Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Balada Demokrat Mabuk Citra

6 Juli 2012 | 6.7.12 WIB Last Updated 2012-07-06T08:31:07Z

13288671291164083523

Partai Demokrat tahun 2004, nyaris tak ada yang mengenalnya. Sebagian masyarakat yang cukup melek informasi, hanya tahu itu partai politik baru bentukan SBY dan bakal mengusung SBY sebagai Calon Presiden. Meski katanya sudah berdiri sejak tahun 2001, bisa dibilang tak ada yang pernah mendengar kiprahnya. Mungkin karena waktu itu SBY masih aktif menjabat sebagai Menkopolhukam di kabinet Presiden Megawati.

Pasca Pemilu Legislatif, publik terhenyak. Demokrat, partai berlambang bintang Mercy itulah yang tiba-tiba jadi the new winner, perolehan suaranya  mensejajarkan diri dengan PAN dan PKS yang sudah 2x ikut Pemilu. Harian Jawa Pos kala itu sempat mengulas figur-figur baru yang beruntung terpilih jadi anggota DPRD I Jawa Timur maupun DPRD II Surabaya. Kebanyakan dari mereka sama sekali tak menyangka bakal terpilih. Berawal dari kesulitan mencari kader yang bersedia didaftarkan jadi caleg, akhirnya keluarga dan kerabat pengurus partai lah yang ditawari menjadi caleg. Kemenangan para caleg itu ibarat blessing indisguise di tengah ketiadaan pengurus dan calon legislatif.

Jadi, sejak kelahirannya “alam” (baca : dunia politik) memang sudah memberikan previlege kepada Partai Demokrat. Sejak didirikan tahun 2001, PD memang tak banyak bergerilya menjaring kader dan berkiprah di masyarakat. Menghadapi Pemilu 2004, gaung kampanye  Partai Demokrat dan para calegnya nyaris tak terdengar gegap gempitanya. Sekedar pembanding, Partai Gerindra yang baru berumur 1 tahun menjelang Pemilu 2009, heboh kampanyenya lebih meriah dan kader-kadernya pun sudah ada. Tampaknya PD memang sepenuhnya mengandalkan popularitas SBY.

Kemenangan SBY pada 2 putaran Pilpres 2004 membuat Demokrat bak gadis manis yang siap menerima pinangan siapa saja. SBY yang menang karena jadi idola – terutama kaum ibu – berbekal citra diri sebagai purnawirawan militer yang cerdas dan santun, benar-benar magnet yang luar biasa untuk menarik banyak orang bergabung ke Demokrat. “Orang cenderung ingin bergabung bersama pemenang”, kata Andi Mallarangeng yang kala itu masih jadi pengamat politik.

Maka, pasaca Kongres PD tahun 2005, berbondong-bondonglah orang bergabung dengan PD. Para politikus avonturir segera melepas jas mereka, berganti jas biru. Akademisi dari PTN-PTN ternama, merasa “terpanggil” untuk ikut bergabung dengan PD, tak peduli status mereka PNS yang seharusnya dilarang jadi pengurus parpol. Begitupun seorang politisi muda, mantan Ketua Umum sebuah organisasi kemahasiswaan kawakan, sekaligus pengamat politik dan komisioner KPU. Dialah Anas Urbaningrum. Citra Anas kala itu sangat cemerlang, politisi muda berbobot, potensial dan bersih. Citra bersih didapat dari penolakannya menerima mobil dinas Kijang Innova dari KPU.

1328867288765902610
Sayang, Anas lompat pagar ke Demokrat di saat yang tak tepat. Saat itu para komisoner KPU sedang terlilit kasus dugaan korupsi dan suap seputar pengadaan barang dan jasa untuk logistik Pemilu dan Pilpres 2004. Satu demi satu komisioner KPU digelandang KPK dan harus duduk di kursi pesakitan pengadilan tipikor. Anas pun sempat jadi saksi dan ia disebut ikut menerima uang. Tapi sejak bergabung dengan Demokrat, kasus yang terkait dengan Anas tak lagi dilanjutkan.

Partai Demokrat terus menggelembung berkat kemampuan SBY memelihara citra dirinya. Fraksi Demokrat yang ketika itu tak terlalu banyak meraih kursi di DPR, juga bisa mencitrakan diri sebagai partai yang cerdas dan santun. Ujung tombak PD pada periode itu Syarif Hasan, sang Ketua Fraksi. Setiap acara talk show dan dialog di TV, hampir selalu Syarif Hasan-lah yang diutus. Dengan penampilan Syarif Hasan yang kalem dan argumentasinya yang tidak meledak-ledak, citra Demokrat makin terpelihara dan mengundang simpati.

Pemilu 2009, PD tak kekurangan kader untuk dimajukan sebagai caleg. Di barisan artis ada Adjie-Angie yang memang sudah duduk di parlemen sejak 2004. Menyusul Inggrid Kansil (istri Syarif Hasan), Venna Melinda (mantan Putri Indonesia) dan There. Juga para pesohor lainnya seperti Ruhut Sitompul dan Roy Suryo. Kerabat SBY pun berbondong-bondong masuk DPR, ada Edhie Baskoro, Ramadhan Pohan dan Hartanto Edhie Wibowo. Tentu saja tak lupa Anas Urbaningrum yang kemudian didapuk jadi Ketua Fraksi. PD benar-benar di puncak kejayaan, bertabur bintang karena suksesnya menjual citra.

Sayangnya, pencitraan bukanlah pil ampuh yang menyelesaikan semua penyakit di negeri ini. Memasuki periode ke-2 masa jabatannya, SBY yang terlalu sering jaim dan dianggap hanya mementingkan pencitraan, mulai menuai kritik dari semua kalangan yang tak kunjung melihat hasil kerjanya. Sayangnya, Partai Demokrat sebagai pengusungnya tak menyadari hal ini. Kesuksesan mendadak dan rasa bangga menjadi pemenang, sudah melenakan Demokrat.
Para oprtunis yang memang sengaja bergabung dengan PD karena ingin seperahu dengan pemenang, benar-benar memanfaatkan kejayaan ini untuk mencari keuntungan bagi dirinya. Contoh nyata adalah Nazaruddin, yang kabarnya dalam setiap transaksi bisnisnya kerap “menjual” nama PD dan meminta sekian persen keuntungan untuk kas PD, seperti dalam kasusnya dengan Daniel Sinambela. Tentu yang memanfaatkan kedudukan mereka di PD bukan hanya Nazar seorang. Di berbagai daerah banyak politikus PD baik di legislatif maupun di eksekutif yang jadi terdakwa kasus korupsi. Ya, kader-kader Demokrat telah menjual citra partainya dan kini menuai citra yang buruk.

Dalam kondisi terpuruk seperti ini, PD bukannya berbenah dan mengkonsolidasikan diri. Para elitnya seperti tak terkoordinasi saling melontarkan pendapat di depan publik, lalu saling tuding dan berbantahan. SBY seperti kehilangan kontrol untuk mengerem libido asbun para kadernya, seperti Soetan Bathoegana, Ruhut Sitompul, Ramadhan Pohan, Marzuki Alie, bahkan Ahmad Mubarok yang sudah senior sekalipun.

1328867360927319117

Ironisnya, sebagai partai yang berjualan citra, ternyata fungsi public relation PD justru mandeg. Maklumlah, yang ditunjuk menjadi penjaga gawang komunikasi publik justru bagian dari masalah, yaitu Andi Nurpati. Jadi wajarlah jika Andi Nurpati seperti menjaga jarak dari media. Kader lainnya, bukannya berusaha menutupi kekurangan Andu Nurpati, malahan seperti memanfaatkan kekosongan fungsi PR, mereka justru berlomba menonjolkan kepiawaiannya berdebat di ruang publik, tanpa mengindahkan etika dan logika. Hancur sudah slogan “partai yang cerdas dan santun”.

Kini, Demokrat berada di titik nadir. Para pentolannya mulai Ketua Umum, Wakil Sekjen, Bendahara Umum dan Wakil Bendum semuanya disebut-sebut terlibat kasus suap Wisma Atlit dan Hambalang. Sulit menghindari anggapan bahwa ini memang kejahatan korporasi. Makin hancurlah citra yang dibangun lewat iklan “Katakan TIDAAAKK pada korupsi!!”. 2 bintang iklannya justru terjerat pusaran suap dan money politics pemenangan Ketua Umum.
Bermula dari keingintahuan anggota DPR dari Fraksi Demokrat, saya meng-click situs resmi PD. Di halaman depan terpampang “Klik disini jika anda ingin menjadi Anggota Partai Demokrat” dan disampingnya ada polling yang terbuka untuk umum. Bunyinya : Sebagai partai pendukung kinerja pemerintah, Partai Demokrat menjadikan Tahun 2011-2013 sebagai tahun bekerja untuk rakyat, bukan tahun berpolitik. Bagaimana menurut Anda? Begitu bunyi polling yang hanya menyediakan 2 pilihan jawaban : “Setuju” dan “Tidak Setuju”. Lagi-lagi sebuah polling yang sia-sia dan hanya untuk pencitraan semata. Kenapa begitu?

1328867415735376164

Sebagai sebuah partai politik, Demokrat tak mungkin menghindari untuk “berpolitik”. Bukankah membesarkan PD melalui cara menjual citra ketimbang kerja nyata di masyarakat adalah juga sebuah pilihan strategi politis? Dengan bentuk pertanyaan tertutup seperti itu, PD seolah hanya butuh publik meng-“iya”-kan pendapat mereka. Akan lebih elok jika PD membuat polling dengan pertanyaan terbuka, yang memberi kebebasan pada responden untuk memberikan pendapatnya. Misalnya dengan pertanyaan : “Menurut anda, apa yang sebaiknya dilakukan Partai Demokrat untuk meraih kembali kejayaannya?”.

Dengan pertanyaan semacam ini PD akan mampu menjaring aspirasi masyarakat dan tahu apa harapan pemilih akan sebuah partai politik. Setidaknya PD bisa mengelompokkan jawaban menjadi 5 kelompok besar action plan yang bisa dijadikan pijakan untuk melangkah. Tapi, beranikah Demokrat melakukan polling semacam ini? Sebab bisa diprediksi jawaban terbanyak adalah yang menyarankan agar PD tak ragu menonaktifkan kader-kadernya yang disinyalir terlibat dalam kasus suap dan money politics, baik dari kepengurusan partai maupun dari keanggotaan di DPR.

1328867580123013653

Demokrat, lahir karena sebuah kebetulan ketika nama SBY melambung tiba-tiba. Kemudian dibesarkan dengan modal pencitraan, kini harus terpuruk karena citra yang dibangun ternyata semu belaka. Ketua Umumnya gagal mengabaikan rayuannya dan katakan TIDAAAKK pada korupsi ketika ia terbentur pada keniscayaan bahwa untuk memenangkan suara daerah-daerah butuh dana ratusan milyar. Wakil Sekjennya lupa menutup telinga, menggelengkan kepala dan katakan TIDAAAKK ketika ada yang menawarinya apel Malang, apel Washington dan semangka.

Di tengah badai, mereka masih mabuk citra dan tetap yakin bisa memenangkan suara pada 2014. Mabuk citra itu mengejawantah dalam komunikasi politik para kadernya yang enggan mendengar pendapat masyarakat, menolak kenyataan yang terjadi dan mengabaikan persepsi publik. Bahkan dalam pollingnya pun pelibatan pendapat publik hanya sebatas dipaksa untuk menjawab “setuju” atau “tidak setuju” dengan pola pencitraan yang mereka gagas, tanpa menyampaikan apa yang dimaksud dengan “bekerja untuk rakyat”. Kalau sudah begini, PD tinggal menunggu kehancurannya saja. Easy come easy go, semudah itu pula sebuah citra luntur.

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update