politika, pemimpin, yang ada di bangsa ini. Karena mereka menempatkan segalanya
yang paling mulia adalah uang; yang paling berharga adalah harta, yang paling
berharga adalah mobil. Maka masyarakat yang di bawah pun demikian. Mereka yang
cuma sekadar bisa naik motor ingin menunjukkan jati diri lebih agul. Orang
kampung saya menyebut keadaan demikian bergaya ongeh.

Keongehan seakan membuat seseorang halal berbuat dan melampiaskan segalanya.

Contoh berlaku kasar, menginjak hak sesama sehari-hari, bahkan dipertontonkan
oleh masyarakat yang seharusnya memberi tauladan.

Lihat saja laku penegak hukum di semua lini kini dapat kita nikmati macam
rekaman dialog antara Artalyta Suryani dan kalangan Jaksa di Kejagung itu.
Selama tauladan yang di atas sana menginjak-injak rasa keadilan yang hakiki,
jangan berharap laku norak di kalangan masyarakat kian berkurang.

Jika selamanya bangsa ini tidak memberi nilai kepada sisi intangible, macam
memberikan perhatian pendidikan musik, melukis, menari,memahat dan seterusnya,
maka Geng Nero dan Brigez yang sangar itu, bahkan akan muncul yang lebih kejam
lagi akan terus terjadi. Indikasinya saya jamin akan meninggi.

Di tengah semua elemen bangsa kini memang menempatkan sisi tangible, seperti
uang di atas segalanya. Bahkan menempatkan uang di atas nilai hati nurani, maka
selama materi yang terus diagungkan itu pula – - termasuk mendapatkannya dengan
menghalalkan semua cara – - selama itu pula geng “rusak” lain akan bertambah
dalam kehidupan kita.

Jadi, mohon maaf Kak Seto Mulyadi, perihal laku geng motor beringas ini, bukan
ihwal perhatian orang tua, tetapi fakta: peradaban bangsa Indonesia terdegradasi
oleh laku pemimpin yang tidak memberi tauladan kebaikan.

catatan Iwan Piliang The Indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update