Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lady Gaga dan Keminderan Media Massa..

30 Juni 2012 | 30.6.12 WIB Last Updated 2012-07-01T14:59:37Z


Para pemuda Kristen di Korea Selatan menggelar doa bersama untuk menolak konser Lady Gaga (sumber : www.tempo.co)
Belum sepenuhnya usai hiruk pikuk pemberitaan terkait jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet-100 di lereng Gunung Salak, kini publik sudah disuguhi polemik soal konser Lady Gaga. Saya yang miskin info tentang sosok dan kiprah artis internasional, semula tak mengenal siapa Lady Gaga. Bayangan yang ada di benak saya tentang seorang “Lady” adalah sosok aristokrat yang anggun, berparas cantik yang terpancar dari paduan guratan raut wajah yang bagus dari “sono”nya (bukan direkayasa teknologi kosmetologi), serta perilakudan tutur katanya teratur. Kurang lebih seperti sosok Lady Diana atau Grace Kelly, misalnya.

Setelah membaca tulisan Kompasianer Mustafa Kamal berjudul Lady Gaga(H) dan Lady Gaga(L), saya jadi punya gambaran lebih jelas tentang sosok sang Lady. Apalagi pemberitaan audio visual di media TV ikut memperkaya wawasan saya soal aksi panggung Lady Gaga dan ekspresi para fans-nya di berbagai negara. Ternyata sang Lady memang benar-benar jadi idola dan tentu saja menginspirasi para fans-nya dalam berpenampilan. Bahkan di salah satu tulisan di Kompasiana, saya baca sampai ada seorang gadis remaja yang memutilasi kucingnya hanya karena ingin meniru idolanya yang tampil dengan berlumuran darah, kendati darah di panggung itu darah buatan.

Semakin banyak saya dengar info atau baca berita tentang Lady Gaga, makin saya temui fakta bahwa gadis muda yang satu ini memang kontroversial di mana-mana. Kemarin, saya coba googling untuk mencari berita tentang reaksi negara lain menyikapi konser Lady Gaga di negaranya. Entah itu sikap resmi suatu negara atau sekedar sikap sebagian kalangan atau tokoh masyarakat di negara itu. Ternyata, kontroversi sang Lady bukan hanya terjadi di Indonesia. Berikut beberapa negara yang pernah, sedang dan akan memprotes konser Lady Gaga .

1. KOREA SELATAN
Korea Selatan adalah negara Kristen paling kuat kedua di Asia setelah Filipina. April lalu, seminggu sebelum konsernya, 300 orang jemaat Kristen negara itu berkumpul di gereja Ibu Kota Seoul dan menggelar misa khusus supaya penyanyi wanita itu batal konser. Jemaat Kristen Korea Selatan menganggap Lady Gaga pemuja dan penyebar ajaran setan. Kelompok Kristen ini menuding Lady Gaga sebagai ikon pornografi dan mempromosikan gaya hidup homoseksual. “Beberapa orang melihat itu sebagai budaya yang berbeda, tapi tetap saja merosotkan nilai agama,” kata pendeta Yoon Jung-Hoon (dikutip dari Tempo.co). Mereka memaksa pembatalan konser Lady Gaga, meski akhirnya Lady Gaga tetap boleh konser dengan aturan : hanya boleh ditonton remaja berusia di atas 18 tahun.
1337351337232322132
Demo menolak kedatangan Lady Gaga di Filipina (sumber : koran-indo.blogspot.com)
2. FILIPINA
Kelompok agama di Filipina, Biblemode Youth, punya cara unik untuk mengungkapkan penolakan terhadap konser Lady Gaga, yaitu memprotes dengan cara berdoa. Kelompok ini memimpin kampanye untuk melarang Gaga tampil di Mall of Asia Arena, Manila. Biblemode Youth berencana memulai doa sejak Sabtu besok, 19 Mei 2012 untuk menghentikan konser Lady Gaga selama dua malam, yaitu tanggal 21 Mei dan 22 Mei 2012. Kelompok ini menyebut Gaga sebagai anti-Kristus. Lagu “Judas” yang dinyanyikannya dianggap penghinaan langsung (hujat) kepada Kristus sekaligus provokatif. Ditambah lagi ia juga selalu mengenakan kostum minim di setiap pertunjukannya. “Lirik lagunya menghina (menghujat) Tuhan,” kata pendeta Reyzel Cayanan dari Biblemode Youth. Semua dosa bisa diampuni. Tetapi ada 1 dosa yang tidak bisa diampuni : menghujat Allah. Menghujat tidak hanya berarti menghina Allah, tetapi juga mengaku-ngaku bertindak atas nama Allah padahal cara dan tindakannya tidak mencerminkan tabiat Allah. (dikutip dari situs www.memobee.com).

3. BULGARIA
Suara protes anti-Lady Gaga juga menggema di Bulgaria, sebab Gereja Ortodoks Bulgaria merasa lirik lagu dan penampilan penyanyi itu mempromosikan perbuatan dosa. Jika tidak ada hambatan, konser itu bakal digelar Agustus mendatang. “Perbuatan dosa tidak patut dibanggakan,” kata Uskup Znepole Yoan. Bukan kali ini saja Bulgaria menolak konser bintang pop Amerika. Pada 2009, mereka juga mengancam bakal memboikot pertunjukkan Madonna yang baru pertama kali manggung di Ibu Kota Sofia. Meski kemudian konser legenda pop itu tetap berlangsung.
13373520231722027255
Seruan menolak Lady Gaga di Korea Selatan tanggal 27 April lalu (sumber : www.eramuslim.com)
4. CHINA
Di China yang berideologi Komunis, bukan cuma konser Lady Gaga yang ditolak, lebih jauh dari itu seluruh lagu Lady Gaga dilarang diputar dan beredar di sana. Kementerian budaya Cina merilis dafar 100 lagu pop yang dilarang diperdengarkan di negara tersebut. Daftar 100 lagu yang dimaksud dinilai memiliki kualitas yang dianggap rendah dan isinya dianggap terlalu vulgar. Lady Gaga dan Katy Perry termasuk dalam deretan yang lagunya di-blacklist dan dilarang untuk mengudara serta dianggap tak pantas didengar para remaja di Cina, yang mengaku beridelogi Atheis.

Daftar itu dikeluarkan Kementerian Budaya. Pihak berwenang China juga memerintahkan para pengelola situs yang menjual dan menayangkan 100 lagu yang tidak sesuai untuk warga China itu – baik legal maupun illegal – sebaiknya menghapus lagu-lagu tersebut. Kalau perintah itu tak diindahkan, para pengelola situs tersebut akan berhadapan dengan penegak hukum. Seperti dilansir NBC, pejabat Cina menunjukkan bahwa daftar lagu dilarang karena berbahaya bagi “keamanan budaya nasional.” Sedang Menurut BBC, website musik hanya dapat memiliki kesempatan sampai tanggal 15 September untuk menghapus semua lagu yang termasuk dalam daftar.

Enam lagu Gaga yang dilarang adalah “Edge of Glory”, “Hair”, “Marry the Night”, “Americano”, “Judas”, dan “Bloody Mary”. Sementara itu,“Last Friday Night (T.G.I.F)” dari Katy Perry juga dilarang, kemungkinan besar karena liriknya yang menyebut meminum alkohol dan berlari dengan tubuh bugil. Ada pula lagu Beyonce “Run the World (Girls)”, yang dilarang kemungkinan besar karena mengandung kata-kata kotor.

5. MALAYSIA
Di Malaysia. Lady Gaga juga pernah ditolak masuk ke negeri ini pada 2011. Gara-garanya, lirik lagu “Born This Way” dinilai menawarkan nilai-nilai homoseksualitas. Malaysia tidak dimasukkan dalam daftar negara yang disinggahi Lady Gaga dalam tournya ke Asia karena negara jiran itu sejak awal sudah menolak permohonan pagelaran itu. Bahkan, negara itu melarang lagu-lagu Lady Gaga beredar. 

Negeri Jiran ini bahkan pernah membatalkan konser Beyonce pada 2009 lantaran penyanyi ini sering berpakaian terbuka. Partai Islam di negara itu beralasan penampilan dan gaya busananya terlalu seksi. Konser itu seharusnya berlangsung 25 Oktober 2009 di Kuala Lumpur. Ternyata ini pun bukan pembatalan pertama di Malaysia. Pada 2007, konsernya juga pernah dibatalkan karena adanya penolakan keras.
13373521131553561144
Remaja Kristen di Filipina menolak Lady Gaga (sumber : kaskus.us)
NEGARA MAJU YANG MELARANG ARTIS ASING DATANG
Amerika Serikat pun pernah melarang artis masuk ke negaranya. Penyanyi pop asal Inggris, Lily Allen, dihentikan pihak berwenang bandara Los Angeles, meski telah mengantongi visa bekerja pada 2007. Penyebabnya, insiden pertengkaran Lily Allen dengan seorang fotografer. Lily dituding memukul fotografer itu. Amerika juga pernah menolak kedatangan penyanyi peraih Grammy Award, Amy Winehouse. Alasannya, nama penyanyi asal Inggris ini tercemar karena kasus kecanduan narkoba dan memukul seorang penggemarnya.

Pada 2010, Jepang pernah melarang Paris Hilton singgah di Negeri Sakura karena kasus narkoba yang menimpa sosialita ini. Sebelumnya, Paris ketangkap basah dengan kokain di Los Angeles. Badan imigrasi Jepang menghentikan perempuan berambut pirang ini di bandara dan memintanya segera meninggalkan Jepang.
Tolak menolak orang untuk masuk ke negara tertentu dengan alasan keamanan sudah sering dan biasa terjadi bahkan di negara yang mengaku pahlawan HAM. Misalnya, Cat Steven pernah ditolak masuk Amerika, dan Yusuf Qardhawi,ulama moderat Arab pernah ditolak masuk Perancis.
———————————————————————
13373521791693044526
Warga Korsel menghadiri doa bersama menolak Lady Gaga di Seoul (sumber : namakuddn.wordpress.com)
Dari beberapa berita di atas, sebenarnya penolakan terhadap kedatangan seorang artis asing di suatu negara adalah hal yang biasa. Apapun alasannya, entah karena dianggap melanggar norma dan ajaran agama yang dianut mayoritas warganya, dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dibangun negara tersebut, atau sekedar bermasalah hukum pribadi. Tapi penolakan itu tak pernah dibesar-besarkan sampai jadi perbincangan dunia internasional. Bahkan di masa Orde Lama, Presiden RI, Soekarno, pernah melarang musik Barat yang disebutnya musik “ngak-ngik-ngok” karena dianggap imperialisme budaya.

Siang tadi, dalam segmen berita Metro Siang, Metro TV melalui reporternya di VOA (Voice of America) menyiarkan wawancara langsung dengan beberapa warga Amerika seputar reaksi mereka terhadap penolakan konser Lady Gaga di Indonesia. Yang saya lihat, reaksi mereka wajar-wajar saja, tidak sewot, bahkan menganggap jika memang ada penolakan dan sekiranya kurang aman, ya sebaiknya dibatalkan saja. Intinya : mereka tak terlalu peduli dan berpandangan negatif terhadap penolakan tersebut.
Lalu, kenapa justru pers di Indonesia yang membesar-besarkan berita penolakan itu serta menggiring opini publik seolah dengan penolakan ini kita akan dikucilkan dari pergaulan dunia internasional? Pers, terutama media televisi, menciptakan opini seolah kita harus malu karena jadi perbincangan pers internasional. Padahal, Indonesia bukan negara pertama yang menyuarakan penolakan terhadap Lady Gaga, dan negara lain itu pun tak pernah malu dengan sikap mereka atau sikap sebagian dari tokoh agama di negara mereka.

Setidaknya dalam 2 – 3 hari terakhir 2 stasiun TV berita menyuguhkan berbagai acara perbincangan membahas tak keluarnya ijin konser Lady Gaga. Metro TV misalnya, sejak kemarin pagi, tadi pagi dan petang ini menyajikan diskusi tentang topik itu, tapi semua yang diundang hadir ke studio semua adalah tokoh yang pro terlaksananya konser, orang yang kecewa karena batal menonton padahal sudah membeli tiket. Begitupun TV One. Kalau yang berdiskusi semua berada di pihak yang sama, lalu apa yang didiskusikan? Bukankah lebih tepat disebut “ngerumpi bersama”?

Pihak host stasiun TV bahkan berkali-kali mengeluarkan pernyataan tentang maraknya media massa internasional meulis pemberitaan tentang pelarangan konser Lady Gaga di Jakarta, seakan ingin meyakinkan pemirsa bahwa saat ini kita sedang dalam kondisi kritis karena jadi perbincangan dunia. Padahal, berbagai masalah di Indonesia jadi bahan perbincangan media massa internasional – semisal kemiskinan, jembatan ala “Indiana Jones” untuk siswa SD yang akan sekolah dan berbagai kasus korupsi – sudah sejak dulu, bukankah ini lebih memalukan?
Begitupun pertanyaan searah semisal : “apa ruginya kalau Lady Gaga konser di sini?” tapi tak diimbangi dengan kajian : “apa untungnya jika Lady Gaga konser di Indonesia” dalam arti keuntungan bagi bangsa ini, bukan semata keuntungan materiil bagi promotor dan pihak sponsor.

Sikap media massa ini seolah cermin dari sikap bangsa kita yang memang cenderung “minder” dengan sikap sendiri dan seolah takut jika menentang apa-apa yang datangnya dari “Barat”. Takut dikatakan melanggar HAM, takut dibilang tak menghargai kebebasan berekspresi, padahal banyak negara lain sudah melakukannya, tanpa peduli apa gunjingan media internasional. Media massa nasional lebih memilih “menari” mengikuti “kendang” yang ditabuh media internasional. Atau…, karena media massa juga bagian dari sponsor pertunjukan? Entahlah!

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update