Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ada Apa Denganmu Suriah ?

11 Juli 2012 | 11.7.12 WIB Last Updated 2012-07-11T01:23:09Z


13386115671571676661

Suasana Damaskus setahun yang lalu (foto by Tyas)
Beberapa tahun belakangan Suriah menjadi tujuan wisata turis asing, terutama dari Eropa, karena memiliki kekayaan warisan sejarah dan budaya kuno.  Negara ini juga merupakan tujuan wisata rohani beberapa negara di Timur Tengah maupun Asia, karena banyaknya mesjid-mesjid indah yang memiliki nilai historis dan situs-situs religius bagi agama Islam maupun Kristen seperti makam Nabi Ayub, makam kepala Nabi Yahya, termasuk kota tua di Damaskus yang terdapat rumah peninggalan Ananias dan tempat dimana Rasul Paulus bertobat.

13386117721198053836

Sisa-sisa Perang dengan Israel di Dataran Tinggi Golan (foto by Tyas)

Sejalan dengan gejolak politik Timur Tengah yang naik turun, hal ini juga mempengaruhi jumlah turis yang bertandang ke kawasan ini, termasuk ke Suriah. Saat pemerintahan Presiden Hafez Al Assad (ayah presiden yang sekarang, Bashar Al Assad), situasi politik di Suriah sempat memanas, karena adanya perang melawan Israel saat memperebutkan Dataran Golan maupun melawan pemberontakan di dalam negerinya sendiri. Saat itu tak banyak wisatawan berkunjung ke Suriah.
Negara ini pun termasuk salah satu negara sosialis sehingga tertutup terhadap dunia luar. Bisa dilihat dari bentuk perumahan rakyatnya yang rata-rata berupa flat atau apartemen, yang dimaksudkan supaya mudah melakukan kontrol atau pengawasan terhadap rakyatnya sendiri.

Namun saat ini dibawah pemerintahan Presiden Bashar Al Assad, Suriah sudah banyak mengalami kemajuan dan mulai terbuka dengan dunia luar. Sudah bisa mengakses Yahoo dan Google, walaupun Blackberry dan Facebook masih diblokir, tapi dengan sedikit akal, memakai proxy, anak-anak muda di Suriah masih bisa ber-facebook-an. Dulunya tak gampang melakukan akses internet, bahkan katanya kertas tisu masih jarang dijual.

Sudah ada beberapa mal yang kondisinya lumayanlah, namun jauh lebih bagus mal-mal di Indonesia. Gerai makanan asing sudah memasuki negara ini, antara lain KFC dan Texas Fried Chicken. Namun untuk mencari Pizza HUT, Mc Donald, Burger King atau Starbuck, masih harus ke perbatasan Lebanon, yang berjarak kurang lebih 1,5 jam berkendara mobil.
Walaupun sudah tersentuh angin modernisasi, namun beberapa tempat kuno di Damaskus masih mempertahankan kekunoannya yang memikat. Justru hal-hal yang kuno dan bernilai sejarah tinggi ini yang banyak dicari wisatawan.

1338611683833621471
Souk Hamidiyeh yang ramai wisatawan (foto by Tyas)

Apabila kita menyusuri di beberapa tempat di Damaskus seperti di Bab Touma, Bab Sharqi atau di souk (pasar) Hamidiyeh, maka masih terdapat beberapa kafe atau tempat minum kopi yang bernuansa kuno. Ada juga beberapa butik high class yang menjual produknya di rumah-rumah kuno khas Damaskus. Beberapa saat lalu, kala situasi belum seperti sekarang, banyak wisatawan asing yang yang menghabiskan waktunya minum kopi dan menghisap arkhile (shishah) di tempat ini.
Bagi saya, negara ini, kota ini, sungguh kuno dan eksotis walau sudah terkena arus modernisasi.
Sangat disayangkan, saat sekarang, situasi politik di negara ini kian memanas. Beberapa tempat yang biasanya menjadi tujuan wisata seperti Aleppo, Lattakia (yang terkenal dengan keindahan pantainya) dan Damaskus justru menjadi tempat-tempat rawan dimana banyak terjadi penembakan dan pengeboman.

13386118441944329567
Demo Pro Pemerintahan setahun yang lalu (foto by Tyas)

Setahun yang lalu, saya masih menyaksikan demo damai pro pemerintahan di dalam kota Damaskus. Sulit bagi pemberontak untuk memasuki ibukota Suriah ini karena banyaknya intel dan tentara yang mengawasi setiap sudut kota. Saat itu kehidupan berlangsung normal. Pemberontakan terjadi di luar kota Damaskus dan disinyalir para pemberontak itu mendapat pasokan senjata dari pihak asing yang memang menginginkan kerusuhan terjadi. Hal ini ada beberapa kemungkinan, yaitu karena Presiden Bashar yang tidak pro terhadap AS dan Israel sehingga pemerintahannya digoyang terus atau karena Suriah yang pro Iran merupakan satu-satunya jalan untuk menyerang Iran, apabila Suriah sudah berhasil ditaklukkan AS. 

Saat ini para pemberontak sudah memasuki kota Damaskus. Rakyat Suriah bagaikan makan buah simalakama, tidak bisa bersikap netral. Bila pro Presiden Assad, maka nyawanya melayang di tangan pemberontak. Namun, bila tidak pro Presiden Assad, harus menghadapi moncong senjata tentara pemerintahan.
Karena kebrutalan tentara pemerintahan juga menyakiti hati rakyat. Rakyat yang tadinya pro Presiden Assad, bisa berbalik membencinya.

Sudah ribuan rakyat mengungsi ke perbatasan Lebanon dan Turki. Sudah banyak korban jatuh.
Salah satu korban jatuh adalah kawan baik saya, Abdul Rozak Harbi, yang 2 hari lalu saya tulis kisahnya disini. Hati saya masih terasa pedih, karena begitu banyak kawan baik saya disana. Saat ini mereka pasti sedang kalut dengan perang saudara yang membingungkan. Mana lawan, mana kawan. Abdul Rozak bukan musuh yang patut ditakuti. Dia hanya seorang ayah 13 anak yang sedang mencari nafkah sebagai seorang sopir. Dia ditembak saat sedang memperbaiki mobil di bengkel. Entah bagaimana nasib anak-anaknya?

Sudah banyak korban jatuh. Banyak korban rakyat tak bersalah. Mau sampai kapan seperti ini?
Akankah Suriah berakhir seperti Irak dan Libya?
Apakah tim perdamaian PBB benar-benar membawa misi perdamaian? Ataukah hanya suatu jalan supaya Amerika bisa menundukkan Suriah?
Setelah menundukkan Suriah, selanjutnya apa yang mau dikuasai? Minyaknya yang menggiurkan atau meneruskan niat untuk menundukkan Iran?

catatan ibu tyas freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update