Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Belajar Dari Gandhi

26 Juli 2012 | 26.7.12 WIB Last Updated 2012-07-25T19:06:54Z




Kita tahu Bapak India itu seorang Hindu, dan mempraktikan ajaran-ajaran
Hindu sepanjang hayatnya. Tetapi beliau tidak hanya mencintai umat Hindu
saja. Beliau juga mecintai kaum muslimin, umat Kristiani, Yahudi, Budha,
Zoroaster atau bahkan yang tidak beragama. Bahkan beliau tidak
beranggapan bahwa Hindu adalah satu-satunya kebenaran.

Menurut beliau, inti dari setiap agama adalah keyakinan dan cinta.

Gandhi seorang Hindu, tetapi saya seorang muslim, yang bukan sekedar
“muslim KTP”, tidak ragu untuk mengatakan beliau seorang orang suci,
yang tidak mudah dicari tolok bandingnya.

"Yes I am,” jawabnya ketika kepadanya ditanyakan apakah beliau seorang
Hindu. Namun beliau tidak berhenti di sana, “I am also a Christian, a
Muslim, a Buddhist and a Jew,” tukasnya. "The sayings of Muhammad are a
treasure of wisdom, not only for Muslims but for all of mankind,"
ujarnya pada kesempatan lain.

Kita tahu kematian menjemput beliau melalui peluru yang ditembakkan
Nathuram Godse, seorang fanatikus dan ekstrimis Hindu---yang tidak
berbeda dengan para fanatikus dan ekstrimis dari agama manapun, Yahudi,
Kristen Islam, dan lain-lain----selalu beranggapan bahwa Tuhan, atau
kebenaran atau bahkan surga, hanya milik kelompok mereka sendiri saja.
Tidak yang lainnya.

Kematian Gandhi mengingatkan saya kepada kematian Saydina Ali bin Abi
Thalib r.a., sepupu, sahabat setia dan menantu Kanjeng Nabi. Beliau
dibunuh oleh seorang Khawarij, bekas pengikut setia beliau, yang kecewa
berat, kok sang Khalifah mau berdamai dan mengampuni musuh-musuhnya.

Dalam sebuah riwayat, pada sebuah pertarungan pedang di sebuah
perperangan, Saydin Ali berhasil melumpuhkan musuhnya dan tinggal
menebaskan pedang ke leher sang lawan. Tiba-tiba musuh yang tidak
berdaya tersebut menyemburkan ludahnya dan mengenai muka Saydina Ali.
Apa yang terjadi? Alih-alih mencincang musuhnya, Saydina Ali menahan
tebasan pedangnya dan menyuruh musuhnya pergi. Ketika musuhnya bertanya
mengapa beliau melakukan hal tersebut, beliau menjawab: “Aku tidak mau
membunuhmu karena kebencian!” Karena itu saya merasa rada aneh, mengapa
para mullah dan pimpinan Rezim Islam Syiah di Iran waktu ini, yang
sangat menghormati dan memuliakan Saydina Ali bin Abi Thalib jauh
melebihi para sahabat Nabi yang lainnya, tetapi sangat getol menebarkan
permusuhan dan kebencian.

Saya tidak berkompeten, dan tidak berusaha sok tahu tentang hakekat Hari
Raya Nyepi. Tetapi saya percaya terhadap apa yang dikatakan Cak Nur,
bahwa agama-agama adalah pintu-pintu menuju Tuhan, Tuhan Yang Maha
Kuasa, Maha Pengasih, Maha Pengampung dan Maha Penyayang, Tuhan yang
tidak satupun yang setara dengan-Nya. Tuhan yang ilmuNya tidaklah
manusia mengetahui kecuali sedikit sekali

“Apakah Cak Nur menganggap semua agama sama?” tanya orang-orang yang
mangaku dikirim Abu Bakar Ba’asyir, yang mengunjungi Cak Nur di rumahnya
menjelang wafatnya, yang membuat karib Cak Nur Oetomo Dananjaya sangat
berang, dan mengusir orang-orang tersebut.

Namun Cak Nur yang walaupun dalam keadaan lemah masih sempat menjawab
dengan ramah: “Tidak!”

Saya juga tidak. Karena itu saya Islam, dan Insya Allah akan tetap
Islam---walaupun saya juga tidak tahu benardan tidak akan pernah tahu,
mengapa Tuhan memilihkan Islam sebagai “pintu masuk” saya kepada-Nya,
bukan yang lainnya---serta mendidik keluarga saya untuk hidup berpedoman
kepada ajaran dan nilai-nilai Islam, dengan semangat seperti Islam yang
dibawa, diajarkan dan dicontohkan Kanjeng Nabi, Islam yang damai, sesuai
dengan arti harafiah Islam itu sendiri, Islam mencerahkan dan membebaskan.

catatan darwin bahar the indonesian freedom writers
×
Berita Terbaru Update