Petani Pariaman keluhkan kelangkaan pupuk dan beli BBM subsidi langsung ke Wamentan

Foto: Junaidi

Pariaman - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi lakukan dialog dengan petani saat meninjau kawasan estate mini di Desa Batang Tajongkek dan lokasi RPH di Desa Taluak, Pariaman Selatan, Selasa (29/11).
Foto: Junaidi

Pada kesempatan itu petani menyampaikan keluhannya kepada Wamentan terkait kelangkaan pupuk, alsintan, kemudahan membeli BBM subsidi, serta meminta bantuan bibit kelapa kopyor.

Terkait masalah pupuk, Wamentan menjelaskan beberapa program untuk mengatasinya, antara lain melalui Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC). Selain itu petani juga dapat memanfaatkan Program Makmur sebagai solusi untuk peningkatan produksi. Program tersebut dalam waktu dekat akan disosialisasikan di Sumatra Barat.

Sementara terkait alsintan, Kementan mengaku rutin memberikan bantuan alsintan kepada petani, namun yang terpenting bagaimana menggunakan alat guna membantu meningkatkan hasil pertanian dan menjaga alat.

"Untuk bantuan bibit kelapa sudah masuk ke dalam proposal bantuan dari Pemko Pariaman. Sedangkan terkait BBM diatasi dengan koordinasi antara pemerintah dengan pihak terkait daerah," kata dia.

Wamentan meminta permasalahan disampaikan langsung agar pihaknya tahu langsung dari petani sehingga menjadi acuan untuk kebijakan pemerintah selanjutnya.

Wamentan juga akan mencatat beberapa permintaan dari petani Pariaman. Mulai dari kelangkaan pupuk bersubsidi, keseimbangan harga jual hasil pertanian, dan kurangnya alsintan atau alat mesin pertanian yang modern. Wamentan bahkan berjanji memfasilitasi semua yang diminta para petani Pariaman.

Dikatakannya, Food Estate merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024 yang diinginkan Presiden Joko Widodo di akhir masa jabatanya. Karena itu Kementan akan kerja keras untuk melaksanakan hal tersebut.

Walikota Pariaman, Genius Umar mengatakan kedatangan Wamentan sudah lama ditunggu oleh masyarakat khususnya petani untuk menyampaikan aspirasinya.

"Jadi Pariaman itu tidak saja dikenal dengan pariwisatanya namun juga pertanian. Bahkan sebagian besar wilayah Kota Pariaman digunakan untuk pertanian," ujar dia.

Diterangkannya, Kota Pariaman juga memiliki beberapa program di bidang pertanian seperti mubaligh bertani, milenial bertani, dan ASN bertani. Program ini telah berjalan sejak dua tahun terakhir.

“Semoga dengan kedatangan Wamentan ke Kota Pariaman akan menambah semangat petani dan Pemko Pariaman untuk meningkatkan hasil pertaniannya,” kata dia.

Food estate merupakan sinergi antara sumber daya alam, sumber daya manusia, dan teknologi, menerapkan integrated farming yang mencakup pertanian, perikanan dan peternakan yang ada dalam satu kawasan.

Karena Desa Batang Tajongkek tidak terlalu besar, sesuai arahan dari Wamentan, Pemko Pariaman akan menjadikanya sebagai Mini Food Estate, dan semua yang dibutuhkan untuk hal tersebut telah dilengkapi di desa itu.

Di Desa Batang Tajongkek disebutkan Genius sudah paket komplit. Ada pertanian berupa kampung alpukat dan juga penghasil buah pepaya dan kelapa.

"Kemudian untuk perikanan, ada wisata edukasi kolam pancing ikan air tawar dan untuk peternakan ada kawasan peternakan sapi yang dikelola oleh para Keltan yang ada di Desa Batang Tajonkek,” ungkapnya. (Tim)