Berkualitas tinggi, usaha pembuatan kapal di Desa Nareh 1 tetap bertahan hingga kini

Foto: Junaidi

Pariaman - Kapal nelayan buatan Kelompok Nelayan Gabuo Desa Nareh 1 selama ini cukup dikenal sebagai pengrajin kapal nelayan berbahan utama kayu berkualitas tinggi. Hasilnya bahkan tidak kalah bagus dari pembuat kapal jenis serupa yang sudah memiliki nama besar dari daerah lain.

Rudi, 46, salah seorang pembuat kapal nelayan yang tergabung dalam kelompok nelayan Gabuo, bahkan telah menekuni usaha tersebut sejak kecil. Ia belajar langsung dari ayahnya yang merintis usaha pembuatan kapal di Desa Nareh 1 lebih dari 40 tahun.

"Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh ayah cara membuat kapal. Sudah 35 tahun saya menekuni bidang ini dan kini melanjutkan usaha beliau," kata Rudi di Desa Balai Nareh, Kamis (10/2).

Menurut Rudi, hasil akhir pembuatan kapal dimulai dari pemilihan material. Kayu yang dipilih harus dari jenis tertentu yang kuat dan tahan terhadap air laut yang dikenal sangat korosif. Kayu juga didatangkan dari daerah tertentu. Umur dan ukuran kayu nantinya akan menjadi standar baik tidaknya kualitas sebuah kapal nelayan.

Rudi sendiri menerima pesanan kapal kayu dengan berbagai ukuran dari berbagai daerah. Mulai dari ukuran kecil atau kapal jaring, sedang hingga kapal ukuran menengah.

Harga untuk satu unit kapal jaring dengan ukuran panjang 5 meter dihargai Rp 12 juta. Kemudian kapal pancing dengan panjang 8 meter ia jual dengan harga Rp 13,5 juta. Nominal tersebut belum termasuk jasa pengecatan. Terbilang relatif murah.

"Khusus kapal untuk kebutuhan nelayan payang dengan panjang 10 meter yang sudah dicat, saya jual Rp 30 juta," ungkapnya.

Usaha Rudi dalam mebuat kapal selama ini berjalan lancar. Namun sejak pandemi Covid-19, usahanya ikut terkena imbas. Orderan pun jauh berkurang. Dari yang biasanya 3 unit per tahun, kini hanya 1.

"Sepi orderan. Kadang ada satu, kadang tidak sama sekali. Dalam setahun saya bisa membuat 3 kapal," kata dia.

Di samping membuat kapal, Rudi juga kerap menerima orderan renovasi kapal nelayan. Dari merenovasi kapal, ia menerima upah dari Rp 1,5 juta hingga Rp 500 ribu per kapal.

"Tergantung kerusakannya. Renovasi memakan waktu 3 hingga 5 hari, tergantung kerusakannya," kata Rudi yang juga seorang nelayan ini.

Karena sepinya pesanan pembuatan kapal saat ini, Rudi kini sambilan berjualan teh telor di kedai miliknya, khususnya malam hari. Hal itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Politikus PKB Febby Dt Bangso mengaku tertarik dengan hasil kapal buatan Rudi. Febby minta dibuatkan satu kapal yang nantinya akan ia tempatkan di Kabupaten Tanah Datar.

"Rekomendasi dari Pak Sekda Yota Balad. Sebelumnya saya hanya tahu pembuat kapal ada di Pesisir Selatan," kata Febby.

Sekdako Pariaman, Yota Balad berharap pengrajin kapal di Pariaman tetap bertahan meski tidak mudah menjalankan usahanya di masa pandemi Covid-19.

Yota Balad bilang hasil kerajinan pembuat kapal nelayan Nareh 1 dikenal halus dan memiliki daya tahan. Kapal nelayan buatan warga Nareh 1 juga dikenal kokoh dan balance ketika dibawa melaut.

"Usaha pembuatan kapal kayu di Nareh 1 sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Kapal buatan mereka dikenal kokoh, kuat dan tahan lama," kata Yota. (Juned/OLP)