Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

IWAN PILIANG : Mencairkan Beku Hati di Hari Mandela

9 Juni 2012 | 9.6.12 WIB Last Updated 2012-06-09T15:27:39Z

Pada 18 Juli 2010  ditetapkan sebagai Hari Nelson Mendela I. Panitianya mengajak warga dunia untuk 67 menit saja minimal, berbuat bagi mereka tertindas, bagi mereka miskin, bagi mereka papa. Data BPS menyebutkan 32 juta orang Indonesia miskin. PBB bilang masih lebih 50% penduduk kita miskin – - jika acuan pendapatan minimal US $ 2 per hari. Saya berusaha belajar rendah hati dan, siapa tahu Anda, mencoba pula berkaca membeningkan hati: jernih bertutur jujur, demi berbuat bagi meningkatnya mutu peradaban.

ANAK saya yang kedua, ketika masih di usia 3 tahun – - kini delapan tahun – - suka menyanyikan lagu yang acap didendangkan Ustad Aa Gim, ”Jagalah hati jangan kau nodai, dan seterusnya.” Sayangnya sang ustad itu kini seakan tenggelam karena menikah lagi. Kini Aa lebih banyak ditanggap berceramah di Singapura, Malaysia, Filipina.
Kita di Indonesia, belum ”sehebat” Argentina, membuka diri mampu bijak bestari. Masyarakat Argentina memisahkan urusan pribadi dengan kodrat hati memimpin kehidupan. Kita belum semenerima bagaikan Argentina menghargai Carlos Menem, membungkus ranah pribadi, lalu mengedepankan prestasi diri.
Sebaliknya justeru prestasi kita di tahun ini paling sakti. Tak ada duanya di muka jagad kini. Prestasi itu menularkan penyakit latah ke media besar dunia mengabarkan aib pribadi.

Di negara besar – - AS dan Inggris – - nan terlanjur latah memberitakan aib video porno Ariel, film porno bahkan dibuat dengan tata pencahayaan prima; artis bohai, bahkan lengkap adegan, maaf, hingga burung terkulai. Negaranya santai-santai.
Kita, media di Indonesia, tak peduli lagi berapa devisa yang telah dicetak Ariel, Peterpan, dari segenap albumnya nan laris manis di Malaysia, Singapura, hingga Suriname, Belanda. Semua seakan tiada, sama seakan lenyapnya segenap kebaikan yang pernah disiarkan Ustad Aa Gim
Dalam kerangka inilah saya melihat bahwa bangsa Indonesia kini berpenyakit hati: dari kena virus busuk, memang sudah busuk, hingga membeku hati.

Apatah pula, macam kalimat saya menganjurkan negara mengirim grup band potensial pergi sembilan bulan belajar bahasa Inggris ke Inggris. Agar mereka bertutur bercengkok native Inggris, lalu membuat album barat, berpeluang besar meraih devisa. Sebuah ide yang akan ditertawakan saja. Bisa saja dianggap gila.
Tak banyak pihak mafhum, bahwa Argentina, devisa keduanya datang dari Polo; mulai dari ekspor kuda polo, piranti olah raga polo, hingga mengekspor tenaga pengajar pelatih Polo. Pelatih Nusantara Polo-nya Prabowo Subianto, di Jagorawi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, juga berasal dari Argentina.
Hal ini saya tuliskan, sebagai contoh tabiat pikir, jika kita membuka hati, tidak macam kodok dalam batok, kunci otak mengalirkan isi cemerlang bahwa banyak sisi lain, khususnya ranah positif, membawa kehidupan terang benderang.

KETIKA pertama menjadi jurnalis yunior pada medio 1980-an, lagak saya luar biasa. Luar biasa angkuhnya.
Jika saya ingat kini, bah, sok kali!
Bayangkan sebagai reporter di kelompok media Tempo, saya dengan mudah berjumpa pejabat, bertemu direksi papan atas perusahaan besar. Alamnya kala itu, acap ketemu pula sumber berita nan ongeh – - setingkat di atas congkak – - ikut pula mewarnai ketinggi-hatian diri sebagai reporter.
Kala itu acap saya bertemu pejabat didampingi ajudan, map, buku, data, dan tas lain lagi ajudan yang membawakan. Kini setelah tak menjadi wartawan di media mainstream, corak langgam demikain tidak kian punah. Bahakn ketika ke Papua, ada oknum Bupati di sana yang lakunya bak raja di raja.

Laku pasukan pengawal presiden, yang menggebrak kap mobil, mengancam, bukan terjadi kali ini. Sejak di era Soeharto juga acap nian. Tapi dulu mana ada yang berani memuat menuliskan?
Poin saya, kejadian demikian, sesungguhnya, titik utamanya di urusan permasalahan hati. Hati yang tak kunjung rendah. Hati yang kotor. Hati yang kian meninggi bahkan masih ingin tinggi lagi menggapai langit tinggi-tinggi.
Padahal jazirah alam dari sananya di ketinggian langit berhawa minus derajat. Maka tak heran, bila Anda di sana pasti bekulah hatinya.

Bila hati sudah beku, maka data kemiskinan pun bisa dibulak-balikkan. Membuat UU pun bisa-bisa TERTEGA di dunia, misal dalam penggelapan pajak, UU yang dibuat DPR, bunyinya boleh diselesaikan dengan cara di luar pengadilan dengan membayar denda MAKSIMUM 400% dari pajak yang dihasilkan. Ini salah sastu contoh saja produk yang dihasilkan dari kebekuan hati.
Urusan tertega di jagad ini, juga tampak misalnya di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Sudah jelas indikasi bobol Rp 1.300 triliun di Transfer Pricing, maka seksi yang menangani 5 orang saja dari 32.000 jumlah karyawan. Dan lantas jika uang pembangunan kurang, karena hati beku, yang kemudian tampaknya hanya menaikkan harga gas, BBM, listrik dan kemudian semua harga melambung. Jalan tol, tanpa pengembangan jalan alternatif pun, ikut-ikutan naik. Kita seakan hidup di negara berbekuan hati.
Begitulah bila segala kebijakan diambil oleh insan berhati beku.
Hati beku tidak menggerakkan otak mengalirkan pikiran kreatif, apalagi terobosan jitu. Maka tantangan ke depan carilah pemimpin yang tidak beku hatinya. Sebab yang kemudian kental ada di pasaran adalah gaya pemimpin bak kodok di dalam batok.

MAKA ketika saya di awal 2000-an berjumpa dengan sosok jurnalis senior AS di Jakarta, Bill Kovach, yang menuliskan buku The Element of Journalism, secara nyata ia tegaskan, bahwa kunci utama verifikasi, adalah kerendahan hati.
Dan setelah aktif terus menulis, mencoba mengedepankan hati, termasuk membasuh kisi-kisi hati yang kotor karena congkak dulu, saya menemukan jawaban bahwa: memang tak perlu tinggi hati, apalagi kian meninggi, toh di cakrawala sana, di ketinggian 10.000 kaki, misalnya, beku nyatalah hati Anda.
Dan, jika kehidupan di Indonesia kita bukan kian enak rasanya, tak perlu lagi saya jabarkan karena ulah apa?
Sehingga jika di teve Anda menyimak berita rakyat miskin dibagikan beras dan mie instan, itulah fakta nyata, betapa bekunya hati yang membuat program.

Beras karbohidrat. Mie instan isinya? Dua bungkus saja dimakan, tanpa asupan makanan bergizi lain, saya jamin yang memakan pada sulit buang air besar. Bahkan kakek-nenek, bisa-bisa mengeluarkan darah duburnya.
Tak ada bantuan ke orang miskin membagikan pisang, buah segar, apalagi susu segar. Semuanya sudah terjangkit beku hati, otak dan nalar menjadi seragam: bantuan, ya, beras, ya, mie instan.
Itulah hasil kebekuan hati yang terkadang datang menyerang secara instan!

Karenanya di hari ini, di mana panitia Hari Nelson Mandela yang jatuh JULI NANTI, saya meneruskan ajakan, 67 menit saja Anda berbuat bagi kemiskinan. Dan jika Anda enggan mengeluarkan uang bantuan – - dalam pengelaman saya di lapangan kini, kuat dugaan makin kaya seseorang makin pelit dan kian berhitung mengeluarkan uang – - cukup 6,7 detik saja tafakur.
Bertanyalah ke lubuk hati yang dalam: apakah hati saya sudah latah kena penyakit beku hati?
Anda sendirilah menjawabnya! Siapa tahu hari ini Anda mampu mencairkan kebekuan hati. Dan jika berhasil, saya yakin besok, jika Anda pejabat, akan lain lagak-langgamnya, juga kebijakannya. Dan jika tetap sama, maka, bukan saja beku, tapi Anda telah mati hati! ***
catatan Iwan Piliang, literary citizen reporter
×
Berita Terbaru Update