Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

acuan rating televisi = penjajahan peradaban

13 Juli 2012 | 13.7.12 WIB Last Updated 2012-07-13T00:54:41Z

Bila acuan seluruh program televisi adalah rating, DAN MEMANG INI YANG
DIJADIKAN ALAT JUALAN
, maka kita nikmatilah program televisi asal. Asal laku.
Asal banyak pemirsa. Asal untung dan asal-asalan lainnya. Termasuk kita tidak
lagi dimotivasi oleh program televisi, yang misalnya, bisa membuat tertawa
karena kejeniusan, sebaliknya melulu menertawakan kebodohan, kebengak-an.
Sudah tak terhitung ranah privasi yang diumbar di televisi swasta yang tidak
memberi plus poin kepada peradaban. Sudah tak terhingga opera sabun murahan jadi
tontonan. Minim credential asset (warisan budaya bernilai ekonomi) yang
disuguhkan, yang merangsang masyarakat untuk berkarya produktif tampil di
televisi – - bahkan lebih gila, kenyataan peran-peran ini misalnya seolah
dibuang saja menjadi tanggung jawab televisi komunitas, atau publik. 


Televisi Swasta, biarlah dengan be-rating ria – - tinggal kita belum saja lagi menyimak
di dini hari film bugil-bugilan, toh arah ke sana sudah mulai dengan
jepret-jepretan model syur, plus game-game kegenitan dengan pembawa acara
menonjolkan buah dada dan paha.

Karena acuan rating, tidak pernah ada program yang ditentukan sendiri, untuk
jati diri sendiri, yang juga bisa menjaring penonton, karena sesungguhnya bisa
dipatok oleh produser. Kreatifitas insan televisi seakan dodongoi, bahwa ente
bikin yang, lagi-lagi kudu ber-acuan rating.

Televisi adalah medium visual yang paling banyak memuat simbol komunikasi;
mulai dari warna, garis, gerak-gerik, suara, computer graphic imagery (cgi), dan
seterusnya. Secara psikologi komunikasi, televisi menyentuh ranah publik, yang
memang merasuk hingga ke sisi dalam rumah tangga pemirsa.

Karena semuanya berkiblat rating, kini hilanglah kesadaran berbangsa dan
bernegara, bahwa ranah publik, ranah privasi keluarga yang punya harapan untuk
juga dicerdaskan, seakan “diperkosa”, “dibodohkan” oleh televisi.

Saya mera kita kian tak beradab rasanya bila membandingkan program televisi
kita dengan program EUROMAX, dari stasiun DW-TV, Jerman. Program 30 menit yang
mengetengahkan gaya hidup, budaya, seni dan kreatifitas itu, bila bandingkan
dengan program televisi lokal, duh, bangsaku?!

Bila mengacu bahwa indikasi penjajahan terhadap negeri ini memang maksi secara
ekonomi, di luar dugaan, penjahan peradaban telah berlangsung lama melalui
televisi swasta kita. Sulit memang untuk bertanya nurani kepada pemilik televisi
di negeri ini, sebab kebanyakan mereka, memang telah menjadi KAMPIUN,
tangan-tangan pejajah.

catatan iwan piliang the indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update