Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BELAJAR KEHIDUPAN PADA LELAKI TUA PENGRAJIN KURSI BAMBU

6 Juli 2012 | 6.7.12 WIB Last Updated 2012-07-06T19:47:23Z
13259018931619334314

Jogging dan jalan-jalan pagi sudah jadi menu pembuka hariku, setelah Subuh dan menghirup secangkir kopi hangat. Perumahanku yang terletak di atas bukit dan jalananannya ditumbuhi pohon-pohon palem dan aneka pepohonan lainnya, cocok untuk berolahraga pagi, oksigennya benar-benar segar dan belum terkontaminasi. Khusus Sabtu dan Minggu, rute jogging di perpanjang sampai ke area jogging track sekitar 2 km dari komplek perumahanku. Biasanya aku menghabiskan waktu sekitar 2 jam kalau weekend. Hari biasa cukup 30-45 saja agar tak terlalu letih saat ke kantor.

Pagi ini cuaca cerah, langit bersih dan anginnya semilir, sejuk sekali, harmoni yang pas untuk mengisi paru-paru dengan udara bersih. Aku sudah berniat menghabiskan 2 jam berolahraga, menebus hari-haru kemarin yang terkadang terpaksa libur gara-gara cuaca tak bersahabat. Tapi belum sampai 20 menit, aku berpapasan dengan seorang lelaki tua memikul amben bambu. Anda tahu amben? Itu lho, semacam dipan dari bambu, biasanya di kampung dijadikan tempat duduk atau tiduran. Mungkin keberadaannya belakangan sudah langka, tergusur mebel jaman sekarang dari plastik atau bahan lain yang modelnya minimalis.

13259022241828977395
amben bambu buatan pengrajin asal Bojonegare

Aku menepi dan menghampiri Pak Tua itu. Dia orang kedua yang kutemui memikul amben. Sekitar 3 minggu lalu aku juga berjumpa penjual amben yang memikul 3 buah amben di pundaknya. Hanya saja laki-laki yang kutemui 3 minggu lalu usianya masih muda, awal 30-an lah. Dia memakai baju dan beralas kaki, jalannya pun masih cukup tegap meski 3 buah amben dipundaknya tak bisa dibilang ringan. Tapi Pak Tua yang kutemui kali ini lebih mengundang rasa iba. Tubuhnya kecil, sekitar 150-an cm, kurus, hanya memakai kaos singlet belel dan celana pendek, tanpa alas kaki. Sayajadi ingat 1000 sandal yang dikirim ke Kapolri.

Segera saja aku bisa melihat pundaknya yang merah melepuh dan kapalan. Pastilah amben-amben itu telah melukai pundaknya. Kutanya berapa harga ambennya. Sebuah amben Rp. 60.000,- sedang kursi malasnya Rp. 75.000,-. Aku berpikir sejenak. Bukan harganya, tapi akan kutaruh dimana kursi malas ini jika kubeli. Rumahku tidak terlalu luas dan sudah penuh disesaki perabotku. 3 minggu lalu aku membeli sebuah amben tanpa pikir panjang dan akhirnya kuletakkan di dapur. Ah, biarlah, nanti kupikirkan belakangan soal akan ditaruh dimana.

Aku membatalkan acara jalan sehatku, kuajak Pak Tua itu ke rumah. Sepanjang jalan kuwawancara dia. Namanya Satiri, umurnya 60-an tahun. Kurasa dia juga tak tahu betul berapa usianya. Keempat anaknya sudah mandiri dan hidup masing-masing. Kutanya asalnya, dia bilang dari Bojonegare, sebuah dusun beberapa kilometer dari kota Cilegon. Lelaki muda penjual amben 3 minggu lalu pun asalnya dari Bojonegare. Kutanya jam berapa dia berangkat dari rumah. Jam 3 dini hari, jawabnya. Sama dengan penjual amben yang lalu, Pak Tua ini pun merakit sendiri amben dan kursi malas dagangannya. Hanya saja bambunya masih harus dibeli. Kalau sudah jadi beberapa buah, dipikulnya ke kota, berkeliling berharap ada pembeli. 

Syukurlah, meski termasuk perabot langka, selalu ada saja pembelinya. Sekali berkeliling ia membawa 3 buah barang dan katanya pasti laku meski tak selalu habis. Syukurlah kalau begitu. Tuhan memang Maha Adil, Maha Pemurah. DIA selalu menjamin rejeki-Nya mengalir bagi siapa pun yang masih mau berusaha. Tuhan tentu tak akan membiarkan jerih payah Pak Satiri dan rekan-rekannya terbengkalai begitu saja.

1325902388208932066
kursi malas bambu rakitan tangan Pak Satiri
Sampai di rumah, kuminta Pak Satiri meletakkan sebuah kursi malasnya di bawah tangga naik ke lantai 2, di samping ruang tamu. Lalu kuajak Pak Satiri sarapan. Dia tampak lahap menikmati sepiring nasi plus daging empal dan sambal goreng tempe. Usai makan dia langsung pamit meneruskan memikul 2 barang dagangannya. Saat Ibuku menawarkan sebotol air putih untuk bekal minumnya di jalan, Pak Satiri menolak. Dia sudah merasa kami berlebihan dengan memberinya makan. Penjual amben yang kubeli 3 minggu lalu bahkan menolak keras ketika kuajak sarapan. Dia berdalih sudah makan sebelum berangkat dari rumahnya. Aku tahu dia bohong, tapi aku tak ingin memaksanya, kuhargai keinginannya untuk menjaga harga dirinya dari terlalu banyak menerima pertolongan orang lain. Lelaki muda itu hanya mau menerima segelas air mineral saja, tidak lebih!

Setelah Pak Satiri pulang, aku menggosok-gosok kursi malas yang baru kubeli. Bambunya cukup bagus, bambu hitam tua, bukan bambu muda yang rapuh. Rakitannya lebih kuat dan rautan bambunya lebih halus. Pantas saja harganya sedikit lebih “mahal” ketimbang harga yang ditawarkan pedagang amben 3 minggu lalu. Kubayangkan proses yang harus dilalui sebelum barang itu nangkring di rumahku. Pak Satiri dan para pengrajin amben bambu lainnya harus memotong bambu dengan cermat, meraut dan menghaluskannya agar tak melukai kulit, lalu merangkainya menjadi amben atau kursi. 

Entah berapa hari dibutuhkan untuk membuat 3-4 barang, lalu dipikul ke kota untuk dijual. Dan untuk semua upaya tak mudah itu, mereka hanya mematok harga Rp. 50.000,- sampai Rp. 75.000,-saja! Ketika 3 minggu lalu aku terbelalak saat lelaki muda penjual amben menyebutkan angka 50 ribu, dia langsung menyela : “Mbak boleh tawar berapa aja, nanti kalo sudah cocok harganya saya anterin ke rumah Mbak. Gapapa juga biar rumah Mbak di atas” (di atas bukit maksudnya). Padahal aku terbelalak bukan karena 50 ribu kemahalan, tapi aku tak menyangka dia bisa menjual 50 ribu untuk hasil tangannya sendiri dan beratnya bahu memikul. Mana mungkin aku tega menawar?!

1325902566439831280
kursi malas buatan toko mebel yang harganya hampir sejuta rupiah per buah
Kemarin aku menulis tentang kecerdikan DPR mencari cara agar kenyamanan mereka tetap terjamin. Mesin cuci dan laptop yang harganya luar biasa mahal, renovasi toilet 2 milyar, pembuatan parkiran motor 3 milyar, pengadaan mesin absensi sidik jari yang tidak masuk akal sampai 4 milyar. Alangkah naifnya amben dan kursi malas bikinan Pak Satiri dan tetangganya jika dijajarkan dengan semua barang milik para wakil rakyat. 

Pak Satiri dan rekan seprofesinya tak enak hati ketika ada yang menawarkan makan dan minum. Mereka malu kalau harus menerima lebih dari sekedar uang pembayar barang yang mereka jual. Aku yakin, Pak Satiri mau diajak sarapan hanya karena perutnya sudah benar-benar lapar dan mungkin saja nyaris tak kuat lagi memikul amben dan kursi dagangannya. Sedang anggota DPR, tiap bulan mereka sudah mengantongi hampir 50 juta dari gaji dan berbagai tunjangan. Dan untuk semua yang mereka terima, masih saja tidak malu untuk menuntut fasilitas super mewah lainnya yang tidak perlu dan bisa mereka beli dari kantong pribadi.

Pak Satiri, terima kasih banyak untuk semua pelajaran ketekunan dan kegigihan yang sudah diajarkan pagi ini. Aku malu pada diri sendiri kalau masih mengeluh soal beratnya pekerjaan di kantor dan gaji yang gak naik-naik. Pak Satiri katanya sudah berpuluh-puluh tahun membuat amben dan kursi,memikulnya dan menjual dengan harga sesuai penawaran pembeli. Pak Satiri bisa saja menaikkan harga, tapi bukankah ia terpaksa kompromi ketika pembeli menawar? Dari pada tak laku, orang semacam Pak Satiri lebih memilih meloloskan tawaran pembeli, asal ada uang yang bisa di bawa pulang untuk istrinya.

Kalau saja semua barangnya laku, paling banyak Pak Satiri akan mengantongi uang 150 – 200 ribu. Dengan uang itu ia akan membeli bambu lagi dan tali, lalu mulai merakit amben dan kursi. Dengan sisa uang pembeli bambu, Pak Satiri bertahan hidup beberapa hari. Bisa saja sampai seminggu, cuaca yang sering hujan begini tentu berpengaruh pada pekerjaan Pak Satiri. Anggap saja uang yang tersisai 100 ribu dan itu harus cukup untuk seminggu sampai ia bisa menghasilkan barang lagi dan menjualnya. 

Orang seperti Pak Satiri tak bisa protes dan berdemo minta kenaikan upah atau kenaikan harga jual. Pak Satiri juga tak terlindungi asuransi kalau sewaktu-waktu ia ketabrak mobil di jalan. Maklum, berjalan sambil memikul barang seberat dan sebesar itu, bisa membuat pandangan mata terhalang. Yah, orang semacam Pak Satiri benar-benar bekerja mandiri, makan dari keringatnya sendiri, tak bisa mengeluh dan protes, tak bisa meminta perlindungan dari kecelakaan kerja. Semua resiko ada di tangannya. Dan tentu Tuhan menghitung jerih payah Pak Satiri. 

Itulah ibadah riil dan dijamin rejeki yang diperolehnya halal.
Pak Satiri dan orang sekampungnya yang punya profesi sama, tentu jauh lebih mulia ketimbang mereka yang duduk manis di Senayan, berpura-pura memperjuangkan nasib rakyat yang diwakilinya, padahal sejatinya cuma memboroskan uang rakyat. Kalau saja mereka bertemu Pak Satiri, kira-kira apa mereka malu ya? Pak Satiri, selamat berjuang, semoga hari ini semua dagangannya laku, agar tak sia-sia pundaknya melepuh. Semoga hari ini cuaca bersahabat denganmu Pak. Hati-hati di jalan, sebab kalau Pak Satiri celaka, Pak Polisi tak akan berpihak padamu. Semoga Allah melindungi Pak Satiri dan memberkahi rejekinya. Amin…

13259026601779401356
Pak Satiri, terus berjalan meski kaki terluka, terus memikul meski bahu melepuh

CATATAN IRA OEMAR FREEDOM WRITERS KOMPASIANER
×
Berita Terbaru Update