Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Tanah Beta, Masihkah Tempat Akhir Menutup Mata?

29 Juni 2012 | 29.6.12 WIB Last Updated 2012-06-29T12:20:17Z


13395818501853387181
Di Indonesia jam 6 pagi sudah ada sinar mentari dan selama 12 bulan mentari selalu hadir. Aku Cinta Tanah Airku (foto koleksi pribadi)
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala s’lalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta, dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata …
Seminggu terakhir ini, setidaknya ada 2 peristiwa yang mengusik saya untuk mempertanyakan relevansi kalimat teakhir lagu Indonesia Pusaka itu. Yang pertama adalah kematian Om Liem dan kedua adalah pemulangan Sherny Konjongian dari Amerika Serikat pagi ini. Dua hal ini membuat pikiran saya berjalan mundur sampai setidaknya 15 tahun lalu ketika Indonesia terkena imbas krisis moneter yang melanda Asia Tenggara, sejak pertengahan 1997.
Pernyataan Fahmi Idris semalam dalam acara Today’s Dialog di Metro TV yang dipandu host Kania Sutisnawinata, setidaknya mewakili curahan hati saya. Dengan lugas Fahmi Idris mengatakan kurang lebih begini : “Kalau boleh usul, kalau boleh minta, jujur saya sebenarnya lebih ingin Om Liem dimakamkan di sini, di Indonesia. Tempat yang sudah membesarkannya”. Ya, Om Liem alias Liem Sioe Liong atau nama “Indonesia”nya Sudono Salim, memang bukan siapa-siapa saya, bukan pula kerabat Fahmi Idris. Semua tahu, pengusaha yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya dunia di urutan ke-25 oleh Majalah Forbes ini adalah seorang China asli yang pada usia 36 tahunan merantau ke Indonesia, lalu berkat keuletan dan kegigihannya kemudian mampu membangun kerajaan bisnis di segala bidang.
1339581975804961822
Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu (itu dulu…). Foto koleksi pribadi
Tentu bukan tanpa alasan Liem Sioe Liong muda meninggalkan tanah tumpah darahnya, tanah kelahirannya, untuk merantau ke negeri asing, mengadu peruntungan. Kalau saja nasibnya di China saat itu sudah bagus, kalau saja kondisi di China waktu itu sudah makmur dan menjanjikan masa depan gemilang, tentu tak perlu Liem muda bersusah payah menyeberangi lautan menjemput masa depan yang belum pasti. Indonesia-lah yang kemudian jadi “lahan” subur bagi Om Liem. Apa saja yang “ditanam”nya berbuah lebat. Jadilah Bogasari, BCA, Indocement, Indomobil, Indofood dan Indosiar. Ratusan perusahaannya itulah yang membuat pundi-pundi Om Liem menggembung.
Tanpa privelege dan kemudahan baik secara politis maupun finansial dari Pemerintah Orde Baru saat itu, belum tentu Om Liem akan sesukses dan sekaya sekarang. Tanpa pengistimewaan, bisa jadi kerajaan bisnis Om Liem tak akan sebesar sekarang. Memang, bukan hanya Om Liem seorang yang “beruntung” menikmati “persahabatan” dengan penguasa Orde Baru. Saat itu ada sekelompok konglomerat –kebetulan hampir semuanya WNI keturunan China – yang sering diajak jalan-jalan ke Tapos oleh Pak Harto sambil bercengkerama dan bersenda gurau. Mereka inilah yang kemudian menjelang keruntuhan Orba disebut “kroni” Soeharto.
Sayangnya, saat ekonomi Indonesia nyaris ambruk dirundung krisis moneter, para konglomerat itu sama sekali tak menunjukkan rasa terima kasih dengan membuktikan kesetiaan  – setidaknya dalam kondisi suka dan duka tetap tak memindahkan dananya ke luar negeri – tapi justru sebaliknya sebagian menyelamatkan kekayaannya ke Singapura. Padahal, krisis moneter yang melambungkan nilai tukar rupiah saat itu turut dipicu oleh utang (luar negeri) swasta yang jatuh tempo, sehingga mereka perlu memborong dolar untuk membayar hutangnya.
13395820511802662301
Karena rupiah-kah yang membuat para taipan masih betah tinggal di Indonesia? (foto koleksi pribadi)
Menyakitkan memang jika mengingat hal itu : ketika Indonesia masih makmur dan diguyur hutang luar negeri, mereka mengembangkan bisnisnya di Indonesia, terus berinvestasi dan merambah segala bidang. Memanfaatkan murahnya upah tenaga kerja di negeri ini dan “bersahabat”-nya regulasi serta kondusifnya situasi polkam saat itu. Tapi ketika Indonesia sedang dirundung duka, mereka orang pertama yang melarikan dananya dan memindahkan investasi ke luar negeri. Tak ada keterikatan psikologis, sebab Indonesia bukan tanah air beta, bukan tanah tumpah darah beta.
Begitupun dengan Sherny Konjongian, satu dari sekian banyak tersangka kasus penggelapan BLBI. Sherny satu “paket” dengan Hendra Rahardja – kakak kandung Eddy Tansil yang raib sejak 1996 – dalam kasus Bank Harapan Sentosa (BHS) yang saat itu menerima kucuran dana BLBI tapi kemudian menyalahgunakannya. Hampir semua konglomerat yang terlibat kasus BLBI kemudian hengkang ke Singapura dan beberapa negara lainnya. Hendra Rahardja bahkan sampai mati di Australia, berkat kegigihan O.C. Kaligis membelanya agar tak sampai diadili di Indonesia.
Beberapa tahun lalu – pasca reformasi, saya lupa tepatnya – sempat mengemuka wacana “NASIONALISME BARU”. Kata ini menjadi marak dibicarakan karena saat itu banyak konglomerat yang memindahkan investasinya ke Singapura – untuk tak menyebut kata “melarikan dana” – lagi-lagi saat perekonomian Indonesia sedang sulit dan justru membutuhkan investor yang rela menanamkan modalnya untuk kembali menggerakkan roda perekonomian.
Saat itu, beberapa tokoh parpol dan pengusaha nasional sempat membela alasan “nasionalisme baru” ini, dengan dalih mereka yang berinvestasi ke luar negeri juga turut mengharumkan nama Indonesia dan justru di luar negeri itu mereka mendapatkan devisa untuk dibawa kembali ke Indonesia. Benarkah demikian?! Bukankah dalam prakteknya justru sebaliknya? Sedikit demi sedikit mereka mengusung dananya keluar dari Indonesia, memboyong seluruh keluarga dekatnya pindah domisili di sana dan tak kembali ke Indonesia kecuali mungkin suatu saat nanti ada sesuatu yang “menguntungkan” dari Indonesia. Dalam arti Indonesia kembali menawarkan keuntungan finansial.
13395821451689780065
hanya di Indonesua, kita bisa berbelanja cukup di depan rumah(foto koleksi pribadi)
—————————————————————————–
Selama jenazah Om Liem di semayamkan, tiap hari TV-TV di Indonesia menyiarkan siapa saja yang melayat. Dari Indonesia ada ibu Megawati bersama putrinya Puan Maharani, ada pula mantan Menkeu Fuad Bawazier dan beberapa konglomerat keturuan China lainnya, sahabat Om Liem. Diantaranya adalah Sjamsul Nursalim, terpidana kasus BLBI. “Teman-teman” Om Liem memang hampir semuanya pindah ke luar negeri – terutama Singapura – pasca lengsernya Pak Harto. Mereka tak mau tahu lagi kondisi Pak Harto seperti apa, meski dulu Pak Harto lah yang banyak memberi kemudahan.
Kembali saya teringat ucapan Fahmi Idris. Om Liem – dan mungkin juga konglomerat WNI keturunan China lainnya – memang tidak lahir di Indonesia. Tapi mereka merantau ke sini sejak usia muda, menjadi warga negara Indonesia dan “besar” di Indonesia. Bahkan kata Fahmi, keluarga Om Liem pun sebenarnya masih di Indonesia, artinya tidak seratus persen meninggalkan Indonesia. Boleh dibilang separuh usia Om Liem dihabiskan di Indonesia, makan makanan Indonesia, menghirup oksigen di udara Indonesia dan minum air Indonesia. Masa kecil dan usia mudanya di China tak memberinya kesuksesan, sedang sisa usia tuanya yang dihabiskan di Singapura juga tak lagi produktif, karena tongkat estafet kerajaan bisnisnya telah diserahkan ke generasi kedua. Kalau begitu, masa produktif dan sejarah sukses Om Liem seluruhnya terjadi di Indonesia. Lalu, tidakkah terpikir untuk dimakamkan di Indonesia?
Mungkin jenazah Om Liem tak ada artinya. Tapi dengan memilih Indonesia sebagai tempat peristirahatan terakhir, tentu secara psikologis kesannya berbeda : rasa cinta dan memiliki Indonesia! Ibu dr. Hasri Ainun Besarie – istri mantan Presiden RI Baharuddin Jusuf Habibie – memang menghabiskan sisa usianya di Jerman, sembari menjalani penyembuhan penyakitnya. Tapi ketika ajal menjemput, Ibu Ainun dimakamkan di Indonesia. Negeri tempat ia dilahirkan, tempatnya dibesarkan dan tempatnya mengabdi mendampingi suami selama sekitar seperempat abad.
1339582271769776746
Yang berprofesi seperti yang biasanya justru cinta banget dengan tanah airnya (foto koleksi pribadi)
Sedang bagi orang-orang semacam Eddy Tansil, Hendra Rahardja, Sherny Konjongian, Sjamsul Nursalim, Adelis Lien dan sejumlah nama lain, Indonesia hanya tempat cari uang, ambil fasilitas kreditnya, keruk kekayaan alamnya, gunduli hutannya, lalu setelah bermasalah, tinggalkan saja Indonesia. Tak sedikit pun ada rasa memiliki. Kalau perlu, sampai mati di luar negeri tak apalah, ketimbang harus mempertanggungjawabkan kesalahannya di depan hukum di Indonesia.
Di mata sebagian mahasiswa dan ilmuwan Indonesia yang berkesempatan belajar di luar negeri, Indonesia juga bukan negara yang nyaman untuk mengamalkan ilmunya. Banyak mahasiswa yang dulu disekolahkan oleh BPPT semasa Pak Habibie masih menjabat Menristek – baik melalui program STMDP (Science and Technology Manpower Development Program) maupun setelah ganti nama menjadi STAID (Science and Industrial for Industrial Development) – yang akhirnya justru memperpanjang beasiswa mereka sampai ke jenjang S2 dan S3 dengan mencari sponsor sendiri, dan akhirnya bekerja di perusahaan atau di lembaga penelitian negara tempat studinya, tak ingin lagi pulang ke Indonesia dan bekerja di sini.
13395825751863779480
Di Indonesia, sampai setua ini pun masih harus bergelut dengan sampah sejak pagi hari demi sesuap nasi (foto koleksi pribadi)
Sedikit banyak saya bisa mengerti alasan sebagian ilmuwan dan orang-orang berpotensi akademik itu enggan pulang ke Indonesia. Di sini, mereka tak “dihargai” sebagaimana mestinya. Selain kesejahteraan belum tentu terjamin, kesempatan berkembang dan menyalurkan idealismenya sulit diakomodir karena minimnya dana penelitian dan kurangnya inisiatif dukungan dari negara.Apalagi jika kemudian mereka harus menjalani ikatan dinas – sebagai konsekwensi dari beasiswa yang diterimanya – dan ditempatkan di instansi Pemerintah atau BUMN. Umumnya idealisme mereka mengalami benturan dengan budaya kerja serta pola pikir rekan-rekan dan atasannya. Itu salah satu sebab mereka lebih memilih tak kembali ke Indonesia dan tetap bekerja atau mengajar di luar negeri.
Memang, jika kita pernah merasakan nyamannya tinggal dan menjalani kehidupan di luar negeri, maka kembali ke negeri sendiri serasa “hujan batu”. Belum lagi jika menyangkut minimnya kepedulian penguasa terhadap kesejahteraan rakyatnya. Tapi bagi mereka yang pernah dibesarkan di Indonesia dan mengenyam sejuta kenikmatan dan kemewahan hidup di Indonesia, pantaskah jika kemudian di masa tua melupakan Indonesia seolah tak pernah berkontribusi apapun?
13395826941559177735
Meski semrawut dan kotor, inilah keadaan Indonesia yang sebenarnya (foto koleksi pribadi)
Soal memilih tempat peristirahatan terakhir memang sepenuhnya hak keluarga atau sesuai wasiat yang meninggal. Orang-orang dulu sering berwasiat agar kelak jika meninggal dimakamkan di kampung halamannya. Itu sebabnya, banyak orang yang sejauh apapun merantau, meski telah sukses di Ibukota, kalau meninggal tetap di bawa ke kampung halamannya. Akankah mereka yang meraup sukses di Indonesia lalu di hari tua “berlindung” di negeri orang, kelak jika tiba waktunya menutup mata akan kembali ke Indonesia? Sherny Konjongian, mungkin tak akan kembali ke Indonesia kalau saja Pemeritah USA tak mengekstradisi-nya. Nunun Nurbaeti – nenek berumur 60an tahun – mungkin masih asyik wira wiri ke luar negeri, kalau saja KPK tak menangkapnya di Thailand. Akankah kelak lagu Indonesia pusaka bagi sebagian pengusaha/konglomerat dan pejabat akan berubah syairnya seperti ini :
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia kini sudah tidak lagi dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta, dibuai, dibesarkan bunda
Bukan tempat berlindung di hari tua, bukan tempat akhir menutup mata …
Semoga saja tidak….

catatan ira oemar freedom writers kompasianer
×
Berita Terbaru Update